
SETELAH 2 HARI BERLALU
Adrine sudah menghancurkan Lapisan Segel Darah Suci yang lapisan luarnya sejak hari pertama ia berada dilantai 2. Hancurnya lapisan luar dari Lapisan Segel Darah Suci adalah hal yang cukup membahagiakan bagi Adrine. Prosesnya masih berlanjut dan tidak ada bagian yang cukup dramatis ataupun fenomenal disaat Adrine berhasil menghancurkan segel luarnya.
Hari ini juga Adrine sudah diperbolehkan untuk naik kelantai 3 karena gejolak aura pada dudukannya susah tidak ada lagi. Dirinya sudah tidak bisa berkultivasi karena tidak adanya energi dan aura untuk digunakan berkultivasi.
Disaat Adrine naik kelantai 3, ia tidak mendapati adanya Roni yang sedang berkultivasi seperti sebelumnya.
"Mungkin untuk berkultivasi disini mempunyai jadwal tersendiri agar bisa bergantian dengan yang lainnya."
Karena tidak adanya Roni disana dikarenakan bukan jadwalnya, Adrine bisa berkultivasi dengan tenang tanpa adanya gangguan seperti sebelumnya.
"Segera setelah aku selesai dilantai 3 ini aku akan pulang dan menemui Etern, Arpha, dan David."
Tiba-tiba Adrine teringat dengan teman-temannya yang dirumah. Ia tidak memberitahu kepada teman-temannya kalau dirinya sedang berada di Menara Aliran Bayangan Bertingkat.
Adrine melihat kalau dudukannya bertambah tinggi lagi menjadi 3 lapis batu dudukan. Ia sudah menduga kalau disaat ia berada dilantai 3, dudukannya akan bertambah tinggi.
"Sudah kuduga. Memang apa fungsi dudukan yang semakin tinggi ini?"
Adrine tak mengerti mengapa setiap kali dirinya naik lantai, dudukannya juga semakin tinggi karena jumlah batu dudukannya bertambah.
'Kenapa aku sama sekali tidak melihat orang dari lantai 4 keatas turun? Apa memang kalau setiap naik lantai itu jatah waktunya bertambah?' Pikir Adrine.
Adrine sedikit tak mengerti mengapa ia tak pernah sekalipun melihat seseorang dari lantai 4 dan diatasnya itu turun kebawah. Dan tepat ketika Adrine memikirkan hal tersebut, 2 orang dari lantai atas turun kebawah.
Adrine berpura-pura sedang berkultivasi dan matanya mengintip sedikit untuk melihat kedua orang itu. Namun 2 orang itu sama sekali tidak melihat atau melirik seorang pun dari lantai 3. Adrine memandang kedua orang itu sangatlah sombong dengan orang yang ada dibawahnya.
'Melihat kalian sepertinya puas dengan kesombongan kalian dengan orang yang ada dibawah kalian. Akan lebih puas lagi jika menyombongkan diri itu dihadapan orang yang sombong seperti kalian.' Pikir Adrine.
Memang jika dilihat sebelumnya, Adrine hanya menyombongkan dirinya dan merendahkan orang lain yang suka menyombongkan diri dihadapan orang yang lebih kecil atau lebih lemah, seperti halnya disaat Adrine menyombongkan dirinya dihadapan Roni yang dengan sombongnya menjadi seorang babu dari Geng Lima Jenius.
Adrine pikir kalau menjadi babu itu tak ada yang bisa dibanggakan, walaupun menjadi seorang babu dari orang besar yang kuat dan hebat. Dan menurut Adrine itu adalah pekerjaan yang hanya bagi anjing saja.
Jika Adrine menjadi seseorang yang sama seperti Roni, ia lebih memilih untuk pergi dari pekerjaannya atau mati. Menurutnya itu adalah pilihan terbaik daripada menjadi seorang babu.
'Bodo amat lah! Yang penting sekarang ini urusanku belum selesai.' Pikir Adrine.
Lalu Adrine pun kembali berkultivasi dengan fokus. Keadaannya sangatlah hening dan sunyi, bahkan suara dari luar yang sangat ramai dan ribut saja tidak bisa terdengar masuk kedalam.
Sementara itu, David, Arpha, dan Etern dirumah juga sedang berkultivasi. Mereka juga tak ingin kalah dari Adrine yang sudah terlampau jauh kedepan, sedangkan mereka tertinggal jauh dibelakang. Akan tetapi, mereka tak sedikit pun melupakan Adrine. Setiap kali mereka terhenti sejenak, mereka bertiga selalu teringat pada Adrine, begitu juga dengan sekarang ini.
"Adrine dimana ya?"
Etern menanyakan kepada David dan Arpha.
"Aku tidak tahu, tapi menurut kalian, sekarang ini Adrine sedang ada dimana?"
