
Esok harinya, Adrine masih berkultivasi tanpa henti. Ia masih terus berusaha untuk menghancurkan Lapisan Segel Darah Suci yang melapisi Titik Meridiannya.
Beberapa waktu sebelumnya, Adrine sempat dilihat oleh beberapa orang, karena dudukan nomor 00 telah diisi olehnya.
"Errghh!!"
Tubuh Adrine menunjukkan reaksi seperti sedang menahan sesuatu. Bukan sakit, tapi Adrine seperti sedang menahan suatu tekanan dan kekuatan yang keluar masuk dalam tubuhnya.
Titik Meridian Adrine seperti berguncang dan menunjukkan reaksi, segel luarnya juga sudah retak.
'Apakah memang benar dengan cara ini benar-benar berhasil? Seharusnya aku kesini sejak awal.' Pikir Adrine.
Adrine merasa sangat senang sekali, namun gejolak yang mulai keluar dari tubuhnya mulai menguat. Jika gejolaknya berhenti, hal itu menandakan kalau Adrine sudah lulus seleksi tantangan, dan ia berhak untuk naik kelantai berikutnya. Dan hal itu sudah akan terjadi pada Adrine sekarang ini.
Beberapa saat kemudian, gejolak yang keluar mulai meredup dan tidak ada lagi. Adrine sudah tidak bisa berkultivasi lagi disana, seperti energi yang ada disimpan disana itu secara sendirinya dihentikan.
"Berarti aku harus naik kelantai 2 sekarang."
Adrine pun berdiri dan akan menuju kelantai 2. Disaat Adrine akan naik keatas menuju kelantai 2, ia berpapasan dengan Roni yang juga sedang turun karena waktunya sudah habis. Tempatnya sudah digantikan oleh orang lain dan dirinya harus keluar dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat.
"Mau apa kau kelantai 2?"
Roni seperti ingin mencegah Adrine untuk naik kelantai 2. Ia sangat tidak suka dengan keberadaan Adrine disana.
"Aku sudah diperbolehkan untuk naik keatas, apa aku tidak boleh keatas?"
Adrine memasang wajah dinginnya lagi didepan Roni. Adrine terus memasang wajah dinginnya apabila bertemu dengan orang lain kecuali Shin kecil atau sedang sendirian.
"Apa kau sedang bercanda? Hanya dalam sehari kau sudah naik lantai? Tak ada yang seperti itu bodoh. Dan lagi, nomormu juga akan diacak kembali dan tidak akan sama seperti sebelumnya."
Roni masih saja menentang Adrine, padahal Adrine belum menunjukkan plakatnya kalau sebenarnya dirinya itu memang sudah naik lantai. Dirinya ingin meyakinkan kepada Adrine kalau nomornya nanti akan berubah setiap kali naik lantai.
"Lihat sendiri plakatku ini! Apa plakat ini belum cukup kuat untuk membuktikan diriku sudah naik lantai? Dan lagi, nomor yang kudapatkan juga tidak berubah sama sekali, tetap angka 00."
Adrine pun menunjukkan plakatnya agar membuat Roni percaya kalau dirinya itu memang sudah naik kelantai 2.
"Itu... Itu tidak mungkin! Hanya dalam sehari kau sudah naik kelantai 2? Dan tetap berada dinomor yang sama? Mustahil!"
Roni masih tak percaya kalau Adrine sudah naik kelantai 2 dalam waktu sehari saja. Dirinya yang sudah berusaha hingga 2 tahun lebih saja baru mencapai lantai 3.
Roni lebih tak percaya lagi kalau nomor yang didapatkan oleh Adrine tidaklah berubah sama sekali, tetap berada pada nomor yang terbaik dan melegenda.
"Minggirlah! Aku ingin lewat."
Adrine berjalan keatas dengan sombongnya melewati Roni yang masih terdiam disana karena termenung. Roni terus memikirkan tentang Adrine disana. Ia bahkan tak bergeming ketika Adrine melewatinya dan menyenggol lengannya.
'Ini tak mungkin! Aku saja butuh berbulan-bulan untuk naik kelantai 2, sedangkan dia... Hanya seorang pecundang dan sudah naik kelantai 2 dalam waktu yang sangat singkat dan mendapatkan angka 0. Jika dia ini pecundang, aku ini apa?' Pikir Roni.
"Jika kau menyebut diriku ini pecundang, lalu dirimu ini apa? Anjing? Benar juga, dasar anjing!"
