Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Mencari Gulungan Teknik


Adrine mendapatkan perubahan signifikan dari formasi Yin-Yang misterius yang tiba-tiba muncul. Hanya dia sendiri, tak ada orang lain yang bersamanya ketika itu terjadi. Mendapatkan berkah dengan mata jiwanya yang kekuatannya langsung meningkatkan drastis.


Selain itu, kultivasi Adrine langsung menembus dengan sangat besar secara instan.


Sebelumnya yang di mana Adrine berada di tahap Keberlanjutan level-5 kelas puncak, kini telah meningkat drastis, "Haha, langsung naik ke tahap Nirvana Alam Pertama level-1 kelas akhir dengan instan. Berkah dari mana ini?" gumam Adrine sembari melihat kedua tangannya dan membolak-balikkannya.


Merasa tak ingin menonjolkan kedua matanya yang berubah itu, Adrine mengeluarkan sebuah kain dan menjadikannya penutup mata. Ia menutup mata kirinya dengan kain tersebut. Mata kanannya sendiri tak banyak berubah, jadi Adrine merasa tak masalah jika satu matanya saja yang ditutup. Akan jadi masalah jika kedua matanya terlihat oleh orang-orang, apalagi jika ada yang mengenal kedua mata tersebut.


Adrine pun keluar dari tempat itu dan mendapati Liona, Viona, dan Violet tengah duduk di tangga bawah dan menunggu keluarnya Adrine.


Adrine berjalan tanpa bersuara sedikit pun. Kemudian dia sampai tepat di belakang ketiga rekannya, ia pun memegang pundak Violet dan berkata, "Ayo kita keluar dari sini."


"WHOA!"


Mereka bertiga terkejut dengan kedatangan Adrine, terutama Violet lah yang paling terkejut.


"Bisa tidak, tak usah mengejutkan begitu?" seru Violet marah-marah.


"Ayo ah, kita keluar," ajak Adrine bergegas.


Kemudian mereka berdiri dan berjalan keluar.


"Oh iya, Adrine, kenapa matamu kau tutup?" Tanya Liona. Sebenarnya Viona dan Violet juga ingin menanyakan pertanyaan yang sama, tapi mereka ragu Adrine akan menjawabnya.


Adrine pun menjawab, "Mataku baru saja berdarah, jadi terlihat berbeda. Aku tak mau orang lain melihatnya, dan ini bersifat permanen."


Liona mengangguk paham akan maksud Adrine, tapi ia juga agak bingung, 'Bagaimana bisa matanya berdarah? Apa masih ada hewan spirit yang tersisa sehingga matanya bisa terluka permanen?' gumamnya dalam hati. 'Ah sudahlah!'


Wanita dengan penutup mulut itu pun tak ingin terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh. Tetapi kembaran yang ada di sebelahnya itu tak berpikir sejauh itu.


Mereka berempat pun keluar dari dimensi tersebut dan kembali ke dimensi tingkat kedua. Tak disangka, keluarnya mereka dari sana langsung disambut oleh orang-orang dengan tatapan mata yang begitu mengerikan. Nafsu akan membunuh dapat dirasakan di setiap ujung tempat mereka berada.


Bukan hanya sambutan yang dingin, orang-orang yang sebelumnya masuk dengan Adrine pun telah dilumpuhkan. Bahkan ada dua mayat yang tergeletak di mana mereka berdua termasuk kelompok yang masuk bersama dengan Adrine tadi.


"Hei hei, lelaki itu yang pasti yang membawa Pasir Berlian Merah. Tidak diragukan lagi," ujar salah seorang yang berdiri dengan satu tangannya yang mencengkeram erat kerah seseorang yang terlihat babak belur.


Dengan santainya Adrine membalas, "Sudah terpakai, memangnya kenapa? Mau malak?"


"Hehe, kau cerdas juga ya? Kalau kau masih ingin bertambah cerdas, berikan pasirnya!" Paksa dari orang yang sebelumnya menuding Adrine.


Hawa pembunuh Adrine mulai keluar dan mereka yang ada di sekitarnya merasa terkejut dengan kehadiran yang begitu kuat dari dalam tubuh Adrine.


'Bocah ini ... Siapa dia? Bagaimana aura sekuat ini bisa keluar darinya?' batin orang itu lagi.


"Tak peduli kau itu sekuat apa, tapi paling tidak kau hanya tahap Nirvana puncak. Dibandingkan dengan kami, kau kalah jumlah," ujar orang itu.


"Kau bilang jumlah, bukan?"


Seketika bayangan Adrine meluas dan keluarlah sebagian besar pasukan bayangannya. Semua yang ia keluarkan adalah jenis hewan iblis.


"Apa-apaan ... Ini?!!"


Orang-orang yang mengerumuninya pun langsung berjalan mundur melihat banyak sosok hitam dengan kekuatan yang tak terbayangkan berkumpul di satu tempat. Dan mereka juga dikendalikan oleh orang yang mereka ancam, ini bukanlah hal yang baik bagi mereka untuk melanjutkan ancamannya kepada Adrine.


