
Lingkungan yang tenang dan tempat yang di penuhi oleh teknologi canggih tanpa ada kegaduhan, namun ada kegaduhan yang mengisi keheningan tersebut.
Di dalam lapisan awal perlindungan Perguruan Kilat Langit, Adrine sedang bersusah payah untuk membantu Etern menerobos ke level-2 tahap Kematian. Walaupun yang seharusnya sangat di penuhi oleh kekuatan dan energi dahsyat yang mengambang disekitar, kali ini berbeda, Adrine meredam semua energi yang meledak dari tubuh Etern agar tidak memicu sensor sihir di setiap banyaknya senjata yang ada disekitarnya.
Adrine terus meningkatkan energi mentalnya agar bisa meredam kekuatan Etern, namun Shin kecil melarangnya untuk terus meningkatkan energinya karena dapat memicu sensor sihirnya.
Shin kecil juga telah menciptakan 3 lapis pelindung sihir yang melindungi energi yang lepas dari tubuh Etern, namun sebagian besar pelindung lapisan pertama telah pecah dan pelindung lapisan kedua telah sedikit retak. Dengan adanya pelindung sihir lapisan ketiga, pelindung sihir lapisan pertama sedikit di perbaiki dan keretakan pada pelindung sihir lapisan kedua telah di hilangkan, serta pelindung lapisan ketiga juga memperkuat pelindung lapisan kedua dan pertama.
'Sesuai seperti apa yang aku perkirakan, namun aku tak tahu bagaimana nanti lanjutan-nya jika ledakan energi si bocah satu ini terus menguat.' Pikir Shin kecil.
Bukan hanya Shin kecil yang khawatir bagaimana akhir dari ini semua, namun Adrine juga khawatir jika pelindung yang di jaganya itu pecah dan membuatnya dalan bahaya bersama dengan Etern.
'Seharusnya 10 sampai 15 menit pun cukup, ini sudah yang ke 10 menitnya, berarti Etern memang butuh waktu sedikit lagi.' Pikir Adrine.
Bukan hanya waktu yang cukup lama, namun Adrine merasa jika energi yang di keluarkan dari badan Etern sedikit lebih kuat dari perkiraan-nya.
Beberapa menit telah berlalu, namun Etern masih belum juga selesai dalam penerobosan-nya, bahkan sudah melampaui waktu yang tadi telah di perkirakan. Pelindung sihir lapisan pertama telah hancur sepenuhnya dan pada lapisan kedua, pelindung sihirnya telah mengalami keretakan sedikit.
'Ini sudah lebih dari 15 menit, telah melampaui apa yang di perkirakan, apa bocah ini benar-benar sedang memasuki tahap Kematian level-2 kelas awal?' Pikir Shin kecil.
Sama seperti apa yang di pikirkan oleh Shin kecil, Adrine beranggapan seperti itu juga, walaupun ia masih berpikir jika Etern benar-benar tidak dalam masalah ketika melakukan penerobosan.
Adrine masih terus menahan kekuatan dari pelindung sihir ciptaan Shin kecil, namun Etern sudah melampaui apa yang telah di perkirakan dan apa yang terjadi selanjutnya sudah mulai sulit di prediksi jika Etern benar-benar sedang bermasalah dalam kultivasinya. Shin kecil juga bingung harus melakukan apa karena jimat sihir yang diberikan oleh Adrine hanyalah 3 buah saja dan sudah habis di gunakan untuk membuat 3 lapis pelindung sihir.
'Tidak, jika Etern masih terus berlama-lama seperti ini, maka pelindung sihirnya akan hancur sebentar lagi, apalagi kekuatan energinya masih terus meningkat.' Pikir Adrine.
Lalu Adrine kembali menambah kekuatan pada energi mentalnya agar kekuatan pelindung sihirnya meningkat kembali.
"APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? KAU BISA MEMANCING SENSORNYA JIKA KAU TERUS MELANJUTKANNYA!!!"
Shin kecil langsung menyadari perbuatan Adrine yang diam-diam menambah kekuatan pada energi mentalnya, namun dirinya masih belum membuat senjata manapun menjadi terbangun akibat perbuatan-nya barusan.
"Aku melakukan ini juga karena takut kalau Etern nantinya akan menghancurkan pelindung sihirnya, dan itu bisa berbahaya bagi kami berdua."
Adrine berkata dengan pelan namun nadanya terus meninggi seperti orang yang sedang marah.
