
Mereka dari tadi hanya saling mengancam dan diancam oleh Adrine, namun sejauh ini mereka masih belum tahu identitas masing-masing.
"Oh iya, aku telah menjadi boss kalian sekarang ini. Perkenalkan, namaku Adrine. Bagaimana dengan nama geng kalian?"
Adrine terlebih dahulu membuka pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran. Adrine juga membuka topengnya yang dari tadi menutupi wajahnya.
'Ooh... Jadi seperti itu wajah tuan Adrine?' Pikir semua orang yang ada disana.
Lalu mereka semua yang tadinya memakai topeng, langsung membuka topeng mereka masing-masing setelah melihat tuan barunya membuka topengnya.
"Desa ini bernama desa Pasir Merah, kami memberi nama geng ini dengan nama yang hampir sama, yaitu Geng Pasir Darah."
"Haha, nama yang bagus. Tapi semenjak kalian menjadi bawahanku, nama geng ini akan kuubah. Namanya adalah Geng Deon."
Semua yang ada disana saling menatap satu sama lain. Mereka merasa tidak masalah dengan namanya, tapi namanya tidak ada makna apa-apa.
"Apa motif dari nama itu, tuan?"
Adrine hanya tersenyum dan merasa sudah menunggu pertanyaan itu.
"Memang tidak ada motifnya, hanya saja aku telah memikirkan nama ini jika aku punya pasukan sendiri. Namanya juga terdengar cukup futuristik."
Apa saja yang akan mereka katakan nantinya, itu tidak akan mempengaruhi Adrine untuk mengganti namanya. Karena itulah yang memang sejak tadi dipikirkan oleh Adrine tentang nama gengnya.
"Oh iya, aku belum tahu nama kalian. Coba kalian perkenalkan nama kalian masing-masing!"
Mantan boss yang dari tadi duduk diatas kursi emas, kini ia berdiri dan berjalan kearah Adrine.
"Tuan muda, sebaiknya anda duduk saja. Anda akan lelah jika terus berdiri disini."
Lalu Adrine mengangguk dan orang itu mengantarkannya ketempat ia duduk tadi. Dan kini, Adrine-lah yang sedang duduk diatas kursi emas itu.
"Sekarang, perkenalkan nama kalian masing-masing!"
Lalu, mantan boss mereka lah yang maju untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Namaku adalah Shino, aku yang sekarang telah mencapai pencapaian tahap Keberlanjutan level-1 kelas menengah."
Lalu, diikuti oleh orang yang tadi diancam oleh Adrine menggunakan belatinya tadi.
"Namaku adalah Ryu, pencapaian kultivasiku sekarang adalah pada tahap Keberlanjutan level-1 kelas awal."
Dan yang berikutnya adalah orang yang sedari tadi diam namun terlihat kuat. Adrine sedikit tertarik dengannya.
"Namaku adalah Sura, untuk tahap kultivasi, saya telah mencapai tahap yang sama dengan Ryu."
Adrine mengangguk paham.
"Baiklah, untuk nama kalian, tidak perlu untuk kuhafalkan. Cukup mereka bertiga saja yang kenal."
Adrine tidak ingin repot-repot untuk menghafal satu persatu nama bawahannya. Cukup tahu orangnya saja, itu sudah cukup bagi Adrine untuk mengenalinya.
"Oh iya, untuk kedepannya nanti, kalian tidak perlu memanggilku tuan atau apalah itu. Kalian bisa memanggilku kakak."
Mereka semua nampak agak bingung dengan itu.
"Kenapa tuan, ehem... Maksudku, kakak?"
Shino yang sebelumnya adalah boss utama, memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku hanya tidak suka, apa kalian keberatan?"
Tidak ada yang berani untuk keberatan dengan pernyataan Adrine. Mereka semua langsung menggelengkan kepala mereka dengan sangat cepat.
"Baguslah, ini membuatku lega."
Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan yang sedang mereka bicarakan, suasananya cukup sunyi.
"Kakak..."
Dan tiba-tiba, ada salah satu yang angkat bicara. Orang itu adalah Ryu.
"Iya? Apa yang ingin kau tanyakan?"
Adrine langsung menatap Ryu dengan tatapan penasaran.
"Bukankah kakak ini adalah pendatang baru didesa Pasir Merah ini? Lalu, dari mana kakak berasal?"
Wajah Adrine menjadi sangat fokus dan antusias disaat mendengar pertanyaan tersebut. Yang lainnya, nampak sedikit takut kalau Ryu menanyakan pertanyaan yang salah.
"Apa-apaan kau ini? Sepertinya kakak tidak tidak senang dengan pertanyaanmu ini."
Shino yang merasa tidak enak dengan Adrine, ia langsung menegur Ryu, walaupun hanya dengan bisikan.
Adrine kembali tersenyum dengan wajah yang ceria.
"Fiuuuh..."
Mereka semua menghembuskan nafas lega karena tahu tuannya tidak sedang marah ataupun tidak senang atas pertanyaan tadi.
"Asalku dari Perguruan Bayangan Langit. Sekarang ini, aku adalah murid inti diperguruan itu. Aku juga adalah murid VIP disana."
