Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (12)


Tempat yang sangat panas seperti bagaimana halnya situasi disana, orang-orang berkumpul membicarakan seseorang dengan sangat serius.


Adrine, ia lah yang sedang membicarakan serta mempertanyakan tentang keberadaan Etern sekarang ini, ia sangat khawatir karena hanya Etern lah satu-satunya yang belum ditemukan. Namun ternyata Yama dan Pino mengatakan bahwa mereka berdua sempat melihatnya, dan hal itu membuat Adrine senang.


"Kapan kalian melihatnya? Dimana dia?"


"Etern sempat berlari kearah barat sebelum kita tadi diserang oleh Guild Tangan Raja."


Pino menjelaskannya sambil menunjuk kearah yang dimaksudnya, namun Adrine sedikit bingung akan 1 hal.


"Bagaimana kalian bisa menentukan arah mata angin disini?"


Yama dan Pino sedikit kaget mendengarnya, namun mereka juga sadar akan suatu hal.


"Arah mata angin disini memang tidak ada, namun kami menentukannya sendiri. Maaf karena kami memberitahumu hal yang belum kamu ketahui."


"Tidak apa-apa."


Adrine mengangguk mengerti, dan sekarang ia sedang menatap kearah yang dimana tadi ditunjukkan oleh Pino. Yama masih terus menatap kearah Adrine dengan cukup serius, namun diwajahnya seperti masih terdapat pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Adrine.


"Em... Apakah kami boleh mengikutimu Adrine?"


Lalu Adrine menoleh terkejut mendengar hal tersebut, namun dengan sekejap Adrine langsung kembali tenang.


"Baiklah, untuk sekarang ikuti aku! Kita akan ketempat dimana tadi Etern pergi."


ZRAAAST!!


Dengan sangat cepat Adrine langsung pergi meninggalkan gerombolan orang disana, tanpa aba-aba dari Adrine pun David dan Arpha juga langsung pergi mengikuti Adrine beserta dengan kedua pengikut lainnya. Seketika Yama langsung berinisiatif untuk juga mengikuti Adrine dan segera bergegas.


"Jika kalian masih ingin mengikutiku, ikutilah Adrine karena aku juga mengikutinya."


Dengan segera Yama langsung bergegas pergi diikuti Pino, Vania, Shani, dan Risky, serta diikuti juga dengan semua orang yang ada disana.


ZRAAAST!! ZRAAAST!! ZRAAAST!!


Gemertak kaki membuat tanah yang ada disana menjadi bergetar, namun kecepatan mereka juga tak diragukan lagi, mereka sangat cepat sehingga getaran dari tanahnya hanya berlangsung dalam sekejap. Dipimpin oleh seseorang yang sangat kuat, berhasil membuat semua orang takjub akan aksinya, itulah Adrine.


Pemilik kultivasi tertinggi diantara seluruh murid Perguruan Bayangan Langit, Adrine, yakni pencapaian tahap Keberlanjutan level-1 kelas akhir. Mendengar temannya Etern yang telah teridentifikasi dimana letaknya kini ia sedang mencari temannya itu. Namun Adrine masih berusaha agar lokasinya benar-benar terkoordinasi dan tidak berubah tempat, apalagi sampai Etern harus menggunakan point respawn atau yang berarti mati, hal itu yang paling ditakutkan oleh Adrine.


'Etern, kau harus ada disana! Kau tak boleh pergi dan harus ada disana ketika aku tiba, harus!!' Pikir Adrine.


ZRAAAST!!


Adrine meningkatkan kecepatannya dan meninggalkan semua orang yang ada dibelakangnya termasuk David dan Arpha, mereka berusaha untuk menyusul Adrine dengan kecepatan maksimum mereka.


Sementara Yama juga ingin bergerak lebih cepat lagi sehingga bisa menyusul Adrine, namun banyak orang yang ada dibelakang yang juga menurutnya masih mengikuti dirinya, bukan Adrine.


"Vania, kau yang tercepat disini, Pino kau yang tau dimana letak dan arahnya, kalian berdua, pimpin mereka semua! Alu akan pergi lebih dulu."


"Baik!"


Vania dan Pino langsung menjawab serentak dan Yama sudah mempercayakan pengikutnya kepada mereka berdua, ia pun merasa lega dan langsung bergerak cepat untuk menyusul Adrine.


