Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Teknik Kreasi Phoenix Biru (3)


SETELAH 3 MINGGU BERLALU


Selang beberapa minggu, Adrine telah berhasil menggunakan api biru dengan energi dari tato didadanya sampai sebesar kedua kakinya. Walaupun belum membentuk seekor burung, namun api sebesar itu sudah cukup lumayan jika digunakan untuk menyerang. Adrine sedikit senang mendapati perkembangannya yang sudah dapat dilihat langsung, namun untuk kultivasinya masih belum naik karena masih membutuhkan beberapa waktu.


Begitu juga dengan kultivasinya terhadap energi bayangan dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat, Adrine telah naik kelantai 5 saat ini juga. Dan pada lantai tersebut, ia mendapati adanya 3 dudukan yang masih kosong, yakni pada nomor 00, 01, dan 12.


'Baru dilantai 5 saja sudah ada dudukan yang kosong, bagaimana dengan lantai 6?' Pikir Adrine.


Tanpa pikir panjang lagi, Adrine langsung berjalan menuju pada dudukannya yang masih nomor 00 lagi, nomornya tak pernah berubah sama sekali sejak awal dirinya datang di Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Dan hari itu, bertepatan dengan David yang sedang berkultivasi dilantai 1.


Ketika Adrine duduk dan mulai berkultivasi, energi yang ia rasakan jauh lebih murni daripada sebelumnya, mungkin 3 hingga 5 kali dari lantai sebelumnya. Kini energi bayangan pada menara telah terkonversi menjadi 2 alur ditubuh Adrine, yakni kultivasinya dan residunya akan masuk kedalam dadanya yang bergambarkan burung Phoenix. Jadi disaat Adrine berkultivasi akan terasa sangat halus apabila dirasakan oleh orang lain, karena residunya yang dulu menjadi sebagai gejolak dari kultivasinya, sekarang telah dihisap olehnya kembali dalam kekuatan yang berbeda.


Energi yang masuk kedalam dada Adrine membuat simbol api birunya menyala seperti lampu yang pencahayaannya redup, namun untuk gambar burung Phoenix itu sendiri tidak bercahaya seperti ketika Adrine menggunakan energinya untuk membuat api biru.


Didalam benaknya, ia ingin menggunakan api biru yang sudah mampu diciptakannya sampai sekarang untuk menyerang atau sebagai bahan percobaan, namun karena takut apabila nantinya api yang telah ia buat selama ini menghilang dan harus dibuat ulang kembali, Adrine tak mau melakukannya. Walaupun sebenarnya ia sangatlah penasaran akan kekuatan dari api sang Phoenix.


'Sebaiknya aku latih lagi agar aku bisa menggunakannya hingga pada puncaknya.' Pikir Adrine.


Jika hanya dilatih setiap jamnya saja,maka hasilnya tak akan bisa terlihat dengan jelas, namun jika dilatih hingga waktu yang lama secara terus menerus, maka hasilnya akan dapat dilihat dengan sangat jelas. Mulai dari perkembangan kecil, sampai pada titik puncaknya.


Sementara itu, Shin kecil masih belum ada kabar juga. Dirinya sekarang sedang berburu hewan untuk memulihkan kekuatannya. Sudah banyak mayat hewan spirit yang belum diketahui secara pasti siapa pembunuhnya, dan pembunuhnya adalah Shin kecil. Kini kekuatannya telah meningkat hingga pada tahap Nirvana Alam Pertama.


Shin kecil mengutamakan untuk mengincar pada hewan spirit tingkat Langit peringkat 3 sampai 5, untuk yang lainnya Shin kecil memasukannya kedalam daftar antrian.


"Lumayan untuk hari ini... Besok-besok lagi aku akan kesini untuk mencari hewan spirit. Sayang kalo semua dihabiskan, mereka juga bisa bereproduksi lagi dan nanti disaat mereka sudah kuat akan kujadikan mereka sebagai makananku."


Sepertinya Shin kecil juga tak sabaran kembali pada kekuatan aslinya. Memang dibutuhkan perjuangan yang lama untuk sampai pada tahap yang dimana orang biasa tak akan bisa mencapainya, walaupun banyak orang yang mengimpikan hal yang sama dengannya.


