Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Yama (3)


Seketika semua orang terkejut setengah mati melihat adanya iblis darah, apalagi hewan spirit ini berada dibawah kendali Adrine.


"Ka... Kau... Bagaimana caramu mendapatkan iblis darah ini?"


Namun Adrine hanya tersenyum dan menatap langit, seakan ia tak peduli apapun yang dipertanyakan oleh Yama.


'A... Aku tak mungkin bisa mengalahkan iblis darah. Tapi, tak mungkin kalau Adrine mampu mengalahkan iblis darah.' Pikir Yama.


Adrine kembali menatap Yama dengan wajah yang penuh dengan rencana dan senyum yang sangat menakutkan. Dan semua orang sudah yakin kalau Adrine itu tidak bisa diremehkan.


"Hahaha, lucu sekali reaksi kalian. Kalian pasti bertanya-tanya, darimana aku mendapatkan jiwa dari iblis darah ini, iya kan?"


Semua yang ada disana mengangguk termasuk Etern, Arpha, dan David, bahkan Yama sekalipun setelah ditanya oleh Adrine tentang itu.


"Lihat ini!"


Adrine mengumpulkan energi lagi dan energi itu adalah api. Dan energi api itu sedang membentuk sebuah tubuh yang mirip dengan darah sebelumnya.


"Kalian lihat ini? Dia adalah iblis api seperti yang kalian ketahui. Aku bisa mendapatkan iblis darah berkat dia dan aku bekerja sama untuk mengalahkan iblis darah."


Tak ada satupun yang memperhatikan penjelasan dari Adrine, mereka hanya menatap iblis darah dan iblis api sambil mulutnya yang menganga.


"Maka dari itu aku memberikan pilihan kepada Yama untuk memilih api atau darah. Dan jika pilihan Yama adalah api, maka dialah yang akan menjadi lawan bagi Yama."


Adrine berkata sambil menepuk pundak Purgatory Demon. Lalu Adrine menyimpan kembali Purgatory Demon dan berjalan mundur untuk melihat pertarungan iblis darah dengan Yama.


"Oh iya Yama, kita belum menentukan apa hadiah untukku kalau kau tak bisa menghadapi pasukanku. Apa yang akan kau berikan padaku?"


Walaupun sepertinya Adrine hanya berkata dengan perkataan yang biasa, namun didalamnya terdapat makna yang memprovokasi Yama.


Dan kali ini, Yama sudah tak dapat menghindari kenyataan. Adrine telah memojokkan Yama hingga mencapai titik dimana ia harus menyerah atau kalah dengan rasa malu.


"Kau akan mendapatkan apa yang kau minta, tapi jika aku menyanggupinya."


Suara Yama seperti lebih pelan karena perasaannya tidak enak mengenai Adrine dan sesosok makhluk mengerikan yang ada didepannya.


Namun orang lain sudah tahu seperti apa sifat Yama. Walaupun tidak terlalu mencolok, namun kebanyakan orang tahu bagaimana Yama itu.


"Kalau aku tidak kalah, aku tak boleh menyerah!!"


Suara yang terdengar tenang, namun penuh dengan ambisi. Walaupun Adrine sudah memberikan pilihan untuk menyerah, tapi Yama tidak ingin menyerah.


Yama pun mengaktifkan mata jiwanya dan mengeluarkan sebuah pedang pendek atau yang disebut belati. Dan hampir sama dengan Adrine, artifak jiwanya berupa sebuah belati.


ZRAAAST!!


Yama bergerak dengan sangat cepat hingga gerakannya mirip dengan angin yang berhembus kencang. Namun Adrine hanya menatapnya dan masih bisa melihat gerakan Yama yang sangat cepat.


'Assassin apa yang gerakannya lembek seperti itu? Bahkan iblis darah jauh lebih cepat daripada itu.' Pikir Adrine.


Dan disaat Yama hendak menyerang iblis darah dengan belati yang dipegangnya, tiba-tiba saja iblis darah itu tidak ada ditempat.


'Hah? Dimana iblis itu?' Pikir Yama.