David pun menanyakan pendapat Etern dan Arpha. Arpha terlebih dahulu memberi pendapatnya.
"Menurutku sekarang ini Adrine berada di Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Ini sudah yang ketiga harinya, pasti dia ada disana dan berkultivasi."
Ketika Arpha memberikan pendapatnya, Etern terlihat seperti tak setuju dengan pendapa dari Arpha.
Etern langsung mencemaskan keadaan Adrine yang sedang berada didalam wilayah kuasa Geng Lima Jenius. Etern merasa kalau hal buruk bisa saja terjadi kepada Adrine.
"Apa kau itu terkena amnesia? Kau tak ingat? Adrine sudah mengalahkan Geng Lima Jenius dengan tangannya sendiri, bahkan tidak menggunakan teknik apapun. Apalagi sekarang ini Adrine sedang dalam penerobosan tahap Keberlanjutan. Dia lebih kuat dari seluruh murid perguruan ini."
Arpha masih teringat dengan kejadian ketika Adrine mengalahkan Geng Lima Jenius. Apalagi Adrine telah memberitahukan bahwa kekuatannya sudah melampaui seluruh murid seperguruan.
Dan disaat yang sama, Adrine sedang berusaha keras untuk menghancurkan segel dalam pada Lapisan Segel Darah Suci. Walaupun sepertinya akan memakan waktu, namun Adrine terus berusaha agar waktu yang ia miliki itu cukup.
Adrine ingin kalau dirinya harus sudah selesai sebelum ujian kelulusan dimulai. Walaupun seperti itu, kecepatan Adrine juga akan meningkat dengan adanya energi dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Energi yang masuk terus menerobos dan menciptakan tekanan disekitar Titik Meridian Adrine. Hal itu berguna untuk melunakkan segelnya, sehingga bisa dihancurkan dengan mudah.
'Aku tidak percaya kalau bisa menghancurkan segel dalamnya dilantai 3. Setidaknya harus berada dilantai 4 atau 5 keatas.' Pikir Adrine.
Walaupun dirinya sendiri tidak percaya kalau bisa menghancurkan segel dalamnya dilantai 3, ia tetap berusaha agar segelnya bisa hancur dilantai berapa pun.
Beberapa saat setelah Adrine sudah terfokus pada kultivasinya, banyak orang yang waktunya sudah habis dan tergantikan. Ada beberapa yang menetap karena ingin melihat siapakah seseorang yang sedang berkultivasi pada dudukan nomor 0.
Ekspresi orang-orang berbeda ketika melihat Adrine yang sedang berkultivasi pada dudukan nomor 00.
Ada yang tak percaya.
"Bukankah dia adalah Adrine yang itu? Apa benar?"
"Mustahil! Aku tak percaya kalau dia bisa mendapatkan keberuntungan sebaik itu."
Ada yang memantaskan Adrine dengan diri mereka sendiri.
"Seharusnya bukan dia yang ada disana, melainkan orang seperti aku ini."
"Kau itu tak pantas... Seharusnya itu aku atau kalau tidak adalah salah satu dari ketua Geng Lima Jenius."
Ada yang heboh sendiri dan histeris.
"Angka 0! Dia dapat angka 0! Itu mustahil!"
"Wow! Angka 0! Sangat menakjubkan! Ini kali pertama aku melihat seseorang duduk dengan plakat bernomorkan 0."
Ada juga yang tidak peduli dan tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi.
"Apanya yang angka 0? Bodoh amat! Aku turun saja daripada memperhatikan hal yang tak jelas."
"Tak ada yang memperhatikan diriku, berarti aku tak ada urusan disini. Aku pergi saja."
Walaupun ada banyak orang yang sedang memperhatikan Adrine dan ada juga juga tidak, Dirinya tidak merasa diperhatikan sama sekali. Ia tak tahu kalau dirinya sedang dikerumuni banyak orang dan membicarakan dirinya.
Banyak juga dari mereka yang sudah puas melihat Adrine yang sedang berkultivasi, lalu mereka pun pergi. Ada juga yang masih belum pergi dan memandangi Adrine terus menerus, namun pada akhirnya mereka yang tersisa juga pergi karena merasa tak ada yang bisa dilakukan lagi.
Adrine pun ditinggal bersama dengan orang-orang lainnya yang sedang berkultivasi pula disekelilingnya. Ada yang naik, dan juga ada yang turun karena waktu pada jadwal mereka sudah habis.
Tak ada lagi kejadian yang cukup menarik lagi, apalagi kalau Adrine yang menempati dudukan nomor 00 itu sudah menjadi berita utama dan menjadi umum ditelinga orang mana pun didalam Perguruan Bayangan Langit, perguruan murid inti selatan.