"Aku ingin memeriksa keadaan Adrine, apakah dia sekarang sudah mencapai tahap Keberlanjutan atau belum ya?"


Lalu Shin kecil menghilang dan ia sedang berteleportasi ketempat Adrine. Ia sangat penasaran dengan perkembangan yang telah diraih oleh Adrine selama dirinya tidak ada, padahal Shin kecil hanya meninggalkan beberapa minggu saja dan sama sekali tidak membantu kultivasi Adrine setelah pulangnya dari Altar Sembilan Warna Api Spiritual.


Shin kecil pun langsung tiba didepan Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Ia melihat-lihat disekitar menara yang ada didekatnya dan mendapati banyak orang yang sedang mengantri. Ia tahu kalau bangunan tinggi yang ada didepannya adalah Menara Spiritual, jadi cukup wajar dimatanya ketika melihat pemandangan tersebut.


"Tak kusangka Adrine berada disini. Aku ingin tahu sudah mencapai lantai berapa dia sekarang ya?"


Lalu Shin kecil langsung masuk kedalam menara dan mencari keberadaan Adrine. Dari lantai 1 ia tahu ada teman Adrine yang tengah berkultivasi disana. Ketika naik kelantai 2 ia tak mendapati seseorang yang dikenalnya. Dilantai 3 ia mendapati orang yang dulu pernah dibuat pingsan oleh Adrine, yaitu Roni. Dilantai 4 pun ia masih tak mendapati adanya Adrine dan orang yang mungkin dikenalinya. Hingga dilantai 5 Shin kecil langsung melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah berkultivasi tepat ditengah-tengah ruangan pada lantai 5, yaitu Adrine.


"Lantai 5 dan angka 0, perkembangan yang sangat cepat dan fantastis. Sungguh mengejutkan."


Shin kecil berkata bangga pada Adrine. Dirinya tak dapat berkutik lagi ketika melihat sesosok yang sedang berkultivasi didudukkan nomor 00 itu. Shin kecil pun membuka mulut dan bergumam.


"Mungkin dulu aku adalah seorang jenius kebanggaan pada saat muda dulu. Tapi jika dibandingkan dengan bocah ini... Aku telah kalah jauh darinya."


Pada kehidupannya dulu disaat Shin kecil masih seusia Adrine sekarang ini, ia memang dijuluki sebagai seorang yang jenius. Memulai pembangkitan dan berkultivasi pada umur 13 tahun dan mencapai tahap Keberlanjutan pada umur ke-20 tahun. Berbeda dari teman-temannya yang memulai pembangkitan dan berkultivasi lebih awal darinya, rata-rata dari mereka mencapai tahap yang sama antara umur 22 tahun hingga 26 tahun.


Pada masa itu teknologi belum mencapai pada titik yang sepadan dengan perkembangan teknologi pada saat ini. Belum ada yang namanya pesawat tempur pada saat itu. Namun karena sudah hidup cukup lama, dirinya sudah cukup banyak mengenal dari beberapa ciptaan manusia, seperti teknologi, infrastruktur modern, robot, hingga persenjataan dan kemiliteran.


Pada zaman Shin kecil dulu, Divine Cube masih belum seperti sekarang yang dimana telah dilakukan modernisasi. Dulu Divine Cube hanya berupa kubus energi yang berwarna ungu dan didalamnya terdapat energi pembangkitan.


Pada saat itu, Divine Cube hanya memberikan sebuah zirah perang yang kuno, namun bentuknya terlihat sangat kuat, mengerikan, dan bisa digunakan untuk mengintimidasi lawan. Berbeda pada zaman sekarang yang dimana Divine Cube yang telah dilapisi baja dan besi serta dilengkapi oleh teknologi, dan memberikan zirah robotik yang juga memiliki fitur-fitur yang sangat canggih. Salah satu fiturnya adalah holografic video call 3D, chip data yang menyimpan data termasuk keuangan tiap orang disetiap dunia, perlengkapan dan persenjataan tambahan, dan lain-lain.


Zirah pada zaman sekarang juga bisa ditingkatkan menjadi lebih tinggi lagi. Seperti zirahnya lebih kompleks dan memiliki warna yang berbeda dari sebelumnya. Hal itu biasanya dikarenakan oleh statusnya yang berubah menjadi lebih tinggi.


