
Adrine dan Arpha telah melanjutkan perjalanannya mencari Etern dan David, kini waktu yang telah ditentukan telah terlewat dari apa yang sebelumnya diperkirakan oleh Adrine. Sekarang sudah lebih dari setengah jam dari awal waktu ujian.
Namun Adrine memang hanya mematok waktu saja agar segera mempercepat pencarian. Karena melihat Arpha yang tak memiliki point yang cukup banyak, Adrine memutuskan untuk mencari lawan. Seketika itu pula terdapat seseorang yang sedang dikepung oleh 3 orang. Tak disangka seseorang yang dikepung itu adalah Etern.
Karena menurutnya ketiga orang itu cukup lemah untuk Arpha, Adrine menyuruhnya untuk pergi membantu David.
"Majulah! Mereka bertiga hanya sekuat David, paling tidak mereka bertiga belum ada yang mencapai tahap Kematian level-2."
Setelah Adrine mengatakan hal tersebut, Arpha langsung bersemangat ketika itu juga. Pertarungan mereka tepat berada dipinggir tebing yang disampingnya adalah magma yang terjun kebawah semacam air terjun.
Arpha pun langsung maju kedepan untuk menyerang ketiga orang itu dan melihat Arpha yang maju menyerang ketiga orang yang mengepungnya, David juga ikut maju dari arah yang berlawanan. Dengan
"Baiklah! Dari tadi kita belum melakukan perlawanan apapun, kita akan selesaikan semua ini sekarang juga!!"
Setelah itu David pun juga bergerak melawan. Ketiga orang yang mengepungnya juga maju dan melawan karena merasa kalau mereka tak akan membiarkan lawannya itu menang dengan mudah. Seketika itu juga Arpha bergerak dengan cepat agar David tidak terluka.
BLETAK!!
Sebuah hantaman kuat melesat pada kepala dari salah satu diantara ketiga orang yang mengepung Arpha. Orang itu terjatuh dan memegangi kepalanya yang kesakitan karena hantaman barusan.
"Headshot!!"
Dengan lantang Arpha mengatakan kata tersebut sambil memegangi palu es miliknya, palu itu adalah artifak jiwa miliknya yang dimana ia harus mengaktifkan mata jiwanya agar bisa mengeluarkan artifak tersebut, maka dari itu mata jiwanya aktif.
"SIAPA KAU? BERANINYA MENYERANG DIAM-DIAM!!!"
Orang itu sangat marah karena serangan dadakan dari Arpha, namun ia tak mati karena kultivasinya masih lebih tinggi dibandingkan dengan Arpha yang masih berada ditahap Kematian level-1 kelas menengah, sementara yang dipukulnya itu berada dikelas puncak. Serangan dari Arpha bisa ditahannya karena kultivasinya yang lebih tinggi, namun Arpha tak memperdulikan hal tersebut.
"Hei, ini bukan urusanmu! Pergi dari sini atau kubuat kau harus menggunakan point respawn!!"
Salah satu dari ketiga orang tersebut mengancam Arpha, namun orang yang diancamnya merasa tak peduli akan ancaman tersebut. Sekarang David sedang memanfaatkan momen yang dimana lawannya sedang tidak fokus, dengan kedua tangannya yang mengepal dengan sangat erat, ia memukul kepala orang yang mengancam Arpha.
BLETAK!!
"AAARGHH!!"
Orang itu jatuh dan sekarat karena serangan dari David yang sangat kuat. Kultivasi milik David berada dikelas awal tahap Kematian level-2, ketiga orang itu tak ada yang bisa mengalahkannya jika 1 lawan 1.
"Kau..."
Orang yang belum dipukul merasa kesal dengan sikap kedua orang yang bisa mengobrak-abrik seluruh kelompoknya, ia sendiri bingung harus bagaimana lagi sekarang ini karena teman-temannya yang sudah sekarat atas pukulan yang diterima.
"Beraninya kalian menyerang secara diam-diam dan mengepung kami!! Kalau berani, 1 lawan 1 dengan kami!!"
Orang itu seperti tak sadar akan perbuatannya dan teman-temannya yang juga sedang mengepung David, namun karena kalah ia tak tahu lagi harus melakukan apa dan mengucapkan hal apa. David dan Arpha hanya tersenyum menatap satu orang itu.