"Hah? Perguruan Bayangan Langit?"
Mereka semua langsung menatap satu sama lain dan tersenyum.
"Ada apa? Kenapa kalian tersenyum ketika aku menyebutkan nama Perguruan Bayangan Langit? Apa ada yang salah?"
Mereka semua kembali menatap Adrine dan masih tersenyum.
"Apakah kakak sedang ingin kembali kesana? Jika iya, kami bisa menghantarkan kakak dengan sangat cepat."
Shino dengan segera ingin menawarkan bantuan kepada Adrine. Adrine langsung berdiri dengan tegak. Namun yang lainnya nampak seperti takut karena Adrine yang sedang berdiri dengan terburu-buru itu.
"Apa kalian benar-benar bisa mengantarkanku kembali kesana dengan cepat?"
Adrine menjadi sangat bersemangat dan cepat-cepat ingin tahu.
"Iya tuan, kami punya titik teleportasinya untuk langsung sampai disana. Dalam sekejap, kita bisa langsung sampai disana, apa kakak mau?"
Adrine langsung mengangguk dengan sangat cepat dan berdiri, lalu ia berjalan cepat menghampiri Shino.
"Cepat antarkan aku! Aku ingin segera kembali kesana."
Shino dan yang lainnya langsung mengangguk dan senang disaat melihat wajah tuannya yang sedang senang itu.
"Baiklah tuan. Tapi, apa kakak tidak mau mengunjungi desa Pasir Merah terlebih dahulu? Didesa ini, ada kitab teknik tingkat Kaisar level-2, namanya Badai Pasir Kalajengking, apakah kakak tertarik untuk mengambilnya?"
Shino menawarkan sebuah kitab teknik yang menurutnya sangat bagus dan kuat untuk digunakan oleh tuannya. Tapi Adrine menolak untuk mengambilnya.
"Tidak, aku sendiri sudah punya beberapa teknik tingkat Kaisar."
"APA?"
Mereka semua terlihat sangat terkejut, bahkan Adrine sendiri menjadi terkejut karena teriakan mereka.
"Apa itu benar tuan? Teknik apa itu?"
"Tapak Suci Api Hijau Alam, Ukiran 9 Bintang Api, dan Api Roh Ungu Jiwa Pembantaian Iblis Neraka."
Ada beberapa yang lumayan tahu tentang salah satu teknik itu. Bahkan menurut mereka, ada salah satu teknik yang cukup terkenal.
"Aku tahu kalau teknik Tapak Suci Api Hijau Alam. Mungkin, jika kakak melawanku menggunakan teknik ini, bahkan jika aku menggunakan Jiwa Bela Diriku, aku bahkan tidak bisa melawan teknik itu."
Adrine malah terlihat seperti kebingungan. Ia merasa ada yang kurang familiar dengan salah satu kalimat dari Sura.
"Apa itu Jiwa Bela Diri?"
"Aah, kakak tidak tahu? Jiwa bela diri itu, bisa terbentuk disaat seseorang mencapai tahapan Keberlanjutan. Jiwa Bela Diri itu melambangkan jiwa dari seseorang terhadap suatu keahliannya ataupun bakatnya. Namun, Jiwa Bela Diri yang terbentuk, hanyalah pecahan atau fragmen dari Jiwa Bela Diri yang sesungguhnya."
Adrine mulai sedikit paham tentang itu, namun ada beberapa yang masih ingin ia pertanyakan.
"Apa bentuk dari Jiwa Bela Diri?"
"Bentuknya beragam, bisa berupa hewan spirit maupun artifak. Bahkan bisa saja membentuk tanaman herbal. Kekuatannya juga beragam, dikelompokkan dari peringkat 1 yang tertinggi, sampai 9 yang terendah. Dan pada umumnya, kebanyakan mempunyai Jiwa Bela Diri peringkat 7 atau 6. Jika punyaku ini belum diketahui secara pasti, tapi menurutku itu berbentuk hewan spirit."
Adrine sudah merasa mengerti tentang penjelasan dari Sura.
"Lalu, kapan Jiwa Bela Diri itu terbentuk sepenuhnya?"
Sura kembali menatap Adrine.
"Semua itu belum pasti. Tapi katanya, semakin rendah peringkatnya, maka semakin cepat pula pembentukannya. Kalau punyaku ini peringkat 7"
Adrine merasa kalau masih ada yang kurang dari penjelasan Sura.
"Bagaimana cara menentukan peringkatnya?"
Adrine menanyakan lagi sebuah pertanyaan.
"Oh itu... Nanti secara sendirinya akan muncul angka ditangan yang menentukan peringkat Jiwa Bela Diri seseorang. Dan lagi, nanti seseorang bisa melihat Jiwa Bela Dirinya didalam alam bawah sadarnya. Tepat disaat seseorang memasuki tahap Keberlanjutan, dengan sendirinya kesadarannya akan memasuki alam bawah sadarnya. Dan disaat sudah membentuk keseluruhan jiwanya, dengan sendirinya nama jiwa itu akan tertera pada jiwa itu sendiri."
"Jadi seperti itu ya?"
Bersambung!!