Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Seleksi Pertama


Cahaya matahari sore telah menerpa langit dan menunjukkan sebentar lagi malam akan tiba, tempat yang di penuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang indah disekitar menjadi lebih indah dengan cahaya jingga dari langit barat.


Adrine bersama dengan teman-temannya sedang memandang pemandangan alam yang indah itu, namun ada beberapa yang masih belum bisa menikmati keindahan tersebut. Mereka masih mual dan kepalanya pusing akibat efek dari teleportasi.


"Wah wah wah, kita menjadi yang pertama datang ke sini."


Adrine mengangguk mengiyakan perkataan Etern, mereka memang yang pertama datang ke tempat seleksi dan tidak terdapat siapapun lagi yang ada di sana kecuali kandidat dari Perguruan Bayangan Langit.


ZRIIUUU!!


Sedetik setelah Adrine mengangguk, datang kubus cahaya yang di kirim lagi ke tempat seleksi. Kubus cahaya itu menghilang dan para kandidat keluar dari sana, mereka adalah kandidat dari Perguruan Tombak Rantai yang sebelumnya datang dari gerbang timur. Mereka juga sama seperti para kandidat dari Perguruan Bayangan Langit, langsung muntah seketika setelah datang ke area seleksi.


"Tak ada yang berbeda, hehe..."


Adrine menertawakan para kandidat dari Perguruan Tombak Rantai dan juga dirinya sendiri beserta para kandidat dari Perguruan Bayangan Langit yang langsing mual dan muntah di tempat, bahkan termasuk Reihan sekalipun.


ZRIIUUU!!


Datang lagi kubus cahaya baru, setelah kubus cahayanya menghilang para kandidat yang ada di dalamnya langsung mual di tempat.


ZRIIUUU!! ZRIIUUU!! ZRIIUUU!!


Datang lagi dan lagi kubus cahaya dengan para kandidat baru di dalamnya, tak ada yang tidak mual sama sekali ketika kubus-nya menghilang. Area seleksi telah di penuhi oleh isi perut yang sangat berwarna-warni dan menjijikkan. Terdapat juga yang terakhir datang berada tepat di samping kiri kandidat dari Perguruan Bayangan Langit.


Tiba-tiba Vania berjalan di samping Adrine dan dia sudah tak lagi mual seperti tadi.


"Ada beberapa dari perguruan yang aku kenal, seperti yang di sana yang memakai pakaian serba berwarna hitam dengan corak matahari berwarna kuning, mereka dari Perguruan Matahari Bayangan."


Vania pun menunjuk ke arah kumpulan kandidat yang berada di paling kanan.


Adrine hanya diam mendengar ocehan dari Vania karena memang dia merasa sudah tahu dan sedikit mengenal para murid dari perguruan tersebut. Namun berkat ocehan Vania, Adrine menjadi dapat pengetahuan dan tahu seperti apa penampilan dari Perguruan Matahari Bayangan, dan hanya beberapa perguruan yang mengharuskan para muridnya memakai pakaian yang menunjukkan identitas perguruan mereka.


'Ada gunanya juga si Vania ini, lumayan juga.' Pikir Adrine.


Untuk sekarang ini, Adrine akan memanfaatkan pengetahuan antar perguruan milik Vania agar mengetahui bagaimana kekuatan dan seperti apa identitas pada setiap perguruan.


"Lalu, mereka yang baru saja datang tepat di samping kiri kita ini adalah berasal dari Perguruan Samudera Langit."


Adrine langsung menoleh ke arah kirinya dan melihat sekumpulan orang yang dimana seperti apa yang di katakan oleh Vania.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya Vania. Mungkin nanti akan ada senior yang akan memberitahukan tentang informasi yang lainnya."


Vania mengangguk senang mendapat pujian dari Adrine dan dia langsung diam dan memperhatikan para perguruan yang lain.


Setelah itu, muncul kubus teleportasi tepat di depan kandidat baru dari Perguruan Bayangan Langit, kubus tersebut ternyata mengirimkan 4 orang yang dimana salah seorangnya di kenali oleh Adrine dan para kandidat dari Perguruan Bayangan Langit.


"Tunggu dulu, sejak kapan senior Asra ada 2?"


Pino terlihat sangat memperhatikan keempat senior yang baru saja datang dan memang terdapat 2 senior Asra dan 2 yang lainnya juga terlihat kembar identik.


"Mereka itu kembar, mungkin seperti itulah para master mengurus perguruan ini."


Adrine juga langsung menyadari jika senior Asra memiliki seorang kembaran, namun Adrine juga tak habis pikir dengan kemungkinan mengapa harus 2 pasang kembaran yang di kirim untuk mengurus registrasi atau seleksi masuknya.