ZRAAAST!!


Yama pun bergerak sangat cepat sekali untuk bisa menyusul Adrine, bahkan ia mendahului David dan Arpha, kecepatannya sangat cepat, bahkan Adrine sendiri juga mengakui kecepatan gerak dari Yama, itu karena kultivasinya yang memang tinggi dan selain kekuatannya, kecepatannya juga ia kultivasikan sehingga gerakannya bisa sangat cepat.


Sementara itu, Adrine masih terus mempercepat kecepatannya, ia tak ingin melewatkan apapun dan tak ingin terlambat sedikitpun. Etern sangatlah berharga baginya, sahabatnya yang sangat berharga, menurut Adrine, tak ada seorangpun seperti Etern bahkan David dan Arpha, dan sekarang keberadaannya belum diketahui secara pasti, namun telah berhasil terkoordinasi walaupun tak menentu. Dan itulah alasannya mengapa Adrine harus bergerak cepat sebelum Etern merubah arah geraknya atau terjadi sesuatu terhadapnya.


'Eh?' Pikir Adrine.


SRAAAATSS!!


Adrine langsung menghentikan langkah kakinya hingga menyeret tanah, ia melihat sesuatu yang membuatnya harus berhenti seperti. Sangat mengejutkan, dan disana juga terdapat...


"Etern."


Yap, Etern berada disana. Dan disana Adrine juga melihat orang lain, bukan hanya satu, namun cukup banyak dan mereka terlihat seperti sedang mengepung Etern. Namun orang-orang yang mengepung Etern sangatlah familiar dimata Adrine.


"Bukankah mereka adalah... murid yang berasal dari rasi bintang..."


Dan disana juga terdapat Alvian dan Ray, mereka disana berkelompok dan mengepung Eter.


'Kelihatannya mereka sedang berebut point dan Etern sebagai point perebutannya. Aku harus membantu Etern sekarang juga.' Pikir Adrine.


"Dead Silent!!"


ZRIIING!!


Adrine langsung menghilang dari tempatnya dan memberikan sebuah tanda disana, tandanya adalah sebuah aura bayangan hitam yabg bertuliskan sebuah huruf A dan D, yang dimana adalah huruf yang menyebutkan namanya.


10 detik setelahnya, Yama telah sampai disana, disusul oleh David dan Arpha. Mereka bertiga berhenti karena menyadari akan tanda tersebut dan David menyadari akan susunan hurufnya. Kedua pengikut mereka tertinggal dan mereka bersama dengan Geng Lima Jenius.


"Sepertinya ini adalah tanda yang dibuat oleh Adrine, berdasarkan dari hurufnya, simbol ini berasal dari namanya, A dan D, yang bermaksudkan Adrine."


Setelah mendengar penjelasan dari David, Yama dan Arpha langsung mengerti dengan simbol yang ada didepan mereka, hanya saja mereka belum terlalu pasti akan kesimpulan dari David.


"Oh ya, jika memang ini benar buatan dari Adrine, maka dia bermaksudkan untuk menyuruh kita menunggu disini."


David menjelaskan lebih lanjut dan ketika itu juga Yama langsung memeriksa sekeliling.


SET!!


"Kalian berdua, lihat itu!"


Lalu Yama menunjuk sesuatu, David dan Arpha langsung menoleh dan melihat apa yang ditunjuk oleh Yama.


"Eh? Bukankah itu Etern?"


Arpha menyadari akan adanya Etern disana, selain itu David juga melihat yang lainnya.


"Ya, dan yang ada disekelilingnya itu..."


"Sekumpulan orang dari rasi bintang."


Yama menambahi kalimat David yang belum terselesaikan, dan David juga langsung menatap Yama dan mengangguk.


"Sepertinya Adrine sedang mempersiapkan sesuatu untuk menolong Etern disana, kita bisa melihat Adrine tak ada disana."


Yama mengangguk paham akan yang dikatakan oleh David, ia merasa kalau Adrine memang sengaja pergi dari sana untuk memberikan kejutan.


Yama menambahi.


"Menurutku Adrine bukan ingin melakukan serangan secara brutal seperti tadi."


Tiba-tiba saja Arpha membuka suaranya dan ikut menambahkan pendapatnya. David dan Yama terkejut akan perkataanya yang muncul secara tiba-tiba.


