Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Black Blood Dots


Hingga setelah Adrine mendekati keempat artifak itu dalam beberapa menit, ia masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dan badannya sendiri berdiri namun tak memiliki kesadaran. Roh Naga Bintang Api juga merasa ada yang aneh dengan Adrine.


'Seingatku di saat aku dekati biasa-biasa saja, kok bocah itu kayak tertekan begitu, ya? Hmm, ada yang aneh kayaknya,' batinnya sembari mengelus janggutnya.


Sementara itu di dalam alam bawah sadar, Adrine bertemu dengan empat sosok dengan kekuatan yang bisa dibilang sangatlah kuat. Hanya dengan melihat salah satunya saja Adrine merasakan tekanan hebat, di saat ini juga tubuh jiwanya bergetar hebat dikelilingi empat orang sosok mengerikan itu.


Empat orang sosok itu mengenakan topeng hitam yang memiliki simbol berbeda-beda dengan warna merah. Garis persegi yang di tengahnya terdapat lingkaran, garis segitiga yang di tengahnya terdapat lingkaran, begitupun dengan garis segi lima dan segi enam yang di tengahnya terdapat lingkaran. Hanya berbeda di garis luarnya saja.


'Padahal mereka tak mengucapkan kalimat apapun, wajah mereka pun tertutup, dan juga hanya diam saja, tapi ... Tekanan apa ini?!' batinnya.


Adrine bukan tak berani menatap keempat sosok itu, hanya saja tekanan dari mereka membuatnya tak bisa untuk mengangkat kepalanya .


"Angkat kepalamu!" suruh salah seorang dari keempat sosok itu.


Adrine kini pun akhirnya bisa untuk mengangkat kepalanya kembali. Tetapi Adrine tetap tak bisa melakukan apa-apa selain mengangkat kepalanya barusan. Tekanan yang dialaminya itu membuat tatapan takut ketika disuruh menatap kepada empat roh itu.


"Tunduklah!"


Hanya dengan satu kata saja Adrine tak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya seperti dikendalikan oleh kata-kata mereka.


Ketika salah satu dari mereka berkata, Adrine tak tahu siapa dari mereka yang sedang berbicara. Suara mereka terdengar berputar-putar dan tak tahu datangnya dari mana. Adrine hanya bergerak sesuai keinginan mereka dan tubuhnya pun tak berada dalam kendalinya.


"Angkat kembali!"


Adrine mengangkat kembali kepalanya.


"Tunduk lagi!"


Adrine menundukkan kepalanya kembali.


"Angkat tanganmu!"


Adrine mengangkat tangannya.


Begitu seterusnya, mereka berkata-kata yang mempermainkan pergerakan Adrine. Bukan hanya di dalam alam bawah sadar, tubuh asli Adrine pun bergerak seperti tubuh jiwanya yang sedang dipermainkan.


"Hei, bocah! Kau sedang berbuat apa? Ambil saja rongsokan rongsokan itu!" suruh roh Naga Bintang Api yang keheranan.


Sementara itu, Adrine muak dipermainkan. Tapi apa daya ia tak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya saja tak bergerak sesuai keinginannya. Ucapan dari keempat sosok itu semakin lama semakin tak wajar saja, bahkan mereka sempat berkata 'Terbanting' dan tubuh Adrine benar-benar terbanting dengan sangat keras.


"Hancurlah!"


BLAAAARR!!


Jiwa Adrine meledak hebat, tetapi ledakan itu berbalik pada keempat sosok sebelumnya. Mereka terpental jauh sementara Adrine hanya merasa lelah dan sedikit keheranan, 'Tubuhku ... Masih utuh?' batinnya.


Justru kini Adrine dapat bergerak bebas dan tidak terpengaruh dengan empat sosok mengerikan itu. Ia langsung memutuskan untuk memanggil ketiga prajurit terkuatnya.


Adrine juga memerintahkan untuk menyerang masing-masing satu. Mereka melesat menyerang target mereka masing-masing dan apa yang terjadi?


Pukulan mereka berempat tak berpengaruh sama sekali, seperti memukul batu besar dengan tongkat kayu. Mereka bertiga bahkan menggunakan kekuatan maksimal tetapi tetap saja tak ada yang bisa memukul mundur ataupun menggores.


'Ini ... Ini buruk!'


"KALIAN KEMBALILAH! CEPAAAT!!!" teriak Adrine lantang.