"Tapi jika kau terus melanjutkan-nya, maka kau sendiri yang akan mati, temanmu itu akan selamat karena pelindung sihirnya masih utuh, tapi tidak denganmu..."
Shin kecil terus mengingatkan Adrine agar tidak menambahkan energinya, tapi akan berbahaya bagi Adrine jika energinya akan memicu sensor.
Awalnya wajah Adrine penuh dengan ketegangan, akan tetapi sekarang ini dia tersenyum dan seolah tidak takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Baiklah, kalau begitu terimalah ini!"
Lalu tubuh Adrine di penuhi oleh konsentrasi energi mental dan energi mental yang di pancarkan oleh tangan Adrine telah sedikit berkurang. Muncul 2 buah jimat mental lagi yang di ciptakan oleh Adrine dan Shin kecil agak terkejut ketika melihatnya.
"Bagaimana... Bisa kau melakukannya ketika sedang memberikan energi mental mu kepada orang lain?"
Apa yang dilakukan oleh Adrine adalah hal yang mustahil bagi Ahli Jimat yang masih berperingkat 1 dan Adrine berhasil memecahkan rekornya itu. Setidaknya mereka yang bisa melakukan pembentukan jimat mental ketika sedang menggunakan energi mentalnya untuk hal lain, harus berada di peringkat 2 atau 3 Ahli Jimat.
Jimat mental yang di bentuk oleh Adrine telah di serap oleh Shin kecil dan juga digunakan untuk membentuk pelindung sihir lapisan berikutnya.
"Adrine apa kau benar-benar adalah seorang Ahli Jimat peringkat 1?"
Adrine menjawab pertanyaan Shin kecil dengan anggukan kepalanya.
"Bukankah seseorang hanya masih bisa menciptakan jimat mental di bawah 100 buah adalah peringkat 1?"
Jika tadi Adrine yang mengangguk, sekarang Shin kecil lah yang mengangguk.
"Ya, berapa banyak jimat mental yang bisa kau ciptakan?"
Lalu mata Adrine melirik ke atas dan berpikir sejenak tentang jawaban untuk pertanyaan Shin kecil.
"Jika dalam waktu yang bersamaan, sepertinya aku bisa menciptakan sekitar 40 sampai 50 jimat mental, tapi jika aku menciptakan jimat mental satu persatu, maka aku bisa membuat jimat mental hingga sebanyak 80 buah."
Shin kecil sangat terkejut mendengarnya.
"Sejak kapan kau berlatih kekuatan mental? Apakah di saat aku pergi sebelumnya?"
Adrine mengangguk lagi.
"Ya, energi dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat telah menekan kekuatan pikiran dan kekuatan mental ku. Selain itu, aku bahkan mengembangkan banyak teknik yang aku kuasai setelah kekuatan pikiranku mengembang."
Walaupun apa yang di katakan oleh Adrine membuat Shin kecil menjadi sedikit senang, namun ekspresi yang di tunjukkan oleh Shin kecil tetaplah wajah tegang dengan mata kuningnya yang menatap Adrine dengan tajam.
"Selain itu, energi mental ku juga telah kuperhalus karena sering aku murnikan di dalam Menara Aliran Bayangan Bertingkat pada saat itu."
Shin kecil agak terkejut mendengarnya, lalu ia langsung menyadari jika energi mental Adrine memang terasa sedikit lebih halus di bandingkan dulu di saat Adrine pertama kali belajar penguasaan energi mental di Altar Sembilan Warna Api Spiritual.
'Ternyata bocah satu ini memang sudah berkembang dari sebelumnya, lumayan...' Pikir Shin kecil dengan tersenyum tipis.
Lalu Adrine mengeluarkan energi mentalnya sebesar sebelumnya dan bahkan sedikit lebih besar, dia bisa memperkirakan sebanyak apa energi mental yang mungkin bisa memantik sensor sihir.
Shin kecil telah selesai membentuk pelindung sihir lapisan keempat dan menunggu waktu yang tepat untuk menggunakan pelindungnya.
Tak lama kemudian, pelindung sihir lapisan kedua telah bocor atau berlubang membuat pelindung sihir lapisan ketiga menjadi lebih berat untuk di kontrol oleh Adrine. Ketika Shin kecil ingin menyalurkan pelindung sihir lapisan keempat, Adrine bergerak dan membelakangi Shin kecil yang mengisyaratkan bahwa belum saatnya pelindung sihir lapisan keempat di pasang. Adrine juga menatap kearah Shin kecil lalu menggelengkan kepalanya.