Dengan sangat sombong, Adrine menghina Roni dengan begitu hinanya. Adrine tersenyum jahat ketika memandang Roni, dan orang yang dipandangannya juga merasa direndahkan ketika itu juga.
'Rasakan itu, dasar anjing payah!' Pikir Adrine.
'Sialan kau Adrine! Akan kubuat kau menyesal nantinya karena telah menghinaku.' Pikir Roni.
Keduanya saling merendahkan walaupun hanya dalam hati. Mereka tak ingin membuat kegaduhan didalam menara dan menarik perhatian orang lain.
Mereka berdua saling berpisah ditempat itu juga. Adrine naik keatas dan langsung duduk diatas dudukannya. Namun dudukannya tidak seperti sebelumnya, kini dudukannya terdapat 2 lapis batu lingkaran.
'Mungkin jika aku berada dilantai selanjutnya, maka dudukannya akan bertambah tinggi dan berlapis tiap lantainya.' Pikir Adrine.
Adrine sudah tak menghiraukan hal itu lagi, ia langsung fokus kembali dan berkultivasi agar dapat memecahkan lapisan segelnya. Lapisan luarnya telah retak, itulah hal yang membuat Adrine semakin bersemangat untuk berkultivasi.
Kesadarannya berpindah tempat pada jiwanya yang ada didalam lautan spiritualnya. Ia terus mengamati perkembangan dari usahanya untuk menghancurkan Lapisan Segel Darah Suci yang lapisan luarnya. Dalam penglihatan Adrine, ia melihat energi bayangan yang masuk sedikit demi sedikit menghancurkan lapisan luarnya.
Jika Adrine tidak segera menghancurkan segelnya, ia tak akan bisa berkultivasi dan mendapatkan Fragmen Jiwa Bela Diri miliknya. Maka dari itu, Adrine berusaha sekuat tenaga agar dirinya bisa kembali berkultivasi dan menjadi tak terkalahkan.
Pada saat yang sama, ada seseorang yang juga dalam suasana yang menggembirakan baginya. Orang itu naik lantai sekaligus naik kelas kultivasi.
"Akhirnya... Ini adalah hari yang menggembirakan dalam hidupku. Aku mencapai tahap Kematian level-1 kelas akhir sekaligus naik kelantai 3."
Orang itu sangatlah senang hingga secara tak sengaja melihat Adrine yang sedang berkultivasi.
'Bukankah dia yang ada dibawah?' Pikir orang itu.
Orang itu seperti sudah mengenali sesuatu, namun seperti ada yang janggal ketika melihat Adrine. Hingga ia menyadari sesuatu pada Adrine.
"Apa? Bukankah dia itu baru masuk kemarin? Bagaimana bisa dia naik kelantai 2 hari ini? Apakah secepat ini? Hanya dalam sehari saja?"
Orang itu terkejut bukan main. Sama seperti Roni, ia sangatlah terpukul dan terpikirkan dirinya sendiri yang sudah berlatih lama untuk mendapatkan hasilnya. Namun ia mendapati Adrine yang naik lantai hanya dalam waktu 1 hari, itu adalah sesuatu yang sangat mengejutkan baginya.
'Hanya dalam sehari? Aku saja membutuhkan waktu hingga lebih dari setahun untuk naik lantai, dan dia... Apakah ini memang keajaiban dari angka 0 yang melegenda itu?' Pikir orang itu.
Orang itu memang memaklumi kalau angka 0 dalam Menara Aliran Bayangan Bertingkat itu sangatlah legendaris dan penuh keajaiban. Dan ia tak menduga kalau orang yang mendapatkannya adalah seseorang yang selama ini disebut pecundang oleh seluruh murid perguruan.
'Jika pecundang bisa menjadi legenda, maka aku ini apa?' Pikir orang itu.
Orang itu pun turun. Selama perjalanannya turun, ia merenungi tentang dirinya yang tak lebih dari seseorang yang disebut-sebut sebagai pecundang.
'Berarti selama ini aku salah. Dia itu bukanlah pecundang, melainkan adalah seorang jenius. Jika ada yang menyebutnya sampah, maka aku ini jauh lebih rendah daripada sampah, karena dia itu seorang jenius yang dianggap sampah.' Pikir orang itu.
Hingga pulang pun ia terus merenungi hal tersebut. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun saat dipanggil oleh seseorang.