
Tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan yang cukup besar yang berasal dari tempat Adrine mengkultivasi proses penggabungan Pedang Api Hitam Ashura dengan Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu.
Adrine terlontar ke udara dan menghantam dinding kawah dengan sangat keras. Ia terjatuh kedalam kawah yang berisi magma yang panas.
Sontak hal tersebut membuat Shin kecil terkejut dan secara refleks langsung bergegas menghampiri Adrine yang terjatuh kedalam kawah yang panas. Ia melihat kalau Adrine seperti mengambang diatas kawah dan kulitnya sedikit terbakar karena terkena langsung oleh magma.
"Adrine!! Apa kau tak apa-apa?"
Lantas Adrine terbangun dan menoleh kearah Shin kecil yang sedang menghampirinya. Ia seperti sedang berenang dan tidak merasakan apa-apa disaat berada didalam kawah yang berisikan magma yang sangat panas.
"Tenang saja, aku tak apa-apa. Tapi, bagaimana dengan Pedang Api Hitam Ashura milikku?"
Bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri, Adrine malah memikirkan tentang pedang miliknya.
"Hei, pikirkan dulu dirimu sendiri! Kenapa kau harus memikirkan pedangmu itu? Kau itu sekarang sedang berenang di sungai magma yang panas, apa kau tak merasa panas?"
Adrine melihat magma yang ada disekelilingnya dengan tatapan biasa saja, bahkan seperti sedang melihat sesuatu yang rendahan, seolah-olah magma dan api yang membakar kulitnya itu tidak panas sama sekali.
"Kau tahu, api yang ada didalam alam bawah sadarku jauh lebih panas dibandingkan dengan semua api ini. Paling tidak 200 kali lipat lebih panas."
Adrine mengucapkan kalimat tersebut dengan nada sombong, seakan-akan ia merasa kalau dirinya adalah orang yang kebal dengan api dan panas.
"Mungkin api biasa tidak terlalu panas bagimu, tapi kalau api yang dikendalikan oleh seseorang, bagaimana?"
"Nah, itu dia, aku juga masih kurang tahu kalau api yang dikendalikan oleh seseorang itu bisa lebih berbahaya atau tidak."
Segera setelah mereka membicarakan tentang api, Adrine teringat akan pedangnya yang entah sudah selesai atau belum. Ia pun melompat dan memeriksa apakah penggabungannya sudah berhasil atau tidak.
Sesaat Adrine melihat kalau Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu sudah tidak ada.
"Kukira aku aku gagal, aaahhh... Leganya aku kalau berhasil.
Tiba-tiba Adrine melihat sesuatu yang berbeda pada pedangnya.
"Eh? Apa itu?"
Adrine melihat terdapat gembok besar yang berada diantara mata pedang dan gagang pedangnya. Didalam lubang gemboknya seperti ada sebuah aura jahat yang menyelimuti gembok tersebut dari dalam. Aura tersebut seperti asap berwarna merah bagaikan nuansa iblis yang terkurung didalamnya.
Tetapi 7 api tersebut masih terus berkobar dan kobarannya terus menerus dihisap oleh gembok yang ada pada Pedang Api Hitam Ashura. Gembok tersebut seperti melahap api untuk makanan yang dapat memperkuat kekuatan pedangnya.
"Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu telah menyatu dengan Pedang Api Hitam Ashura dan kau itu sangat beruntung. Jika kau mendapatkan api, kau bisa menghisapnya dan membentuk yang lebih besar pada kekuatan di pedangmu itu."
Mata Shin kecil seperti sedang menganalisa pedang Adrine yang baru saja ditingkatkan.
"Mungkin pedang itu bisa dibuat bobol pintu orang, haha."
"Bukan buka pintu, tapi buat hancurin pintu."
"Kau benar juga, haha."
Mereka berdua malah bercanda dengan pedang yang didapat oleh Adrine. Tetapi Adrine mulai tidak menghiraukan candaan mereka hingga mendalam. Adrine kembali fokus terhadap pedangnya.
"Tidak. Semua artifak tingkat Murni keatas kecuali artifak batu akan mempunyai peringkat 1-8."
"Oh... Bukankah kalau artifak batu itu punya 8 peringkat juga?"
"Ya, tapi kalau artifak batu itu punya 8 peringkat dari tingkat rendah hingga yang lebih tinggi."
