Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (2)


1 jam sebelum ujian dimulai, diperguruan utara, Qiandi beserta teman-temannya sedang mempersiapkan rencana untuk mengalahkan murid selatan.


"Rio, kau punya penglihatan jarak jauh, kau harus bisa membedakan mana kawan dan mana yang lawan."


Rio mengangguk paham dengan perintah dari Qiandi, namun rencana yang dipersiapkan ini tentunya juga sedang ditujukan kepada Adrine, hal ini sangatlah termasuk dan terkhususkan bagi Qiandi.


"Oh iya, nanti kita harus mengalahkan yang namanya Adrine, pecundang itu. Setelah kita menemukan dia, kita akan mengalahkannya dan langsung menyebar ketika itu juga."


Ketika Qiandi menjelaskannya, Rio seperti kurang paham akan penjelasannya.


"Kenapa kita harus menyebar ketua?"


BLETAK!!


Qiandi merasa kesal dan memukul kepala Rio karena tidak cukup pintar untuk memahami rencananya.


"Bodoh! Setelah si pecundang itu mati, maka dia masih bisa muncul kembali dengan point respawn yang dimilikinya. Maka dari itu kita harus secepatnya mencari tempat kemunculannya kembali dan dia akan mati lagi lalu lakukan rencana ini lagi sampai dia tidak hidup lagi."


Rio pun paham dengan rencana yang dimaksud oleh Qiandi. Walaupun agak kesal harus menjelaskan rencananya hingga sangat panjang, namun Qiandi tetap merasa kalau dirinya yang juga melakukan kesalahan karena penjelasannya kurang.


Namun rencana yang sedang disiapkan oleh Qiandi bukan hanya itu, ia masih mempunyai rencana untuk membuat seluruh murid selatan dikeluarkan dari perguruan.


"Oh iya, kelompok terbesar yang ada diperguruan selatan adalah Geng Lima Jenius, kita harus waspada dengan mereka. Tapi aku tidak mengatakan kalau mereka lebih kuat dari kita, jadi untuk membereskan semuanya aku akan membutuhkan seseorang. Theo, kemarilah!!"


Qiandi memanggil seseorang yang bernama Theo, sepertinya orang yang diandalkannya itu cukup kuat. Orang yang bernama Theo itupun muncul disana.


"Haha, ketua Qiandi, ada apa kau memanggilku?"


Theo muncul dengan penuh gaya dan senyuman, tubuhnya tinggi, berkulit putih, dan memiliki wajah yang cukup tampan. Kekuatan yang dimilikinya juga tak kalah kuat dari Rio, mereka berdua telah mencapai tahap Kematian level-2 kelas puncak.


"Seperti apa yang kau dengar tadi, aku membutuhkanmu untuk mengurus Geng Lima Jenius, bersama dengan Rio dan beberapa rekannya kau harus berhasil menghancurkan keseluruhan dari geng itu."


Kalimat Qiandi sangatlah berambisi, ia benar-benar ingin menghancurkan seluruh murid selatan dan membuat nama dari murid utara yang dikenal oleh banyak orang.


"Baiklah ketua Qiandi, nanti kau tak perlu turun tangan agar tanganmu itu tidak kotor."


Segera setelah itu mereka membentuk rencana untuk nanti disaat ujian akan mengadakan perkumpulan. Diperguruan utara hanya terdapat 3 guild besar, yakni Guild Tangan Raja, Guild Tulang Emas, dan Guild Garis Ombak.


Guild Tangan Raja yang diketuai oleh Qiandi telah bekerja sama dengan Guild Tulang Emas untuk bisa mengalahkan murid selatan. Guild Garis Ombak menolak untuk bekerja sama karena mereka tidak ingin menjalankan ujian mereka dengan bantuan orang lain. Guild tersebut juga mempersiapkan rencana untuk bisa mengalahkan lawan, tidak dari murid utara maupun murid selatan mereka tidak akan memberi ampun atau melepaskannya.


"Dimana Guild Tulang Emas? Kenapa mereka tidak datang untuk membentuk rencana?"


Rio yang tahu kalau Guild Tulang Emas telah bekerja sama merasa kalau mereka tidak datang untuk mempersiapkan rencana. Namun Qiandi masih bersikap tenang, ia malah tersenyum.


"Tenang saja, mereka telah mengirimkan perwakilan untuk menyampaikan rencana kita. Reyhan, Nayla, kemarilah!!"


