Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Bertemunya Adrine dengan Shin kecil di Perguruan Kilat Langit


Telinga demi telinga telah mendengar apa yang barusan terucap oleh mulut Adrine, dia berkata jika dirinya ingin mengikuti seleksi masuk ke dalam Perguruan Kilat Langit. Semuanya merasa tak percaya dengan apa yang telah di katakan oleh Adrine.


Asra sendiri yang dimana pengurus registrasinya menjadi agak kebingungan dan harus mengubah ekspresi senyuman-nya itu.


"Apa alasanmu untuk menolak masuk secara langsung?"


Asra merasa jika Adrine sedikit melenceng dari aturan, namun ekspresi yang di tampakkan oleh Adrine seperti orang yang tidak merasa bersalah akan hal tersebut. Wajahnya tetap tegang dan merasa berani jika dirinya akan melawan aturan.


"Aku tidak punya alasan tertentu, hanya saja aku sedang ingin mengembangkan kemampuanku dengan mengikuti seleksi masuk."


Dengan penuh keyakinan, Adrine memberikan alasan mengapa ia tak ingin masuk secara instan, melainkan masuk dengan cara yang lebih rumit dengan mengikuti seleksi.


"Seharusnya hal itu di tidak perbolehkan, namun karena tidak terdapat dalam peraturan perguruan, maka aku izinkan kau mengikuti seleksi masuk, akan tetapi resiko di tanggung sendiri."


Mendengar kalimat dari Asra, Adrine malah merasa yakin dengan apa yang telah dilakukan-nya. Adrine langsung mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan oleh Asra.


"Baiklah, aku mengerti."


Setelah itu, Asra pun menganggukkan kepalanya juga dan Adrine pun berjalan ke belakang Asra seperti halnya Reihan.


"Kalian semua maju! Akan aku pindai data kalian satu persatu untuk di kirimkan ke dalam server data perguruan."


Asra pun langsung menyuruh para murid dari Perguruan Bayangan Langit untuk maju lebih dekat dengan Asra agar lebih mudah dan cepat dalam memindai datanya. Asra juga mengeluarkan sebuah drone, drone tersebut terbang dan mengeluarkan cahaya hijau untuk memindai para murid baru.


"Senior Asra, apa boleh aku seperti Adrine untuk mengikuti seleksi?"


Tiba-tiba Reihan angkat bicara, dan ia ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang ingin dilakukan oleh Adrine.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu? Pikirkan kembali, jangan tergesa-gesa. Adrine itu sudah memikirkan alasan-nya sejak sebelum datang dari sini, maka dari itu dia langsung bertanya kepadaku, tapu kau bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama dengan Adrine ketika kau mendengar alasan dan keinginan-nya."


Setelah mendengar perkataan panjang lebar dari Asra, Reihan pun terdiam dan memikirkan-nya.


Lalu Asra pun mengambil drone yang diterbangkannya itu dan menyimpan-nya ke dalam cincin penyimpanan miliknya. Reihan masih terdiam dan memikirkan perkataan dari Asra, belum ada tanda yang menunjukkan Reihan ingin mengeluarkan suaranya.


"Berikutnya! Para murid dari Perguruan Matahari Bayangan, silahkan maju!"


Masih terus melakukan tugasnya dan Reihan sendiri masih tidak bergeming sama sekali.


Para murid dari Perguruan Matahari Bayangan pun berjalan maju dan Asra mengeluarkan drone yang baru. Drone tersebut terbang dan memindai data para murid dengan cara yang sama, yaitu dengan memancarkan cahaya hijau.


"Baiklah, aku yakin akan mengikuti seleksi masuk."


Reihan pun bersuara dan telah memutuskan untuk tetap mengikuti seleksi masuk tanpa menggunakan cara yang instan. Walaupun membuat banyak orang bingung, Reihan tetap teguh dengan pendirian-nya.


"Baiklah, apa yang kau putuskan akan menjadi pilihanmu, resiko kau sendiri yang akan tanggung. Dan setelah ini, kau dan yang lain-nya langsung ikuti aku menuju ke portal perpindahan."


Asra pun memperbolehkan Reihan untuk mengikuti seleksi masuk, lalu memberikan instruksi kepada para murid baru untuk mengikutinya nanti setelah selesai mengurusi registrasinya.


