Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Rasi Bintang


"Ada apa Adrine? Apa ada yang salah dengan mereka?"


Adrine tidak memperdulikan kalimat Etern. Adrine masih memikirkan tentang mereka. Firasatnya sangatlah tak baik menurut Adrine.


"Hoi Adrine!!"


Sontak Adrine pun terkejut.


"Apa kau sedang melamun?"


"Bukan apa-apa."


"Lalu, kenapa kau diam memandangi mereka terus?"


"Lupakan! Lihatlah mereka, aku hanya ingin tahu tentang mereka."


Lalu, orang-orang tersebut maju seperti akan memperkenalkan diri mereka.


"Salam kenal, namaku Ray, dari Sekte Gerhana Nebula rasi bintang Aquila."


Diikuti dengan dua orang dibelakangnya ikut maju untuk memperkenalkan diri. Dimulai dari lelaki yang memakai pedang kecil yang panjang dibelakangnya.


"Salam kenal, namaku Alfian, dari Sekte Kucing Bulan rasi bintang Lynx."


"Dan perkenalkan nama saya Zizi, dari Sekte Bulan Biru rasi bintang Virgo."


Lalu ketiga orang itu melihat kanan-kiri seperti ada sesuatu yang tak genap. Mereka saling memandang satu sama lain.


"Eh, dia kok tidak datang ya? Apa dia pergi?"


"Mungkin dia terlambat?"


"Orang ceroboh."


Ketiga orang itu seperti sedang membicarakan orang lain, namun entah siapa yang sedang mereka bicarakan. Adrine yang terus fokus melihat mereka bertiga, mendengar apa yang dibicarakan orang-orang tersebut.


'Siapa seseorang yang mereka bicarakan? Apa ada yang masih belum datang?' Pikir Adrine.


Tak disangka, setelah Adrine memalingkan matanya dari ketiga orang tersebut, ada pesawat tempur V-Strike 106 lagi yang datang. Benar apa yang dikatakan ketiga orang tersebut kalau ada yang terlambat diantara mereka.


"Sudah kuduga, pasti terlambat."


Orang yang bernama Alvian tadi mengejek seseorang yang sepertinya berada didalam pesawat tempur barusan.


"Kukira anak ini melarikan diri."


Orang yang bernama Ray juga menambahi ejekan yang menurutnya kurang.


Muncul seseorang yang keluar dari pesawat tempur tersebut dan melompat dari udara.


BLAAM!!


Udara menjadi tersapu karena loncatan orang tersebut. Dengan bibir yang tersenyum lebar, orang tersebut maju untuk memperkenalkan dirinya didepan orang-orang.


"Halo semuanya. Namaku adalah Nicho, dari Sekte Tombak Naga rasi bintang Orion."


'Aura dalam tubuhnya lebih kuat daripada tiga yang lainnya. Apa dia lebih kuat dari yang lainnya? Tapi, ada sesuatu yang lain darinya. Firasat ini...' Pikir Adrine.


Adrine merasa firasat yang dirasakan berbeda daripada tiga yang lainnya. Firasat yang dirasakan Adrine terhadap Nicho seperti bukan menunjukkan kalau Nicho akan mempersulit Adrine nantinya.


Disaat Adrine terfokus menatap Nicho, dengan tak sengaja, Nicho pun juga melirik dan berbalik menatap Adrine.


"Eh?"


"Hai, siapa namamu?"


'Eh? Dia tanya namaku?' Pikir Adrine.


Adrine mengira kalau Nicho akan marah karena Adrine menatapnya begitu lama.


"Emm... Ya... Namaku... Namaku Adrine."


Entah apa yang sedang terjadi pada Adrine, tiba-tiba saja ia menjadi sangat gugup ketika itu juga.


"Kau itu lucu ya? Aku tanya namamu, kau malah gugup seperti itu. Oh ya, kenalkan, namaku Nicho."


"Ya, aku sudah tahu namamu tadi. Kau tadi memperkenalkan dirimu."


"Ah, iya ya, aku lupa. Hehe."


Lalu, muncul tangan yang tiba-tiba menepuk pundak Nicho. Nicho pun menghadap kebelakang dan ternyata itu adalah Ray.


"Kau ini. Sudah terlambat, tidak segera menghadap malah mengobrol dengan orang lain. Cepatlah, kita sudah terlambat!"


Disaat Ray memegang pundak Nicho, mereka menjadi saling memandangi, tetapi bukan pandangan yang baik.


"Diam kau! Beraninya kau mengaturku, aku ini bukan bawahanmu."


Nicho merasa kalau Ray sedang memerintah dan mengaturnya. Padahal Ray hanya mengingatkannya saja, namun hal itu terdengar seperti sedang memerintah ditelinga Nicho.


'Sepertinya Nicho tidak suka dengan Ray. Apa mungkin mereka adalah musuh?' Pikir Adrine.


Adrine memperhatikan pembicaraan antara Nicho dengan Ray. Pembicaraan mereka seperti bukan pembicaraan biasa, namun mereka seperti saling membenci satu sama lain. Entah apa yang membuat keduanya berseteru seperti itu.


"Kau ini. Aku bukan memerintahku, aku sedang memberitahu kepadamu kalau kita sudah terlambat dan semua ini gara-gara kau."


Ray pun menjelaskan apa yang dikatakannya tadi, namun ia juga malah menyalahkan semuanya kepada Nicho.


"Berisik."


Telinga Nicho menjadi sensitif dengan suara dari Ray, ia sangat tak suka dengan Ray.


"Apa kau bilang? Beraninya kau!"


"Hei kalian semua! Diamlah!"


Tiba-tiba Zizi berteriak untuk memperingatkan.


"Kita ini sudah terlambat, ayo! Dan kau juga Nicho, kau yang membuat semua kekacauan ini, lebih baik kau menurut saja!"


Alfian juga datang menengahi perseteruan antara Nicho dan Alfian, namun wajah Nicho seperti tak suka juga kepada Alfian.


"Diamlah kau Alfian! Kau ini juga berisik ya!?"


"Apa kau bilang?"


Awalnya Alfian juga ingin marah dan ingin mengajak berkelahi dengan Nicho, namun Zizi masih menengahi perseteruannya.


"Sudahlah, hentikan itu! Ayo, sekarang waktunya."


Lalu mereka berempat berjalan menuju kearah gedung ujian seperti akan menemui seseorang. Namun Nicho seperti sedang menjaga jarak antara ketiganya, karena ia merasa kalau mereka bertiga ini sedang bersekongkol.


Dan yang lainnya malah membicarakan tentang mereka bertiga karena pertengkaran mereka dan asal usul mereka berempat.