Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Para Perampok (3)


Semuanya sangatlah terkejut, tak terkecuali boss-nya. Melihat pasukan Adrine yang sangat banyak dan kuat, bagaimana mereka tidak terkejut? Bahkan Purgatory Demon dan Blood Demon juga termasuk, namun Adrine tidak menyertakan Hydra karena ukurannya yang sangat besar.


"Iblis api dan iblis darah disini? Apa aku tidak salah lihat?"


Bahkan mereka tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri didepannya.


"Apa kau berencana memusnahkan kami disini?"


Boss mereka yang mulai takut, mulutnya hampir tak bisa dikendalikan. Ia bahkan mengira bahwa Adrine ingin menghancurkan seluruh gengnya.


"Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi? Aku disini ingin bekerja sama denganmu."


"Apa kau sudah gila? Kau ingin menjadi perampok juga?"


Adrine menggelengkan kepalanya perlahan agar tidak terlalu mencolok didepan para perampok itu disaat berkomunikasi dengan Shin kecil.


Disisi lain, Shin kecil sangatlah terkejut. Ia bahkan mengira bahwa Adrine ingin bekerja sama untuk menjadi perampok. Namun, bukan itu tujuan yang sebenarnya dari Adrine ingin bekerja sama dengan geng itu.


"Tuan, apa maksudmu ingin bekerja sama dengan kami? Apa tuan juga ingin menjadi seorang perampok?"


Adrine menggelengkan kepalanya lagi. Bukan itu tujuan Adrine ingin bekerja sama dengan geng perampok ini.


"Aku disini ingin kalian menjadi anak buahku dan bekerja dibawah kekuasaanku."


Semuanya terkejut, bahkan mereka lebih terkejut dibandingkan dengan disaat mereka melihat ratusan pasukan yang kuat tadi.


"Tuan, ini... Ini terlalu berlebihan. Kami tidak bekerja pada siapapun."


Adrine hanya memejamkan matanya dan tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan disaat mereka mengutarakan keputusan.


"Jangan terburu-buru untuk mengambil keputusan! Aku disini akan memberi kalian pilihan. Jika kalian tidak ingin mengikutiku, maka konsekuensinya adalah geng ini akan hancur."


GLEK!!


Semua yang ada disana menelan ludah. Mereka sendiri sangatlah takut dengan pernyataan barusan.


"Tuan, jika ini perang, kami semua sudah pasti tidak akan berani, bahkan pasukan kami yang ada diluar sana."


DEG!!


Adrine tak tahu kalau mereka juga mempunyai cabang yang lain. Namun kenyataannya, mereka mengklarifikasi bahwa mereka masih tetap tidak berani melawan Adrine.


"Kalian punya cabang yang lain? Dimana itu?"


Jelas hal itu menarik perhatian Adrine, semakin banyak anggotanya maka akan semakin hebat pula.


"Kami yang ada disini ini adalah geng utama, dan kami punya 2 cabang yang berada disekeliling desa Pasir Merah."


Adrine tersenyum senang mendengar pernyataan tersebut.


"Hehe, panggil mereka semua kemari!! Aku ingin melihat, seberapa kuat mereka."


Dengan segera boss-nya itu menyuruh salah satu bawahannya untuk menghubungi mereka yang lain.


"Sambil menunggu aku ingin tahu, apakah adakah diantara kalian semua bahkan yang diluar sana yang sudah mencapai tahapan Keberlanjutan?"


Dengan cepat boss-nya itu menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan para bawahannya.


"Ada 2, setiap dari kami yang memimpin geng ini. Namun, hanya aku yang telah mencapai kelas menengah, jadi markas inilah yang menjadi utama."


Namun, masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Adrine.


"Oh iya, kenapa desa Pasir Merah sangat sepi disaat malam hari? Apa itu karena kalian?"


Adrine masih sangat penasaran dengan hal itu, dan inilah momentum yang sangat pas untuk menanyakan hal tersebut.


"Ya, kamilah yang menebarkan ketakutan itu. Disetiap malam, mereka selalu menutup rumah mereka dan mematikan lampu karena takut dengan kehadiran kami dimalam hari."


Adrine menganggukkan kepalanya. Ia paham kenapa desa itu sangatlah sepi dan sunyi.


"Tapi tuan, kenapa anda ingin menarik kami menjadi bawahan anda? Apa tuan sedang butuh bantuan?"


Pertanyaan yang memang telah ditunggu oleh Adrine sejak tadi.


"Pertanyaan yang bagus. Aku disini memang sedang membutuhkan bantuan."


"Kenapa harus kami?"


Adrine sedikit kurang suka dengan pertanyaan tersebut.


"Sekarang ini aku sedang butuh banyak bantuan, aku tidak hanya menargetkan geng kalian ini, diluar sana juga ada banyak geng seperti kalian."


Mereka sangat paham, namun jawaban Adrine tidak menjelaskan apapun tentang pertanyaan yang diajukan.


"Oh iya, apa rata-rata pasukan kalian memang berada ditahap Kematian semuanya?"


Semuanya mengangguk dengan sangat cepat. Bahkan boss mereka juga ikut mengangguk.


"Tak ada dari kami semua yang berada ditahap Kematian level-4. Yang paling lemah saja berada pada kelas menengah."


Walaupun memang dikatakan pantas untuk untuk ditakuti, namun Adrine hanya diam termenung dan sedang berpikir sesuatu.


'Memang menurutku cukup kuat, tapi mereka sangatlah lemah jika dibandingkan dengan geng yang lainnya.' Pikir Adrine.