'Tidak akan aku biarkan orang ini menjadi tenar karena mengikuti seleksi dan tidak masuk dengan instan, seharusnya panggung ketenaran yang ada di Perguruan Kilat Langit itu adalah milikku dan tak akan mungkin di rebut oleh semut ini.' Pikir Reihan.


Reihan berpikir jika Adrine melakukan hal tersebut karena ingin menjadi tenar dan terkenal di mata orang lain dan juga akan mengambil sorotan mata orang lain dari Reihan.


Sebenarnya Adrine dan Asra juga paham mengapa Reihan melakukan hal tersebut dan juga Asra sendiri mengerti mengapa Adrine lebih memilih melakukan seleksi lagi daripada langsung masuk secara instan. Etern juga paham mengapa Reihan mengikuti jalan Adrine untuk melakukan seleksi lagi, padahal dia adalah seseorang yang terkenal dan menjadi murid rekomendasi untuk masuk ke dalam Perguruan Kilat Langit, namun malah lebih memilih jalan yang berbahaya daripada yang lebih mudah hanya karena ketenaran.


'Hanya orang bodoh yang melakukan hal yang sama denganku tanpa alasan untuk berlatih dan tidak jelas.' Pikir Adrine.


Setelah itu, Asra mengambil drone yang diterbangkannya dan memasukkan-nya ke dalam cincin penyimpanan. Lalu Asra pun kembali menatap para kandidat murid baru dan ingin mengatakan sesuatu.


"Cepat ikuti aku sekarang, kalian akan segera di tempatkan ke tempat seleksinya."


Setelah berkata seperti itu, Asra pun pergi dan para kandidat murid baru pun mengikuti Asra. Mereka berlari agak cepat agar bisa segera sampai pada tempatnya dengan tepat waktu.


Tak memakan waktu lama, mereka sampai pada perbatasan masuk wilayah utama dari Perguruan Kilat Langit. Terdapat pelindung kaca lagi yang membatasi wilayah utama perguruan, namun tepat di depan pelindung kaca terdapat beberapa peralatan yang cukup besar, bentuk nya seperti kubus yang ukuran-nya bisa mencakup 50 orang lebih dan kubus tersebut seperti memiliki pintu gerbang yang di atasnya terdapat lampu yang menyala dengan warna merah.


"Kalian tunggu saja di sini, aku akan segera kembali. Kalian dilarang untuk berbuat gaduh dan onar di sini, jangan sentuh kubus besar itu sebelum aku kembali, mengerti?"


Asra akan pergi untuk mengurusi data para kandidat murid baru untuk masuk ke dalam perguruan secara resmi. Asra pun langsung berbalik dan akan segera masuk ke dalam wilayah utama.


"Mengerti!"


Semua kandidat langsung menjawab secara serentak, namun Asra kembali berbalik dan menoleh ke arah para kandidat.


"Oh iya, baru saja aku mendapatkan laporan agar di sampaikan pada kandidat yang bernama Adrine Arnando dan Reihan Xsue, resiko yang akan kalian tanggung jika gagal dalam seleksi telah di cabut oleh pihak perguruan dan jika kalian berhasil dalam seleksi, status kalian setelah masuk bukan menjadi murid baru melainkan adalah murid tingkat Permukaan. Hanya di dapat jika kalian berhasil dalam seleksi, jika gagal status kalian akan menjadi murid baru."


Status di dalam perguruan tinggi adalah murid baru, murid tingkat Permukaan, murid tingkat Bumi, murid tingkat Bintang, murid tingkat Langit, Master, dan Grand Master. Seseorang bisa meningkatkan status mereka ketika sudah mencapai ketentuan yang telah di tentukan.


"Baiklah, kami mengerti."


Dengan serentak Adrine dan Reihan mengucapkan kalimat tersebut, Asra pun masih berekspresi yang sama, yaitu terus tersenyum ramah dan dia berbalik untuk masuk ke dalam wilayah utama. Namun semua kandidat murid baru menjadi bingung karena tidak ada pintu masuk ke dalam wilayah utama.


Wilayah utamanya tertutup rapat oleh pelindung kaca yang tebal dan dilapisi oleh sebuah formasi mental yang digunakan sebagai pelindung, namun pelindung kaca tersebut tidak memiliki pintu masuk seperti gerbang yang ada di pelindung sebelumnya.


Asra pun menempelkan telapak tangannya dan muncul cahaya yang membentuk sebuah lampiran data sepertu di saat Arnold menempelkan kartu identitasnya ke dalam slot pengenalan sebelumnya.