Ketiga jiwanya itu segera menghilang sementara keempat sosok sebelumnya kembali mengelilingi Adrine. Di sana mereka berputar-putar mengelilingi Adrine.


Pria yang diputarinya masih bisa bergerak, hanya saja ia takut untuk bergerak.


' ... Bagaimana ini?' batinnya.


Kemudian keempat sosok itu diam, mereka mendekati Adrine dan tidak terjadi apa-apa lagi. Lantas mereka berempat berubah menjadi api merah gelap dan bergerak secara acak mengitari Adrine.


WUUUSH!!


Beberapa saat kemudian semua api itu menyatu dengan tubuh Adrine dan terdapat garis-garis tipis yang membentuk zirah dan aksesoris lainnya.


"Sepertinya tadi ... Mereka mengujiku?" gumam Adrine.


Di saat yang sama, roh Naga Bintang Api teringat lagi akan sesuatu. "Oh iya, bocah itu harus mendapat pengakuan dari mereka ... Eh? Dia kan masih lemah ... Jiwa Seratus Angka, aku lupa dengan itu, haha," gumamnya.


Sepuluh menit kemudian, kesadaran Adrine telah kembali. Di tangannya juga muncul simbol garis lingkaran hitam dengan di tengahnya terdapat titik berwarna merah gelap.


Adrine juga teringat telah mengambil cincin penyimpanan milik seorang bangsawan ketika berada di Monumen Iblis 6 Tahun yang bernama Leyan Rhiki dari keluarga Rhiki yang telah dihabisinya. Cincin yang dirampasnya itu senantiasa dipakainya di jari tengahnya. Sementara cincin miliknya dipakai di jari manisnya.


Sebelumnya Adrine juga memberi artifak kepada Liona yang berasal dari cincin penyimpanan milik Leyan.


Adrine mengambil beberapa artifak tingkat Sejati dan Suci serta menyisakan tiga artifak saja di dalam cincinnya. Artifak terkuat yang diambil oleh Adrine salah satunya adalah Kalung Kepala Naga, Sarung Tangan Naga, dan Rainbow Fire Orb.


"Bukankah itu Pedang Ketiadaan Surgawi?" tanya roh Naga Bintang Api.


Adrine menoleh keheranan, "Ini pedang dari mata jiwaku, Pedang Api Hitam Ashura," ujarnya.


"Iya, aku tahu itu, tapi pedang itu dulunya bernama Pedang Ketiadaan Surgawi ... Dan matamu itu bernama Mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno," sahut roh itu.


"Kalau hanya mata aku juga sudah tahu."


Setelah itu, roh Naga Bintang Api menceritakan sebuah kisah yang mana itu adalah kisah dari pemilik Mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno dulu. Dikatakan bahwa pemilik terakhir terbunuh ketika sedang berkultivasi dan terjadi sekitar tujuh ribu tahun yang lalu.


Leluhur tersebut tak diketahui namanya oleh Naga Bintang Api, yang tahu namanya hanya segelintir orang saja.


Pada saat itu leluhur tersebut berada di pertengahan tingkat Akhir Kutukan. Dia diserang dan berhasil melarikan diri, tubuhnya juga telah diracuni dengan racun yang sangat mematikan. Untung saja racun itu telah ditelan oleh Tremendous Absorption. Efek sampingnya berkecamuk di dalam tubuhnya yang mengakibatkan situasi yang sedang dialaminya menjadi lebih kacau. Ada dua situasi yang mana itu hal yang wajar dialami oleh para ahli di tingkat Akhir Kutukan, yakni Semesta Kutukan dan Puncak Kesengsaraan. Walaupun wajar dialami oleh para ahli setingkat itu, tetapi itu adalah sesuatu yang membuat mereka amat sangat kesulitan dan terlalu menyengsarakan.


Mereka yang menyerang leluhur itu bertujuan untuk mencuri matanya dan sebagian besar dari mereka telah berhasil ditumpaskan.


Karena dirasa tak kuat lagi untuk bisa bertahan, leluhur tersebut menghancurkan Mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno serta garis kepemilikan dari generasi mendatang. Akibatnya pemilik mata itu setelahnya hanya akan mengalami kecacatan dan akan sangat sulit untuk dibentuk kembali. Bahkan artifaknya pun rusak dan perlu diperbaiki dengan cara yang dilakukan oleh Adrine saat ini.


