
Perseteruan masih terus berlangsung, Zhenfu menjadi lebih marah ketika mendengar ucapan lantang dari Adrine, walaupun murid lain dari keluarga Longi diam tak bergeming meski dengan perasaan yang kesal kepada Adrine.
"Tarik kembali ucapan bodoh mu itu! Mumpung suasana hatiku sedang baik, berlututlah dan meminta ampun kepadaku! Aku akan mempertimbangkan hidupmu jika kau melakukannya."
Ucapan besar dari Zhenfu Longi yang meninggikan harga diri keluarga Longi-nya dan ia sama sekali tidak memberi muka kepada Adrine atas ucapannya barusan.
Walaupun telah direndahkan dan diperintah untuk berlutut, namun Adrine tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Zhenfu, justru sebaliknya ia malah tersenyum lebar dengan raut wajah yang mengerikan.
"Hidupku ini ya terserah aku sendiri, tidak ada hubungannya denganmu, apalagi dengan keluargamu itu."
Ucapan Adrine benar-benar membuat Zhenfu menjadi murka, niat pembunuh yang dipancarkannya sangatlah pekat dan membuat bulu kuduk bergidik kepada setiap orang. Namun Adrine sama sekali tidak takut akan ancaman yang dibuat oleh Zhenfu, ia sangat percaya diri dan bahkan memancarkan niat pembunuhnya sendiri.
'Bocah ini ... Kenapa bisa niat pembunuhnya lebih kuat daripada aku?' Pikir Zhenfu.
Zhenfu merasa sedikit terintimidasi oleh niat pembunuh yang dipancarkan oleh Adrine. Hawa yang dikeluarkannya itu memang sengaja untuk menakuti Adrine, justru ia malah dibuat takut oleh orang yang diincarnya.
Banyak dari orang yang mengira jika niat pembunuh yang mereka rasakan itu keseluruhan berasal dari Zhenfu, tapi dari sekian banyak orang yang menonton dan sempat lewat di sana juga terdapat beberapa yang dapat membedakan antara kedua niat pembunuh yang bercampur itu.
Dengan memberanikan diri, Zhenfu tetap maju dengan perasaan yang ragu namun dengan kemampuan yang dimaksimalkan. Adrine senang akan hal tersebut, niat pembunuhnya membuat Zhenfu terpancing untuk maju dan membuktikan keberaniannya.
"Aku hanya seorang junior di tahap Keberlanjutan dan kau ada di tahap Penciptaan, berbeda 1 tingkatan yang sangat jelas, apa perlu sampai seserius ini?"
Sekali lagi ucapan Adrine benar-benar membuat Zhenfu tersudut, serangan yang ingin dilancarkan oleh murid keluarga Longi itu ditahan dalam-dalam di genggaman tangannya. Kemarahannya juga memuncak akibat permainan kata yang sempat dilakukan oleh Adrine.
Walaupun begitu, Zhenfu mengakui kemampuan Adrine dan ia lebih memilih untuk mengalah.
"Oke oke, aku akan lepaskan kau, tapi kami tetap ingin artifak tingkat Semesta itu."
Zhenfu tetap keras kepala untuk merebut artifak yang dibawa oleh Shino, artifak itu adalah Sarung Tangan Gunung Perak. Zhenfu menginginkan artifak tersebut karena sesuai dengan kemampuannya yang tipe petarung jarak dekat, ia mengandalkan tinjunya yang menopang daya ledak kekuatannya, bisa dibilang ia mengandalkan kemampuan fisik asli yang diperkuat dengan sihir dan artefak.
"Baru saja kau bilang akan melepaskan aku yang berarti kau juga melepaskan orang-orang ini, aku akan sangat menghargai sekaligus menghormati keluarga Longi-mu itu jika kau benar-benar melupakan semua ini."
Zhenfu nampak tak bisa melepaskan Sarung Tangan Gunung Perak begitu saja, Adrine jelas mengetahui hal itu karena terlihat dari raut wajah Zhenfu yang kesal dengan jawaban dari Adrine.
"Tak akan semudah itu aku melepaskan artefak tingkat Semesta, hanya dengan hormat saja tidak seharga dengan apa yang aku inginkan. Negosiasi yang kau lakukan ini terlalu buruk kawan."