Karena sudah merasa terpojok, i orang itupun melarikan diri dari sana, namun Arpha dan David hanya tersenyum melihat orang itu disaat melarikan diri.
Lalu Adrine pun turun dan mengatakan sesuatu.
"Seharusnya kau itu tidak melarikan diri, karena itu adalah keputusan yang buruk bagimu."
Seketika orang itu terkejut dan langsung berhenti, nafasnya tak beraturan karena kaget mendapati ada 1 orang lagi didepannya. Namun karena tak ingin basa-basi lagi, Adrine langsung mengakhirinya dan membuat orang itu menggunakan 1 point respawn.
Melihat Adrine melakukan hal tersebut, Arpha dan David melakukan hal yang sama, mengakhiri musuhnya dan mendapatkan 1 point. Arpha cukup lama ketika menghabisi lawannya, karena lawannya memiliki kultivasi yang lebih kuat darinya.
Kini point milik Arpha dan David adalah 6, walaupun sudah lebih dari setengah jam, namun David belum saja mendapatkan sebuah point, dan kini ia telah mendapatkan 1 point.
Adrine juga merasa senang ketika melihat kedua temannya yang senang, namun karena masih ada kesenangan yang belum disempurnakan, ia memilih untuk segera mencari dimana kesenangan yang sempurna itu tanpa basa-basi lagi.
"Cukup bagus!! Namun kita tak akan berhenti disini saja, kita masih harus mencari Etern agar kelompok kita lengkap."
Arpha dan David saling menatap dan mengangguk satu sama lain, Adrine juga ikut mengangguk ketika kedua temannya itu kembali menatapnya. Setelah itu Adrine berbalik badan dan bersiap untuk bergerak lagi.
"Ayo kita berangkat!!"
Adrine pun mengawali pergerakannya lagi dan diikuti oleh kedua temannya dari belakang. Banyak sekali orang yang sedang bertarung dan mereka hanya melewatinya dengan santai, tak ada yang membuat Adrine untuk turun tangan dan menciptakan pertarungan yang seru. Dan karena Adrine yang masih fokus untuk mencari Etern, ia memutuskan untuk tidak melirik pertarungan yang bahkan menurutnya seru dan terus melanjutkan percariannya mencari Etern.
Sudah hampir 1 jam Adrine bersama kedua temannya mencari Etern, namun belum juga menemukannya sampai sekarang ini.
"Bagaimana ini? Bagaimana kalau kita tidak menemukan Etern sampai waktu ujiannya berakhir? Bisa-bisa kita tidak dapat point..."
Arpha merasa cemas kalau ia dikeluarkan atau tidak lulus dari perguruan, namun Adrine hanya sedang mencemaskan keadaan Etern pada saat ini.
SET!!
Tiba-tiba Adrine merasakan adanya aura yang cukup kuat dan aura tersebut sedang menunjukkan kalau sumber auranya sedang bergerak dan pemiliknya sedang melakukan pertarungan, karena Adrine juga merasakan adanya aura milik orang lain. Namun Adrine cukup familiar akan aura tersebut.
'Bukan... Bukan Etern. Tapi ini milik orang lain yang mungkin aku kenali. Atau jangan-jangan...' Pikir Adrine.
Sebenarnya ia tak tahu aura itu milik siapa, namun karena merasa pernah merasakan aura tersebut, jadi ia seperti cukup familiar akan auranya. Namun aura tersebut bukan dari Etern yang sedang dicarinya, ia menduga seseorang yang mungkin adalah pemilik aura yang dirasakannya itu, namun Adrine tak tahu aura kekuatan milik siapa yang satunya lagi.
Karena merasa penasaran, Adrine langsung bergegas memeriksa siapa yang sedang bertarung didekatnya.
"Kalian tunggu saja disini, aku akan segera kembali."
Karena tak ingin membuat kedua temannya merasa khawatir, Adrine pun memberitahu terlebih dahulu sebelum pergi agar tidak terlalu mencemaskan dirinya. Namun karena Arpha dan David sudah seberapa kuatnya Adrine itu, maka mereka berdua tidak merasa khawatir sama sekali apabila Adrine ingin pergi dari sana. Yang mereka cemaskan sekarang adalah keselamatan diri mereka sendiri dan Etern yang masih belum juga mereka temukan.