Shin kecil sedikit cemas dengan Adrine yang masih berusaha untuk mengontrol pelindung sihir lapisan ketiga, hal itulah yang menjadi kesulitan pelindung sihir, yaitu kendalinya, apalagi jika pelindungnya digunakan untuk diri sendiri maka akan lebih sulit lagi dalam pengendalian-nya.
5 menit sudah berlalu lagi, Etern masih belum selesai juga penerobosan-nya. Adrine dan Shin kecil sedikit bingung dengan Etern karena tidak kunjung selesai. Pelindung sihir lapisan kedua juga sudah banyak yang berlubang dan pelindung sihir ketiga masih tetap kokoh.
Shin kecil merasa jika sebentar lagi pelindung sihir lapisan ketiga juga akan segera retak, Adrine juga merasa seperti itu. Namun Adrine masih belum memperbolehkan Shin kecil untuk memasang pelindung sihir lapisan keempat.
Sesaat setelah itu, pelindung sihir lapisan ketiga pun mulai retak dan akan segera hancur jika tidak ada lapisan yang melindunginya ataupun kekuatan pertahanan-nya di tingkatkan, namun Adrine juga merasa jika energi mentalnya di tingkatkan lagi, maka akan memicu sensor sihir yang ada disekitarnya.
Lalu Adrine bergerak lagi dan sudah tidak membelakangi Shin kecil, mengisyaratkan kepada Shin kecil bahwa pelindung sihir lapisan keempat harus segera di pasang.
Shin kecil pun memasang pelindung sihir lapisan keempat dan membentuk lapisan kelima. Pelipis Adrine mengeluarkan keringat karena pelindung sihirnya semakin memberat, sedikit saja dirinya lengah, maka semua pelindung sihirnya akan langsung melemah secara drastis.
Sama seperti sebelumnya, ketika pelindung sihir lapisan yang baru telah di pasang, maka pelindung sihir lapisan sebelumnya akan di perbaiki sedikit.
Waktu terus berjalan dan Etern masih belum kunjung selesai juga, kini Adrine sudah mulai sedikit kewalahan.
'Ini sudah hampir setengah jam dan Etern masih belum juga selesai, bagaimana ini?' Pikir Adrine.
Shin kecil masih terus was-was dengan kondisi Adrine yang masih terus mengontrol pelindung sihir, energi yang di keluarkan oleh Etern semakin lama juga semakin membesar, Adrine terus berjuang agar Etern bisa melakukan penerobosan dengan baik.
"Eh?"
Tiba-tiba Etern merasakan sesuatu dan langsung refleks untuk menyalurkan sihir lapisan kelima. Adrine merasa terkejut dengan Shin kecil yang tiba-tiba menyalurkan pelindung sihir lapisan terakhir tanpa adanya pemberitahuan darinya.
"Adrine, berhati-hatilah!!"
Shin kecil memang tidak berteriak, namun nada dan ekspresinya terlihat seperti sedang panik terhadap sesuatu. Adrine langsung fokus dan waspada akan sesuatu yang akan datang tanpa menanyakan apa yang sebenarnya akan terjadi.
BLAAAM!!
Energi Etern pun meledak dan tangan Adrine terasa seperti sedang menahan sesuatu yang sangat berat. Walaupun terasa sangat sakit dan berat, Adrine tetap berusaha menahan rasa sakit yang di terimanya. Terlihat dari ekspresinya yang menahan kesakitan, bibir terbuka lebar, gigi atas dan bawah yang seperti sedang menggigit sesuatu dan menutup begitu rapat, dan matanya yang tertutup rapat, ketiganya membuat Adrine sangat terlihat sedang menahan kesakitan.
'Apakah Etern memang benar-benar sudah selesai?' Pikir Adrine.
Adrine terus menatap ke arah Etern dan dia memang merasa jika pelindung sihirnya sudah tidak bertambah berat. Adrine mengurangi energi mentalnya sebanyak mungkin hingga ia bisa mengontrolnya seminimal mungkin, namun masih dalam kendali.
Etern yang melakukan penerobosan dengan berdiri masih tetap berdiri walaupun penerobosan-nya selesai dan berhasil.
Shin kecil terkejut melihat Adrine sedang mengurangi energi mentalnya, ia seperti panik dengan hal tersebut.
"Adrine, jangan kau lepaskan pelindung sihirnya, jika tidak..."
