
"Sudah kubilang, aku tak mau kau terluka, tapi kau yang minta sendiri sekarang."
"Erghh... Erghh..."
Alfian masih berusaha menahan rasa sakitnya. Luka tersebut sangatlah dalam, bahkan darah yang keluar cukup banyak.
"Mengecewakan."
"Apa kau bilang? Mengecewakan? BERANINYA KAU!!! RASAKAN, TEBASAN 1000 PEDANG CAHAYA!!"
Adrine melirik kebelakang. Melihat serangan seperti itu, Adrine langsung menghindar kesamping.
'Kendalinya menjadi buruk, ini kesempatanku.'
Adrine yang melihat serangan dari Alfian mulai tidak terkontrol, Adrine segera mempersiapkan teknik yang ia miliki.
"Menurutku, sekarang kau tak layak menjadi lawanku."
"A... Apa maksudmu?"
"Apa kau berani melawan diriku yang satunya?"
DEG!!
'Apa maksudnya? Dirinya yang satu? Apa jangan-jangan...'
Alfian menduga kalau Adrine mempunyai dukungan seperti seorang kakak atau kembaran, tetapi dugaannya salah.
"Kalau kau berpikir aku punya kembaran, maka kau salah besar. Lawanlah bayanganku!!"
"Bayangan?"
Bayangan dibawah kaki Adrine bergerak seolah-olah akan keluar dan hidup. Bayangannya membentuk tubuh yang mirip dengan Adrine.
"I... Ini..."
"Ini adalah takdir yang kau minta. Serang!"
Bayangan Adrine maju dan menyerang Alfian. Dengan teknik seribu pedangnya, Alfian berusaha mati-matian melawan bayangan Adrine yang menurutnya lebih merepotkan jika melawan Adrine sendiri.
'Aku hanya bermain-main dengannya tadi, pasti dia berpikir kalau bayanganku akan lebih merepotkan.'
"Haha, bagus Adrine. Kau ini pintar sekali."
"Aku mau lihat, apa dia bisa bertahan dengan ini, mundurlah!!"
Adrine memerintahkan kepada bayangannya untuk mundur terlebih dahulu. Adrine memiliki rencana untuk mengalahkan Alfian.
"Apa kau takut kalau bayanganmu akan kalah ditanganku, Adrine?"
"Tidak, justru aku tahu kau itu mampu. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Apa kau sanggup melawan bayanganku jika jumlahnya ditambah?"
DEG!!
"A... Apa? Ditambah?"
Alfian sangatlah terkejut kalau Adrine punya yang lebih dari ini. Tentu Alfian menjadi lebih cemas kalau ia akan kalah hanya dengan kloningan Adrine.
"Hehe, bangkitlah kloningku!!"
3 bayangan yang menyerupai Adrine bangkit dari bayangan yang berada dibawah kaki Adrine. 4 bayangan yang siap maju untuk menyerang telah berada didepan Adrine.
"Ka... Kau..."
"Aku beri kau 2 kesempatan. Menyerah atau melawan?"
"Hah?"
"Sekali lagi, menyerah atau melawan? Kuberi waktu sampai 5 detik. 1..."
"2..."
'Kalau aku menyerah, aku bisa malu karena dikalahkan oleh orang biasa yang kultivasinya lebih rendah dariku.'
"3..."
'Kalau aku pilih melawan, aku akan mati oleh bayangannya atau mungkin lebih buruk...'
Pilihan yang benar-benar harus dipikirkan oleh Alfian. Hal tersebut menguji apakah ia bisa memilih pilihan yang lebih tepat atau tidak.
"4..."
'Mati? Mungkin lebih baik, tapi kalau dia mengampuni nyawaku karena kalah, aku akan malu setiap kali bertemu dengan seseorang.'
"5... Waktu habis, tentukan pilihanmu sekarang, atau aku yang akan memutuskan pilihanmu sendiri."
"Baiklah, aku..."
"Apa?"
"TAK AKAN MENYERAH DIHADAPANMU!! HIYAAAH!!"
"Bodoh. Serang!!"
Alfian merubah serangannya. Bukan seperti sebelumnya, Alfian menggunakan rantai miliknya menjadi terpisah dengan pedang-pedangnya sehingga jumlah serangannya menjadi lebih banyak walaupun kontrolnya agak berkurang.
Para bayangan Adrine dengan mudah menyerang masuk kedalam pertahanan yang dilakukan oleh Alfian.
ZRIIIING!!
"Hah!!"
TRIIING!!
Adrine menyerang Alfian dengan kecepatan yang tinggi. Alfian berhasil menangkis serangan dari Adrine. Bayangan Adrine mundur karena mengendalikan bayangannya agar semuanya mundur.
TRIIING!! TRAANG!! TRIIING!! TRIIING!!
'Ergh... Kuat sekali, padahal kultivasiku lebih tinggi dibandingkan dengannya.'
Adrine terus menekan mundur Alfian. Tiga pedang cahaya Alfian menyerang Adrine secara tiba-tiba. Adrine berhasil menghindari serangan tersebut dan mundur untuk sejenak.
"Lihat ini!"
'Apa?'
Adrine mengeluarkan sebuah teknik yang cukup familiar dimata Alfian. Kemunculan energi yang dihasilkan sangatlah terasa dan familiar.
"Apa? Bagaimana bisa kau menguasainya?"
"Apa kau terkejut? Teknik sehebat ini, tak cocok untukmu."
"Teknik 1000 Pedang Cahaya bukan untuk anak liar yang tak berlatar belakang sepertimu."
"Oh tunggu, apa? 1000 Pedang Cahaya? Bukan..."
"Lalu apa?"
Alfian menatap Adrine dengan tatapan yang sangat mengerikan, tetapi Adrine hanya masih menunjukkan wajah tersenyum. Bukan senyuman biasa, didalamnya terdapat makna senyuman iblis.
"Ini adalah 1000 Pedang Ashura!!"
"Nama tidak menentukan hebat tidaknya suatu teknik, tapi tergantung siapa yang lebih kuat."
"Heh... Kuat?"
Adrine hanya menanggapinya dengan santai. Senyuman yang santai, makna iblis, sungguh mempengaruhi kecemasan dalam hati Alfian. Kini Alfian bukan takut ataupun cemas, tapi panik.
"Nah, sekarang buktikan mana yang lebih kuat. Pancaran Pedang Kegelapan Ashura!!"
"Apa? Pancaran Pedang? Tak mungkin..."