Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Rasi Bintang (2)


"Kalian ini benar-benar membuatku menunggu!"


Kau terlihat seperti sedang marah, namun wajahnya terlihat tenang dan nada suaranya juga tidak terlalu mirip seperti orang yang sedang marah.


Ray, Alfian, dan Zizi menjadi saling melirik kearah Nicho. Nicho hanya bersikap seperti tak terjadi apa-apa dan biasa-biasa saja. Dia hanya merasa bodoh amat didepan Kai. Dan Kai hanya menggelengkan kepalanya karena melihat sikap keempat bocah yang ada didepannya.


"Haish, kalian ini... Langsung saja, bicaralah!"


"Saya Ray, melapor. Dari Sekte Gerhana Nebula rasi bintang Aquila."


Ray melapor dengan penuh sopan dan santun.


"Hmm."


Kai menganggukkan kepalanya.


"Saya Alfian, melapor. Dari Sekte Kucing Bulan rasi bintang Lynx."


Alfian juga melapor dengan sopan dan santun seperti Ray.


"Saya Zizi, melapor. Dari Sekte Bulan Biru rasi bintang Virgo."


Zizi memang terlihat sangat dingin, namun ia masih tetap wanita, dirinya melapor dengan penuh keanggunan, namun masih menggunakan kesopanan.


"Oh ya Zizi, bukalah topengmu!"


Zizi pun membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya.


Lalu, disaat Nicho akan melapor, mereka bertiga langsung menatap Nicho seperti tatapan yang tidak mengenakkan.


"Dan terakhir, saya Nicho, melapor. Dari Sekte Tombak Naga rasi bintang Orion."


Hanya Nicho yang melapor dengan wajah tak peduli, namun masih sopan dan santun.


"Baiklah. Laporan sudah lengkap dan selesai. Akan kukirimkan laporan ini kepada ketua sekte dan Monarch dari masing-masing rasi bintang."


Kai sedang mengetik sebuah laporan. Ia mendiamkan mereka berempat untuk mengurusi laporan. Hanya dalam 10 detik Kai selesai dengan laporannya dan menatap mereka keempat kembali.


"Laporan kalian sudah kuselesaikan, kalian boleh pergi!"


Kai pun memperbolehkan keempat orang itu pergi.


"Baiklah!"


Semuanya berbalik kanan dengan bersamaan dan keluar dari ruangan Kai. Sementara itu, Adrine berada didekat gedung ujian seperti sedang menunggu kemunculan keempat orang tersebut. Etern dan Senior David telah pergi.


Lalu, pintu depan pun terbuka. Keluar lah keempat orang yang ditunggunya.


'Nah, itu mereka.' Pikir Adrine.


"Haha, lihatlah! Bukankah dia yang tadi itu? Apa dia itu pelayan Nicho?"


Ray dengan terang-terangan menghina Adrine didepan orangnya sendiri dan semua orang yang ada disana.


'Huh?' Pikir Adrine.


Adrine sendiri sebenarnya juga kesal dengan Ray. Sikapnya itu membuatnya muak setelah Adrine melihat Ray mengejek Nicho menggunakan namanya.


"Kau itu berisik ya? Diam bisa tidak!?"


Nicho marah dengan sikap Ray yang begitu sombong dan memuakkan. Adrine dan Nicho juga punya pemikiran yang sama untuk memukul kepala Ray. Dan dibalik topengnya, Zizi juga sedang menertawakan Nicho dan Adrine.


"Adrine, lihatlah wanita bertopeng itu! Dibalik topengnya, dia sedang tersenyum menertawakanmu."


Shin kecil bisa melihat apa yang ada dibalik topeng Zizi. Karena Shin kecil itu mempunyai kemampuan yang dulunya sangatlah kuat dan menaklukkan apapun.


Adrine pun langsung menatap kearah Zizi. Dalam hati Zizi, sebenarnya ia sangat terkejut karena sepertinya Adrine tahu apa yang sedang ia pikirkan.


"Hanya karena wajahmu yang kau tutupi dengan topeng, bukan berarti aku tak tahu kalau kau itu sedang tersenyum menertawakan aku dan Nicho."


Lalu, keempat orang itu melihat Adrine dan bergiliran menatap kearah Zizi. Nicho pun menjadi sedikit marah kepada Zizi karena perkataan Adrine.


"Apa ucapannya itu benar kalau kau itu sedang menertawakanku?"


Disaat Nicho menanyakan hal tersebut, awalnya Zizi terdiam. Tapi karena Nicho terus menatapnya, Zizi menjadi kesal.


"Hmph!!"


Zizi pun memalingkan wajahnya karena ketahuan pikirannya telah terbaca dan diutarakan oleh orang lain.


"Hai kau bocah ingusan, apa-apaan kau mengatakan hal itu? Kau mau cari ribut?"


Zizi seperti tak terima atas apa yang dikatakan oleh Adrine kepada Nicho tentangnya.


"Hei bocah ingusan, kau ini diam saja! Kami tak punya masalah denganmu. Untuk apa kau ikut campur masalah kami?"


Ray tak terima karena Adrine ikut campur dalam urusan mereka. Adrine hanya tersenyum ketika melihat mereka.


"Kalau kalian tak punya urusan denganku, kenapa kau libatkan aku dalam perseteruan kalian itu? Apa peran dan salahku didalam permasalahan kalian?"


Ray seperti terpukul dengan kata-kata Adrine barusan. Ray menjadi kesal dengan sikap Adrine yang seperti tak menghormatinya sebagai orang besar sama sekali.


"Kau itu apa-apaan? Ini urusan kami, kau pergilah. Cepatlah, sebelum kami membuatmu terluka!"


Alfian juga ikut-ikutan kesal dengan Adrine. Adrine dan Nicho mempunyai pemikiran yang sama kalau mereka bertiga seperti sedang bersekongkol. Adrine sudah menduganya sejak awal.


"Untuk apa aku takut denganmu? Aku tak takut denganmu, apa kalian berani denganku?"


Adrine tidak takut sama sekali dengan mereka bertiga. Bahkan ia tak memikirkan apa resiko dari menyinggung mereka.


"Kau... Kau ini... Apa-apaan dengan sikapmu itu?"


Amarah Alfian dan Ray menjadi terpancing karena Adrine. Zizi juga seperti ikut kesal dengan sikap Adrine. Adrine sendiri juga tak suka dengan sikap sok kepemimpinan mereka.


'Bocah ini benar-benar tak tahu diri. Akan kupastikan kalau kau akan mati hari ini.' Pikir Zizi.


'Adrine, kau ini hebat sekali.' Pikir Nicho.


"Kalau kau tak takut, Aku ingin bertarung denganmu Ray. Apa kau berani menerima tantanganku ini?"


"Siapa takut?"


Adrine tersenyum senang melihat tantangan darinya diterima.


"Hehe, ini akan menarik."


"Menarik? Tapi kau jangan takut mati, oke?"


Ray dengan sombongnya meledek Adrine didepan banyak orang.


"Kau yang seharusnya khawatir tentang kematianmu sendiri."


Adrine membalas Ray dengan kesombongannya sendiri.


"Sombong sekali kau. Mari kita awali disini saja!"


"Baiklah! Sekalian kita akhiri semua ini!"