
Di dalam sebuah labirin yang sebelumnya pernah disinggung oleh Shin kecil, Adrine melawan seekor hewan spirit yang begitu besar, Beruang Batu Goa, hewan spirit tingkat Langit peringkat 4.
Tapi Adrine merasa dirinya bukan sekedar melawan hewan spirit tingkat Langit peringkat 4 biasa, itu karena beruang tersebut memiliki kemampuan sihir.
Hewan spirit yang memiliki kemampuan sihir atau dapat melakukan teknik dan mengeluarkan sihir, disebut "Hewan Ajaib."
Pertarungan memang tak terelakkan lagi, aku telah bertarung tanpa menggunakan prajuritku. Benar-benar murni menggunakan kemampuan bertarungku. Sesekali Liona ikut membantuku dari belakang dengan kemampuannya mengendalikan belati terbang.
Teknik sihir yang dimiliki oleh Beruang Batu Goa tersebut cukuplah unik. Ia dapat mengeluarkan angin yang mengitari kedua lengannya dan memperkuat pukulannya. Angin tersebut juga dapat dihempaskan untuk dijadikan serangan jarak jauhnya.
Adrine cukup kerepotan melawan yang satu itu, akan tetapi dengan bantuan Liona semuanya akan baik-baik saja.
SLAAASH!!
Adrine menebas beruang tersebut secara vertikal dengan menggunakan Pedang Semesta Laut Dalam. "Sekarang Liona!" seruku.
CRAAASHT!!
CRAAASHT!!
Dua bilah pisau belati menancap di tubuh beruang di depan Adrine, dan ...
SLAAASH!!
Adrine menebas kembali Beruang Batu Goa tersebut dan serangan barusan dilakukan olehnya dengan melompat yang kemudian membelah tubuh sosok beruang tersebut menjadi dua bagian.
Pisau yang sebelumnya menancap di makhluk tersebut kini telah terbang kembali pada pemiliknya. Adrine mengambil jiwanya dan menjadikannya prajurit bayangan. Bukan untuk dijadikan pasukan bertarung, melainkan untuk simpanan dan dijadikan jiwa untuk mengevolusikan Blood Demon.
***
Lima belas menit kemudian, Adrine selesai menyerap jiwa Beruang Batu Goa.
Setelah menyimpannya Adrine masih berdiri di tempatnya seperti sedang melamunkan sesuatu.
"Ada apa, Adrine?" tanya Liona yang datang ke samping lelaki tersebut.
"Pelindung sihirnya, aku harus mencari di mana inti formasinya dan menghancurkannya, supaya dapat melenyapkan pelindung sialan ini," ujar Adrine.
"Eh?"
Tiba-tiba Adrine menyadari sesuatu. Kemudian ia mengeluarkan pedang dan menyentuhkannya ke penjara petirnya.
Secara mengejutkan, pedangnya tidak terkena pengaruh apapun terhadap petirnya. Adrine segera mengujinya dengan tangannya sendiri dan hasilnya pun sama, 'Hmm ... Sepertinya ada yang tak beres,' batinnya.
Adrine pun masuk dan Lion agak bingung melihatnya, "Bagaimana caramu masuk?" tanya wanita itu.
Adrine menjawab, "Petir ini rupanya hanyalah ilusi bagi yang bisa melihatnya, tapi jangan terlalu meremehkan jebakan di awal, kita tak tahu apa yang ada di depan kita selanjutnya."
Liona pun mengikuti Adrine dan berjalan bersamanya.
Lalu Adrine menjulurkan tangannya dan akan mengambil petinya.
BREZZHT!!
"AAAAKHH!!!"
Tiba-tiba saja petir yang sebelumnya dikira sebagai ilusi, ternyata benar-benar petir yang menyerang. Secara tak sadar, Adrine telah menyentuh formasi sihir yang sebenarnya sehingga menyebabkan petir yang dilihatnya sebelumnya benar-benar menyambarnya dan juga Liona.
Hanya berselang selama tiga detik saja, petirnya telah kembali normal dan kedua insan di dalamnya pun juga normal kembali.