Dan Divine Cube pula tercipta pada setiap planet dengan variabel yang berbeda-beda. Divine Cube tercipta dengan energi pada setiap planet yang dimana energi itu berasal dari inti dari planet tersebut. Energi tersebut dinamakan dengan Energi Illahi.


Untuk terciptanya Divine Cube sekarang ini, banyak asosiasi yang mengurusnya dan tersebar diberbagai penjuru dunia. Tak ada yang berbeda dari Divine Cube-nya, hanya saja teknologi yang mereka gunakan berbeda-beda, dari segi riset dan penelitiannya.


"Eh? Apa itu?"


Tiba-tiba Shin kecil seperti melihat sesuatu.


"Tato? Kenapa Adrine bisa punya tato?"


Ternyata Shin kecil telah menyadari tato yang berada didada Adrine. Ia tak tahu bagaimana Adrine mendapatkan tatonya itu.


Namun Shin kecil sudah mengerti dengan adanya tato yang berada didada Adrine tersebut. Ia langsung tahu bagaimana tato itu terbentuk ketika menyadari dan terus mengamati gambar dari tato Adrine.


"Burung Phoenix, api biru, keduanya itu pasti ada sangkut pautnya dengan gulungan teknik yang dulu didapatkannya dari Altar Sembilan Warna Api Spiritual, teknik Kreasi Phoenix Biru."


Dengan hanya menganalisa gambar tato yang ada didada Adrine, Shin kecil langsung tahu tato apa tersebut. Justru dirinya malah lebih tahu ketimbang Adrine yang sudah membaca petunjuknya dari gulungan dan mempelajarinya berminggu-minggu.


"Teknik tingkat Semesta, Kreasi Phoenix Biru. Dengan hanya mengumpulkan energi api biru didadanya, Adrine hanya akan bisa menggunakan teknik itu satu kali dan harus mengumpulkan energi lagi."


Teknik tingkat Semesta memang tidak semudah yang dibayangkan, penggunaannya juga jauh lebih sulit ketimbang teknik yang ada dibawah tingkatan tersebut. Namun teknik pada tingkat tersebut bisa membuat penggunanya dengan mudahnya mengalahkan lawan yang memiliki kultivasi yang lebih tinggi darinya, setidaknya bisa digunakan untuk mengalahkan lawan yang jarak kultivasinya berada dilevel, bahkan ditahap yang lebih tinggi.


Walaupun Adrine tidak cukup tahu dengan penjelasan tadi, namun setidaknya ia tahu beberapa beberapa dengan hanya memandang tingkatan yang tinggi. Ia tahu kalau tingkatannya semakin tinggi, maka efek kerusakan yang ditimbulkannya juga kuat pula, namun resikonya untuk melatih tekniknya juga sama tingginya dengan hasil yang diperolehnya.


"Adrine, aku tahu tentang dirimu. Kau pasti ingin menghilangkan tato tersebut, tapi kau tak bisa. Setelah kau selesai dengan latihanmu ini, aku akan mengajarkan sesuatu padamu untuk bisa menghilangkan tato itu."


Shin kecil mempunyai suatu teknik yang bisa menghilangkan tato tersebut. Dikarenakan Adrine yang sedang fokus berkultivasi, Shin kecil tak mau mengganggu kultivasinya tersebut.


"Untuk hari ini aku akan beristirahat saja. Aku akan kembali kehutan dan beristirahat disana. Tak ada yang seindah hutan yang sunyi."


Seketika Shin kecil langsung menghilang dengan sangat cepat dan menuju kehutan. Ia lebih memilih dihutan karena suasananya yang memang cukup tenang, apalagi dirinya juga akan langsung menyambung proses pembalikan kekuatannya setelah istirahatnya selesai.


Sementara itu, Adrine yang berada didalam alam bawah sadarnya sedang terkejut mendapati adanya sebuah zirah yang memang sepertinya sudah ada dibelakang Fragmen Jiwa Bela Dirinya sejak terciptanya alam bawah sadarnya itu, namun ia tak menyadarinya. Bentuk dari zirahnya sangat mirip dengan zirah yang dimiliki oleh Adrine.


