
Keesokan harinya, Adrine dan Reina berangkat untuk menjalankan tugas mereka. Gadis dengan garis membelah di kedua matanya itu telah mendapatkan lebih banyak informasi tentang Sekte Mata Emas.
"Kau sudah melakukan apa yang kuminta?" tanya Adrine.
Reina mengangguk, "Hanya saja aku tak banyak mendapatkan informasinya. Maafkan aku," jawabnya sembari menundukkan wajahnya.
"Tak apa-apa."
Mereka pun segera berangkat ke tujuan mereka. Yang menjadi halangan bagi mereka adalah bagaimana cara masuk ke dalam Sekte Mata Emas. Walaupun Reina telah mendapatkan informasi yang cukup, tetapi nyatanya akan tetap sulit untuk dilakukan. Serta mereka juga memilih untuk menempuh jalan memutar agar tidak dicurigai tepat ketika mereka tiba.
Di antara mereka berdua harus ada yang mencolok agar sekte tersebut mau menerima kedatangan mereka. Adrine menggunakan Topeng Lima Wajah untuk menutupi wajah wanita yang bersamanya, sedangkan dia sendiri mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Reina jadi terlihat seperti orang lain karena penampilannya yang berubah, dari rambutnya yang pendek berwarna hitam, garis di kelopak matanya menghilang, dan matanya yang terlihat lebih lebar. Terdapat untaian rambut berwarna hijau gelap yang memanjang menutupi mata kirinya. Aura di tubuhnya juga sepenuhnya berubah menjadi begitu asing.
Ketika mereka sampai, empat prajurit yang menjaga gerbang masuk menyambut dengan sikap yang kasar.
"Siapa kalian?!" seru salah satu prajurit itu sembari menodongkan tombak ke wajah Adrine.
Prajurit itu memiliki basis kultivasi yang tak begitu tinggi, hanya saja dari segi jumlah dan kualitas mereka lebih memadai dibandingkan dengan kota Yunsha.
'Hanya di tahap Penciptaan level-1 kelas akhir saja ... Jika bukan karena misi, mereka sudah kuhabisi sejak dari tadi,' batin Adrine.
Reina kemudian maju dan berkata, "Kami hanya pengembara yang tersesat, bolehkah kami mengunjungi tempat kalian untuk sementara waktu?" Suaranya berubah menjadi begitu lembut dan lebih enak didengar, dia sendiri juga terkejut sekaligus terpana akan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Adrine mengangguk, tetapi ia memasang tatapan angkuh untuk menutupi kepribadiannya. "Beri kami tempat tinggal sementara ... Dua hari saja! Setelah itu kami akan pergi!" serunya dengan nada tinggi dan angkuh.
Para prajurit itu membatin bahwa Adrine terlalu angkuh untuk seorang pengembara, sifatnya juga terlalu memaksa dan terlalu dipaksakan. Tetapi Reina berhasil merenggut hati para prajurit itu, mereka benar-benar terperdaya oleh kecantikan dan kelembutan suara gadis di hadapan mereka.
"Hei, nak, jaga sikapmu! Kuizinkan kalian masuk, tapi bukan berarti kalian dapat semena-mena!" tegas prajurit itu.
Tiba-tiba saja ada yang berteriak dari belakang pintu gerbang. "SIAPA YANG MENGIZINKAN MEREKA MASUK?!!!"
Suara itu terdengar menggelegar di telinga para prajurit penjaga gerbang itu. Pintunya terbuka dan sosok di baliknya terlihat. Ketika sosok itu keluar, terpancar aura mencekam dari dalam tubuhnya.
Sesosok pria dengan mengenakan pakaian elegan dan begitu berkelas dengan warna putih bersih dan corak emas di setiap helai kainnya berdiri dengan begitu angkuh dan tegas. Aura mencekam muncul darinya, hanya saja Adrine tak begitu merasakannya karena baginya itu hanyalah desiran angin yang kebetulan saja berhembus.
Namun tak diduga, tatapan matanya berubah seketika pada saat melihat sesosok gadis anggun di depannya. Matanya bahkan tak berkedip hingga bermenit-menit.