'Dari apa yang kurasakan, auranya datang dari sini. Tidak salah lagi, pasti ada didepan sana.' Pikir Adrine.
Karena merasa sangat yakin akan intuisinya, ia langsung bergegas menuju ketempat yang menurutnya benar. Dan ketika ia berada lebih dekat dengan tempat yang dimaksudkannya, ia mendengar adanya sebuah pertarungan yang cukup dekat disana.
Adrine pun mendekati arah suara tersebut dan ternyata ia mendapati adanya Yama yang sedang bertarung melawan seseorang yang menurut Adrine setara Yama. Kekuatannya tak cukup besar jika dimata Adrine, namun tidak jika dimata orang lain.
"Cukup bagus juga tontonannya... Seharusnya pertandingan mereka cukup menarik."
Adrine seperti orang yang sedang menonton bioskop yang menunjukkan adegan dimana kedua orang sedang bertanding dengan sangat hebat.
Orang itu sama kuatnya dengan Yama, karena belum pernah ada yang lebih kuat dari Yama, jadi orang yang dilawannya itu berasal dari perguruan utara. Adrine sudah menduga hal tersebut dan tidak terkejut mendapati adanya murid utara yang sama kuatnya dengan Yama. Hal itu bahkan cukup wajar menurutnya karena mereka sepertinya lebih mementingkan kekuatannya daripada menindas orang-orang yang jauh lebih lemah dibandingkan dengan mereka, semua itu menurut asumsi dan pemikiran Adrine. Namun apa yang diasumsikan oleh Adrine itu memanglah benar dari apa yang sebenarnya terjadi.
"kedua orang itu juga sama kuatnya, aku tidak menaruh apapun dari mereka berdua."
Namun datanglah sebuah kecurangan yang dimana hal itu membuat Yama berada didalam bahaya. Adrine mulai tak tertarik dengan pertarungannya karena melihat ada salah satu dari mereka yang melakukan kecurangan. Kecurangan yang dimaksud adalah meminta bantuan dari temannya untuk mengalahkan lawannya.
Kedua lawan Yama sudah mulai menyerang dan kini Adrine melihat kalau Yama itu sedang kesusahan untuk melawan keduanya sekaligus.
'Sialan! Aku tak tahu kalau orang ini juga membawa temannya... Seharusnya aku mencari teman-temanku dulu untuk membantuku juga.' Pikir Yama.
Yama sangatlah kewalahan melawan 2 orang sekaligus yang dimana salah satunya memiliki kekuatan yang sama kuatnya dengan dirinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk kalah dari kedua lawannya.
Adrine yang tak tahan melihat semua itu, ingin turun tangan menghadapi mereka, bukan hanya kedua lawan Yama, namun ia juga berharap kalau Yama itu juga ikut melawannya karena bisa mendapatkan point yang banyak. Namun karena masih menahan dirinya, ia hanya masih menonton pertandingannya dan hanya bisa mengepalkan jarinya sambil menggertakkan giginya. Sebenarnya Adrine sangat kesal dan tak tahan dengan pertandingan tersebut yang penuh dengan kecurangan.
"Ah sudahlah!! Aku sendiri juga tak tahan melihat semua itu."
Adrine pun menunduk dan berbisik pada dirinya sendiri, ia sudah sangat tak tahan dan kini ia turun tangan untuk menghabisi lawan Yama.
Yama dan juga kedua lawannya masih belum menyadari kehadiran dari Adrine yang dimana sedang ingin menghabisi mereka semua. Dan juga mereka bertiga masih fokus akan pertarungannya dan tidak mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
Seketika disaat Yama sedang terpojok dan hanya bisa pasrah untuk diserang, ia hanya menggunakan kedua lengannya untuk melindungi kepala dan tubuhnya. Dan seketika itu juga, Adrine pun sudah berada didekat mereka bertiga.
BLAAARR!!
Kedua orang itu langsung terpental karena pukulan yang dilakukan Adrine kepada tanah yang ada didekatnya, hal itu membuat gelombang yang dimana juga membuat mereka terpental. Mereka berdua kaget mendapati adanya seseorang yang membantu Yama.
