
"Baiklah, saya undur diri. Pesan dari tuan Adrine akan saya sampaikan."
"Bagus."
Lalu Zeno menundukkan badannya dan balik kanan untuk kembali ke pesawat tempur yang dipakainya kesini.
"Oh ya, maaf tuan Zeno, aku tanya sekali lagi."
"Ha?"
Zeno pun menoleh karena Adrine memanggilnya. Zeno sebenarnya juga masih punya beberapa waktu untuk pergi.
"Ada apa tuan Adrine?"
"Kalau tuan Veno sudah melewati ujian Nirvana Alam Pertama, apa dia sekarang sudah mengevolusikan inti jiwa miliknya?"
"Belum, dia perlu memulihkan tenaganya untuk bisa benar-benar memiliki kemampuan untuk melawan hewan spirit yang kuat dan cocok dengannya."
Adrine juga teringat kalau Zeno juga sudah melampaui tingkat Keabadian, dan juga sudah menyerap inti jiwa dari hewan spirit.
"Apa warna inti spirit anda tuan Zeno?"
"Coklat."
"Haha, kukira merah!!"
Adrine masih sangat lugu. Perbedaan kekuatan antar warna inti jiwa sangatlah besar apabila semakin meningkat. Shin kecil yang mendengar hal itu dari Adrine, langsung segera mengingatkan
"Adrine, kau jangan terlalu bar-bar kalau ngomong! Kau tahu, setiap warna itu punya tingkatan tersendiri. Jika warna ungu kekuatannya diantara 750 - 2499, maka disaat warna hitam kekuatannya harus setara diantara 2500 - 24999. Lihatlah, perbedaannya menjadi bertingkat dan itu juga tidak mudah."
Shin kecil segera mengatakan hal tersebut karena Shin kecil tahu hal itu akan bisa langsung masuk ke hati. Hal tersebut bisa dikatakan kalau merendahkan diri orang lain.
"Oh? Maaf tuan Zeno! Maafkan saya!! Tadi saya asal bicara dan tidak memikirkan tuan Zeno."
Zeno dilihat dari mana pun menjadi suram wajahnya karena perkataan Adrine. Tetapi, melihat Adrine meminta maaf secara tulus karena kecerobohannya dalam berbicara, Zeno memaafkan hal tersebut.
"Haha, tak apa-apa. Aku tahu kau tak akan bermaksud yang tidak-tidak. Baiklah, akan kumaafkan, dan jangan ulangi lagi."
Adrine mengangguk dan senang karena pendekar Zeno tidak marah karena kecerobohannya.
"Kalau begitu, aku pamit sekarang! Sekarang sudah waktunya."
"Ya."
Adrine dan Nicho mengatakan Ya dengan bersamaan dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Zeno berbalik kanan lagi dan benar-benar pergi. Adrine dan Nicho berbincang-bincang setelah pendekar Zeno pergi.
Tak lama kemudian, datang pendekar pedang yang dimaksud oleh pendekar Zeno, yakni pendekar Veno.
"Ah iya, ehmmm.... Apakah... Apakah kakak sudah pergi?"
"Ya."
'Dilihat dari cara berbicaranya barusan, kayaknya dia ini tipikal orang yang pemalu.'
Adrine seperti sedang menerawang pendekar Veno dimata Shin kecil.
"O... Oh? Apakah ini yang bernama Adrine?"
"Iya, kau benar lagi."
Adrine tersenyum melihat tingkah laku mereka yang cukup menyenangkan dan lucu. Adrine sangat ingin itu ada bersama dengan orang tuanya. Tetapi, Adrine juga tak tahu dimana akan ia bisa merasakan hal itu nantinya.
"Ah iya, salam kenal, saya Veno."
"Salam kenal juga, namaku Adrine Arnando, panggil saja Adrine."
"Haha, iya... Tu... Tuan Adrine."
Adrine tersenyum lebar melihat ada orang yang sangat pemalu bahkan orang tersebut lebih tua dan sesama lelaki.
"Oh iya Nicho, aku mau tanya."
"Silahkan, kau mau tanya tentang apa?"
Tiba-tiba Adrine teringat akan sesuatu hal. Ini juga terkait dengan urusan para murid yang berasal dari rasi bintang.
"Apakah ada selain kau, Ray, Alfian, dan Zizi yang berasal dari rasi bintang lainnya yang masuk kedalam Perguruan Bayangan Langit atau perguruan yang lain?"
"Ah, itu... Ada sih... Tapi aku hanya kenal 2 saja."
"Siapa saja?"
Adrine malah menjadi sangat penasaran.
"Yang pertama adalah keturunan asli dari Monarch rasi bintang Orion, dia bernama hampir mirip denganmu."
"Oh ya?"
"Bagaimana tidak, namanya saja adalah Adrina Irnanda."
DEG!!
'Kenapa seperti ada sesuatu yang sepertinya membuatku dekat dengan ini? Bukan... Ini bukan masalah nama saja... Tapi... Apa itu?'