"Pantas saja di saat awal aku memiliki mata jiwa, aku mengalami keanehan. yang biasanya orang-orang mendapatkan satu mata jiwa sedangkan aku punya tiga mata jiwa. Rupanya mataku ini sebenarnya satu dan perlu seorang ahli untuk memperbaikinya," terang Adrine yang merasa tercerahkan.


Beberapa saat kemudian, Adrine berhasil membuat Pedang Api Hitam Ashura miliknya meningkat dengan ketujuh Pedang Semesta Laut Dalam dan beberapa artifak milik Leyan.


Sekarang pedang hitamnya itu adalah sebuah artifak tingkat Murni peringkat delapan. Mempunyai bentuk baru yang lebih panjang dan sedikit lebih ringan. Mata pedangnya juga menjadi lebih tipis. Tidak terdapat lagi gembok yang ada di antar gagang dan mata pedangnya. Bagian tumpul memiliki bentuk seperti mulut naga yang senantiasa terbuka dengan taring taring tajam di dalamnya. Api jingga gelap berkobar di bagian itu pula, apinya tak bisa padam kecuali atas kehendak Adrine.


Terdapat dua rantai yang panjangnya hampir sama dengan lengan atas. Di ujung masing-masing rantai terdapat sebuah bola seukuran ibu jari yang diselimuti oleh api warna warni yang senantiasa berkobar.


"Pedang itu seharusnya adalah artifak tingkat Surgawi, tapi karena tidak memiliki jiwa maka kekuatannya hanya sampai sebatas tingkat Murni peringkat delapan saja," ujar roh Naga Bintang Api.


"Benarkah?"


roh naga itu mengangguk.


"Bocah, aku belum tahu namamu, siapa namamu?" tanyanya.


Adrine menjawab, "Namaku Adrine Arnando, panggil saja aku Adrine."


Lalu, Adrine mengambil keempat artifak yang digantung di dinding di depannya. Ia penasaran dengan tingkatnya karena menurutnya satu set artifak itu sangatlah kuat.


"Keempat artifak itu masing-masing berada di tingkat Kuno peringkat delapan, mempunyai efek khusus yang dinamakan Black Death Mirror. Kalau kau dipukul maka artifak itu akan memantulkan serangan balik pada orang yang memukulmu itu yang setara tiga kali lipatnya," jelas roh Naga Bintang Api.


Roh naga itu juga menjelaskan tentang hal lain dari keempat artifak itu. Nama keempat artifak itu adalah Black Blood Armor, Black Blood Necklace, Black Blood Helmet, dan Black Blood Shoes, satu set ini dinamakan set Black Blood Dots. Efek Black Death Mirror juga hanya akan aktif ketika seseorang memakai satu set Black Blood Dots.


Black Blood Dots memiliki atribut bayangan dan darah, sifatnya sangat korosif. Black Death Mirror sifatnya juga memiliki sifat yang sangat korosif.


Adrine pun memakai satu set Black Blood Dots, Tremendous Absorption menyerap Black Blood Armor dan zirah hitam tersebut menyatu dengan zirah bawaan milik Adrine. Zirah bawaannya kini mempunyai bentuk dan warna yang sama persis dengan Black Blood Armor.


Setelah itu, Adrine terpikirkan sesuatu. "Oh iya, kenapa kau menungguku?" tanyanya.


Naga Bintang Api tersenyum, "Aku ingin memberikan kekuatanku untukmu karena rohku ini hanya akan hingga tiga ratus tahun berikutnya. Ini memang tugasku untuk mencari generasi yang memiliki mata Cahaya Surga Tanpa Batas, tuanku mempercayakanku untuk mengemban tugas ini dan mencari dari generasi ke generasi," terangnya.


Roh naga itu masih terus menjelaskan, menurutnya seharusnya sekarang dirinya sudah mati. Hanya saja dia merasa bahwa ini semua adalah ulah dari tuannya sebelumnya, apalagi sebelum tubuhnya membusuk ia sempat mendengar suara tuannya yang memberikan tugasnya sekarang ini.


"Apa yang terjadi jika kau menghilang sebelum pemilik mata Cahaya Surga Tanpa Batas lahir?" tanya Adrine.


"Aku tak tahu," jawab roh naga.


Adrine diam termenung tepat setelah mendengar jawaban roh Naga Bintang Api. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan.


"Ya udah, antar aku keluar sekarang," pinta Adrine.


"Tunggu dulu! Aku masih belum memberimu kekuatanku!" seru roh Naga Bintang Api.


Bersambung!!