Shin kecil terdiam melihat Adrine yang sama sekali tidak mendengarkannya, namun Adrine melakukan apa yang di katakan oleh Shin kecil barusan. Memang Adrine tidak sedang melepaskan pelindung sihirnya, jika tidak maka pelindungnya akan mengeluarkan semua energi yang ada di dalamnya dan membuat sensor sihir yang ada disekitar menjadi terpicu.
Etern pun membuka matanya dan melihat ke arah Adrine dengan tatapan senang. Ia juga tahu bahwa Adrine sedang membantunya untuk meredam energinya dan sekarang juga masih terus membantu.
Adrine kembali mengeluarkan keringat karena tidak tahu bagaimana dirinya akan melepaskan pelindung sihirnya.
'Apakah aku harus melakukan ini sampai waktu seleksinya tiba?' Pikir Adrine.
Namun Etern mempunyai inisiatif untuk menyerap kembali energi yang ada di dalam pelindung sihir dan dengan cepat energi yang ada di dalam sana menjadi kosong. Adrine sudah merasa pelindung sihirnya menjadi sangat ringan dan bosa di lepaskan kapan saja.
WHUUU!!
Adrine telah menghentikan aliran energi mentalnya dan pelindung sihirnya pun juga langsung menghilang begitu saja. Ia sama sekali tidak memicu detektor sihir yang ada disekitarnya dan semuanya baik-baik saja.
Lalu Etern berjalan mendekat ke arah Adrine dan wajahnya sangat gembira, Adrine sendiri juga sudah tahu jika Etern ingin berterima kasih kepadanya.
"Terima kasih Adrine, hanya dalam sekali penerobosan saja aku bisa sampai melewati 2 kelas."
"APA!!?"
Adrine sangat terkejut mendengar Etern yang mengatakan bahwa dirinya langsung naik 2 kelas, namun dia tak ingin menarik perhatian orang-orang yang ada sedikit jauh di depannya.
"Mendengar ini, aku terkejut sekaligus senang mendengarnya, bahkan aku sendiri tidak pernah naik 2 kelas dalam sekali penerobosan"
Etern pun tersenyum lebar ke arah Adrine yang memujinya, lalu berbalik menoleh ke arah kandidat murid baru yang lain.
"Adrine, mari kita ke sana agar tidak di curigai oleh orang-orang."
Adrine pun mengangguk, mengiyakan ajakan Etern dan mereka berdua berjalan kembali ke sekumpulan kandidat baru.
Pino dan Vania sama sekali tidak peduli dan mereka juga merasa kalau Adrine dan Etern hanya sedang berputar-putar dan melihat sekitaran.
Etern telah menghabiskan waktu setengah jam dan sekarang setengah jam berikutnya telah berlalu lagi, tepat 1 jam mereka menunggu datangnya kembali si Asra.
SET!!
Pintu kaca yang dimana tadinya tempat Asra masuk ke dalam Perguruan Kilat Langit, sekarang pintunya terbuka lagi dan keluarlah orang yang sama seperti sebelumnya yang masuk ke sana, yaitu Asra.
Asra keluar dengan wajah ramah seperti sebelumnya, namun wajahnya juga sedikit berubah karena merasa tidak enak dengan membuat para kandidat murid baru menunggunya begitu lama. Namun tak ada yang berani melawan Asra karena kekuatan yang dimilikinya, serta persenjataan yang ada disekitar sangatlah berbahaya dan mengerikan.
"Sekarang, kalian ikuti aku!!"
Lalu semuanya berdiri tegak dan berjalan mengikuti Asra, ia berjalan ke arah kubus besar yang tidak ia perbolehkan untuk di sentuh para kandidat murid baru.
"Oh iya, apakah ada di antara kalian tadi yang menyentuh kubus ini?"
Semua orang menggelengkan kepala mereka, sebab mereka melihat seseorang yang tersenyum dengan jawa pembunuh yang luar biasa menakutkan, bahkan Adrine sendiri sampai merasa sangat kecil ketika di hadapannya.
Shin kecil mengikuti Adrine dan berada di belakangnya.
'Si bocah ini di hadapan seorang kultivator tahap Penciptaan saja setakut ini, bagaimana jika kekuatanku sepenuhnya kembali?' Pikir Shin kecil.
Shin kecil hanya terus menatap konyol ke arah Adrine dan ia langsung bergerak mengelilingi kubus yang ada di depan Adrine dan para murid lain-nya serta senior Asra. Dia hanya sedang memeriksa kubus tersebut dan ingin tahu apa yang ada di dalam kubus itu.