Adrine menyadari bahwa ada sesuatu yang membatasi peti tersebut, "Ada bola-bola tak terlihat yang melindungi peti itu. Itu adalah formasi sihir, sihir itu mengendalikan petir yang barusan," kata Adrine.
Adrine pun menyarankan untuk Liona keluar dari wilayah petirnya. Liona mematuhinya dan segera pria yang menyuruhnya pergi itu melakukan semacam perapalan mantra.
"Eh? Ini ... "
***
Beberapa saat kemudian, Adrine dapat mengambil petinya dan mengambil isinya sembari keluar dari labirin tersebut.
"Bagaimana caramu mengambilnya?" tanya Liona.
Lalu Adrine menjawab, "Kau tak akan paham bila kujelaskan langsung atau bahkan satu persatu, hanya mereka yang ahli jimat saja yang paham bahkan hanya dengan sekali lihat dari apa yang kulakukan tadi."
Sebenarnya, Adrine hanya melapisi tangannya dengan lembut energi mental dan menggunakan satu buah jimat mental untuk menenangkan formasinya. Walaupun ia dapat menyentuh formasinya dan tak diserang oleh petir yang sebelumnya, namun tetap saja Adrine masih belum bisa mengambil apa yang menjadi tujuannya.
Setelah beberapa percobaan, akhirnya Adrine dapat mengkondisikan formasinya. Seluruh petir yang menjadi pengurung sekaligus yang menyerang tadi berkumpul pada bola formasinya.
Adrine pun menyadari bahwa formasi sekaligus petir tadi adalah bagian dari apa yang mereka lindungi, bahkan keduanya itu sebenarnya adalah isi dari apa yang Adrine inginkan.
Setelah itu, Adrine menanamkan jimat mentalnya pada formasi yang masih melapisi peti di depannya itu. Dan ketika itu pula, jimat mentalnya melebur dan menyatu dengan lapisan petirnya. Adrine pun dapat mengendalikan formasinya dan kemudian ia mengembalikan formasi tersebut ke tempat di mana ia berasal.
***
Adrine dan Liona akhirnya keluar dari Kastil Iblis dan segera pergi ke gerbang. Mereka bergegas agar tidak ketinggalan karena waktunya benar-benar sudah mepet.
Adrine telah mengambil isi dari apa yang ada di dalam petinya dan dia mendapat sebuah kitab teknik, Kubus Petir Gelap. Selain itu, dia juga mengetahui asal-usul teknik tersebut dan alasan mengapa terdapat formasi sihir yang melindunginya.
Adrine dan Liona melihat sekumpulan orang yang di mana mereka adalah para pewaris.
Mereka berdua pun menghampirinya dan ternyata mereka semua tengah mendiskusikan tentang cara kabur dengan cepat. Kata Loki, semuanya sudah dipersiapkan hingga matang dan tinggal melakukanya saja.
***
Adrine dan teman-temannya keluar dari Monumen Iblis 6 Tahun.
Keluarnya mereka dari sana langsung disambut oleh para pemburu di depan gerbang monumen, bahkan termasuk Master Heyto. Tak ada dari mereka yang belum mencapai tingkatan Permata, lawan yang sungguh berat untuk Adrine dan yang lainnya.
Orang-orang yang ada di sana sama sekali tidak memperdulikan apa yang tengah terjadi di antara Adrine, teman-temannya, dan pada pemburu. Mereka semua hanya terpaku pada harta temuan yang mereka temukan dari dalam Monumen Iblis 6 Tahun yang baru saja mereka masuki.
Ini memang masalah antara para pewaris dan pemburu, urusan ini bukanlah suatu hal yang diketahui oleh orang-orang biasa.
"Kalian tak usah buru-buru, apa kalian tak ingin ke tempat kami dulu," ajak Tetua An dengan ekspresi yang mengerikan.
Namun Adrine juga sama sekali tidak peduli akan hal itu. Menurutnya, apa yang terjadi pada Master Heyto itu normal karena dirinya memang berada di pihak lawan. "Kalian pergi dulu, masalah ini biar kuselesaikan sendiri," ujarnya dengan santai.
"APA YANG BARU SAJA KAI KATAKAN?!" bentak Shiny.