Kembaran dari senior Asra memakai baju yang sama dan yang membedakan hanya potongan rambutnya, senior Asra memiliki potongan rambut belah pinggir, sementara kembarannya memiliki potongan rambut belah tengah dan rambutnya sedikit lebih panjang. Senior Asra juga memiliki mata hitam yang mengkilat, sedangkan kembarannya memiliki mata coklat kehitaman.


Sedangkan kembaran yang lain memakai baju yang polos dan celana panjang biasa, pakaian mereka berdua terlihat santai dan ekspresi keduanya terlihat seperti orang yang malas dan bertolak balik dengan senior Asra dan kembarannya.


"Apakah perjalanan kalian nyaman?"


Kembaran Asra lah yang menanyakan kenyamanan dari perjalanan para kandidat.


"TIDAK!!!"


Serantak semuanya menjawab, begitupun dengan Adrine dan Etern. Mulut mereka semua seolah berbicara dan menjawab dengan sendirinya.


"Hahaha, baiklah, kalian memang belum terbiasa dengan teleportasi. Sekarang kami di sini akan mendata semua kandidat dari perguruan masing-masing. Setelah disebutkan nama perguruan kalian, maka harus ada 1 perwakilan dari kalian untuk maju ke depan. Jika ada nama perguruan yang tidak kamu sebutkan, maka perguruan kalian sebelumnya bukan rekomendasi untuk Perguruan Kilat Langit."


Setelah itu, nama dari setiap perguruan disebutkan dan Perguruan Bayangan Langit disebutkan pada urutan kedua setelah Perguruan Tombak Rantai dan Adrine lah yang maju sebagai perwakilan dari Perguruan Bayangan Langit.


Terdapat 12 perguruan yang telah di rekomendasikan untuk masuk ke dalam Perguruan Kilat Langit. Ke 12 perguruan tersebut yaitu, Perguruan Bayangan Langit, Perguruan Tombak Rantai, Perguruan Matahari Bayangan, Perguruan Samudera Langit, Perguruan Bulan Abu-abu, Perguruan Pedang Ungu, Perguruan Halilintar Langit, Perguruan Mata Langit, Perguruan Api Naga, Perguruan Naga Kristal, Perguruan Pedang Guntur, dan Perguruan Cahaya Langit.


Ada juga 78 kandidat yang berasal dari 4 perguruan yang dimana tidak terekomendasikan oleh Perguruan Kilat Langit. Terdapat 20 kandidat berasal dari Perguruan Tanah Biru, 13 kandidat dari Perguruan Cahaya Gelap, 28 kandidat dari Perguruan Garis Matahari, dan sisanya, yaitu 17 kandidat dari Perguruan Mata Rantai.


Lalu senior Asra pun yang maju dan berbicara menggantikan kembarannya.


"Seleksinya akan di adakan dalam 2 bulan lagi, kalian bisa berlatih dengan giat setelah berlatih 2 bulan berikutnya."


Adrine merasa ada yang kurang dengan kalimat dan petunjuk yang di berikan oleh senior Asra.


"Bagaimana dengan seleksi keduanya?"


"Memang itulah seleksinya."


Senior Asra hanya mengucapkan kalimat singkat itu dengan santainya dan Adrine merasa sedikit bingung dengan perkataannya. Para kandidat lain juga merasa bingung dengan kalimat yang di ucapkan oleh senior Asra.


"Jadi kalian sekarang ini di perbolehkan untuk memilih tempat tinggal kalian masing-masing. Kalian akan tinggal di atas bukit yang tinggi di sana dan jumlahnya hanya terdapat 1000 rumah saja. Kalian yang tidak mendapatkan tempat tinggal di sana tidak akan boleh mengikuti seleksi kedua dan secara otomatis kalian telah di eliminasi dari seleksi ini."


Setelah mendengar penjelasan lanjutan dari senior Asra, Adrine dan beberapa kandidat yang lainnya merasa paham dan mengerti dengan seleksinya.


'Jadi seleksi pertamanya adalah mendapatan tempat tinggal dan yang pertama datang di atas bukit bisa memilih tempat tinggal yang di inginkan, total kandidat yang ada di sini bahkan lebih dari 1200 orang, sedangkan tempat tinggal yang di sediakan hanyalah 1000 saja. Itu cukup mudah, tapi seleksi keduanya masih belum memiliki penjelasan lagi.' Pikir Adrine.


Adrine masih terus memperhatikan wajah senior Asra untuk bisa mendapatkan informasi tentang seleksinya lagi.


"Untuk seleksi yang kedua, kalian akan berkumpul pada gedung tinggi yang kalian lihat di atas sana, tapi bagaimana seleksinya nanti kami tidak akan memberitahukan sebelum waktunya tiba."


'Sudah kuduga.' Pikir semua kandidat yang ada di sana.


Senior Asra seperti masih belum selesai berbicara dan seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi.