Hingga tak lama kemudian, anggota yang merela panggil tadi telah datang.


Suara gerbang yang menderit kembali terdengar dengan sangat jelas. Dengan sangat cepat, Adrine menyimpan kembali seluruh pasukannya.


"Ada apa kau memanggilku kemari? Apa kau sudah mencapai kelas akhir?"


Tiba-tiba saja orang yang baru datang itu berkata dengan keras dan seperti saling bermusuhan, walaupun dalam satu geng.


Jelas saja, orang yang sedang duduk diatas kursi emas itu menggelengkan kepalanya, karena bukan itu hal yang ingin ia bicarakan.


"Terus apa? Oh iya, siapa bocah ingusan ini?"


DEG!!


Semua yang tahu kemampuan dan kekuasaan Adrine disana sangat terkejut dan menjadi agak takut. Mereka mengisyaratkan pada mereka yang diluar untuk tidak menyinggung Adrine.


"Ada apa dengan kalian ini? Apa kalian takut dengan bocah ingusan seperti ini?"


Disaat orang yang dari tadi menyebut Adrine sebagai bocah ingusan itu ingin merangkul Adrine, tiba-tiba saja orang yang ingin dirangkulnya sudah menghilang.


'Hah? Dimana dia?' Pikir orang itu.


Tiba-tiba saja Adrine sudah berada dibelakangnya dan menodongkan pisaunya dileher orang itu dan mengaktifkan mata jiwa kanannya.


'Cepat sekali.' Pikir semua orang yang ada disana.


Semuanya terkejut melihat hal itu tak terkecuali siapapun, bahkan orang-orang yang ada disana yang sudah tahu kemampuan Adrine.


"Wow wow, tenang sedikit sobat... Kita bicarakan baik-baik masalah ini."


Orang yang sedang ditawan dengan belati oleh Adrine itu sedikit panik. Namun Adrine tidak berusaha untuk membunuhnya, itu akan membuatnya rugi dimasa depan nantinya. Ia juga telah memikirkan semua itu sejak ia mendatangi markas para perampok itu. Jadi, Adrine menurunkan belatinya dan menyimpannya kembali. Ia juga menonaktifkan mata jiwanya.


"Ada apa ini? Apa bocah ini, ehem... Maksudku, tuan muda ini sedang ingin bekerja sama dengan kita?"


Lalu, boss utama mereka yang sedang duduk menganggukkan kepalanya.


"Tapi tuan muda ini bukan hanya ingin bekerja sama dengan kita, tuan muda ini ingin menjadikan kita sebagai... Bawahannya!"


DEG!!


Semua yang belum tahu sangatlah terkejut, namun yang ada didalam dan sudah tahu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.


"Tak mungkin."


Orang-orang yang diluar tak terima begitu saja menjadi bawahan seorang anak kecil yang baru saja datang ketempat mereka.


"Tenang sedikit!! Pilihan pertama, tidak perlu kusebutkan lagi. Tapi aku belum menyebutkan pilihan kedua."


Semua yang ada diluar penasaran, apa pilihan pertamanya.


"Bagaimana dengan pilihan pertama?"


Adrine sudah menyebutkan bahwa ia tak ingin menyebutkannya untuk yang kedua kalinya. Dan akhirnya, orang yang duduk diatas kursi emas lah yang angkat bicara.


"Kita semua akan dihancurkan oleh pasukannya."


"Apa? Tak mungkin!! Mana pasukannya? Apa bocah ini seorang tuan muda dari keluarga atau sekte ternama?"


Semua yang belum tahu sangatlah tak terima dengan kenyataan itu. Namun Adrine hanya tersenyum dan memejamkan matanya.


"Apa ini sudah cukup?"


DEG!!


Semua terkejut ketika melihat 2 sosok kuat yang cukup familiar dimata dan telinga mereka.


"I... Iblis darah dan... Iblis api?"


Boss utama mereka tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Ia juga sudah tahu dengan 2 hewan spirit itu, hanya sedikit takut saja disaat melihatnya.


"Lalu, bagaimana dengan pilihan keduanya?"


Adrine kembali tersenyum tipis dengan penuh kelicikan dan rencana.


"Kalian tidak akan rugi, lihatlah ini!!"


Adrine mengeluarkan sekarung penuh berisikan Pil Yin Surga Keempat, Pil Yang Neraka Es Kedua dan Pil Mutiara Petir Langit. Disaat mereka melihatnya, mereka terkejut. Mulut mereka ternganga dan mata mereka terbelalak.


"Apa ini tuan?"


Bahkan, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Banyaknya pil bagus dengan jumlah yang banyak bisa membuat mereka semua menjadi gila.


"Bisa kalian lihat sendiri. Semua pil ini akan kuberikan pada kalian, jika kalian bersedia mengikutiku. Aku juga punya lebih dari ini saja. Apa kalian mau?"


'Para geng seperti mereka ini, pasti akan tertarik dengan adanya harta melimpah seperti ini.' Pikir Adrine.


Mereka masih terus berpikir kalau mereka akan mengikuti Adrine. Namun, semuanya telah sepakat pada satu kesepakatan.


"Baiklah tuan, kami mau."


Bahkan seorang pemimpin yang sedari tadi diam terus, ikut bersedia menjadi bawahan Adrine. Semua yang ada disana bersedia mengikuti Adrine dan menjadi bawahannya.


"Baguslah!! Terima kasih."


Bersambung!!