"Aku tak pernah menganggapmu kawan, jangan panggil aku kawan. Dan, apa kau ingin kekerasan untuk menyelesaikan semua ini? Kau bisa ambil artefak itu jika kau menang dan mereka akan ada di tanganmu."
Tak disangka Adrine lah yang kini memulai pertarungan dengan sebuah tantangan dengan dipertaruhkan artefak tingkat Semesta dan geng Deon-nya.
"Haha, dia itu seperti kutu yang sedang menantang langit, bodohnya dia."
"Orang tidak tau diri itu banyak, bukan hanya dihitung dengan jari saja."
"Aku kira gertakan sebelumnya itu dia orang yang pandai, ternyata dia malah menantang, bukankah dia malah terlihat bodoh?"
Orang-orang mencemooh Adrine yang menawarkan sebuah tantangan, namun karakternya itu bukan orang yang memperdulikan omongan orang lain, justru ia membuat telinganya tuli akan semua omongan itu. Sementara itu, cemoohan murid lain kepada Adrine justru malah membuat Zhenfu semakin semangat dan kembali percaya diri melawan Adrine,
Muncul senyuman dominasi di bibir Zhenfu yang di mana ia teringin untuk mengintimidasi lawan, namun senyuman itu justru diputarbalikkan oleh Adrine yang senyumannya jauh lebih mendominasi, seolah-olah semua itu ada dalam perkiraannya dan situasi yang ada pada mereka berjalan di atas telapak tangannya. Adrine sangat jarang sekali tersenyum, sekalinya ia tersenyum maka akan ada makna yang dalam pada senyumannya itu.
"Aku tahu kau tak seburuk pemikiran orang lain, kau bahkan bisa melukai diriku dengan kekuatanmu yang sekarang, tapi berpikirlah dengan cerdas, mereka bukan siapa-siapa mu, mereka hanyalah segerombolan gelandangan rendahan."
Adrine hanya tetap tersenyum, lalu ia mengacungkan jarinya kepada Shino yang ada di belakangnya. Secara tiba-tiba Shino terbang dengan kekuatan mental yang dikeluarkan serta dikendalikan oleh Adrine.
'Kekuatan mental? Bocah ini seorang Ahli Jimat?' Pikir Zhenfu.
Secara tak disangka-sangka, Adrine harus menunjukkan sedikit kemampuan mentalnya untuk memberikan tekanan dan peringatan kepada Zhenfu untuk tidak keterlaluan.
"Aku tidak ingin banyak bicara, jika kau masih bersikeras untuk melawan, akan kubunuh orang ini dan akan kubawa lari semua isi dari cincin penyimpanannya termasuk Sarung Tangan Gunung Perak yang kau incar itu."
Lagi-lagi Adrine memojokkan Zhenfu pada situasi yang rumit.
'Orang yang diterbangkannya itu bukan masalah jika dia mati, tapi dia berniat mencuri Sarung Tangan Gunung Perak dariku jika membunuh orang itu. Anak ini juga bukan bocah biasa, tak ada bocah di tingkat Keabadian yang bisa melukai praktisi tingkat Kesempurnaan.' Pikir Zhenfu.
Kini Zhenfu harus berpikir keras dengan keputusannya, ia juga sadar jika Adrine bisa melawannya dan melukainya, jadi ia tak boleh sembarangan mengambil tindakan untuk menyerang. Adrine sendiri juga sudah menyiapkan Purgatory Demon ataupun Bolt Demon jika seandainya Zhenfu mengambil tindakan yang nekat.
"AKAN KAMI AMBILKAN ARTEFAK ITU DEMI SENIOR ZHENFU!!!"
Dua orang murid lain dari keluarga Longi tiba-tiba melompat dan melesat ke arah Adrine dengan serangan yang sangat cepat. Kemudian Adrine menggunakan kekuatan Purgatory Demon di kepalan tangan kanannya dan Bolt Demon di kepalan tangan kirinya.
"TUNGGU! JANGAN LAKUKAN ITU!!!"
'Heh, hanya dua monyet di tahap Penciptaan level-1.' Pikir Adrine.
BUGH!!
"Uuurkkkhh ... "
Serangan yang sangat cepat dilancarkan oleh Adrine sampai tak dapat diikuti oleh mata, kepalan tangannya diubah menjadi telapak tangan yang terbuka dengan jari yang dirapatkan. Layaknya pukulan, Adrine melepaskan kekuatannya dalam jumlah besar pada serangan yang mengenai perut pada kedua murid keluarga Longi itu, bahkan mereka pun sampai tak bisa berteriak akibat serangan Adrine yang begitu kuat.