Dan bukan hanya zirah itu saja, terdapat 3 benda lain yang dimana Adrine sudah familiar akan benda-benda itu. Ketiga benda itu adalah artifak jiwa miliknya yang termasuk Pedang Api Hitam Ashura.


"Semua ini memang sudah muncul dari alam ini tercipta atau memang baru muncul? Kalo memang sudah muncul dari dulu kenapa aku tidak menyadarinya?"


Adrine malah menjadi penasaran dengan ketiga artifaknya beserta dengan zirahnya yang tiba-tiba ada disana. Memang keempat benda itu sudah ada didalam alam bawah sadar Adrine sejak tercipta, namun masih berupa transparan karena butuh proses untuk menjadikannya solid.


Namun Adrine sudah tak merasa penasaran lagi karena masih ingin menyambung latihannya. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya untuk mencari tahu kemunculan ketiga artifaknya dan juga zirahnya. Dan Adrine pun sudah memulai latihannya kembali.


Pada malam itu, Adrine sudah mulai melihat sedikit perkembangan dari latihannya itu, namun ia masih belum tahu kalau teknik tersebut hanya sekali pakai jika sudah terbentuk wujudnya. Shin kecil pula juga melanjutkan perburuannya dan mencari hewan spirit tingkat Langit yang sekiranya sudah terlelap maupun masih berjaga. Namun yang ditemuinya kali ini kebanyakan adalah hewan spirit tingkat Suci dan Raja.


Karena merasa sudah jarang lagi menemui hewan spirit tingkat Langit pada kedalaman hutan, ia memutuskan untuk menjarah lebih dalam lagi dan mencari hewan spirit tingkat Langit. Namun Shin kecil tak berani untuk melawan hewan spirit tingkat Jelmaan Iblis karena kekuatan mereka setara dengan kultivator pencapaian tahap Penciptaan dan Kehancuran. Karena itu sebisa mungkin Shin kecil akan menghindari hewan spirit yang mencapai tingkatan tersebut karena masih belum setara.


"Tak kusangka kalau aku semakin masuk kedalam aku juga jarang menemukan hewan spirit. Atau memang ada sesuatu yang membuat mereka semua menghilang?"


Shin kecil tak menyadari kalau memang hampir semua hewan spirit menghilang karena ulahnya. Namun menghilangnya hewan spirit dikedalaman hutan bukanlah ulahnya, kejadian seperti itu memang jarang. Biasanya ada hewan spirit dengan kekuatan yang tinggi yang membunuh dan memakan hewan spirit lain.


Karena Shin kecil penasaran, ia langsung bergegas ingin mencari tahu sebab dari semua hewan spirit menghilang. Dan ia bukan sedang berada didalam hutan Sindra, melainkan berada didalam hutan yang sangat jauh dari Perguruan Bayangan Langit.


Disekitar hutan itu pula juga tidak ada perkotaan atau metropolis maupun perguruan yang memegang hak kepemilikan dari hutan tersebut. Maka dari itu Shin kecil dengan bebas membunuh semua hewan spirit yang menurutnya kuat karena menurutnya hutan tersebut adalah wilayah bebas.


Hingga pada akhirnya, Shin kecil merasakan adanya aura dari hewan spirit, namun aura yang dirasakan olehnya masih terasa samar-samar. Karena sudah merasakan adanya aura dari hewan spirit, Shin kecil langsung bergegas lebih lanjut lagi untuk melihat hewan spirit apa yang akan ditemuinya. Dan ketika Shin kecil semakin mendekati aura tersebut, ia merasakan kalau auranya semakin menguat dan tidak lagi terasa samar-samar.


"Hewan spirit tingkat apa ini? Kenapa semakin kesini malah semakin kuat saja?"


Awalnya Shin kecil sedikit tak memperdulikannya karena mungkin saja hewan spirit itu berada pada tingkat Langit peringkat 5. Namun ia merubah pemikirannya tadi karena aura yang dirasakannya semakin menguat saja. Menurutnya hewan spirit tersebut mungkin memang berada ditingkat Langit peringkat 5 yang sedang akan naik fase dan masuk kedalam tingkat Jelmaan Iblis.