Namun ketika Yama sedang berpikir, Blood Demon sudah berada dibelakang Yama. Insting Yama yang cukup kuat merasakan adanya kekuatan besar dari belakangnya.


"Apa?"


Spontan Yama terkejut. Namun tidak ada waktu untuk terkejut dan berpikir didalam sebuah pertempuran maupun pertandingan antar individu atau kelompok.


BUAGH!!


Namun Yama tetap bangkit dan masih berusaha untuk menyerang lagi. Walaupun demikian, Blood Demon tidak berpikir tentang kondisi lawannya. Ia hanya menerima perintah dari Adrine untuk terus menyerang dan berhenti apabila memang dibutuhkan.


BUAGH!! BUAGH!! BUAGH!!


Pipi, perut, hingga kaki Yama terkena serangan langsung dari Blood Demon. Dan tak pernah sekalipun iblis darah mengeluarkan teknik khusus untuk menyerang Yama, karena itu dilarang oleh Adrine sebelumnya.


'Yama itu kuat juga, tapi aku tak yakin kalau dia masih bisa sadar sejak serangan pertama tadi kalau lawannya adalah Purgatory Demon.' Pikir Adrine.


Walaupun begitu, Adrine masih tetap bisa mengendalikan kekuatan yang dikeluarkan oleh pasukannya agar tidak terlalu menyakiti lawan, apalagi kalau lawannya itu adalah orang yang masih dalam satu perguruan.


Jika terlihat dari luar, Adrine memang terlihat seperti sombong dan dingin. Tapi sebenarnya Adrine masih memiliki hari nurani dan mengampuni seseorang jika memang punya hubungan dengan orang itu, entah itu hubungan darah maupun dalam satu kelompok, walaupun orang itu memang sangat dibencinya.


Adrine pun mengisyaratkan kepada Blood Demon untuk berhenti menyerang.


"Sudahlah, aku juga tak mau kau mati. Tak usah memaksakan diri."


Adrine sendiri juga tak tega melihat teman seperguruannya harus tertindas karena dirinya.


Namun Yama masih tak mau menyerah dan terus bangkit untuk kembali menyerang. Padahal tubuhnya terlihat sangat hancur dan wajahnya dipenuhi oleh darah.


"Tidak, aku belum kalah. Se... Selagi aku masih sadar, a... Aku akan melawan kembali."


Dengan berani dan kokoh pendirian, Yama bangkit dan tidak mau menyerah. Bahkan ia masih saja menantang Adrine.


Dan ketika Blood Demon maju kembali, Adrine menghentikan pergerakan Blood Demon. Adrine tak mau mendapatkan masalah lagi dan ia masih peduli dengan keselamatan Yama.


"Baiklah, aku akan menyerah untukmu. Kau menang."


Adrine pun menyimpan Blood Demon dan berjalan turun dari arena. Namun Yama seperti masih tak terima dengan Adrine yang tiba-tiba menyerah begitu saja.


"Bagaimana dengan perjanjian kita? Bukankah kita akan bertarung jika aku menang melawan pasukanmu?"


Yama masih nekat untuk menantang Adrine dan tidak memperdulikan kondisi dirinya sendiri.


"Haiish..."


Adrine hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi dengan tekad Yama yang masih begitu nekat.


"Ambil Pil Mata Serigala ini!! Besok, temui aku lagi disini dan kita akan bertarung sesuai perjanjian kita."


Walaupun Adrine sudah menyatakan pernyataan tersebut, namun Yama masih begitu heran dengan sikap Adrine.


"Kenapa kau begitu peduli denganku? Padahal aku ini sangatlah buruk sikapku denganmu."


Adrine hanya diam dan tak ingin mengatakan kalau ia sebenarnya peduli dengan Yama. Adrine pun berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari Yama.


Namun tiba-tiba saja Adrine berbalik kearah Yama. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Tunggu saja besok, akan kujawab semua pertanyaanmu itu."


Lalu Adrine pun pergi bersama teman-temannya dan meninggalkan arena tantangan. Semua yang ada disana masih merasa heran dengan Adrine yang mengampuni Yama.


'Aku masih tak mengerti, seperti apa dia ini?' Pikir Yama.


Bersambung!!