Adrine yang hanya dapat melihat Shin kecil hanya tersenyum diam.
'Seperti anak kecil yang suka penasaran saja...' Pikir Adrine sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap ke bawah.
Lalu Asra pun menekan sebuah tombol persegi yang terdapat pada kubus, lalu muncul sebuah tongkat dari bawah tanah yang sedang naik ke atas tepat di depan Asra. Tongkat tersebut hanya setinggi perut Asra dan muncul cahaya hologram yang menampilkan ikon data dan banyak tombol visual.
PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!!
Asra pun menekan beberapa tombol visual tersebut dan setelah selesai, kubus-nya mengeluarkan cahaya yang sedang mengelilinginya seperti Shin kecil, namun Shin kecil sudah berhenti dan terdiam karena penasaran dengan apa yang terjadi pada kubus-nya.
WUUUSH!!
Kubus tersebut membesar hingga berukuran lebih dari 2 kali lipat ukuran aslinya, hingga bisa memuat seluruh murid lulusan dari Perguruan Bayangan Langit di tambah dengan belasan orang lagi.
'Canggih sekali!' Pikir semua orang yang ada di sana kecuali Asra dan Reihan.
PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!!
Asra pun menekan beberapa tombol lagi dan terdapat pintu masuk ke dalam kubus tersebut yang dimana telah terbuka.
"Para kandidat dari Perguruan Bayangan Langit, dipersilahkan untuk masuk."
Setelah mendengar kalimat Asra yang memperbolehkan masuk kepada para murid dari Perguruan Bayangan Langit, mereka pun langsung masuk dengan segera, termasuk Adrine dan Etern. Tak di sangka, Shin kecil juga ikut masuk bersama para kandidat.
'Kenapa Shin kecil juga ikutan masuk?' Pikir Adrine sambil menepuk dahinya.
Tempat yang ada di dalam kubus memang sedikit lebih longgar dan masih muat jika di masuki oleh belasan orang lagi, namun Asra hanya mempersilahkan para kandidat dari Perguruan Kilat Bayangan saja untuk masuk ke dalam dan tidak mempersilahkan satu orang pun dari Perguruan Tombak Rantai untuk masuk. Hal itu di tujukan karena nanti di dalam tidak berdesak-desakan dan menjadi lebih sempit.
PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!!
Asra kembali menekan beberapa tombol visualnya dan pintu pada kubus-nya telah tertutup kembali.
PIIP!! PIIP!! PIIP!!
Asra masih terus menekan tombol visualnya.
"Bersiap untuk berteleportasi!!"
'Eh? Teleportasi?' Pikir Adrine dan beberapa orang lain-nya.
Adrine dan juga beberapa orang yang terkejut barusan teringat ketika mereka masuk ke dalam pesawat Falcon X-12B, perut mereka langsung mual dan rasa ingin muntah langsung keluar begitu saja tanpa sebab yang jelas.
'Aku harus mempersiapkan perutku agar tidak mual lagi.' Pikir Adrine dan beberapa orang yang menyadarinya.
Lalu Adrine langsung memegang perutnya, agar nanti siap di saat teleportasi di mulai.
"Daya energi, stabil!"
PIIP!!
"Koordinasi, akurat!!"
PIIP!!
"Titik koordinat, selesai!!"
PIIP!!
"Efisiensi mesin, stabil!!"
PIIP!!
"Memulai teleportasi!!"
PIIP!!
Setelah Asra menekan tombol terakhir, kubus-nya pun bercahaya.
SWOOOSH!!
Kubus-nya menghempaskan angin dengan sangat dahsyat, lalu seluruh kubus tersebut berubah menjadi cahaya biru. Kubus-nya juga terbang dengan sendirinya cahayanya semakin terang.
Semua orang yang ada di dalam kubus menjadi bercahaya biru juga seperti kubusnya dan Shin kecil bersembunyi di antara kaki Adrine dengan menggunakan tubuh aslinya agar ikut terpindah juga nantinya. Tubuh Shin kecil juga ikut bercahaya biru seperti yang lain.
'A... Apa-apaan?' Pikir Adrine dan semua orang yabg ada di dalam kecuali Etern dan Shin kecil.
Adrine masih terus memegangi perutnya dan terus bersiap agar tidak mual nantinya saat tiba di tempat seleksi.
ZRIIIIIIIIIIING!!
