Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Topeng Lima Wajah


Roh Naga Bintang Api menghantarkan Adrine ke sebuah tempat di mana itu terdapat sebuah orb dengan ukuran yang sangat kecil. Adrine sempat terkejut melihatnya, sebuah orb yang ukurannya hampir sama dengan bola mata. Biasanya sebuah orb itu seukuran dengan bola kasti.


"Kau pasti mengira itu adalah orb bukan?"


Adrine tersentak. Ucapan roh naga di sebelahnya itu jelas bahwa dia mengatakan benda di depan mereka itu bukanlah sebuah orb.


"Lalu apa?" tanya Adrine penasaran.


"Inti orb!"


'Inti orb?' Adrine bertanya-tanya apa itu inti orb. Jelas orb memiliki inti, tetapi inti memiliki tubuh dan Adrine tahu tentang itu. Sedangkan inti orb di depannya itu tak memiliki tubuh, jelas saja itu membingungkannya.


Karena tahu kalau Adrine tak mengerti ucapannya, roh Naga Bintang Api pun menjelaskannya.


"Orb itu awalnya terbentuk dari sebuah permata. Kemudian permata itu akan menyerap atribut di sekitarnya yang paling dominan di daerah itu. Permata yang menyerap atribut akan berlangsung selama satu hingga tiga bulan. Setelah atribut yang diserapnya itu cukup, maka dengan menggunakan energi pada atribut yang diserap itu akan membentuk tubuhnya. Pembentukannya tidak memakan waktu yang lama, hanya beberapa jam saja. Begitulah prosesnya," jelasnya.


Adrine langsung mencerna penjelasannya, "Jadi maksudmu ini adalah permata yang tidak memiliki atribut?"


"Kau salah besar!"


Sekali lagi Adrine tersentak. "Apa maksudmu?" tanyanya semakin penasaran.


"Tubuh orb itu melebur karena waktu yang sangat lama," tambah roh Naga Bintang Api.


Seketika Adrine paham, sistem di otaknya merespon semua penjelasan dari roh di sampingnya.


"Tubuhnya melebur dan semua atribut beserta energinya akan kembali diserap oleh intinya. Membuatnya semakin padat, tetapi akan sangat sulit untuk mengekstrak energi yang ada di dalamnya. Jika dihancurkan maka sama saja dengan membuangnya dan menyia-nyiakan apa kekuatannya, benar bukan?"


"BENAR SEKALI!" sahut roh Naga Bintang Api.


Lalu roh itupun menjelaskan lagi tentang suatu hal, itu bersangkutan dengannya dan inti orb itu.


"Kau bilang kau ingin meleburkan jiwamu sendiri untuk membentuk tubuh kedua orb ini?" tanya Adrine terkejut.


Dan roh Naga Bintang Api menjawab, "Ya."


"Apa kau ingin menyerap jiwaku untuk kau jadikan inti jiwamu selanjutnya?" tanya roh itu balik.


Adrine terkejut mendengarnya. Roh Naga Bintang Api mengetahui apa maksud yang sebenarnya karena sebentar lagi Adrine memang akan menembus.


"Aku persilahkan untuk itu, tapi di mana nanti roh ku akan kau simpan?" tanya roh naga itu lagi.


"Eh?" Adrine lagi-lagi dikejutkan roh tersebut, "Tunggu dulu, kau memperbolehkan aku menyerap jiwamu?" tanya Adrine.


Roh Naga Bintang Api mengangguk, "Aku akan melayanimu seperti apa yang kulakukan pada tuanku sebelumnya, jadi kau boleh menggunakanmu sesuka hatimu dan aku juga akan membantu menaikkan potensimu lebih jauh lagi," jelasnya.


Selepas penjelasan barusan, Adrine mengambil inti orbnya. Ia merasakan kekuatan yang besar dari inti orb tersebut. 'Ini ... Ini bukanlah inti orb biasa ... Tekanan energinya sangat berat dan pekat, selama ini aku tak pernah merasakan energi sepekat ini ... ' batinnya.