Arpha terdengar dari tadi tidak bersuara sama sekali dan hanya menyimak percakapan antara Yama dengan David, namun sebenarnya ia ikut berpikir akan pembicaraan kedua orang didepannya itu.


Yama sedikit bingung akan pemikiran Arpha, menurutnya hal itu sedikit diluar perkiraannya dan David.


"Apa maksudmu?"


"Seperti ini, jika Adrine benar-benar melakukan serangan sebrutal tadi, maka kita seharusnya bisa melihatnya disana, dan kenapa dia tak ada disana?"


David merasa kalau pendapat Arpha ini cukup masuk akal, hal itu benar kalau memang disana tak ada yang bisa melihat Adrine dimanapun.


"Ya, kau benar, Adrine memang tak ada disana."


Walaupun terdengar masuk akal ditelinga David, namun berbeda halnya ketika terdengar ditelinga Yama. Ia masih berusaha mengevaluasi lagi pemikiran yang disampaikan oleh Arpha, bahkan kepalanya dibuat berputar akan pendapat Arpha.


"Ya, memang kita tak melihat Adrine dimanapun, tapi aku kurang paham akan pemikiranmu, tolong jelaskan lagi!"


"Haiih..."


Arpha menghela nafas mendengar Yama yang tak paham akan pemikirannya.


"Kukira kau ini pintar, dengarkan ulang penjelasan sederhanaku!"


Yama terlihat tak peduli akan apa yang barusan dikatakan Arpha tentangnya, ia hanya ingin mendengar saja pendapat yang dimaksud oleh Arpha.


"Seperti ini, Adrine akan melakukan hal yang sama seperti tadi, namun jika dia langsung turun tangan seperti tadi dan hal yang seperti tadi pun akan terjadi. Tapi menurutku, sekarang Adrine sedang berputar mengelilingi mereka dan menyerang dari arah yang berlawanan dari kita datang. Sepertinya, kejutan yang akan diberikan Adrine adalah Diam Mematikan!"


Ketika mendengar penjelasan lengkap dari Arpha, David semakin mengerti dan menangkap semua maksud dari Arpha.


"Dan disaat itu pula, Adrine akan menunjukkan kejutan yang sebenarnya dihadapan mereka semua!"


David menambahi perkataan Arpha agar semakin lengkap dari penjelasannya, karena ia lah yang lebih mengerti ketimbang Yama dan juga Yama sudah paham akan maksud dari pendapat Arpha sebelumnya.


"Sekarang aku paham akan maksudmu, berarti Adrine akan menyerang secara diam-diam dan mengejutkan mereka dengan cara lain, benar bukan?"


"Ya, begitulah."


Arpha menjawab sambil menunjukkan senyumannya, namun senyuman tersebut penuh dengan kepercayaan diri dan keyakinan.


Sementara itu, orang-orang dari rasi bintang masih memperdebatkan siapa yang akan mendapatkan pointnya. Alvian sendiri juga menginginkan point dari mengalahkan Etern. Murid-murid rasi bintang disana juga ada yang berasal dari murid utara, tak ada dari mereka yang bermusuhan, hanya saja mereka saling berdebat antar siapa yang mendapatkan point. Terdapat 18 orang disana, yang berarti memang lengkap semua murid rasi bintang berada disana, karena memang jumlah murid dari rasi bintang berjumlahkan 18 orang.


"Aku yang seharusnya memiliki point darinya, aku memiliki dendam dengannya dan salah satu temannya sebelumnya."


Bermodalkan dendamnya dengan Adrine, Alvian memanfaatkannya untuk mendapatkan point dari Etern, namun banyak yang tak setuju karena Alvian memiliki point terbanyak diantara mereka semua, yakni 30 point, sementara yang lainnya rata-rata baru mendapatkan 25 sampai 28 point. Pencapaian kultivasi Alvian sekarang adalah tahap Kematian level-3 kelas awal.


"Tidak akan kubiarkan kau mendapatkan point darinya, karena aku juga sedang membutuhkan point, pointku saja 26 dan kau sudah memiliki 30 point, apa kau ingin memonopoli semuanya?"