Adrine mengangguk paham. Artifak batu itu adalah bahan utama penentu kekuatan yang akan menentukan kekuatan dari sebuah artifak. Maka dari itu, artifak batu itu jauh lebih spesifik dalam penentuan tingkatannya.
Adrine mendekati pedangnya yang masih terkultivasi oleh 7 api. Tetapi Kitab Emas Tanpa Nama sudah disimpan kembali oleh Adrine didalam mata kirinya.
Pedang Api Hitam Ashura secara sendirinya menghisap energi api tanpa bantuan konvensi energi dari Kitab Emas Tanpa Nama. Dan yang menghisap adalah gembok yang ada pada pedangnya. Gembok tersebut menghisap energi dengan sendirinya seperti mempunyai pemikiran sendiri, dan yang menghisapnya adalah lubang pada gemboknya.
Gembok tersebut seperti terbelah menjadi 2 secara horizontal seperti pintu pada ruang didalam Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu seperti sebuah ruang eksekusi atau penjara. Lubang pada gembok dan belahan horizontal tersebut masih terus melahap api hingga tanpa henti, seakan-akan 7 api itu berkobar tanpa batas dan tidak bisa berhenti terhisap oleh pedang milik Adrine.
"Jika aku terus melihat pedang ini, aku sendiri juga akan menguras waktuku sendiri. Lebih baik kugunakan untuk berkultivasi sendiri saja."
Lalu Adrine melompat kembali dan mengkultivasi dirinya sendiri untuk melanjutkan kultivasinya di Altar Sembilan Warna Api Spiritual. Dan kini Adrine akan mengkultivasi api yang berwarna merah darah.
"Apa kau tak mau menggunakan pedangmu itu? Pedangmu nanti tidak bisa kau gunakan di alam bawah sadarmu."
"Hmm... Kau benar juga. Pedangku juga belum pernah kugunakan sebelumnya, apalagi sekarang kesulitannya juga akan meningkat, lebih baik kubawa saja."
Adrine lebih memilih untuk membawa pedangnya daripada menanggung resiko yang lebih berbahaya.
"Oh iya, aku punya ide."
Tiba-tiba Adrine mendapatkan sebuah pemikiran yang cukup cemerlang.
"Itu pemikiranmu, kau gunakan untuk dirimu sendiri. Aku tak perlu tahu karena juga tak akan berguna bagiku."
"Kau benar juga."
Shin kecil mengatakan hal yang benar. Ide yang akan dikatakan oleh Adrine juga tak akan Shin kecil gunakan, karena ini adalah masalah Adrine secara pribadi untuk dirinya sendiri dan tidak menyangkut secara langsung dengan Shin kecil.
Adrine mengambil pedangnya dari tempatnya mengkultivasi api pada tubuh dan mata pedangnya. Walaupun Pedang Api Hitam Ashura telah diambil, tetapi 7 apinya masih tetap terhisap oleh pedangnya. Adrine tak memperdulikan hal tersebut dan langsung berkultivasi lagi.
Sesaat Adrine langsung masuk dan menempelkan telapak tangannya ke pilar. Seperti biasa, muncul hewan spirit yang akan menyimpan teknik didalam tubuhnya dan dapat diambil setelah membunuhnya.
"Tak kusangka kalau aku bertemu dengan naga ini lagi... Tapi yang ini tingkat Langit peringkat 5, aku kurang yakin."
Walaupun Adrine telah mencapai pencapaian tahap Kematian level-3, tetapi Naga Kristal Api Bersayap 6 itu sudah mencapai fase penyempurnaan, dan setara dengan tingkat langit peringkat 5, walaupun belum pada umumnya. Dan kekuatannya hampir setara dengan tahap Nirvana Alam Pertama.
"Daripada yang 4 bulan lalu, ukurannya agak sedikit lebih besar. Warnanya juga lebih gelap."
Hal tersebut dikarenakan perbedaan kekuatan Naga Kristal Api Bersayap 6 yang kulitnya akan selalu menjadi lebih gelap dan kristal pada tubuhnya semakin bertambah apabila fase atau kekuatannya meningkat.
"Purgatory Demon masih kurang bisa sepenuhnya stabil, mungkin akan kujadikan kartu as saja. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya aku bisa mengalahkan naga sialan sebesar itu tanpa bantuan Purgatory Demon?"