SET!!


Kaca yang ada di depan Asra terbuka layaknya sebuah pintu, Asra pun masuk dan pintunya kembali tertutup. Setelah pintu kaca tersebut tertutup, tidak terdapat garis apapun yang menunjukkan terdapat sebuah pintu di sana, pintu tersebut tertutup rapat sehingga tidak membentuk garis sama sekali.


'Canggih sekali.' Pikir Adrine.


Setelah itu, Adrine dan para kandidat yang lain-nya berdiam diri di sana dan tidak ada yang berbicara sama sekali. Namun Etern sudah harus melakukan penerobosan dan energi pada tubuhnya sudah mulai penuh. Ia harus segera memulai penerobosan dan berkultivasi sekarang juga.


"Bagaimana ini Adrine? Aku harus segera melakukan penerobosan, tapi jika aku melakukan hal tersebut, akan langsung memicu persenjataan yang ada di sini."


Etern berbisik pelan di telinga Adrine dan suaranya terdengar sudah seperti tak tertahankan.


Adrine juga agak bingung menanggapinya, terlebih lagi semua senjata yang ada di sekitarnya memiliki sensor sihir dan tak ada yang tahu dimana letak tempat senjata-senjata di sembunyikan dengan pasti.


Namun jika Etern tidak segera melakukan penerobosan, maka secara sendirinya nanti ia akan menerobos tanpa harus berkultivasi, tapi harus terus menahan sampai benar-benar menerobos secara otomatis. Jika Etern tidak bisa menahan-nya hingga penerobosan otomatis, maka meridian-nya akan rusak atau bocor yang dimana energinya akan terus terkuras setiap waktunya.


"Aku sendiri tak tahu, tunggu saja sampai kau menerobos dengan sendirinya! Aku sendiri di sini tak mempunyai solusi."


Adrine berkata pelan seperti Etern tadi agar tak di dengar oleh orang lain. Etern masih terus bertahan dan keringatnya sudah mulai mengucur di sekitar rambutnya. Adrine sendiri malah ikut pusing dalam masalah Etern, tapi itu adalah masalahnya juga jika Etern memicu detektor sihir pada setiap senjata yang ada di sekitarnya.


'Sensitivitas pada setiap detektor yang ada di sini pasti cukup tinggi, walaupun kultivasi yang di miliki Etern cukup rendah, namun bisa saja dia memicu puluhan senjata yang ada disekitar.' Pikir Adrine.


Adrine pun duduk dan masih memikirkan tentang masalah Etern, ia masih tak punya solusi untuk permasalahan tersebut sampai sekarang ini.


Sementara itu, Shin kecil masih terus terbang untuk sampai ke Perguruan Kilat Langit secepatnya, ia sudah bisa melihat pelindung kaca dari Perguruan Kilat Langit dari jaraknya saat ini.


'Nah, sekarang aura milik Adrine sudah terasa kembali, walaupun tercampur dengan puluhan ribu aura milik orang lain.' Pikir Shin kecil.


WUUUSH!!


Sekarang Shin kecil pun bergegas dengan sangat cepat menuju Perguruan Kilat Langit, ia merasakan jika hawa keberadaan Adrine sudah sangat jelas untuk di rasakan.


Shin kecil menyadari jika pelindung kaca yang melindungi Perguruan Kilat Langit itu terdapat sebuah formasi pelindung, maka dari itu ia masuk menggunakan mode roh-nya dan sama sekali tidak mendapatkan masalah apapun ketika masuk ke dalam. Semakin Shin kecil bergerak lurus ke depan, semakin jelas pula dia dapat merasakan keberadaan Adrine.


Shin kecil melihat kanan dan kirinya yang di penuhi oleh persenjataan dan dia dapat dengan mudahnya mengetahui dimana tata letak dari setiap senjata yang ada di sana.


'Senjata-senjata yang ada disini cukup kuat untuk meruntuhkan para murid yang masih berada di tahap Penciptaan.' Pikir Shin kecil.


Lalu Shin kecil mempercepat gerakan-nya lagi dan ia sudah dapat melihat orang-orang yang sedang berkumpul. Dan ketika Shin kecil sudah sangat dekat, dia pun sudah dapat melihat Adrine beserta dengan orang yang di kenalnya sedikit, yaitu Etern.


"Itu dia, ternyata kau di sana Adrine..."


Setelah itu Shin kecil langsung bergegas menemui Adrine.


"Eh?"