ZRIIING!!
Adrine menghilang dari tempatnya berdiri dan tiba-tiba sudah melayang di atas kedua murid itu.
BLAAARR!!
Lagi-lagi Adrine menyerang dengan sangat cepat sampai suara pukulannya terdengar bersamaan dengan suara dua orang yang dipukulnya itu menghantam tanah. Perbuatan Adrine barusan telah membungkam mulut para murid keluarga Longi, mereka semua terkejut bukan main ketika melihat seseorang yang dianggap mereka itu seekor tikus, justru sesosok itu menunjukkan kekuatan singa nya.
"Sudah begitu saja? Siapa lagi yang mau melawan?"
Zhenfu memang tak berharap juniornya maju dan menyerang, namun ia juga tahu hal itu akan terjadi. Dirinya juga terlambat untuk memperingatkan bahwa betapa berbahayanya sesosok yang ada di depan mereka bagi kultivator yang belum mencapai tahap Kehancuran.
"Sebenarnya ... Siapa kau itu?"
Itulah pertanyaan yang berputar-putar di kepala Zhenfu Longi semenjak kedatangan Adrine di sana.
***
Di tempat lain yang masih berada di kota Toturao, pada sebuah bangunan di lantai tiga terdapat beberapa orang yang sedang berbicara tentang suatu masalah yang sangat penting.
"Mengapa kau tak membunuhnya dari dulu? Sudah jelas dia itu salah satu pewaris, kenapa kau diam saja sampai sekarang?"
Salah seorang di sana terlihat seperti memarahi orang lain yang mengenakan pakaian yang sangat elegan.
"Suka hatiku kapan aku akan membunuhnya, dia adalah murid didikku, hal itu akan memicu kontroversi yang dalam bagiku dengan para atasanku yang juga banyak peduli dengannya."
Suaranya yang familiar itu ternyata adalah master Heyto yang sedang berbincang dengan tetua ketujuh di keluarga Longi, An Longi.
"Sejak kapan kau peduli dengan itu? Istrimu saja sudah membuat banyak pertanyaan yang timbul di mana-mana, pergi entah kemana yang rumornya sedang menjadi memimpin di cabang perusahaanmu yang ada jauh dari sini, padahal sedang membunuh begitu banyak calon pewaris."
Menurut dari perkataan tetua An, master Haruna juga seorang pemburu yang tengah memburu banyak pewaris layaknya Adrine.
"Haruna juga pasti tahu kalau bocah itu adalah seorang pewaris, tugas membunuhnya pasti diserahkan kepadamu."
Master Heyto nampak tak bisa berkata apa-apa lagi, ia sendiri juga tak memiliki niat untuk membunuh muridnya sendiri, justru dirinya ingin melihat Adrine tumbuh dan menjadi lebih kuat dari dirinya, master Heyto juga nampak tertunduk karena tak bisa berkata-kata lagi.
Tetua An yang melihat master Heyto tak lagi membuka mulut merasa bisa memenangkan situasi.
"Kalau kau enggan untuk membunuhnya, aku yang akan menggantikanmu untuk menghabisi nyawa bocah itu, lagipula murid sepertinya masih banyak di luar sana."
Segera tetua An keluar berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangannya.
"Tunggu!"
Tiba-tiba saja master Heyto menghentikan tetua An.
"Apa?"
Master Heyto masih menunduk dan berat untuk mengatakan sesuatu.
"Ji ... Jika kau ingin membunuhnya, a ... Aku ingin kau tidak memberitahukan tentang siapa dia dan ... Apa boleh kau biarkan sampai Monumen Iblis 6 Tahun itu tertutup?."
"Apa maksudmu kalau dia itu pewaris? Tentu saja dan aku akan menunggu sampai nanti dia keluar dari monumen itu ... Akan tetapi kalau kau tidak main-main denganku, aku akan keluar dan melihat-lihat bagaimana kemampuannya."
Kemudian tetua An benar-benar telah keluar dari ruangannya dan meninggalkan master Heyto yang masih termenung di sana.
"Haiiih ... Adrine, maafkan aku ... Berhati-hatilah."
Bersambung!!