
Sekumpulan energi dalam jumlah yang besar memenuhi kawah, Puluhan orang berkumpul disana dan saling menatap 2 orang yang sedang saling berhadapan. Kedua orang itu adalah Adrine dan Qiandi, mereka lah yang menjadi pusat perhatian semua orang disana, baik yang ada didalam kawah maupun diatas kawah. Orang-orang yang ada diatas kawah adalah kelompok Adrine, yakni David dan Arpha beserta dengan 2 orang yang sebelumnya telah diselamatkan oleh Adrine.
Disana juga terdapat Yama beserta dengan 4 anggota Geng Lima Jenius yang lainnya, diikuti dengan puluhan orang pengikutnya disana. Adrine turun untuk membantu dan dengan rencana yang lain, dan juga Adrine sudah turun dengan rencana yang matang. Namun sepertinya ada hal yang tidak diinginkannya sehingga ia tidak lagi mengikuti rencana yang telah dibuatnya sebelumnya, tapi tetap apa yang dilakukannya masih 1 tujuan dengan rencana sebelumnya, yakni menghancurkan seluruh lawan dalam sekali hantam.
Bukan berarti Adrine menyerang tanpa berpikir sama sekali dan hanya mengikuti perasaan hati semata, ia masih berpikir-lagi untuk melancarkan serangan. Hal itu dikarenakan ia tak mau gegabah dalam memutuskan sebuah jurus dan menghabiskan banyak tenaga ketika melakukannya.
'Tidak! Teknik itu tak sebaiknya digunakan hanya untuk melawan mereka, apalagi jumlah mereka terlalu sedikit untuk melakukan serangan sebesar itu. Bisa-bisa energiku terbuang sia-sia hanya untuk membuat mereka menggunakan point respawn.' Pikir Adrine.
Teknik yang dimaksud Adrine barusan adalah teknik Kreasi Phoenix Biru, ia berpikir kalau menggunakan teknik sebesar itu untuk melawan sekumpulan kecil lawan disekitarnya itu hanya akan menyia-nyiakan seluruh usahanya selama berbulan-bulan terakhir. Jika harus mengeluarkan teknik tersebut pun juga Adrine juga akan menghabiskan banyak energinya. Qiandi masih terus diam dan waspada akan gerakan yang akan dilakukan oleh Adrine.
Dikarenakan Yama tahu akan kekuatan milik Adrine, ia langsung mengantisipasi semua orang yang mengikutinya untuk waspada dan antusias akan serangan besar.
Adrine sendiri juga sudah memulai pergerakan dengan melangkahkan kakinya kedepan mendekati Qiandi dengan perlahan, Qiandi juga berjalan mundur dengan perlahan seiring langkah kaki Adrine. Adrine mengaktifkan mata jiwa kanannya dan mengeluarkan Pedang Api Hitam Ashura. Mata jiwa yang sebelah kiri pun juga masih aktif karena Adrine memang tidak ingin menutupnya, tak ada alasan khusus mengapa Adrine menutup mata jiwa kirinya.
Ketika Adrine mengeluarkan pedangnya, Yama merasakan adanya kekuatan besar dan mendapatkan firasat buruk jika terus berada disana. Ia pun langsung menoleh kebelakang dan mengingatkan teman-temannya. Bersamaan dengan itu ia juga mengaktivasi zirahnya.
"Cepat aktivasi zirah kalian masing-masing dan segera pergi dari sini!"
Yama memang terlihat panik saat itu, namun ia berkata dengan biasa dan tidak berteriak agar musuh mengira kalau Geng Lima Jenius telah mundur. Semua murid selatan yang ada disana telah mengaktivasi zirahnya masing-masing, ada yang langsung pergi dan naik keatas, ketempat dimana kelompok Adrine ada disana, ada juga yang masoh dibawah dan melihat apa yang sebenarnya akan terjadi. Yama pun juga belum pergi dari sana dan masih melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adrine masih terus berjalan kedepan mendekati Qiandi dengan perlahan, wajahnya tertutup oleh bayangan hitam seolah bayangan itulah ekspresi yang kini tengah ditunjukkan oleh Adrine, seakan terdapat mata merah menyala yang ada permukaan bayangan tersebut. Mata Qiandi yang melihat hal tersebut merasa seakan-akan itulah wajah asli Adrine.
Adrine telah berjalan perlahan hingga sampai ditempat dimana sebelumnya Qiandi berdiri pada tempatnya tadi. Adrine menghentikan langkah kakinya dan berhenti tepat disana.
Mendengar Yama yang mengantisipasi kelompoknya untuk segera mengaktivasi zirah mereka, Qiandi juga ikut mengaktivasi zirahnya. Ia tahu kalau murid selatan jauh lebih mengetahui kekuatan milik Adrine, dan ternyata Qiandi menyadari maksud dari Yama yang sedang mengantisipasi seluruh anggota dalam kelompoknya. Ada juga beberapa orang yang melarikan diri dari sana, dan ada juga yang mengaktivasi zirahnya karena takut akan kejadian tak terduga.