Adrine mendengar suara Shin kecil yang baru saja menyebut namanya, ia menoleh ke belakang dan mencari tahu sumber suaranya.


"Ada apa Adrine?"


Etern merasa terkejut ketika Adrine menoleh ke belakang.


"Tidak ada apa-apa, aku barusan tertidur karena sedang memikirkan solusi untukmu dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku malah tertidur."


Adrine berkata sambil nyengir untuk menutupi kebenaran-nya yang dimana dia mendengar seseorang yang memanggil namanya dan sadar bahwa yang memanggil namanya adalah Shin kecil.


'Akhirnya kita bertemu lagi Shin kecil.' Pikir Adrine.


Lalu Adrine menoleh dan berbalik, berjalan ke arah Shin kecil.


"Kau mau ke mana Adrine?"


Etern mengetahui Adrine sedang berjalan dan pergi dari tempatnya, maka dari itu Etern penasaran dengan perginya Adrine.


"Aku hanya pergi berputar-putar saja disekitar sini, aku tidak akan kemana-mana."


Adrine terus berjalan maju dan menjawab pertanyaan Etern tanpa menoleh ke arahnya. Adrine masih terus fokus dan menatap Shin kecil.


Adrine dan Shin kecil pun bertemu kembali, mereka berdua saling bertanya kabar masing-masing.


Adrine sendiri sebenarnya sedang kesal dengan Shin kecil, bukan rindu maupun cemas, tapi justru Adrine malah kesal dengan perginya Shin kecil yang tak kunjung kembali.


"Aku baru saja pergi dari alam bebas dan memperkuat diriku dengan memburu jiwa hewan spirit, aku pergi terlalu jauh, jadi butuh waktu lama untuk bisa kembali kemari dengan segera."


Shin kecil menjawab dengan nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, namun Adrine sama sekali tidak menghiraukan alasan-nya.


Tiba-tiba Adrine terpikir oleh masalah yang semenjak dari tadi ia pikirkan terus menerus.


"Oh iya, kau lihat temanku yang satu itu?"


Adrine menunjuk ke arah Etern, Shin kecil pun mengangguk mengerti akan masalahnya dalam sekali lihat.


"Aku bisa membantunya untuk melakukan penerobosan tanpa harus memicu sensor sihir yang ada disekitar sini."


Adrine terkejut mendapati Shin kecil yang langsung mengerti dengan permasalahan yang di maksud olehnya.


"Kau langsung mengerti? Baguslah, lalu bagaimana cara mengatasinya."


Lalu Shin kecil menjelaskan bagaimana dirinya nanti akan membantu Etern untuk melakukan penerobosan dengan bantuan Adrine.


"Jadi kau hanya menyuruhku berakting dan menyalurkan kekuatan mental ku kepadamu? Apakah tidak memicu sensor sihirnya?"


Shin kecil mengangguk.


"Menurut analisis ku, sensor yang ada pada senjata di sini tidak mampu mendeteksi energi mental dalam jumlah kecil, setidaknya kau memberiku 3 jimat mental saja sudah cukup, jika berlebihan juga bisa terdeteksi oleh sensornya."


Adrine pun mengangguk dan percaya kepada Shin kecil tanpa bicara panjang lagi, ia pun bersiap mengeluarkan jimat mental dan aura pada tubuhnya sudah keluar dan berkumpul untuk membentuk jimat mental. Aura yang keluar berupa kekuatan mental dan dalam jumlah yang kecil, sehingga Adrine sama sekali tidak memicu detektor yang ada disekitarnya.


'Hebat juga Shin kecil ini, matanya cukup jeli dan cukup pintar, hanya sekali lihat langsung tahu kebenaran-nya, hebat sekali.' Pikir Adrine.


Setelah itu, terciptalah 1 jimat mental dan tercipta 2 selanjutnya. Adrine langsung melepaskan energi pada ketiga jimat mentalnya dan jimat mental tersebut di serap oleh Shin kecil.


"Bagus, sekarang katakan pada temanmu itu untuk kemari dan segera melakukan penerobosan. Katakan saja kau sudah mempunyai solusinya."


Shin kecil berkata sambil menunjukkan wajah tersenyum konyol yang penuh dengan tipuan, Adrine hanya menatapnya dengan tatapan aneh.


"Sebenarnya kau lebih cocok untuk menjadi penipu."