Adrine tersenyum tipis, "Kalian kalah kekuatan telak! Kalah tetaplah kalah!" Katanya dengan penuh tekanan.


"Bolehkah kalian minggir? Kami mau lewat!" seru Viona.


Orang-orang pun memberikan jalan untuk Adrine dan ketiga temannya lewat. Pasukan Adrine telah kembali ke dunia mereka dan ia bersama dengan yang lainnya pun pergi dari tempat tersebut.


"Cih, wajah mereka memuakkan!" gumam Viona, telapak tangannya mengepal karena kesal dikerumuni. Alasannya kesal adalah suhu udaranya menjadi panas dan sulit untuk bernafas di dalam kerumunan.


"Sudahlah!" ujar Adrine.


Untuk kembali ke dimensi tingkat pertama, yang harus dilakukan adalah kembali ke tempat semula. Hanya jika membunuh sosok penjaga di dimensi tingkat ketiga atau menunggu sampai hari ketiga selesai dan mereka keluar dari tempat itu secara bersamaan.


Kemudian Adrine mengeluarkan sebuah pisau belati berwarna biru langit. Belati tersebut memancarkan energi yang cukup tajam. Belati tersebut adalah artefak tingkat Sejati peringkat 6. Adrine pun menjulurkannya di depan Liona, "Hei, ini untukmu," ujarnya.


Liona segera menerima belati pemberian Adrine. "Terima kasih," ucapnya.


"Oh iya, itu belatinya adalah artefak tingkat Sejati. Namanya adalah Belati Langit Biru," jelas Adrine.


Liona melihat-lihat belatinya itu dan memeriksa detail bentuknya. Sementara Viona dan Violet merasa agak iri dengan pemberian Adrine kepada wanita di sebelahnya itu.


"Kalian kenapa? Apa kalian tak merasa senang?" tanya Adrine yang dianggap tak peka oleh kembaran di samping Liona.


"Ah, tak apa-apa, kami hanya ... Ya, begitulah," ujar keduanya bersamaan.


Adrine seketika paham akan kembaran tersebut. Ia pun mengeluarkan sebuah gulungan teknik yang berwarna emas dengan corak garis-garis berwarna ungu.


"Ini teknik Benang Racun Emas, kalian ambil saja, aku agak kurang tertarik," kata Adrine sembari menyodorkannya di depan Viona.


'Eh? Bocah ini peka juga, ya?' batin Viona dan Violet bersamaan.


Liona teringat dengan pemberian dari Shin kecil sebelumnya, "Oh iya, Adrine, ini dari seorang leluhur yang ... Hmmph ... " Adrine langsung menutup mulut Liona dan membisikinya sesuatu, "Berikan saja padaku, aku sudah tahu apa yang terjadi!" bisik Adrine.


Liona mengangguk dan memberikan gulungannya kepada Adrine, 'Gulungan teknik?' batin Adrine.


Adrine pun melirik ke arah Violet dan Viona yang di mana mereka kebingungan melihat apa yang kulakukan pada Liona, "Apa?!"


"Tidak ada," jawab Violet dan Viona sembari memalingkan muka mereka bersamaan.


Setelah itu, Adrine dan para wanita di sisinya itu sampai ke tempat semula. Lingkaran sihir teleportasi sebelumnya aktif secara tiba-tiba dan mereka pun berpindah ke dimensi tingkat pertama.


Bertemu dengan Loki sesudahnya mereka keluar dari formasi teleportasi dan tak lama kemudian Shiny juga keluar dari dimensi tingkat kedua.


Kami kembali berburu harta lagi dan berharap mendapatkan sesuatu. KamI berpencar.


Adrine bersama dengan Liona, sedangkan Shiny bersama dengan Viona, Violet, dan Loki. Adrine dan Liona ke tempat di mana sebelumnya Shin kecil memberitahu tempat dengan adanya gulungan teknik tingkat Semesta. Pria dengan penutup mata itu jelas tak ingin meninggalkannya di tempat seperti ini.


Untuk letak labirin yang dimaksud oleh sang leluhur Shin, tempat itu akan dijumpai jika terus berjalan melewati titik teleportasi. Setelah itu, mereka akan menemukan sebuah pintu ganda yang cukup besar dengan obor di tiap pintunya.


***


Masih tersisa beberapa jam lagi sampai gerbang Monumen Iblis 6 Tahun tertutup. Adrine masih mencari di mana letak gulungan teknik yang dimaksud oleh Shin kecil.


Liona juga terus menerus mendapatkan banyak harta karun, walaupun tidak semuanya memiliki nilai yang tinggi. Dia mendapatkannya dari dalam labirin.


"Katanya titik di mana aku bisa menemukannya, aku harus masuk ke labirin kastil. Aku takut nanti aku bisa terlambat untuk keluar," gumam Adrine.


Dia merasa agak cemas dan orang-orang juga sudah mulai banyak yang keluar dari dalam monumen. Bahkan sekarang ini kemungkinan dimensi tingkat dua pun sudah kosong. Kasti iblis pun juga sudah mulai kosong, menyisakan Adrine dengan Liona saja yang ada di sana.