"Oh iya, kami di sini hanya memberikan informasi saja, bukan sebagai pemandu kalian."


'Eh?' Pikir Adrine dan Etern.


ZRAAAST!! ZRAAAST!! ZRAAAST!!


Lalu terdapat 3 orang yang tiba-tiba pergi dan bergerak sangat cepat. Semua orang langsung menoleh dan terkejut dengan ketiga orang yang pergi itu.


"Lho lho lho, mereka mau pergi kemana?"


Semua kandidat yang langsung terkejut melihat hal tersebut dan bertanya-tanya.


'Jadi benar seperti itu?' Pikir Adrine dan Etern.


Lalu Adrine menatap Etern dan juga sebaliknya, mereka saling mengangguk seolah pembicaraan mereka berdua hanya dengan menggunakan gerak wajah saja.


ZRAAAST!! ZRAAAST!!


"Jika kalian mendengarkan perkataanku baik-baik dan memahaminya, maka kalian pasti mengerti. Kami di sini tidak sedang memandu kalian untuk ke tempatnya, kami hanya memberitahukan dimana tempatnya."


Seketika semua orang langsung kalang kabut dan bergerak dengan cepat, saling adu kecepatan dan berusaha ingin cepat sampai ke tempat tinggal yang tadi disebutkan oleh senior Asra.


'Seleksi pertamanya hanya berpolakan siapa cepat dia dapat dan para senior hanya memberitahukan saja, bukan mengantarkan. Jika para kandidat paham, mereka boleh pergi tanpa harus menunggu arahan lagi. Cerdik juga.' Pikir Adrine.


Setelah itu, Adrine bergerak dengan sangat cepat dan menyusul ketiga orang yang sudah berlari duluan. Etern sudah mengisyaratkan kepada Adrine bahwa tidak apa-apa jika dirinya di tinggal.


"Aku harus bergerak lebih cepat lagi untuk menyusul ketiga orang tadi."


Lalu mempercepat kecepatannya dan segera menyusul ketiga orang yang mendahuluinya tadi.


Tak lama Adrine bergerak dengan cepat, ia telah berhasil mendahului ketiga orang tadi dan dia sudah menjadi yang pertama. Jarak bukit yang di tuju Adrine masih sangat jauh dan jaraknya sekitar 3 km.


Adrine terus bergerak dengan sangat cepat dan ia sama sekali tak menyadari bahwa ada yang mengikutinya, namun dengan segera dia langsung menyadarinya.


"Siapa kau?"


Adrine sama sekali tidak berhenti dan masih terus berlari cepat, namun ia hanya menoleh ke belakang untuk memeriksa siapakah orang yang telah mengikuti dirinya.


"Aku, apa kau tak ingat kalau aku juga ikut kemari?"


Adrine hampir lupa jika Shin kecil juga ikut bersamanya, awalnya ia hanya terkejut melihat Shin kecil, namun ekspresinya kembali biasa dan tersenyum tipis. Adrine pun kembali menghadap ke depan.


"Kau itu darimana saja? Selalu saja menghilang."


Bukannya malah menjawab Adrine, Shin kecil malah mengeluarkan sesuatu. Benda tersebut seperti sebuah pil.


"Tempat ini kaya akan tanaman herbal, jika ada seorang alkemis di sini, mereka mungkin akan menggunduli seluruh hutan ini untuk membuat pil yang hebat."


Adrine hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan dari Shin kecil, ia sama sekali tak peduli dengan yang namanya seorang alkemis.


Adrine masih terus berlari dan tak lama kemudian pun ia telah sampai di tempat tujuannya. Dia pun melihat banyaknya rumah yang ada di depannya dan di tempatkan pada bukit-bukit kecil yang curam. Semakin ke atas, Adrine bisa melihat bangunannya menjadi semakin mewah dan dia juga merasakan bahwa energinya juga semakin tebal.


'Tempat yang paling atas berarti tempat yang paling bagus, semoga Etern juga mendapatkan tempat tinggal yang bagus.' Pikir Adrine.


ZRAAAST!!


Adrine langsung melompat dengan tingginya dan kakinya melompat dari sisi ke sisi tiap bangunan dan tanah pada bukit yang tinggi tersebut untuk menggapai rumah yang berada di paling atas.


Adrine pun telah sampai di rumah yang dipilihnya, terlihat sangat besar dan cukup mewah daripada yang lainnya.


Di saat Adrine berada di depan pintu rumah, ia melihat sebuah papan yang dimana tergambar sebuah telapak tangan.


"Papan itu mungkin adalah papan pengenalan identitas seperti di saat senior Arnold dan senior Asra masuk ke dalam perguruan tadi."


Lalu Adrine menempelkan telapak tangannya dan papan tersebut mengeluarkan cahaya. Cahaya tersebut sedang mengidentifikasi sidik jari beserta garis-garis yang terdapat pada telapak tangan Adrine.