"Hei! Hei! Kau ini siapa?! Kami ingin masuk, bukan menunggu di sini sampai kau selesai memandangi rekanku dengan mata cabulmu itu!" sentak Adrine.
Perhatian prajurit itu kembali kepada Adrine dan kembali menodongkan tombaknya ke leher pria itu. Mereka begitu loyal dan mengerti apa yang harus dilakukan, itu karena mereka tahu siapa yang baru saja disinggung oleh pengembara yang kotor.
Pemuda yang memandangi Reina begitu lama tadi perhatiannya juga teralih. Dia menatap seorang lelaki di depan yang barusan saja mencacinya. "Apa kau bosan hidup?!" tanyanya dengan niat pembunuh yang sangat kuat.
CRASHT!!
Kedua mata pemuda itu tertusuk oleh belasan jarum beracun hingga menembus ke belakang kepalanya. Suaranya tak dapat keluar karena rahangnya telah terkunci oleh sebuah jarum yang lebih besar.
Para prajurit itu tidak menyadari bahwa pemuda di belakang mereka telah terkapar dan tidak lagi bernafas. Salah satu dari mereka mendengar suara sesuatu yang terjatuh, lantas menoleh ke belakang untuk memeriksanya.
"Pa ... Pangeran ... " Tatapan mata prajurit itu begitu kacau dan penuh dengan ketakutan. Sedangkan prajurit lain yang menodongkan senjatanya juga mulai merasakan ketakutan.
Sosok di hadapan mereka memancarkan aura pembunuh yang amat sangat kuat dan menyesakkan dada. Mereka seolah sedang melihat malaikat pencabut nyawa yang berdiri di hadapan mereka dengan memegang sabit yang panjang pisaunya lebih panjang dari tangan dan kaki mereka.
"Pangeran ... Pangeran telah mati ... "
Seketika pandangan kesemua prajurit terlempar pada sebuah badan yang terkapar tak bernyawa. Dia adalah seorang pangeran dari Sekte Mata Emas dan dia adalah pangeran keenam yang sangat suka sekali bermain wanita, karena itu menjadi reaksi alaminya menjadi begitu kagum dan terpesona ketika bertemu dengan Reina untuk pertama kalinya.
'SIALAN! MEREKA INI ... '
Tak sempat membatin, Adrine telah memutuskan saraf-saraf dan pembuluh darah yang terhubung ke otak dan jantung sehingga titik vital kesemua prajurit itu rusak dengan sendirinya. Dia juga dibantu oleh jarum Reina yang membuat saraf-saraf dan pembuluh darahnya membengkak serta terlihat dengan jelas.
Para prajurit dan pangeran keenam telah mati, gadis yang bersama Adrine itu telah mengamati sekitar sesaat setelah perhatian semua orang tertuju kepada remaja yang mata kirinya ditutupi dengan kain putih. Dan dari pengamatan Reina tak ada saksi mata yang melihat kejadian tersebut.
Mereka berdua dapat masuk dengan aman setelah menyembunyikan jasad pangeran keenam.
Tetapi ada satu hal lagi yang membuat perjalanan mereka terhambat. Pangeran ketujuh datang menanyakan di mana pangeran keenam dan dia merasa bahwa Adrine dan Reina sangatlah asing di matanya.
Adrine tahu siapa orang yang berdiri di depannya dan mengenakan pakaian yang sama dengan pangeran keenam. Hanya saja pangeran yang satu ini kedua matanya memiliki warna yang berbeda, yakni kuning dan ungu. Rambutnya memiliki warna yang sama dengan pangeran keenam, yakni warna ungu, hanya saja rambutnya ini pendek dan sekilas terlihat begitu tipis, berbeda dengan kakaknya yang memiliki rambut panjang hingga perlu diikat dan dirapikan.
"Maaf! Apakah anda menanyakan seorang pria gila yang keluar mencari bunga dengan dua pengawal yang bersamanya? Ya. Katanya dia pergi ke bukit di dekat sini," ujar Adrine dengan angkuh.
Pangeran itu sedikit terprovokasi oleh kalimat barusan, tetapi dia berusaha agar tetap tenang. Dia juga secara tak sengaja melirik ke arah gadis berambut hitam di samping pria yang memprovokasinya. Terlintas di pikirannya sang kakak mungkin telah melihat gadis itu dan membuatnya terpana.