Adrine pun diarahkan oleh roh Naga Bintang Api untuk memasukkan inti orb yang dipegang Adrine ke mulut naga yang ada di pedangnya. Inti orbnya mulai menyala terang, energinya meluap dan berubah menjadi kobaran api. Itu dihisap oleh pedang Adrine, kobarannya semakin lama semakin besar. Bulatan kecil itu juga semakin terang, namun kepadatan energinya mulai menurun.


Beberapa saat kemudian, energi pada inti orb tersebut telah diserap habis hingga permatanya melebur.


Setelah itu, Adrine meminta kepada roh Naga Bintang Api untuk membawanya keluar. Alasan kenapa Adrine ingin dihantar yakni karena magma yang menghalanginya. Roh tersebut setuju dan segera membawanya keluar.


***


Setibanya Adrine di ruangan kelima, ia menyadari bahwa waktu yang ada di tempat roh Naga Bintang Api berjalan sedikit lebih lambat. Itu karena Adrine baru saja melihat ada sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya saat ini dan saling tidak menghiraukan.


Sosok itu memiliki tubuh kekar yang sangat besar dan tinggi, bahkan tingginya saja lebih dari dua meter.


Adrine juga menyadari bahwa set Black Blood Dots memiliki kemampuan khusus, yakni Hidden Into The Blood, kemampuan untuk menghilang dan bersembunyi di dalam aliran darah. Jadi sekarang ini keempat artifak itu tidak nampak dan Adrine jadi lebih bebas dalam memilah artifak lagi.


"Adrine, kusarankan agar kau memilih topeng yang ada di pojokan sana," ujar roh Naga Bintang Api sembari menunjuk ke arah artifak yang melayang di pojokan.


"Apa keistimewaan artifak ini?" tanya Adrine.


Lantas roh Naga Bintang Api menjawab, "Topeng itu memiliki lima jiwa yang berbeda. Kemampuannya sendiri adalah menyembunyikan keberadaan dan mengganti aura kehidupan. Walaupun kelima jiwanya sangat lemah dan artifak ini tidak sekuat artifak Surgawi lainnya, tetapi ini bisa berguna bagimu ketika sedang menjalankan misi yang kau ambil."


'Betul juga.' Adrine juga berpikir kalau topeng itu cukup istimewa. "Lima jiwa berarti lima wajah, berarti aku bisa mengganti kepribadian serta keberadaanku kapan dan di mana saja, benar bukan?"


"Yup, tetapi kalau kepribadian itu adalah murni kemampuan aktingmu sendiri."


Lantas Adrine memegang topeng di depannya itu. Dan lagi-lagi ia masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Di sana memang benar-benar ada lima jiwa yang berusaha untuk mengujinya, tetapi ada empat jiwa yang membuat mereka takut dengannya. Empat jiwa itu adalah jiwa dari artifak pemberian roh Naga Bintang Api sebelumnya. Sehingga sekarang ini Adrine tak perlu berbuat banyak.


Adrine lekas tersadar, kesadarannya perlahan mulai kembali dan ia melihat orang yang sebelumnya datang ke ruangan yang sama dengannya itu masih memilah-milah. Topengnya memiliki nama yang tertulis sangat kecil di pinggirannya, Topeng Lima Wajah.


"Hei, bocah! Kau berbicara dengan siapa?" tanya pria besar itu. Adrine menghiraukannya dan segera pergi dari sana. "Hmm? Cih!" Pria besar itu memalingkan wajahnya dan berusaha untuk lekas memilih artifak yang sesuai dengannya.


Perjalanannya menuju ke atas, roh Naga Bintang Api menjelaskan apa lagi keistimewaan dari Topeng Lima Wajah itu. Topeng tersebut bisa merubah suara, meningkatkan kelima indera secara signifikan, mengurangi rasa sakit yang diterima pada bagian leher dan kepala, meredam kekuatan hingga setengahnya, hingga dapat meningkatkan niat pembunuh hingga lima kali lipat. Bagi pembunuh bayaran topeng itu sangatlah berguna dan membantu. Dan Topeng Lima Wajah bisa lebih dimaksimalkan ketika penggunanya memiliki kultivasi tingkat Kesempurnaan ke atas dan potensi di atas menengah ke atas.