Setelah itu, papan tersebut menampilkan cahaya hologram di atasnya dan cahaya tersebut menunjukkan identitas Adrine yang sangat lengkap, dari perguruan dan keluarga mana ia berasal, kultivasinya, gambar telapak tangannya yang tadi ia tempelkan di papan, dan juga biodata-nya.


SREEET!!


Pintu yang ada di depan Adrine langsung terbuka dan ia langsung masuk ke dalam.


SREEET!!


Pintunya kembali tertutup dan Adrine tidak merasa tekejut akan hal tersebut karena tadi telah melihat bagaimana cara pintu tersebut bekerja di saat senior Arnold dan senior Asra masuk ke dalam perguruan.


"Hei Adrine, apa kau tidak mengajakku masuk ke dalam?"


Adrine sangat familiar dengan suara itu, dia adalah Shin kecil yang terus mengikutinya.


"Memang apa keuntungannya aku mengajakmu ke dalam tempat tinggalku?"


Adrine seperti tidak menganggap Shin kecil itu ada, namun ia tetap peduli dengan adanya Shin kecil di sana.


"Aku ingin menunjukkanmu sesuatu Adrine, apa kau tak tertarik?"


Ekspresi wajah Shin kecil seperti orang yang sedang melakukan kelicikan dan seperti seseorang yang sedang menawarkan sesuatu namun dengan berbagai hasutan.


"Jika tidak sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan dan kultivasi, maaf, lebih baik aku bermeditasi saja."


Adrine sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan di tawarkan atau di berikan oleh Shin kecil, ia sudah mengira jika benda pemberiannya itu mungkin adalah benda yang berhubungan dengan USC.


"Tunggu sampai semua murid lain sampai di tempat tinggalnya masing-masing dan kau akan tahu apa yang akan aku berikan."


Adrine hanya diam mendengar perkataan dari Shin kecil dan dia langsung duduk bersila, berkultivasi.


"Baiklah, aku akan menunggu."


Adrine pun bersedia menunggu dan dia menunggunya sambil berkultivasi agar tidak membuang waktunya.


Tak lama waktu berlalu, banyak murid yang berdatangan dan berebut tempat tinggal. Semuanya banyak yang berebut rumah yang ada di atas dan rumah yang sudah ada penghuninya, maka akan terdapat identitas pemiliknya berupa nama dan fotonya beserta perguruan tempat dia berasal yang berupa cahaya hologram yang di pancarkan oleh papan pengenalan.


Etern berhasil mendapatkan rumah yang berada di atas, namun dia tidak berada di paling atas karena telah di dahului oleh banyak orang. Bahkan banyak orang yang saling menggunakan kekuatan mereka masing-masing untuk menjebak dan menyerang para kandidat lainnya. Adrine sendiri sebenarnya belum tahu jika Etern mendapatkan tempat tinggal yang sangat pantas dan hampir seperti rumah yang di dapat oleh Adrine.


Sebagian besar rumah telah di tinggali orang para kandidat yang beruntung, mereka yang masih di belakang masih mencari rumah yang belum di tinggali oleh seseorang.


"Baiklah, ini sudah hampir malam dan hampir semua orang sudah mendapatkan tempat tinggalnya masing-masing. Cepat tunjukkan apa yang ingin kau berikan padaku!"


Ucapan Adrine terlihat ketus dan sangat dingin, Shin kecil sedikit terkejut mendengarnya.


"Wow wow wow, santai..."


Shin kecil berusaha untuk mencairkan suasana dan juga pikiran Adrine yang begitu dingin.


"Aku akan memberikannya ketika semuanya telah meninggali tempat tinggal mereka semua, bukan sebagian besarnya. Jika belum semua dan sisanya yang tidak beruntung masih belum di keluarkan, maka aku tidak akan memberikannya."


Adrine masih terlihat datar dan dingin seperti merasa jika hal itu malah membuang waktunya untuk berkultivasi.


"Baiklah kalau begitu, kau jangan ganggu aku berkultivasi selama 1 minggu dan setelah aku selesai, kau harus memberikannya padaku. Jangan mengulur waktu lagi nantinya."


"Baiklah, terserah kau saja."


Shin kecil mengiyakan perkataan Adrine begitu saja dan menurut dengan apa yang di katakan oleh Adrine.


Lalu Shin kecil keluar dari tempat tinggal Adrine dan dia ingin mencari lebih banyak bahan herbal lagi untuk di buat menjadi pil, karena dulunya dia juga seorang alkemis yang hebat dan mampu membuat pil denga kualitas yang sangat bagus.


'Setidaknya saat itu tiba, Adrine akan sedikit lebih kuat.' Pikir Shin kecil.


Bersambung!!