
Semua ketua dan pilar telah berkumpul di tempat yang sama. Yang paling akhir datang adalah divisi kelima.
Adrine bersama dengan para ketua divisi dan para pilar naik ke puncak gunung Frey. Di sana mereka melihat kawah yang dipenuhi oleh magma yang senantiasa meletup-letup. Suhu di atas sana cukup tinggi hingga ada beberapa yang merasa kepanasan, tetapi Adrine justru terlihat biasa saja seperti para ketua dan sebagian kecil pilar yang lain.
"Permukaan magma yang di atas itu hanya pembatas saja, kalian tinggal masuk ke dalam dan terdapat ruangan di sana, pilih saja artifak yang kalian inginkan," ujar ketua divisi pertama.
Terdapat salah seorang pilar yang mengacungkan tangannya.
"Tak ada sesi tanya jawab di sini, langsung masuk saja!" serunya.
Adrine dan yang lainnya pun segera terjun ke dalam kawah. Ada beberapa orang yang takut untuk terjun dan pada akhirnya mereka dilempar oleh ketua divisi mereka masing-masing.
Ketika menyentuh permukaan magmanya, Adrine merasakan panas yang cukup ekstrim. Tapi dia dapat menahannya karena pernah merasakan api yang jauh lebih panas lagi. Menurutnya api yang ia rasakan ini jauh berbeda dari api yang pernah membuatnya hampir terbakar hidup-hidup di Altar Sembilan Warna Api.
Hingga beberapa detik kemudian Adrine pun berhasil menerobos pembatasnya. Di sana ada juga beberapa orang yang lekas membuka pakaiannya karena merasa terlalu panas.
Adrine segera menelusuri ruangan yang mirip dengan sebuah aula yang dipenuhi oleh tangga. Di sana hanyalah lantai yang di sekitarnya terdapat tangga menuju ke bawah, berbeda tangga berbeda pula ruangannya. Akan tetapi ruangan yang ada di sana saling terhubung. Semakin ke bawah maka suhunya akan semakin panas pula. Dindingnya pun adalah sebuah magma kental yang mengalir ke bawah.
'Hmm, firasatku berkata kalau semakin ke bawah aku akan menemukan sesuatu yang menarik,' batin Adrine.
Ia pun segera berjalan ke bawah mengikuti apa kata firasatnya, begitupun dengan pemilihan tangganya.
Ketika sampai di suatu ruangan, Adrine melihat banyak sekali senjata, zirah, aksesoris yang mana semua itu adalah artifak. Artifak yang ada di dana tak lebih rendah dari tingkat Suci. Mereka semua melayang di udara yang dikelilingi oleh sebuah pelindung sihir tipis yang membuat semua artifak di sana tahan dengan suhu yang ekstrim itu. Hanya saja ruangan itu memang hanya dipenuhi untuk artifak setingkat itu saja, tak ada artifak tingkat Murni apalagi yang lebih tinggi dari itu.
Adrine pun berjalan mencari tangga lagi untuk mencari ruangan lain. Ia juga mulai merasakan suhunya naik secara perlahan tiap anak tangganya.
'Hmm, masih belum terlalu panas, aku bahkan bisa tinggal di sini hingga lebih dari tiga bulan,' batinnya merasakan panasnya suhu udara di sana.
Kemudian Adrine masuk ke dalam ruangan lagi, di sana juga terdapat banyak artifak tingkat Suci, akan tetapi yang paling rendah berada di peringkat enam. Ada juga artifak tingkat Murni di sana. Namun Adrine masih belum puas sampai di situ saja. Ia mencari lagi tangga untuk semakin ke bawah lagi.
Di saat berada di ruang tangga berikutnya, Adrine merasa bahwa suhu udaranya mirip sekali ketika ia mendaki di gunung tempat Altar Sembilan Warna Api berada. Tetapi Adrine masih tahan dengan suhu seperti itu dengan kemampuannya sekarang.
'Ini masih biasa, satu setengah bulan tinggal di sini aku pun masih bisa,' batinnya lagi.