Adrine merasa kesal dengan wajah Shin kecil dan kelakuan-nya yang mirip dengan penipu. Shin kecil hanya tersenyum tipis dan tidak merasa berdosa sama sekali.


'Terserah kau saja lah...' Pikir Adrine.


Lalu Adrine pun pergi dan menemui Etern, Shin kecil menunggu mereka berdua dari kejauhan dan sedikit mundur karena takut nanti saat Etern akan melakukan penerobosan akan dilihat oleh banyak orang.


Tujuan Shin kecil adalah untuk melakukan penerobosan secara diam-diam dan tak diketahui oleh sensor sihir maupun oleh orang lain.


'Aku menyuruh Adrine mengirimkan jimat mental padaku agar bisa meredam kekuatan yang mungkin saja bisa lepas.' Pikir Shin kecil.


Lalu Adrine pun menemui Etern, ia memberi tahu jika dirinya sudah mempunyai solusi terbaik untuk melakukan penerobosan.


"Apa kau yakin tentang itu?"


Adrine mengangguk dan wajahnya sangat serius.


"Aku tidak berbohong padamu, ayo ikuti aku!"


Lalu Adrine berbalik dan segera menuju ke tempatnya tadi, di ikuti dengan Etern di belakangnya sambil menahan energinya agar tidak lepas.


Banyak orang memperhatikan Adrine dan Etern pergi, namun mereka tidak merespon hal tersebut karena menurut mereka yang melihatnya, Adrine dan Etern sedang gabut dan pergi untuk melihat sekeliling.


Adrine terus berjalan dan merasa kalau Shin kecil tidak ada di tempatnya tadi, menurutnya Shin kecil sedang menjauh dari tempatnya tadi.


'Aku paham.' Pikir Adrine.


Adrine memahami alasan mengapa Shin kecil menjauh.


Lalu Adrine terus berjalan hingga sampai ke tempat yang di inginkan oleh Shin kecil.


"Kau bersiaplah untuk melepaskan energi mu setelah aku memberikan aba-aba padamu!"


Adrine pun menyiapkan Etern sesuai apa yang telah disepakati oleh Adrine dan Shin kecil. Etern mengangguk setuju dan menunggu aba-aba dari Adrine.


'Cepatlah sedikit Shin kecil!' Pikir Adrine.


Shin kecil seperti masih melakukan sesuatu yang tidak di pahami oleh Adrine dan Adrine sekarang ini sedang menunggu aba-aba dari Shin kecil, sedangkan Etern sedang menunggu aba-aba dari Adrine.


"Baiklah, lakukan sekarang!"


Lalu Adrine mengeluarkan energi mentalnya dan mengalirkan-nya pada Etern dalam jumlah kecil namun semakin meningkat setiap detiknya.


"Baiklah Etern, sekarang lakukanlah!"


Lalu Etern mengeluarkan energinya dan sedang melakukan proses penerobosan. Dengan menggunakan jimat mental pemberian dari Adrine tadi, ia menjadikan energi mental yang disalurkan oleh Adrine untuk dijadikan-nya sebagai medium pembentukan pelindung sihir. Dan dengan Adrine terus meningkatkan kekuatan mentalnya, kekuatan pada pelindung sihir yang di bentuk oleh Shin kecil akan terus meningkat.


'Sekarang ini aku percaya dulu dengan Shin kecil, aku tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padaku dan Etern.' Pikir Adrine.


Adrine masih teringat sekali dengan apa yang disampaikan oleh Shin kecil sebelumnya.


"Kau alirkan sedikit energi mental mu pada Etern, lalu tingkatkan secara perlahan. Hentikan laju peningkatan-nya jika aku memberikan aba-aba."


Awalnya Adrine tidak paham mengenai hal tersebut, ekspresi pada wajahnya memperlihatkan bahwa dirinya bingung dengan penjelasan Shin kecil. Mata dan bibirnya yang di angkat ke atas sangat menunjukkan bahwa dirinya sedang berpikir keras.


"Energi mental mu hanya sebatas medium atau penghantarnya saja, aku akan mengaktifkan sebuah teknik pelindung sihir yang akan aku salurkan pada temanmu melalui energi mental mu."


Adrine masih sedikit kurang paham dengan penjelasan Shin kecil, menurutnya masih ada yang kurang dari penjelasan tersebut.


"Lalu untuk apa aku harus meningkatkan energi mental ku secara perlahan? Bukankah fungsinya hanya sebagai penghantar saja?"