Orang yang berbicara barusan adalah Pebi, suaranya keras dan terdengar cukup berat, mirip seperti suara orang dewasa. Pebi berasal dari rasi bintang Scutum yang berarti Perisai. Memang benar kalau Pebi itu baru mendapatkan point sebanyak 26 point, namun sebelumnya Pebi lah yang terus mendapatkan point secara beruntun dan paling cepat, namun Alvian terus mengejar point jauh lebih cepat daripada Pebi.


Untuk kultivasi Pebi sekarang, ia telah mencapai pencapaian yang sama dengan Alvian, yaitu tahap Kematian level-3 kelas awal.


"Hei kalian, apa kalian tidak memikirkanku? Setidaknya kalian berdua juga berpikir, disini pointku yang belum mencapai standar kelulusan, pointku sekarang masih 24."


Dan yang satu ini adalah adalah seorang perempuan yang kecil, ia bernama Lala, tingginya hampir sama seperti Etern karena memang Etern itu pendek, tingginya hanya 165 cm. Lala berasal dari rasi bintang Pisces yang berarti Ikan. Memang benar ia hanya baru mendapatkan 24 point karena kalah persaingan.


Lala juga belum mencapai tahap Kematian level-3, kultivasinya hanya baru mencapai pencapaian tahap Kematian level-2 kelas puncak, dan bisa dibilang masih dibawah Alvian dan Pebi.


Terlihat ada beberapa orang yang tak peduli akan perebutan pointnya, salah satunya adalah Nicho yang merasa sama sekali tidak mempedulikan perebutannya sama sekali. Itu karena Nicho tahu apa siapa targetnya dan itu adalah Etern, kenalannya sekaligus teman dari temannya yang sangat disenanginya, yaitu adalah Adrine.


Didalam hati Nicho, sebenarnya ia merasa bersalah karena tak mampu menyelamatkan Etern didalam kondisi seperti ini. Walaupun Nicho juga termasuk diantara yang terkuat disana, namun jumlah mereka juga cukup banyak dan kultivasinya juga tak main-main. Untuk pencapaian kultivasi Nicho, ia telah mencapai tahap Kematian level-3 kelas menengah, ada beberapa juga yabg telah mencapai tahap yang sama.


'Maaf Etern, aku tidak bisa menolong disaat-saat seperti ini dan juga Adrine, aku minta maaf kepadamu karena tidak mampu membantu Etern untuk saat ini.' Pikir Nicho.


Nicho sedikit menyesal karena tidak mampu membantu Etern, namun ia membuat ekspresi yang seolah sedang tidak mempedulikan perdebatan diantara mereka semua.


"Kau tak usah meminta maaf Nicho, aku akan datang sendiri kesana dan membantu Etern."


Tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup pelan namun terdengar oleh semua orang disana.


"Siapa kau?"


Alvian merasa terganggu dan ia langsung meneriakinya, yang lainnya langsung menatap kearah Nicho karena suara tadi menyebutkan namanya.


'Bukankah suara itu...' Pikir Nicho.


ZRAAAST!!


Terdengar gerakan yang dimana berasal dari arah belakang Alvian, yakni arah yang berlawanan dengan datangnya Adrine dan teman-temannya yang lain.


CRAAAST!!


Terdapat hujan darah yang datang secara tiba-tiba.


Sementara itu, Geng Lima Jenius beserta para pengikutnya langsung tiba ditempat Yama, Arpha dan David berdiri. Setibanya mereka, Vania langsung berjalan maju kedepan untuk menanyakan sesuatu kepada Yama.


"Apa yang kami lewatkan?"


Yama tidak menoleh sama sekali, namun ia tetap menjawab pertanyaan dari Vania.


"Tidak banyak, kalian hanya melewatkan 1 hal."


Orang-orang sedikit penasaran dengan apa yang mereka lewatkan, ada juga yang takut karena melewatkan hal yang dimaksud oleh Yama, karena menurut mereka adalah hal buruk jika dilewatkan.


Vania merasa penasaran akan apa yang barusan dilewatkannya beserta anggota pengikutnya yang lain.


"Apa yang kami lewatkan?"


Yama tersenyum disaat i gin menjelaskannya, hal tersebut semakin membuat orang bingung.


"Kalian melewatkan hal yang bagus, tangan dari seorang murid rasi bintang terputus akibat tebasan pedang milik Adrine."


Bersambung!!