Shin kecil masih terus memberanikan dirinya untuk terus mendekati sumber dari auranya, namun yang dirasakannya juga semakin lama semakin kuat saja.


"Auranya tenang, berarti sumber dari aura ini tidak bergerak. Mungkin sedang menjalani hibernasi maupun memang sedang tidur."


Walaupun memang sepertinya Shin kecil sedang bercanda, namun perkataannya itu sangat serius. Didalam hatinya, ia merasa kalau apa yang sedang didekatinya ini bukanlah tingkat Langit, melainkan tingkat Jelmaan Iblis. Memang Shin kecil sudah menyadari hal tersebut dengan hanya merasakan aura yang semakin menguat saja, namun ia masih penasaran dengan sumber dari auranya.


"Hewan spirit apa yang bisa memancarkan aura sekuat ini? Aku percaya hewan spirit ini berada ditingkat Jelmaan Iblis."


Shin kecil memang sudah khawatir ketika merasakan penguatan aura ketika ia mendekatinya, apalagi penguatannya tidak masuk akal jika hewan spirit tersebut berada ditingkat Langit.


Setelah itu, Shin kecil memasuki wilayah yang dimana hanya ada bebatuan dan tak ada satupun pohon disana. Suasananya juga cukup gelap, namun diterangi oleh beberapa lava yang menggenang disekitar. Bebatuan yang ada disana juga bukan bebatuan biasa, melainkan adalah batu obsidian yang panas.


'Sepertinya aku tahu dengan tempat seperti ini.' Pikir Shin kecil.


Shin kecil seperti familiar dengan tempat tersebut. Menurutnya tempat itu adalah tempat yang cukup berbahaya dan juga adalah sumber dari aura yang dirasakannya tadi. Namun karena merasa penasaran, ia pun memasuki wilayah tersebut dan juga karena ingin memastikan apakah perkiraannya itu benar ataukah tidak.


Setelah Shin kecil masuk kedalam wilayah bebatuan tersebut dan masuk semakin kedalam, ia mendapati goa yang sangat besar dan juga banyak dialiri oleh aliran lava dari atas goa yang jatuh kebawah. Mulut goanya juga ditutupi oleh tetesan lava yang jatuh dari atas. Goanya sangatlah besar, tingginya saja bisa mencapai 12 meter dan lebarnya mencapai 15 meter.


Karena sekarang Shin kecil sedang menggunakan mode roh yang dimana tidak akan bisa terkena serangan fisik, ia masuk tanpa terkena tetesan lava yang menyala dan panas itu. Ketika Shin kecil masuk ia mendapati lebih banyak lava yang berpijar ketimbang diluar. Tanahnya yang retak diisi oleh lava dan banyak juga lava yang mengalir kebawah dari lubang didinding goa, seperti air terjun namun berupa lava. Didalam seperti goa yang gelap namun diterangi oleh penerangan alami yang berupa aliran lava disetiap retakan goa, seakan dibawah tanahnya terdapat danau magma yang sangat dalam.


Shin kecil melihat-lihat disetiap detail dari goa tersebut dan waspada akan jebakan maupun serangan, namun karena menggunakan mode roh Shin kecil tidak akan memicu jebakan apapun dan tidak akan terdeteksi oleh hewan spirit. Hanya ketika Shin kecil mengaktifkan mode menyerang, maka tubuhnya akan dapat terdeteksi dan bisa terkena serangan fisik.


Dan ketika Shin kecil telah mencapai ujung kedalaman goa, ia mendapati adanya seekor hewan spirit yang sebesar ukuran rumah. Panjangnya sekitar 9 meter dan tingginya bisa mencapai sekitar 7 meter. Hewan itu sedang tidur dan sepertinya sedang menjaga bayinya yang juga sedang tidur. Hewan tersebut mirip seperti anjing besar yang mempunyai 3 kepala.


Namun Shin kecil seperti tak dapat lagi berkata. Ia terkejut setengah mati ketika menatap hewan spirit tersebut, sepertinya ia tahu hewan spirit apa itu.


Mulut Shin kecil pun terbuka.


"Cerberus?"


Bersambung!!