Yama juga terkejut mendapati adanya seseorang yang membantunya, ia juga tahu siapa seseorang yang membantunya itu.
'Adrine? Kenapa dia membantuku?' Pikir Yama.
Yama sangat bingung dengan orang yang selalu dihinanya, kini orang itu malah membantunya. Ia tak tahu harus melakukan apalagi sekarang ini.
Namun Adrine sama sekali tidak memperhatikan Yama, ia hanya masih terfokus akan lawan yang barusan dihantamnya. Kedua lawannya tadi yang terjatuh pun kini telah bangun, Adrine senang mendapati itu dan ia tersenyum tipis.
Dengan sangat cepat Adrine bergerak dan kini ia membuat kedua orang itu jatuh lagi akibat serangan dari tangannya yang hampir setajam pisau. Namun Adrine tahu kalau sebelumnya Yama lah yang bertarung melawan kedua orang itu, jadi Adrine hanya mengambil 1 orang yang menurutnya paling lemah saja dan meninggalkan sisanya kepada Yama. Adrine pun pergi dari sana dan hanya menyisakan Yama dengan 1 lawannya tadi yang sedang terjatuh terkena serangan dari Adrine.
Yama masih bingung dengan Adrine yang tiba-tiba datang dan membantunya. Ia berpikir kalau perbuatannya itu aneh dan sifatnya itu masih misterius. Tanpa kalimat dan suara, Adrine datang dan membantunya, lalu pergi begitu saja meninggalkan sebuah hadiah untuknya, hal itu masih terus terpikirkan oleh Yama.
Namun Yama kembali fokus akan lawannya dan membuat lawannya itu habis dengan tangannya sendiri. Kini Yama telah mendapatkan point dengan bantuan dari Adrine.
Namun Yama telah terpikirkan oleh hal yang menurutnya logis tentang Adrine yang tiba-tiba datang dan membantunya.
'Ya... Dia pasti hanya ingin mengambil pointnya saja, dia tak ingin membantu dan hanya ingin mengambil pointnya saja.' Pikir Yama.
Tapi Yama masih tak yakin kalau perkiraannya itu benar, dan kini ia sudah melupakan itu semua dan juga pergi dari dengan meninggalkan sebuah kehancuran. Seharusnya kehancuran tersebut ditumbuk karena serangan dari Adrine, namun karena Yama yang terkahir disana, jadi nama Yama lah yang dipakai.
"Darimana saja kau ini? Kenapa tiba-tiba langsung pergi begitu?"
Arpha merasa penasaran dengan Adrine yang tiba-tiba pergi dari sana, namun Adrine hanya tersenyum saja ketika ditanyainya.
"Kenapa tidak menjawab?"
Arpha cukup kesal dengan Adrine yang hanya tersenyum saja, namun akhirnya ia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari Arpha.
"Tenang saja! Aku hanya membereskan masalah yang kebetulan berada didekat sini, jadi aku urus saja sekalian."
Arpha cukup percaya dengan ucapan Adrine, karena sebelumnya Arpha juga sedang membicarakan kenapa Adrine tiba-tiba pergi dari sana. Arpha dan David juga merasakan energi pertarungan yang dimana mereka bisa merasakannya dengan samar-samar. Adrine bisa merasakannya dengan sangat jelas karena indera miliknya lebih tajam daei kedua temannya itu.
"Sudahlah!! Kita juga tadi sudah membicarakan kenapa Adrine pergi, kenapa kau malah curiga? Bukankah kau juga merasakan adanya orang yang bertarung?"
David menengahi pertanyaan dari Arpha yang terus menghantam kepala Adrine. Kini semua pertanyaan itu telah mengalir keluar dan tidak lagi muncul ditelinganya karena Arpha sudah diam.
"Ya, aku juga merasakannya."
Karena tadi telah ditanya oleh David, Arpha harus menjawabnya karena tidak ingin membuat David kesal.
Namun Adrine masih saja teringat dengan Etern. Ia pun kini melanjutkan pencariannya terhadap Etern.
"Ayo, kita lanjutkan lagi pencariannya!!"
Mereka pun mulai bergerak lagi dan melanjutkan pencariannya. Kini mereka tidak lagi memperdebatkan kenapa Adrine pergi tadi dan sudah fokus kembali akan pencarian mereka.
Bersambung!!