Akan tetapi Adrine mengisyaratkan dengan melirik mereka agar segera pergi dari tempat tersebut, "Cepatlah! Atau kalian akan mati di sini," katanya lagi.
GLEK!!
Shiny menelan ludah dan ia dengan yang lainnya pun segera menggunakan sihir teleportasi. Liona sendiri berjalan biasa menjauh dari tempat tersebut berlagak seperti tidak mengenali Adrine dan teman-temannya. Itu karena wanita tersebut disuruh oleh Adrine sebelum mereka keluar dari monumen.
"Ah ... Sial, aku lupa memasang formasi anti-teleport," kesah Tetua An.
"Bukankan ada satu di sini? Mungkin dia tak kebagian kuota sihirnya?" ujar salah seorang pemburu. "Hahahahaha," tawa mereka semua.
Adrine terlihat tetap tenang, sama sekali tidak memperlihatkan kecemasan ataupun kepanikan. Justru tatapannya begitu dingin, ekspresinya benar-benar datar dan cukup sulit ditebak bahkan para pemburu pun sedikit bingung dengannya.
Tetua An yang bingung pun bertanya pada Master Heyto, "Oi, Heyto, ini beneran muridmu? Apa dia benar-benar seperti ini dari dulu?" Kemudian Master Heyto menjawab, "Dia memang seperti ini, tak kenal takut dan wajahnya memang seperti tak bisa berekspresi semenjak kalah dari seseorang dari rasi bintang."
Perubahan Master Heyto benar-benar tak terduga dan begitu drastis.
"Dan lagi, walaupun kultivator di tingkat Keabadian bukanlah lawannya, kita ini adalah kultivator tingkat Permata, apa yang perlu ditakutkan?" Tambahnya.
"Jadi begitu? Oke lah," ujar Tetua An sembari menghempaskan kepalan tangannya ke arah kepala Adrine.
BAGH!!
"Bocah ini ... "
Semua pemburu terkejut melihat bagaimana Adrine menahan serangan dari Tetua An dengan kedua tangan. Selain itu, tangan Adrine dipenuhi dengan tenaga kegelapan dan petir yang begitu kuat.
'Benar juga,' Master Heyto teringat akan kemampuan yang dimiliki oleh Adrine, "Woi, bocah itu punya kemampuan memanggil roh hewan spirit, dia juga bisa menggunakan kekuatan rohnya untuk memperkuat tubuhnya," jelas Master Heyto. 'Tapi yang aneh, kekuatannya seharusnya tetap tak bisa menahan pukulan seseorang di tingkat Permata," batinnya lagi.
"Begitukah?" tanya Tetua An.
Master Heyto mengangguk.
Lalu lelaki yang kepalan tangannya ditahan oleh Adrine langsung menengok ke arah bocah di depannya. Dan tak disangka bocah di depannya itu, tangannya sudah melayang di depan wajah Tetua An.
BUAAGH!!
BLAAAARR!!
Hanya dengan sekali pukul dan tepat sasaran saja, semuanya menjadi berantakan. Bahkan bangunan yang jaraknya sekitar lima belasan meter dari arah serang pun ikut terkena dampaknya.
"Haha, menarik," tawa orang yang baru saja dipukul oleh Adrine.
Lelaki tersebut hanya sedikit terpukul mundur karena lengah saja. Tak disangka pukulan Adrine menjadi sedestruktif itu.
Lalu Tetua An mengepakkan pergelangan tangannya untuk menghilangkan asap di depan wajahnya. "Rupanya kau itu kuat ya? Benar-benar buruan besar!" Serunya dengan senyuman yang begitu mengerikan dan dipenuhi oleh niat membunuh yang begitu kuat.
Tatapan mata Tetua An menjadi begitu ganas layaknya harimau yang baru saja diusik dari tempat ia bernaung.
Namun dengan tegas dan ekspresi santai, Adrine berkata, "sudah lebih dari semenit, seharusnya cukup untuk membuat mereka menjauh dari sini lebih cepat."
Salah seorang pemburu menyadari perkataan itu, "Hoi, bocah ini pasti sedang mengulur waktu."