Adrine pun menemukan ruangan ketiga. Di sana semuanya adalah artifak tingkat Murni dan yang paling rendah berada di peringkat tiga. Menurutnya ini sudah cukup.
Tetapi ia melihat sosok di sana dengan pakaian yang sudah setengah terbakar, dia adalah Angelo. Ada juga orang lain yang sampai hingga ke ruangan itu, dan karena itulah Adrine bertekad untuk menuju ruangan keempat dan seterusnya. Karena masih umum bagi orang-orang, menurut Adrine artifak tingkat Murni bagaikan rongsokan yang dipungut banyak orang di sana. Jadi ia tak membutuhkan sesuatu seperti rongsokan.
'Sialan! Kukira cuman aku dan ahli di tingkat Permata yang sampai ruangan tadi, rupanya masih ada banya lagi yang sudah sampai sini,' umpatnya dalam hati.
Seperti sebelumnya Adrine mencari tangga untuk menuju ke ruang berikutnya.
Di tangga ia membatin bahwa panasnya suhu di sana sudah mencapai titik yang cukup ekstrim. Menurutnya dirinya bisa bertahan tinggal di sana hanya sampai dua puluh hari saja.
Sesampainya Adrine di ruang keempat, ia merasakan sensasi yang tak asing lagi baginya. Di sana ia bisa mendengar adanya suara dari jiwa yang berterbangan. Ketika memeriksa ruangan tersebut, Adrine melihat ada beberapa zirah dan perisai yang mana itu adalah artifak tingkat Surgawi.
Dikatakan bahwa artifak tingkat Surgawi ke atas memiliki jiwa dan disebut sebagai senjata yang hidup. Bahkan mereka bisa memakan sesama artifak yang walaupun belum memiliki jiwa seperti artifak tingkat Murni ke bawah.
"~Wha wha wha~"
"~Whoooo~"
"~Hiiii hiiii~"
"~Paah paah paah paah~"
Adrine sangatlah familiar dengan suara seperti itu, "Suara suara jiwa seperti ini, aku sering mendengarnya dulu. Aku dulu terkejut ketika pertama kali memasuki dunia bayangan di mana para prajurit bayanganku berada. Hanya saja Aurora berbeda, dia tak bersuara sama sekali," ucapnya dengan diri sendiri.
Di sana Adrine juga melihat beberapa ahli di tingkat Permata yang tengah memilih artifak tingkat Surgawi.
Adrine masih belum puas sampai di situ saja, lagi-lagi ia mencari tempat di mana tangganya berada. Beberapa ahli yang melihatnya turun mengatakan bahwa Adrine sudah gila, karena mereka sempat mendengar bahwa di ruangan kelima adalah ruangan panasnya mendekati setengah dari suhu mantel Bumi.
Dan benar saja, Adrine merasakan perbedaan suhu yang sangat signifikan. Suhu yang ada di sana bahkan bisa melelehkan besi raksasa dalam hitungan detik.
'Jangankan seminggu, tiga hari pun aku mungkin tak sanggup untuk tinggal di sini,' batinnya lagi dan lagi.
"A ... Aku merasa ... Seperti aku sedang ditindih oleh Gajah Emas saja," gumamnya.
Gajah Emas memiliki berat hingga 350 ton, hewan spirit ini terlalu berat untuk Adrine. Sebenarnya ia tak sanggup untuk mengangkat hewan spirit tersebut, katanya itu hanyalah sebuah perumpamaan saja. Di tempat itu memang benar-benar menyiksanya.
Tetapi di ruangan itu Adrine melihat semua artifak yang ada di sana adalah artifak tingkat Surgawi.
Ketika Adrine menelusuri ruangan tersebut dengan badan yang sedikit membungkuk, ia melihat hal yang tak ada di sana melainkan ada di ruang ruang sebelumnya.
"Aneh, apa ini ruangan terakhir? Aku tak menemukan ruang tangga lagi di ruangan ini," gumannya lagi.
