Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Teknik Kreasi Phoenix Biru


SETELAH 2 HARI BERLALU


Adrine telah menunggu kedatangan Etern sejak matahari terbit. Ia sangat tak sabaran sampai tak beristirahat hingga lebih dari 3 jam. Dan juga, disaat menuruni anak tangga, ia melihat Roni yang sedang berkultivasi dilantai 3. Adrine hanya tersenyum menatapnya dan mengalihkan pandangannya.


Setelah Adrine menunggu hingga waktu yang cukup lama, dirinya sudah tak sabaran lagi dan karena Etern yang tidak juga datang, Adrine langsung melangkahkan kakinya yang hendak menuju keatas lagi.


"ADRINE!!"


Tiba-tiba ada suara yang memanggil Adrine dari luar menara, ia sangat familiar dan mengenal suara tersebut, suara itu adalah suara Etern. Adrine pun berbalik dengan wajah kesal.


"Aku sudah menunggumu disini, kenapa kau lama sekali?"


Etern malah menunjukkan senyum nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh? Iya kah? Maaf kalau begitu."


Tiba-tiba Etern menyadari sesuatu dan hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang sepertinya sedang penasaran.


"Kenapa kau menungguku? Bukankah itu tak perlu?"


Adrine tidak menunjukkan ekspresi apapun pada waktu itu, ia hanya membuka mulutnya secara biasa dan menjawabnya dengan normal.


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi sepertinya disini tidak aman karena menurutku ini sangatlah rahasia."


Adrine berbicara cukup pelan karena khawatir kalau ada orang yang menguping pembicaraannya dengan Etern.


"Apa ini masalah kultivasimu?"


Etern sedikit menduga kalau Adrine itu sedang membicarakan kultivasinya. Ia tahu kalau Adrine itu masih kurang akan pengetahuan tentang kultivasi.


"Mungkin, kita bicarakan ditempat lain saja, bisa dibilang ini rahasia antara kau dan aku. Anggap saja ini adalah Informasi Rahasia tingkat Rahasia Penting."


Adrine masih tak menunjukkan ekspresi apapun ketika mengatakannya, padahal menurut Etern itu ia sedang bercanda.


"Kau bercanda? Oke-oke baiklah, aku akan kau."


Karena tak ingin membuat saling menunggu, maka Etern langsung saja ikut akan perkataan Adrine dan juga Adrine langsung berjalan menuju kearah tempat yang cukup sepi.


Lalu Adrine menunjukkan kedua telapak tangannya dan ia sudah mulai ingin menanyakan pertanyaannya.


"Apa kedua tanganku ini terlihat wajar?"


Seketika, Etern langsung memeriksa kedua telapak tangan Adrine. Wajahnya terlihat seperti bingung dan menatap aneh kedua telapak tangan Adrine.


"Tanganmu ini terlihat familiar, apa kau benar-benar sudah menembus tahap Keberlanjutan?"


Etern merasa kalau Adrine itu sudah mencapai tahap Keberlanjutan, dan perkiraannya itu memanglah benar. Adrine mengangguk karena jawaban dari pertanyaan Etern itu benar.


"Bagaimana bisa secepat itu? Kau sudah menghancurkan Lapisan Segel Darah Suci?"


Lagi-lagi Adrine menganggukkan kepalanya. Etern masih terlihat heboh ketika menanggapi Adrine yang seolah-olah normal akan hal yang dialaminya.


"Sejak kapan?"


Etern masih saja merasa penasaran dengan peningkatan kultivasi Adrine yang meningkat dengan sangat cepat.


"2 hari yang lalu, dan itu juga tepat setelah kalian pulang."


Adrine masih saja menanggapi semua itu dengan sangat santai dan tidak seserius tadi. Menurutnya, siapa yang ingin bertanya dan kenapa orang yang ditanyainya itu malah berbalik tanya pada dirinya.


"Lalu bagaimana? Apakah ini wajar?"


Adrine masih tertitik pada pertanyaan tersebut, hal yang paling ia tanyakan belum dijawab oleh Arpha.


Walaupun Etern mengatakan untuk santai, namun didalam hati Adrine, dirinya sangat cemas. Ia tak tahu apa yang terjadi karena Etern masih berkata mungkin. Karena tak ada lagi yang ingin dipertanyakan oleh Adrine, ia langsung mengajak Etern untuk kembali ke Menara Aliran Bayangan Bertingkat.


Sesampainya mereka berdua disana, tak ada kejadian yang cukup menarik. Hanya saja ada beberapa orang yang menunggu dan mengantri dalam antrian yang cukup panjang. Etern juga ikut mengantri karena waktu pada plakatnya masih belum waktunya untuk ia masuk, sementara Adrine sudah masuk kedalam.


Tiba-tiba disaat Adrine sedang menaiki tangga, ia terpikirkan oleh sebuah teknik yang pernah didapatkannya, namun tak pernah dilatihnya karena lupa.


'Bukankah aku mendapatkan sebuah teknik ketika aku menghancurkan Altar Sembilan Warna Api Spiritual? Bagaimana kalau aku cek saja setelah ini?' Pikir Adrine.


