
Shin kecil masih teringat dengan apa yang terjadi disaat Adrine dan Nicho sedang membicarakan sesuatu. Shin kecil juga menjadi tahu asal-usul Adrine yang bukan dari dimensi ini.
"Berarti kau bukan berasal dari Dimensi Dioma?"
"Ya."
Note : Dimensi yang Adrine dan lainnya tempati sekarang ini bernama Dimensi Dioma. Dan dimensi Adrine yang lalu bernama Dimensi Oriona.
Shin kecil mulai mengerti tentang Adrine, mengapa ia bisa menjadi terus teringat akan nama yang menurutnya adalah nama yang mungkin ia kenal.
"Kalau aku mendengar nama Adrana..."
"Huh?"
Shin kecil menoleh. Lalu Shin kecil tersenyum.
"Ada apa? Apa kau mengenalnya?"
Adrine menggelengkan kepalanya. Adrine tahu kalau ia tak tahu.
"Entah apa, tapi ini bukan masalah kenal atau tidak, tapi ada perasaan lain..."
"Apa?"
Shin kecil malah merasa kalau ia sedang dipusingkan oleh Adrine. Bagaimanapun Adrine juga ingin tahu kenapa orang tuanya dan keluarganya bisa tak diketahui dan tidak dikenali oleh pihak manapun.
"Tahukah kau? Ini bukan perasaan mengenalinya, tetapi lebih mirip dengan... Deja vu!!"
"Deja vu? Ah, apa mungkin?"
Shin kecil juga hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adrine. Tetapi, sorot matanya dan nada suaranya, terlihat kalau Adrine benar-benar serius.
"Deja vu... Ini... Tapi kenapa... Kalau Adrina itu... Kenapa kalau aku merasa dia bukan orang lain yang tak pernah kudengar... Tapi aku belum pernah mendengar namanya sama sekali..."
Shin kecil merasa kalau hati Adrine sedang kacau. Tak seperti biasanya, Adrine terlalu buka mulut dan banyak sekali kalimat yang diucapkan dan bukan seperti Adrine yang biasanya diam tak berkutik.
"Adrine!!"
"Ya?"
"Ini sudah hampir menjelang sore, apa kau tak mau kembali?"
Adrine menghela nafas, ia masih terpikirkan oleh apa yang dibicarakan tadi.
"Tidak... Aku... Aku akan disini sampai besok."
"Hmm... Oke. Lagipula, aku ini arwah. Aku juga tak perlu tempat tinggal."
Mereka terus menerus berbaring dan menatap hutan dan langit yang mulai menjadi merah. Suasana mulai menjadi hening seketika.
Tak terasa, langit dan sekitarnya mulai menjadi gelap. Hening terus menerus tanpa ada yang membicarakan sesuatu hal. Tak ada yang bicara dan mereka hanya menikmati keheningan malam yang sunyi.
"Shin kecil..."
Tiba-tiba Adrine membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan lagi.
"Ya?"
"Aku mau tanya..."
"Silahkan!"
Adrine juga sebenarnya ingin bertanya pertanyaan ini dari tadi, tapi Adrine menahan diri. Kini Adrine malah semakin penasaran, jadi ia tak bisa menahan dirinya lagi.
"Aku mau bertanya, menurutku... Kenapa kau tidak bereinkarnasi? Bukankah ada dimana disaat tingkat tertentu pencapaian Bintang Pertama, bukannya bisa untuk bereinkarnasi? Maaf, aku hanya bertanya..."
Shin kecil menghela nafas sejenak.
"Aku tidak ingin bereinkarnasi..."
"Kenapa?"
Adrine malah menjadi penasaran, tetapi ia tetap menahan diri dengan perasaan yang tenang.
"Kau tahu? Wujudku yang sekarang ini disebut dengan wujud keabadian."
"Akan kutebak... Pasti kau mengubah jiwa reinkarnasimu menjadi jiwa keabadian, iya kan?"
"Yap!! Tepat sekali."
Tapi kenapa? Bukankah kau bisa mendapatkan tubuh baru dan menentukan takdir yang baru?"
Adrine malah semakin penasaran. Nada suaranya malah sedikit meninggi.
"Bukan... Aku hanya ingin... Kembali ke tubuhku semula."
"Ya, tapi setelah kau yang berwujud roh ini setara dengan kekuatanmu dimasa lampau."
"Haha... Aku harus menunggu."
"Bukankah ini akan menghambat kecepatanmu untuk bisa mencapai kekuatanmu yang semula?"
"Ya... Ehmmm... Tidak. Aku hanya ingin menikmati dulu kehidupan yang sama seperti masa kecilku."
"Aku paham sekarang."
Suasana menjadi hening lagi seketika. Mereka menjadi tak ada hal lagi yang dibicarakan.
DEG!!
"Oh iya Adrine... Aku lupa memberitahumu."
"Apa?"
Shin kecil seperti teringat akan sesuatu hal yang cukup penting
"Aku kemarin kalau tidak salah lihat, ada 2 pesawat tempur V-Strike 106 yang bukan dari perguruan murid dalam mu."
"Haha... Mungkin itu adalah dia... Adrina Irnanda, iya bukan?"
"Bukan."
"Apa?"
Shin kecil seperti serius dalam hal ini. Dan benar kalau ada yang lainnya.
"Lalu rasi bintang yang mana?"
"Kalau tidak salah lihat, kedua pesawat tempur itu berasal dari rasi bintang Telescopium."
"Hah? Kenapa nada bicaramu seperti sangat serius?"
Shin kecil menghela nafas. Adrine menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kudengar dulu kalau tidak salah, rasi bintang Orion dan rasi bintang Telescopium adalah rasi bintang yang saling bermusuhan satu sama lain."
"Benarkah?"
"Ya."