Qiandi memanggil 2 orang lagi yang bernama Reyhan dan Nayla, mereka berdua adalah perwakilan dari Guild Tulang Emas untuk menyampaikan rencana yang telah disusun oleh Guild Tangan Raja. Namun bukan berarti kalau Guild Tulang Emas belum mempersiapkan semuanya dan mereka akan bersantai dan mengikuti keseluruhan dari rencana dari guild milik Qiandi. Sudah semestinya mereka juga mempunyai rencana agar mereka tidak dirugikan atau dikelabui oleh Guild Tangan Raja.


"Reyhan, bagaimana keadaan Febri? Apakah ketuamu itu baik-baik saja?"


Febri yang disebutkan oleh Qiandi adalah seseorang yang mengetuai Guild Tulang Emas, untuk kekuatannya saat ini adalah sama dengan Qiandi, yakni tahap Kematian level-3 kelas menengah.


"Ketua Febri saat ini baik-baik, sekarang ini ketua sedang memulihkan tenaganya setelah berlatih tanding seharian dari kemarin. Mungkin sekarang ketua sedang membuat rencana juga seperti ketua Qiandi."


Qiandi mengangguk paham. Ia tahu kalau tak mungkin seorang ketua itu bersantai-santai, apalagi hari ini juga adalah hari dimana ujian kelulusan akan diadakan.


"Aku yakin kalian berdua juga baik-baik saja, untuk sekarang ini yang lebih penting adalah rencana untuk meratakan seluruh murid selatan. Seharusnya kalian sudah tahu dan mengenal beberapa dari kita yang murid utara."


Reyhan dan Nayla mengangguk paham akan rencana yang telah disampaikan oleh Qiandi.


Disana mereka masih membicarakan rencananya hingga setengah jam kedepan. Hingga ujian kelulusan tiba, mereka pun berkumpul dan melihat banyaknya murid dari perguruan utara maupun selatan. Jika dirata-rata, kekuatan dari keseluruhan murid utara dan selatan berada ditahap Kematian level-2 kelas menengah.


Mereka sempat melihat Adrine bersama dengan teman-temannya, namun karena belum mengenali bagaimana dan seperti apa itu Adrine, mereka hanya merasa kalau ia itu adalah murid biasa yang tak terlalu jadi incaran. Adrine berusaha untuk mengubur aura dari kekuatannya agar tidak terlalu menarik perhatian.


Setelah ujiannya dimulai, mereka semua telah terpisah dan muncul ditempat yang berbeda-beda. Walaupun ada beberapa dari mereka yang kemunculannya ditempat yang cukup berdekatan, namun mereka semua harus tetap mencari keberadaan yang lainnya pula.


Dan sekarang ini sudah lebih dari setengah dari keseluruhan anggota Guild Tangan Raja telah berkumpul dan bersama dengan Qiandi. Rio masih belum juga datang dan juga ikut berkumpul dengan rombongan guildnya.


Dan untuk Adrine saat ini, ia tengah mendapati pertarungan dari Arpha yang sedang melawan seseorang. Pertarungannya sangatlah tak seimbang karena Arpha hanya berada ditahap Kematian level-1 kelas menengah dan lawannya berada ditahap Kematian level-2 kelas awal.


Karena Adrine tak mau melihat temannya yang satu ini kalah, ia pun turun tangan untuk membantu. Hanya dengan satu serangan tangannya saja, lawannya langsung terjatuh dan harus menggunakan point respawn.


"Adrine? Kenapa kau membantuku? Dia itu lawanku, aku juga butuh point."


Adrine tak memperdulikan kemarahan dari Arpha yang point miliknya telah direbut oleh Adrine. Kini point milik Adrine berjumlah 10 buah. Hanya butuh 15 lagi untuk bisa memenuhi kualifikasi kelulusan.


Arpha masih saja mempermasalahkan tentang point miliknya yang telah direbut oleh Adrine, namun ia tahu kalau bukan karena Adrine yang membantunya, ia akan kehilangan 3 point. Arpha pun diam setelah menyadari hal tersebut.


"Sudah diam? Nah, begitu kan lebih bagus daripada mengoceh hal yang tak jelas. Untuk point adalah masalah belakangan, waktu yang diberikan juga masih cukup panjang, kita harus mencari Etern dan David terlebih dahulu sekarang."


