
"Tak disangka sampai setinggi ini. Energiku hampir terkuras banyak hanya untuk naik keatas." Ujar Etern yang sedikit kelelahan.
"Hei Etern, kau diamlah! Gagaknya ada didepan kita sekarang." Ujar Adrine yang melihat ada burung hitam didepannya.
"Hei, Adrine. Ini bukanlah satu-satunya Gagak Semesta Petir, tapi ada banyak. Lihatlah yang ada disana!" Ujar Etern sambil menunjuk kearah puncak gunung yang lainnya.
"Kita sekarang masih belum sampai kepuncak gunung, tapi sudah menemukan banyak sekali gagaknya." Ujar Adrine.
"Ya menurut pengetahuan tentang Gagak Semesta Petir, semakin gagaknya berada diatas, semakin kuat pula gagaknya." Ujar Etern.
Lalu Adrine mengaktifkan mata jiwanya. Adrine mengaktifkan dua matanya sekaligus. Mata kirinya bisa melihat dengan jelas bagaimana struktur tubuh gagak tersebut dan juga aliran energi pada gagaknya.
"Hei Adrine, kenapa kau mengaktifkan mata jiwamu? Kita tak akan bertarung secara langsung iya kan?" Tanya Etern.
"Tenang saja, aku hanya memeriksa kekuatan dari gagaknya saja." Ujar Adrine yang masih terus melihat gagak tersebut.
"Tapi Kekuatan dari matamu apa sudah diketahui?" Tanya Etern.
Etern tak mengetahui kalau Adrine mengaktifkan dua mata jiwa. Hal itu karena tertutupi oleh zirah Adrine. Yang tertutupi hanya mata kirinya. Dan juga setiap kali Adrine mengaktifkan mata jiwa yang kanan, zirahnya membuat sebuah kacamata cyber yang menutupi matanya.
"Apa kau tahu Etern, aku ini tidak hanya punya sati mata jiwa lho." Ujar Adrine dengan senyum yang manis tapi punya maksud yang lain.
"Bagaimana mungkin?" Tanya Etern terkejut.
"Nanti akan kujelaskan. Yang terpenting sekarang adalah Gagak Semesta Petir. Aku harus mencari yang kuat tapi masih sanggup untuk kuhadapi." Ujar Adrine dengan nada suara yang sangat serius.
"Kenapa tidak yang ini saja?" Tanya Etern.
"Gagak ini tak sekuat yang kuinginkan. Lihatlah yang disana, itu bahkan jauh lebih kuat dari gagak yang ini." Ujar Adrine sambil menunjuk gagak yang berada diseberang gunung.
"Jika kau bisa melihat lebih teliti, gagak yang itu sudah masuk ketahap penyempurnaan. Kulitnya sudah hampir sekeras batu." Ujar Adrine.
"Ya, aku juga bisa melihat dari warna bulunya saja. Bulunya lebih hitam dibanding gagak yang ini." Ujar Etern.
"Ayo kita kesana!"
Lalu Adrine dan Etern pergi menuju kegunung yang telah ditunjuk oleh Adrine sebelumnya. Mereka melompat dari gunung kegunung untuk sampai pada gagak yang sudah Adrine pilih.
"[Apakah user memilih Gagak Semesta Petir yang ini?]"
"Ya, aku akan memilih yang ini. Tapi kenapa harus memilih lebih dulu? Apa nggak bisa langsung menyerang?" Tanya Adrine yang agak sedikit bingung.
"[Apakah tuan ingin dikeroyok oleh semua Gagak Semesta Petir dan hewan spirit yang lainnya?]"
"Ya tidaklah, aku bisa mati kalau seperti itu." Ujar Adrine yang terkejut mendengar kalimat yang tidak enak diucapkan oleh drone begitu saja.
"[Seperti itulah dimensi ini diatur. Anda harus menetapkan manakah hewan yang ingin anda lawan.]"
"Ya, terima kasih atas pengaturan sistemnya. Dan juga aku ingin memilih gagak yang ini untuk kulawan." Ujar Adrine dengan penuh percaya diri.
"[User telah menentukan target. Target telah merespon user.]"
'Hmm, sepertinya warna cahaya pada kulit gagak itu menandakan kalau hanya dia yang aktif.' Pikir Adrine.
"Hei Adrine, gagaknya terbang." Ujar Etern yang sedikit terkejut melihat gagaknya mengepakkan sayapnya dan terbang.
"Ya, aku tahu. Karena gagak inilah sudah kuincar." Ujar Adrine dengan penuh percaya diri.