Setelah itu, Adrine melangkah keatas dan sampai pada lantai 4. Setelah Adrine duduk pada tempatnya, ia langsung mengeluarkan teknik yang dulu pernah didapatkannya dari menghancurkan Altar Sembilan Warna Api Spiritual, yakni teknik Kreasi Phoenix Biru.


'Menurut Shin kecil, teknik ini setingkat dengan teknik tingkat Semesta. Jika memang benar, aku bisa melawan semua murid yang ada diperguruan ini hanya dengan menggunakan teknik ini saja.' Pikir Adrine.


Adrine terlalu berambisi hingga ia berpikiran untuk mengalahkan semua murid dalam satu waktu. Karena sadar ketika dirinya menjadi semakin gila, Adrine menampar mukanya sendiri dan langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


'Sialan! Apa yang aku pikirkan? Bodohnya aku.' Pikir Adrine.


Wajahnya menjadi terlihat lebih serius lagi dan seperti marah dengan dirinya sendiri, ia tak ingin dikuasai oleh hawa nafsu semata, hanya untuk mengalahkan semua orang. Adrine mengalihkan pikirannya untuk kembali berlatih. Ia langsung membuka gulungan kertas yang ada ditangannya, seketika teknik tersebut terbakar oleh api berwarna biru.


'Apa-apaan ini? Kenapa bisa terbakar? Sial, panas sekali!' Pikir Adrine.


Adrine menahan suaranya untuk teriak dan juga menahan rasa sakit akibat terbakar oleh api yang menyelimuti kertas yang dipegangnya. Ia menahan suaranya karena tak ingin membuat kegaduhan dan tak ingin menjadi titik perhatian.


Adrine secara terpaksa menahan rasa sakitnya dan apinya juga masih terus berkobar, bukan malah mengecil, seakan api yang ada dikertasnya itu malah semakin membesar dan juga semakin panas.


'AAARGHH... Sialan, panas sekali!' Pikir Adrine.


Bukan hanya satu titik saja panasnya, kini api biru yang membakar tangan Adrine malah membuat seluruh ruangan menjadi sangat panas. Orang lain juga terlihat berkeringat karena suhunya yang naik.


Kini Adrine sudah hampir tak tahan akan api yang membakar kedua tangannya, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat yang sangat deras. Namun Adrine masih terus menahannya dan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


'Kapan api ini akan berhenti membakar tanganku... Panas sekali!' Pikir Adrine.


Ruangan yang ada disekitar menjadi terlihat memerah karena suhunya yang sangat panas. Suhu apinya sekarang telah membuat semua orang mengeluarkan keringat yang sama banyaknya dengan Adrine.


Dan juga, Adrine sendiri sekarang sudah hampir mencapai batasnya dalam menahan panas yang membakar tangannya beserta tubuhnya, seolah ada api yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


'Jika aku berteriak, maka aku akan membuat kegaduhan dan mereka akan menyalahkan semua ini padaku. Bagaimana ini? Erghh...' Pikir Adrine.


Semakin lama suhunya semakin tinggi dan membuat keringat semua orang bercucuran. Panas yang ada tidak terlalu cepat meningkat karena sebagiannya juga telah beralih pada lantai bawah dan juga diatasnya, jadi lantai atas dan bawah juga ikut menjadi panas. Namun saat ini Etern belum masuk kedalam, jadi ia belum mengetahui tentang hal itu.


Api biru yang berkobar pada tangan Adrine malah semakin menjadi-jadi, kini kedua lengannya telah terbakar sepenuhnya. Suhunya juga tidak kalah mengerikan.


Tapi bentuk apinya telah berubah, kobaran apinya seperti akan membentuk sesuatu. Dan kini api yang memenuhi lengan Adrine menjadi terhisap pada gulungan teknik yang dipegangnya, tangannya menjadi gosong dan juga memerah karena api yang membakarnya.


'Syukurlah!!' Pikir Adrine sambil mengelus dadanya dengan tangan kirinya.


Walaupun api biru yang barusan berkobar telah menghilang, namun panasnya masih saja menyebar dan gulungan kertas yang dibuka oleh Adrine seperti mengeluarkan pusaran api biru tadi.


'Apalagi ini?' Pikir Adrine.


Adrine menatap pusaran api itu dengan wajah konyol yang mencurigai. Adrine curiga kalau akan terjadi suatu hal lagi yang membuatnya kesusahan seperti peristiwa barusan.


Seketika pusaran yang dicurigai oleh Adrine memancarkan api seperti laser dan pancarannya membentuk sesuatu yang mirip seperti tubuh burung.


'Sudah kuduga.' Pikir Adrine.


Tatapan Adrine semakin konyol ketika kecurigaannya benar. Dan pancarannya semakin lama semakin membuat tubuh apinya membentuk tubuh burung hingga lebih detail dan lengkap, ukurannya juga semakin membesar pula.


'Burung? Burung apa itu?' Pikir Adrine.


Bersambung!!