Di sana juga terdapat sebuah kolam magma di tengah-tengah ruangan. Adrine agak curiga dengan kolam tersebut.
"Firasatku berkata kalau di bawah sana ada ruangan lagi. Kolam ini sepertinya terbentuk dengan cara dihancurkan dari bawah," gumamnya lagi dan lagi. "Hmm ... Apa aku menyelam ke sana saja ya?"
Tetapi dirinya ragu bisa tubuhnya dapat bertahan dengan suhu yang amat sangat luar biasa ekstrim di bawah sana. Bahkan sebelumnya saja ia sempat meralat pemikirannya bahwa tak mungkin bisa tinggal bahkan untuk sehari saja.
Adrine memutuskan untuk tidak semakin menyelam ke bawah. Itu hanya akan membunuhnya. Ia pun berbalik, tetapi sialnya magma pada kolam di belakangnya meletup dan mengenai kakinya.
Dan sialnya lagi ia terpeleset.
"Eh?"
BLUP!!
Adrine tercebur ke dalam kolam magma. Ia terbakar hidup-hidup di sana, yang bisa ia lakukan di sana hanyalah berusaha untuk kembali ke atas, tetapi gravitasi dan tekanan di sana membuatnya semakin tertarik ke bawah.
Sekarang yang bisa Adrine lakukan hanyalah pasrah.
BUGH!!
Tiba-tiba punggung Adrine menabrak sesuatu yang sangat padat dan keras. Ia menduga bahwa di sana mungkin saja terdapat ruangan. Bermodalkan dengan tekadnya, Adrine merangkak.
'Ini ... Ada ruangan di sini,' batinnya ketika menemukan ruang kosong di saat tangannya berhasil merogoh hingga keluar dari magma.
Adrine pun segera merangkak keluar dari sana dan berhasil keluar dari magma. Ia segera menyandarkan badannya ke sebuah batu besar.
Adrine terengah-engah seraya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sebagian besar kulitnya terbakar dan tubuhnya menjadi berwarna gelap. Tetapi ia sadar bahwa tempatnya sekarang terlihat seperti di dalam goa.
'Ini bukan goa alami,' batinnya.
Adrine sadar bahwa goa itu bukan terbentuk secara alami, melainkan buatan. Terlihat dari sisi batu besar yang terpotong dengan sangat rapi dan tak bisa dikatakan bahwa itu terpotong alami. Tekanan udara yang ada di sana sedikit lebih ringan ketimban dengan yang ada di lantai lima. Sedangkan suhunya turun drastis, bahkan tidak lebih panas dari ruangan pertama.
Adrine hendak berdiri dan segera menelusuri ruangan yang ia tempati sekarang ini, tetapi tubuhnya kini tak dapat bergerak karena dipenuhi oleh rasa sakit dan luka bakar yang cukup berat. Jantungnya saja berdetak cepat setiap saat dan tak mau melambat. Luka bakarnya saja bukan hanya di kulit, melainkan hingga ke tulang tulangnya.
Adrine menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keamanannya, tapi ia merasa ada yang di sekitarnya.
"Engh ... "
Adrine merasakan adanya energi panas di goa itu. Energi panas itu kian mendekat dan semakin dekat saja.
"Hei, bocah! Sudah lama kau kutunggu di sini!"
Tiba-tiba saja ada yang berbicara dari samping kanan Adrine. Sontak ia terkejut ketika melihat sosok roh yang berwujud manusia api.
"K ... Kau ... Apa kau roh dari Fire Demon of Death?" tanyanya.
Kemudian roh itu menjawab, "Tidak! Aku adalah hewan ajaib yang telah hidup ratusan ribu tahun yang lalu. Apa kau tahu? Sebenarnya aku tahu identitasmu sepenuhnya, dari keturunan mana, dan juga mata jiwamu itu!"
Pada saat itu, Adrine tertegun mendengarnya. Matanya terbelalak lebar dan tak henti-hentinya menatap roh api di depannya.
Bersambung!!