"Haha, kau pasti kesal karena kakakku menggodanya tadi kan?" Pangeran ketujuh itu orang sedikit berpikiran terbuka, "Tapi tuan, kalian ini siapa? Selama aku dibesarkan di sekte ini aku tidak pernah sekalipun melihat kalian. Hanya kali ini saja aku melihat kalian," tanyanya penasaran.
Adrine sudah menduga pertanyaan sejak melihat dahinpangeran ketujuh terlipat. "Kami adalah pengembara, siapa itu kami itu tak penting. Hanya orang-orang kuat yang pantas untuk mengetahui siapa itu kami!" terangnya dengan tatapan mata yang angkuh dan menantang.
Raut wajah pangeran ketujuh berubah, terpancar kilau keunguan dari mata ungunya. Tatapannya pada Adrine juga berubah. dia telah benar-benar terpancing oleh kata-kata yang dilontarkan oleh pengembara congkak di depannya.
"Dari awal nada bicaramu itu sama sekali tidak menyenangkan. Kau begitu congkak, dengan terang-terangan kau juga menghina kakakku tepat di depann mataku. Kau sekarang juga mengatakan kalau aku ini lemah, sebenarnya maumu itu apa?"
Di balik kain yang menutupi wajahnya, dia tersenyum puas. 'Bocah ini telah memakan umpannya.'
Reina agak khawatir dengan rencana yang mereka jalankan ini. Ketika memasuki tahap kedua, yakni untuk melukai hingga bahkan membunuhnya akan sangat beresiko jika dilakukan di dalam wilayah sekte. Melakukan pertandingan hidup dan mati pun akan sangat sulit karena pangeran ketujuh akan dilindungi oleh orang-orang yang berkuasa di dalam sekte.
Gadis itu juga khawatir karena Adrine memilih untuk berperilaku selayaknya seorang pengembara yang congkak dan angkuh. Karakter seperti ini jelas akan beresiko tinggi sekaligus mudah untuk memancing orang seperti pangeran ketujuh.
"Aku mau apa-apa. Aku hanya ingin di sini untuk sementara saja, tergantung apakah orang di sini cukup pantas untuk dapat kuhargai."
Umpan yang dilemparkan oleh Adrine tak segan-segan lagi. Dia menyulut amarah pangeran ketujuh yang memakan umpannya. Adrine tahu bahwa orang seperti pangeran ketujuh akan dengan mudah terpancing apabila membahas tentang kekuatannya.
"Lihat saja! Kita buktikan di arena hidup dan mati, siapa yang lebih kuat di antara kita dan siapa yang lebih pantas untuk sombong di masa depan nantinya!" ucap bangsawan berambut pendek itu.
Adrine terkejut dan senang dalam waktu yang bersamaan. 'Tak kusangka dia sendiri yang menarik pancingnya. Misi ini mungkin akan selesai tak sampai dini hari,' batinnya.
***
Sementara itu ada penjaga yang berkeliling dan keluar dari gerbang. Dia melihat empat sosok penjaga yang berjaga dengan sigap.
"Woi, kalian! Beristirahatlah, ini giliran kami!" seru penjaga yang baru keluar itu.
Hanya saja keempat penjaga yang telah lama berdiri itu tidak merespon sama sekali, menoleh pun tidak apalagi menjawab. Penjaga yang baru datang itu merasa agak bingung, itu karena biasanya para penjaga akan sangat menanti-nantikan waktu untuk beristirahat.
Lantas penjaga itu berbalik dan berkata, "Terserah kalian saja kalau tidak mau beristirahat. Gaji kalian juga tidak akan naik walau kalian kerja lembur."
Setelah dia pergi, keempat penjaga itu tetap tidal merespon apapun. Rupanya mereka dibangkitkan kembali oleh Adrine dan diberi perintah untuk tidak memberikan respon apapun ketika ada yang memanggil mereka. Tubuh mereka dirasuki oleh jiwa mereka masing-masing dan dikendalikan oleh perintah Adrine.
Bersambung!!