Di labirin tersebut, terdapat obor yang agak berjauhan di dinding labirinnya. Walaupun tak terlalu terang, tapi itu cukup membantu penglihatan Adrine dan Liona.


Kemudian mata tengah Adrine aktif dengan sendirinya, mata kanannya juga bereaksi dan bercahaya. Tak disangka, ia bisa melihat aliran energi dengan samar-samar. Aliran energi tersebut nampak seperti menunjukkan jalan ke suatu tempat.


'Aku tak yakin tapi firasatku mengatakan ini adalah hal yang baik,' batin Adrine. "Liona, ikut denganku!" suruhnya.


Liona mengangguk dan mengikutinya.


'Matanya itu ... ' batin Liona yang sempat melihat mata kanan pria di sebelahnya itu bersinar.


Adrine pun bergerak cepat agar tak terlambat keluar dari tempat tersebut.


Aliran energinya memperlihat jalan untuk Adrine sampai ke tujuannya. Ada begitu banyak jebakan di setiap jalan yang dilaluinya, tapi dia dapat mengelaknya dengan begitu mudah. Dan benar saja, aliran energi tersebut menghantarkannya pada suatu benda yang tergeletak di atas sebuah batu yang telah diratakan dan dihaluskan di bagian atasnya. Tampak seperti meja batu dan di atasnya terletak sebuah peti kecil dengan energi sihir yang cukup kuat.


Adrine memiliki firasat yang kuat bahwa benda yang ada di dalam peti tersebut terdapat benda yang dicarinya, 'Ya ... Mungkin di dalamnya ada gulungannya, tapi ... ' pikirnya.


Akan tetapi, matanya itu melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Dan kemudian cahaya yang bersinar di matanya itu meredup dan mata tengah Adrine juga tertutup. Namun mata kanannya itu masih sedikit bercahaya walaupun redup.


"Benda apa itu? Coba kulihat," ujar Liona yang langsung berjalan mendekat ke peti keci di atas batu tersebut.


"Berhenti!" seru Adrine sembari menghalang wanita itu berjalan mendekat, "Di dekat sana ada jebakan, kau tak bisa melihatnya," jelasnya.


Liona pun tersadar, benda yng ada di hadapannya itu memiliki suatu aura yang aneh dan kuat. Wanita ini langsung paham jika benda di depannya kemungkinan besar dijaga atau dipasang suatu jebakan di sekitarnya.


"Lalu, bagaimana cara kita mengambilnya?" tanya Liona.


Adrine terdiam sejenak. Sebenarnya mata kanannya itu dapat melihat jebakannya samar-samar. Terdapat garis-garis petir yang melindungi batu tersebut seolah benda di dalamnya tengah dipenjara. Garisnya berjarak satu meter dari batunya dan Adrine berada dalam empat meter dari penjara petirnya.


Selain itu, Adrine juga merasakan kehadiran yang begitu kuat dari segala arah. Walaupun kehadirannya tak setara dengan kuatnya Killer Skeleton Demon. Kehadiran ini juga sebenarnya telah dirasakan oleh Adrine ketika awal ia masuk ke dalam labirin.


"Kau tak perlu khawatir, aku yang akan mengambilnya," ujar Adrine dengan tatapan mata serius dan tertuju pada peti di depannya, "Sebenarnya, aku memang sedang benda yang ada di dalam peti itu," tambahnya.


"Jadi begitu? Baiklah," jawab Liona sembari mengangguk kembali. Ia hanya terus patuh dalam perkataan Adrine seolah dia adalah seorang istri yang mematuhi kehendak suaminya. Adrine benar-benar seperti telah mengubah kepribadian wanita tersebut.


Adrine pun berjalan ke depan dan mulai menyentuh garis petirnya.


WUNG!!


Aura kehadiran yang kuat pun mulai menyebar ke seluruh ruangan di sana. Adrine tak begitu terkejut dengan apa yang barusan ia rasakan, tapi tidak bagi Liona.


'Yang barusan itu tadi ... ' batin wanita tersebut. "Adrine, berhati-hatilah!" Pinta Liona.


Adrine mengangguk, "Tenang saja, aku sudah menduganya, dan makhluk itu ada tepat di samping kanan kita," ujarnya sembari menoleh ke kanannya dengan santai.


Dan benar saja, ada makhluk yang berukuran tiga kali lipat tubuh Adrine di samping kanannya. Makhluk tersebut keluar dari kegelapan di labirin tersebut.


GERRH!!


Nafas berat dari makhluk besar tersebut terdengar jelas di telinga Adrine dan Liona. Mereka tak khawatir sedikitpun dengan kehadirannya, namun Liona mengkhawatirkan Adrine. Akan tetapi, dia tetap percaya dengan kekuatan Adrine.


"Beruang Batu Goa, hanya hewan spirit tingkat Langit peringkat 4, apa yang perlu kutakutkan?" kata Adrine.


Bersambung!!