Meredam kekuatan bukan berarti kekuatan yang dapat digunakan oleh Adrine akan menurun, hanya saja kekuatan yang dapat dirasakan oleh orang lain ketika Adrine sedang tidak melakukan apa-apa.


Adrine juga sempat bertanya, bagaimana jika profilnya dibaca oleh orang lain. Roh Naga Bintang Api menjawab bahwa ketika nanti ia mencapai tingkat Kesempurnaan, maka pemantauan khusus akan dirinya akan dilepas oleh pemerintahan dan profil biodatanya akan dikunci dengan amat sangat rapat hingga hampir tak bisa dibuka kembali. Itu seperti seseorang mengunci gerbang raksasa, lalu membuang kuncinya di tengah lautan.


***


Karena sudah selesai dengan urusannya, Adrine langsung keluar dari dalam mulut gunung Frey.


Beberapa jam kemudian, semua orang juga telah memilih artifaknya masing-masing dan keluar dari mulut gunung Frey. Di sana semua ketua divisi telah kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing, kecuali ketua divisi kesembilan, ketua Michaela. Dia hanya bertugas untuk menyampaikan bahwa selepas mendapatkan artifak yang diinginkan, Adrine dan para pilar lainnya ditugaskan untuk segera mengambil misi. Tak terkecuali siapapun itu.


Adrine dan yang lainnya beserta ketua Michaela segera kembali. Ketika sampai di kaki gunung, para pilar segera menuju ke aula utama untuk mengambil misi.


Segera Adrine menuju ke papan misi yang berisikan puluhan kartu misi. Adrine mengambil kartu misi yang khusus untuk para pilar, kebetulan papannya berbeda dengan papan misi biasa.


Ketika Adrine hendak mengambil salah satu kartu misi, tangannya berpapasan dengan tangan seseorang, yang mana itu adalah Angelo.


"Hei, apa ini suatu kebetulan? Kita bertemu lagi, ujarnya.


Adrine hanya menjawab, "Kebetulan? Kurasa itu lebih mengarah padamu yang sedang menguntit aku."


Angelo mengerutkan dahinya, "Ugh, kau pikir aku seseorang seperti itu? Kau itu menyebalkan sekali, ya? Ingat saja, besok kita akan beradu kemampuan untuk menentukan siapa yang terkuat!" serunya.


'Ah, mana peduli?' batin Adrine. Ia segera mencerabut kartu misi dan pergi meninggalkan Angelo di sana. Sementara pria yang ditinggalkannya menoleh kebingungan karena kartu misi yang hendak dia ambil justru diambil orang lain.


"Ah, sialan kau!" umpat Angelo.


Adrine memasukkan kartu misinya ke dalam cincin penyimpanannya. Sementara ia berjalan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, ia mendapati Reina yang sedang tertidur pulas, setelahnya wanita itu terbangun mendengar deritan pintu yang terbuka.


"Ah, kau sudah pulang?" tanyanya basa-basi sembari mengusap matanya.


Adrine mengangguk.


"Oh iya, aku baru saja mencoba masakan baru, silahkan jadi penyicip pertama masakanku," ucap Reina seraya berjalan menuju ke arah dapur.


Lantas membawa sepiring makanan dengan sedikit kuah dan menyodorkannya kepada Adrine, "Cobalah."


Adrine pun mengambil sendok yang ada di atas piringnya. Kemudian menyendok makanannya dan memakannya.


"Emm ... Yumayan ... "


"Habiskan dulu, barulah berbicara, hahaha," ujar Reina tertawa melihat raut wajah Adrine. Lalu mereka berdua duduk dan Adrine mengambil piringnya yang lantas memakannya sendiri.


Bersambung!!