Waktu yang diberikan untuk ujian adalah 5 jam, untuk sekarang ini bahkan belum sampai 15 menit.


"Dengarlah Arpha, carilah lawan yang seimbang denganmu, aku bisa menjamin jika orang tadi berada dikelas menengah, kau akan kalah bahkan sebelum aku datang membantumu."


Arpha memang terlihat seperti sedang merenungi tentang hal tadi, apalagi setelah diingatkan oleh Adrine barusan.


SET!!


"AWAS!!"


Muncul serangan dari jarak jauh, yakni adanya pisau yang dilempar. Adrine menyadari hal tersebut dan mengingatkan kepada Arpha yang sedang melamun. Seketika itu juga Arpha juga langsung menyadari adanya serangan yang sedang mengarah kepadanya, jadi secara refleks ia menghindarinya tepat setelah Adrine mengingatkan serangan itu.


"Haiish... Untung saja tidak kena..."


Arpha pun mengelus dadanya dan bersyukur karena tidak kena serangan yang barusan. Namun Adrine tetap fokus dan pandangan matanya masih kedepan, walaupun ekspresi wajahnya datar.


"Fokuslah! Jangan melamun, kita sedang berada didalam zona perang."


Adrine mengingatkan lagi kepada Arpha, namun mengingatkan untuk tetap fokus dan tidak melamun disaat berada ditempat seperti itu.


"Bagus juga refleks kalian... Tak kusangka murid selatan cukup cepat juga refleks dan nalurinya."


Muncul 3 orang yang ternyata dari murid utara. Ternyata salah satu diantara mereka adalah Rio yang belum bergabung dengan guildnya dan kedua orang itu juga berasal dari guild yang sama dengannya yang juga belum bergabung dengan rombongannya.


Rio masih teringat dengan rencana untuk segera menemukan dan mengalahkan orang yang bernama Adrine, dan orang yang dicarinya sudah berada didepan matanya. Karena masih teringat dengan rencana tersebut, ia memeriksa profil milik 2 orang yang ada didepannya.


Merasa kalau orang yang dibelakang cukup lemah, Rio memeriksa apakah orang itu adalah Adrine. Namun ia salah, dan hanya mendapati kalau orang itu bernama Etern. Karena sudah melihat kalau orang itu bernama Etern, Rio pun memeriksa profil milik Adrine. Namun belum juga membuka profilnya, sudah diserang oleh Adrine agar sesegera mungkin menemukan kedua temannya.


Tapi Rio berhasil menghindari serangan dadakan dari Adrine, kedua orang yang ada dibelakangnya pun maju dan bertindak. Mereka berdua menyerang duluan dan Rio hanya menonton dari belakang.


"Kau menyerangku secara tiba-tiba? Sungguh hina sekali. Kau tak pantas untuk menjadi lawanku."


Rio menyombongkan dirinya dihadapan Adrine yang tengah menjadi incaran dari kedua temannya itu, namun belum juga kedua temannya itu menyerang, mereka berdua sudah harus menggunakan 1 point respawn mereka. Adrine hanya menggunakan sebuah energi untuk membentuk serangan yang berupa tebasan, hal itu biasa disebut dengan aliran energinya. Adrine menggunakan aliran energi yang hampir menyerupai pedangnya untuk menyerang kedua teman Rio dan berhasil mengalahkan mereka berdua tanpa harus berpindah dari tempatnya.


Hampir mirip dengan energi mental dan hawa pembunuh yang mengintimidasi, aliran energi yang digunakan Adrine ini hanya berupa trik menyerang menggunakan energi tanpa harus menggunakan teknik.


'Apa? Mereka tumbang hanya karena terserang aliran energi orang itu? Sialan!! Aku harus bertindak kali ini.' Pikir Rio.


Karena merasa khawatir akan kekalahan, Rio menggunakan mata jiwanya untuk mengalahkan Adrine. Ia juga menggunakan artifak jiwanya yang berupa busur panah. Artifaknya itu berupa artifak tingkat puncak yang cukup kuat.


"Hahaha, apa kau takut melihatku menggunakan mata jiwaku dan artifak milikku ini? Ketahuilah, mata jiwa ini adalah mata jiwa warisan dari ayah dan kakekku. Mata ini sangat kuat, kakekku memberi nama mata ini dengan nama Mata Busur Bulan."