Kini seluruh kelompok Yama telah naik keatas kawah dan memantau pergerakan lawan dari sana, mereka juga bertemu dengan David dan Arpha beserta 2 orang yang mengikuti Adrine. Tak ada dari keempat orang itu yang menatap datangnya kelompok Yama disana, mereka jauh lebih antusias memandangi pertarungan dibawahnya.
Yama sedikit malu ketika ingin mendekat kearah David, ia ingin menanyakan sesuatu tentang Adrine. Namun ia tetap memberanikan diri untuk mendekati David karena rasa penasarannya telah sampai pada puncaknya, ia sudah tak tahan lagi akan rasa penasarannya itu.
"Kau yang namanya David itu kan?"
Lalu David menoleh kearahnya, sementara Arpha sama sekali tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh Yama barusan. Kedua orang yang ada dibelakang yang mengikuti Adrine itu juga menoleh karena merasa penasaran akan apa yang ingin ditanyakan oleh Yama.
"Iya, aku David. Ada apa?"
David pun berjalan mendekati Yama karena jarak antara mereka cukup jauh, yakni kurang lebih adalah 5 meter, tak baik untuk melakukan sebuah pembicaraan jika jarak antara mereka terlalu jauh.
Yama masih merasa sedikit tak enak untuk bertanya kepada David, hal itu malah membuat David semakin bingung dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Yama. Namun David bukanlah orang yang tak peka, ia tahu apa yang sedang ingin dibicarakan oleh Yama.
"Apa kau ingin bertanya tentang tingkat kultivasi Adrine sekarang ini?"
Mendengar David yang mengetahui pertanyaan yang ingin diajukannya, Yama langsung menganggukkan kepalanya. Ia sangat penasaran sekali dengan pencapaian kultivasi Adrine sekarang ini.
Orang-orang langsung menatap kearah David karena juga merasa penasaran akan peraihan kultivasi Adrine. Yama sendiri juga menatap Adrine adalah seorang yang sangat tinggi, tinggi dalam kekuatan dan bakatnya.
"Aku sendiri kurang tahu tentang sebenarnya kekuatan Adrine sekarang ini..."
"Haiish..."
Seketika itu orang-orang langsung mendengus sebal karena mengetahui orang yang memberikan jawaban itu tak tahu akan jawaban pasti dari pertanyaan mereka. Namun Yama sama sekali tidak mendengus sebal dan masih menunggu penjelasan dari David, ia tahu jawaban David itu masih belum selesai dikatakannya.
"Teruskan!"
"Ya, aku ini adalah orang terdekat setelah Arpha dan Etern, sejauh dari apa yang kutahu mereka lebih tahu tentang Adrine. Namun sejauh yang kutahu, Adrine telah mencapai tahap Keberlanjutan sejak berbulan-bulan yang lalu. Untuk lebih detailnya aku tak tahu pasti."
Semua mata yang ada disana langsung terbelalak melihat apa yang telah dikatakan oleh David, bahkan 2 orang pengikut Adrine pun juga bari tahu dan juga ikut terkejut. Sudah pasti mereka tahu bahwa kekuatan sebesar itu mampu untuk menghancurkan sebagian besar lawan termasuk Qiandi sekalipun.
Dan sekarang ini Qiandi masih terus berjalan mundur dan diiringi langkah kaki Adrine yang terus berjalan maju mendekatinya, ia tak tahu sampai kapan Adrine akan terus melangkahkan kakinya itu. Namun bukan itu kecemasannya sekarang, jauh dari itu Qiandi lebih mencemaskan dirinya yang masih terus terdorong mundur oleh Adrine yang tingkat kekuatannya belum diketahui.
'Sekuat apa Adrine ini hingga Yama pun harus memerintahkah seluruh anggotanya untuk mundur?' Pikir Qiandi.
Qiandi sangatlah waspada disana, tak sedikitpun ia mengalihkan perhatiannya dari Adrine. Rio yang juga merasa agak ketakutan akan dampak dari pertarungan Qiandi dan Adrine, ia lebih memilih untuk mundur, menjauh dari area mematikan. Rio mundur sejauh 25 meter dari tempatnya agar ia masih mampu untuk melihat pertarungan kedua orang yang ada didepannya itu.
Lalu Adrine memejamkan matanya, ia menundukkan wajahnya. Semua orang sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, Adrine dan Qiandi masih belum ada perlawanan sama sekali.
SET!!
Dengan sangat cepat Adrine mengangkat wajahnya dan membuka matanya, ia menatap Qiandi dengan tatapannya yang sangat mengerikan. Dan mulutnya terbuka, lalu mengatakan sesuatu.
"Hancurlah!!"
ZRAAAST!!
Dengan sangat cepat Adrine sudah berada dibelakang Qiandi.
'APA INI? GERAKANNYA...' Pikir Qiandi.
Adrine memegang kepala Qiandi dan mencengkeramnya dengan sangat keras, lalu ia membanting kepala Qiandi ketanah dengan sangat cepat.
BLAAARR!!
Namun Qiandi masih belum harus menggunakan point respawn, itu karena Adrine memang sengaja memperlemah serangannya untuk melanjutkan serangan berikutnya, karena serangan inilah yang dimana inti dari rencananya, yakni mengalahkan semua lawan dalam 1 serangan.
Bersambung!!