Shin kecil menggelengkan kepalanya, ternyata masih terdapat alasan lain mengapa Adrine disuruh untuk menyalurkan energi mentalnya pada Etern.


"Masih ada alasan lain, itu karena kau harus meningkatkan kekuatan pelindung sihir yang aku salurkan melalui energi mental mu. Dengan itu kekuatan pada pelindungnya akan terus bertambah."


Adrine sudah sangat kesal dengan Shin kecil, menurutnya sekarang ini dia sedang dipermainkan oleh Shin kecil.


"Mengapa tidak kau yang menyalurkan energi mental mu pada Etern dan kenapa harus aku? Bukankah kau punya lebih banyak energi mental daripada aku?"


Shin kecil tersenyum mendengarnya, melihat jika triknya untuk mempermainkan Adrine sudah dapat di tebak dengan mudah.


Adrine pun berbalik dan ingin kembali dengan kandidat yang lain-nya, dirinya sangat kesal dipermainkan oleh Shin kecil.


"Sudah kuduga aku sedang di jebak."


"Tidak, aku punya alasan lain mengapa harus kau yang melakukannya."


Adrine masih tidak memperdulikan omongan dari Shin kecil.


"Kekuatan mental yang ku miliki terlalu besar, jika aku malah memantik semua sensor yang ada di sini, matilah kalian semua yang ada di sini."


'Benar juga apa yang di katakan oleh Shin kecil barusan.' Pikir Adrine.


Lalu Adrine berbalik lagi dan ia terlihat setuju dengan rencana yang akan di berikan oleh Shin kecil.


"Baiklah aku setuju dengan rencana mu, tapi untuk apa aku harus memberikan 3 buah jimat mental padamu?"


Adrine merasa curiga kembali dengan rencana Shin kecil yang sedang ingin membodohi-nya lagi, namun ekspresi wajah Shin kecil nampak sangat serius.


"Berjaga-jaga jika terjadi kebocoran pada pelindung sihir yang aku bentuk, maka aku bisa membuat lapisan kedua dan ketiga. Ini hanya untuk persiapan."


Adrine tersenyum tipis dan Shin kecil masih terus terlihat serius kali ini.


"Baiklah, aku setuju. Bisa di bilang, tumben sekali kau pintar."


Shin kecil hanya tersenyum tipus ketika dikatai oleh Adrine, ia sama sekali tidak marah dan tahu kalau Adrine sedang bercanda.


Kembali dengan Adrine yang sedang menjalankan rencananya tadi, apa yang di katakan oleh Shin kecil memang benar, pelindung sihir buatan Shin kecil mulai retak dan akan bocor, padahal Etern baru saja melakukan penerobosan. Adrine terus meningkatkan energi mentalnya agar pelindungnya semakin menguat. Shin kecil masih sedang membentuk pelindung sihir lapisan kedua.


"Adrine, sekarang juga, hentikan peningkatan energinya!"


Adrine mengangguk paham dengan perintah dari Shin kecil dan ia langsung menghentikan percepatan-nya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Shin kecil juga sudah selesai membentuk pelindung sihir lapisan kedua dan sedang disalurkan melalui energi mental Adrine.


Pelindung sihir kedua pun telah terbentuk dan pelindung sihir yang pertama menjadi sedikit lebih kuat, kini Shin kecil sedang mempersiapkan pelindung sihir lapisan ketiga untuk berjaga-jaga jika pelindung sihir lapisan kedua retak.


Setelah menunggu selama beberapa menit, pelindung sihir yang pertama telah bocor dan akan hancur. Shin kecil telah bersiap untuk menyalurkan pelindung sihir lapisan ketiga di saat pelindung sihir lapisan pertama telah hancur sepenuhnya atau lapisan keduanya telah retak.


Tidak lebih dari 1 menit, pelindung sihir lapisan kedua telah mulai retak dan Shin kecil sudah mulai menyalurkan pelindung sihir lapisan ketiganya dan sekarang pelindung sihir lapisan ketiga telah terpasang. Pelindung sihir lapisan pertama dan kedua telah sedikit di perbaiki dan di perkuat melalui pelindung sihir lapisan ketiga dan energi mental yang terus disalurkan kepada Etern.


Adrine sudah pasrah kepada Etern dan semuanya tergantung pada Etern sekarang ini.


"Baiklah Etern, sekarang ini kita semua bergantung padamu, kita tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika nantinya kau memancing detektornya."


Bersambung!!