"Tenang saja, bukankah bocah ini justru yang buruan utama ... " ucapan Tetua An terhenti melihat Adrine melarikan diri dengan menggunakan darah yang diberikan oleh Loki. Adrine tersenyum licik dan melambaikan tangan kanannya, gestur dan mimiknya benar-benar menghina Tetua An dan pemburu lainnya.
"BERHENTI KAU SEKARANG JUGA!" bentak Tetua An, tetapi bentakannya barusan terlambat, Adrine telah kabur menggunakan formasi sihir teleportasi.
Para pemburu yang ada di sana marah dengan kaburnya Adrine. Mereka menyalahkan Tetua An yang seharusnya memang sedari awal mengincar Adrine. Tapi pria tersebut berdalih bahwa semua itu bukan salahnya, melainkan salah semua orang.
"Kalian yang lengah! Bagaimana bisa tak ada yang memasang formasi anti-teleport?!" tegas Tetua An. Kemudian dia menoleh ke arah Master Heyto, "Heyto, sekarang kau lacak bocah itu dengan teknik yang kau miliki! Aku yakin mereka pasti belum jauh dari sini!" suruhnya.
Lalu Master Heyto pun menapakkan kedua tangannya di atas tanah sembari memejamkan matanya. Energinya menyebar ke semua tempat dan seolah ia bisa merasakan dan melihat segalanya di dalam areanya.
"Dia tidak kembali ke perguruan, dia sepertinya akan pergi ke Benua Es," ujar Master Heyto.
Benua Es tepat di sebelah utara kota Toturao. Selain itu, kota Toturao juga menjadi perbatasan antara Benua Langit dan Benua Es. Kota Toturao sendiri berada di sebelah utara Megalopolis Zeronia, yang berarti semakin menuju ke arah utara maka akan mendekati perbatasan antar benua.
"Seberapa jauh?" Tanya Tetua An dengan nada marah.
"Sudah lebih dari sepuluh mil dari kota ini."
Kota Toturao sendiri memiliki luas 140 mil. Sementara Adrine sudah sejauh sepuluh mil dari kota tersebut dengan arah yang berlawanan dengan lokasi monumen, para pemburu jelas akan sangat kesulitan.
Sebenarnya Master Heyto tak bisa menebak sejauh mana Adrine telah pergi. Jangkauan yang dapat dideteksi olehnya hanya mencapai sepuluh mil dari kota Toturao dengan beberapa alatnya. Jadi ia menyimpulkan bahwa Adrine sudah pergi sejauh lebih dari sepuluh mil dari kota tersebut.
"SIAAAAL!!!" Teriak Tetua An.
Sementara itu, Adrine bergerak terus menjauh dari kota Toturao. Sebelumnya ia memang sudah mendiskusikannya dengan Loki. Pria tersebut menyadari alat pendeteksi milik Master Heyto dan dia sebenarnya juga telah mempersiapkan formasi teleportasi.
Formasi itu terletak tepat sepuluh mil di sebelah utara kota Toturao. Dan juga alat yang dimiliki oleh Master Heyto telah merekam pergerakan mereka yang telah pergi menjauh dari tempat itu.
"Hampir saja," ucap Adrine.
Sekarang ini tujuan Adrine adalah menunggu Liona di lokasi yang telah mereka tentukan bersama dengan Loki dan yang lainnya.
Tepatnya, lokasi yang dibicarakan itu berada di perbatasan benua. Jaraknya sekitar 30 mil dari kota Toturao dan Liona telah diberi alat transportasi canggih dari Loki agat cepat sampai.
Liona juga telah mengganti identitasnya karena mudah baginya merubah identitas umum, bukan identitas di jendela profilnya. Dia juga mengaktifkan fitur privasi profil agar tak seenaknya dilihat dan diretas orang lain.
Hujan gerimis pun turun, udara juga semakin dingin.
Adrine tetap terus melaju agar segera sampai ke tujuannya. Lagipula sesampainya nanti Liona di tempat yang disepakati, mereka akan segera berangkat ke Benua Es.
Adrine pun menoleh ke langit, "Huh, aku akan merindukan kalian, Geng Deon," gumamnya.
Bersambung!!