Mata milik Rio ini memang bukan mata jiwa bawaan, namun warisan dari ayah dan kakeknya yang dulunya juga adalah mata jiwa bawaan dari kakeknya itu. Walaupun tak diketahui siapa kakeknya itu, namun menurut dari perkataannya tadi kakeknya cukup kuat.


Tanpa harus diberitahukan, Adrine sudah tahu nama dari busur panah yang dibawa oleh Rio, busur itu bernama Busur Bulan. Busur tersebut berwarna putih bulan, dengan ukuran yang hampir sepanjang tinggi bada Rio.


Rio memiliki tinggi badan sekitar 165 cm dan Adrine memiliki tinggi badan 170 cm untuk sekarang ini. Arpha memiliki tinggi badan sekitar 165 cm.


Karena merasa tak sabaran, Rio menarik tali pada busurnya yang berwarna emas. Muncul sebuah anak panah yang berupa cahaya berwarna putih bulan yang sama dengan warna busurnya. Rio pun melepaskan tarikannya dan menembakkan anak panahnya dengan sangat cepat. Jumlah anak panah yang ditembakkan oleh Rio juga terus bertambah dan sangat cepat ketika menembakkannya. Namun dengan lihainya Adrine menghindari semua anak panahnya. Arpha menghindari serangannya dengan berlari dari arah serang panah milik Rio.


Tiba-tiba Rio menyudahi serangan anak panahnya yang sangat banyak itu.


"Kau kira panahku ini sesederhana yang kau lihat? Hehe, panahku ini sangat mengerikan lho..."


Lalu Adrine melirik kebelakang dan menyadari kalau anak panah tadi berbalik arah dan mengarah kepadanya. Namun karena ingin cepat-cepat mengakhiri semua itu, Adrine pun mengangkat tangannya dengan sangat cepat dan merapatkan jari telunjuknya dan jari tengahnya.


Seketika setelah Adrine melakukan hal itu, aliran energi yang sama dengan mengalahkan kedua teman Rio tadi. Aliran energinya itu menghancurkan anak panahnya yang mendekati Adrine dan semuanya hancur.


'Apa? Hancur semudah itu?' Pikir Rio.


Namun tak ada waktu untuk berpikir disaat sedang bertarung dan juga berperang, dengan segera ketika Rio sedang memikirkan tentang anak panahnya yang hancur itu, Adrine dengan sangat cepat menyerang didepan Rio dan menghajarnya dengan posisi tangan dan jari yang masih belum berubah dari saat ia menghancurkan anak panahnya orang yang diserangnya itu.


Hanya dengan sekali tebas dari kedua jarinya itu, tubuh bagian atas Rio langsung terpisah dari tubuh bagian bawahnya. Rio sendiri juga merasa terkejut dalam waktu sepersekian detik, lalu tubuhnya itu menghilang dan dan harus menggunakan point respawn untuk kembali hidup. Untuk kembali hidup juga perlu waktu selama 5 menit dan mereka pun akan kembali hidup setelah 5 menit itu terlewat. Jadi setelah terkena serangan fatal dan tubuh tidak bisa menahan serangan tersebut dan mati, maka akan membutuhkan waktu sebanyak 5 menit untuk hidup kembali.


Arpha hanya menatap Adrine dengan tatapan biasa karena menurutnya hal tiu sudah biasa saja dimatanya ketika Adrine mengalahkan musuhnya dengan sangat cepat dan tepat. Adrine juga masih bersikap biasa dan tidak menunjukkan ekspresi apapun disaat mengalahkan Rio dan teman-temannya. Menurutnya semua itu tak ada yang perlu dibanggakan maupun diperbincangkan.


Adrine masih fokus dengan mencari Etern dan David. Lalu Adrine melihat kanan dan kirinya.


"Ayo! Kita harus segera menemukan mereka berdua!! Ini sudah lebih dari 15 menit, kita harus secepatnya menemukan mereka sebelum setengah jam."


Adrine seperti sudah mempersiapkan sebuah rencana, hal itu bisa terlihat dari ucapannya yang dimana harus menemukan kedua temannya itu sebelum waktu berlalu hingga setengah jam.


Arpha mengangguk.


"Ayo kita berangkat!!"


Arpha pun langsung mengajak untuk bergerak dan Adrine pun mulai bergerak yang diikuti Arpha yang juga bergerak. Mereka pun sudah memulai pencarian mereka kembali agar bisa menunaikan rencananya.


Bersambung!!