Cahaya pada kubus mulai berterbangan dan tubuh aslinya yang berupa kumpulan baja dan logam pun mulai terlihat kembali, seolah cahaya tadi adalah kulit luar yang sedang mengelupas sedikit demi sedikit. Cahaya yang mengelupas itu seperti membentuk kubus yang lain, namun 100% berupa cahaya.
BLAAAM!!
"Woooow..."
Tubuh asli dari kubus-nya pun terjatuh ke tanah dan membuat tanah bergetar hebat serta melayangkan para kandidat dan senior Asra.
Kubus cahayanya masih melayang di atas kubus yang asli, namun para kandidat yang ada di dalam kubus-nya juga berpindah ke kubus cahaya.
ZRIIUUU!!
Kubus cahayanya pun menghilang dengan sangat cepat dan berpindah ke tempat seleksinya.
"Baiklah, setelah ini giliran kalian, para kandidat dari Perguruan Tombak Rantai."
PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!! PIIP!!
Lalu Asra menekan kembali tombol virtualnya dan pintu pada kubus-nya terbuka lagi.
Sementara itu, para kandidat yang telah masuk ke dalam kubus, sedang dalam perjalanan. Mereka berada di dalam sebuah dimensi ruang waktu yang sangat kompleks, namun semuanya tak ada yang dapat melihatnya karena kecepatannya sangat cepat dan perut mereka menjadi sangat mual, Adrine sendiri juga sangat mual, padahal ia sudah bersiap dari tadi.
'Sialan, efeknya sampai... Seperti ini...' Pikir Adrine.
ZRIIUUU!!
Mereka pun telah sampai di tempat seleksinya dan tempat seleksinya berada di dalam hutan.
Para kandidat pun langsung muntah-muntah di tempat, bahkan Adrine sendiri juga sangat tidak tahan. Kepala mereka juga sangat pusing setelah sampai di tempatnya.
"HOEK!! HOEK!!"
Adrine pun langsung muntah di tempat juga dan kepalanya terasa sepertu berputar sangat kencang. Tubuhnya menjadi kehilangan keseimbangan karena kepalanya yang berputar itu alias pusing.
"Hah... Hah... Hah... Sialan, aku sangat tidak kuat menghadapi efeknya..."
Adrine terengah-engah di hadapan orang-orang, bahkan cara berjalannya pun juga sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk, namun tak ada satupun yang memperhatikan dirinya, itu karena mereka juga sama seperti itu bahkan jauh lebih parah. Ada juga yang hampir pingsan di tempat karena saking tidak kuatnya.
Wajah Etern juga menjadi pucat karena sedikit tidak kuat akan efek dari kecepatan yang luar biasa tadi.
Setelah itu, Adrine mencoba agar memalingkan dirinya dari efek samping yang di terimanya dan ia sedang mencoba berdiri dengan benar. Adrine pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, guna memperbaiki penglihatan-nya yang buram karena pusing.
"Oh, jadi ini tempat seleksinya? Kita berarti di tempatkan di hutan ini ya?"
Etern mengangguk.
"Ya, kita akan mengikuti seleksi layaknya ujian seperti tadi pagi."
Adrine juga mengangguk mendengar kalimat Etern.
Shin kecil malah terbang kesana-kemari dan wajahnya terlihat seperti sangat terkesima dengan tempat seleksinya.
"Rerumputan yang begitu hijau, di tumbuhi oleh ribuan jenis tanaman herbal, sungguh surganya para Alkemis."
Ekspresi Shin kecil terlihat sangat gembira dan senang dengan semua hal yang ada disekitar, bahkan wajahnya terlihat seperti mengeluarkan aura dan cahaya yang bersinar dengan kerlip yang bertaburan.
'Apalagi yang dilakukan oleh Shin kecil itu?' Pikir Adrine sambil menggelengkan kepalanya perlahan dan menghadap ke bawah.
Lalu Adrine kembali menatap sekitar dan melihat sebuah gunung yang sangat tinggi, terdapat juga menara juga yang sangat tinggi di atasnya.
"Oh iya, bukankah seleksi kita seharusnya ada di gedung itu?"
Adrine pun menunjuk ke arah menara yang ada di gunung yang di lihatnya barusan dan Etern pun melihat ke arah yang di tunjuk Adrine itu.
"Sepertinya, iya."
Etern menjawab dengan suara yang menurun dan seperti tidak yakin dengan jawaban yang di ucapkan-nya itu.
Bersambung!!