Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Melihat Masa Depan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai sarapan ibunya Hiro mulai bertanya tentang kegiatan nya di sekolah, apakah Hiro senang, nyaman dan tenang.


Tentu saja Hiro menjawab semua pertanyaan ibunya dengan jujur apa adanya. Setelah itu Hiro pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah bersama ibunya, karena ayahnya masih belum pulang saja dari urusannya.


Anehnya Gilbert telah menunggu nya di gerbang sekolah dan saat melihat Hiro telah turun dari mobilnya, saat itulah ia menghampiri nya.


"Oh Hiro, kamu ternyata benar-benar dari keluarga Asgar" ucap Gilbert.


"Tentu saja, apa untungnya aku berbohong?" ucap Hiro.


"Oh nak! Bagus-bagus, hari pertama sekolah kamu sudah mendapatkan teman?" ucap ibunya saat melihat kedekatan Gilbert dengan Hiro.


"Ahh ibu.. hemmm mungkin benar ini teman ku, tapi kami juga baru kenal kemarin"


"Dia namanya Gilbert.. dan Gilbert ini adalah ibuku" ucap Hiro.


"H-halo nyonya A-asgar, perkenalkan nama saya Gilbert dari keluarga Albert Stone" ucapnya dengan terbata-bata.


"Ohhh kamu anaknya si pak tua itu... Mohon bantuannya yah, berteman baiklah dengan Hiro" ucap ibunya yang kemudian pamitan pergi.


Setelah mobilnya tidak terlihat lagi, barulah Gilbert dapat menghela nafas lega.


"Kau kenapa?" tanya Hiro dengan heran.


"Kamu masih bertanya aku kenapa? Hahhh, kamu ini sungguh di luar nalar.. keluarga mu dan keluarga ku berbeda jauh kastanya, bagaikan murid di sekolahan ini dan kepala sekolahnya kamu mengerti kan?" ucap Gilbert.


"Hemmm tidak juga, yasudah ayo cepat masuk nanti kita terlambat masuk kelas" ucap Hiro yang berjalan dahulu meninggalkan Gilbert.


***


Di dalam kelas, saat ini Hiro tengah belajar sejarah yang di terangkan oleh seorang guru pria tua.


Metode pembelajaran dan materi nya benar-benar membuat seisi kelas mengantuk. Mereka ingin tertidur namun takut ketahuan oleh gurunya.


1 jam berlalu akhirnya kelas membosankan itu berakhir dan Hiro meregangkan tubuhnya karena pegal menahan posisi duduknya untuk meningkatkan kesadarannya supaya tidak tertidur.


"Hiro, setelah ini ada pembelajaran olahraga, kamu pasti tidak punya bajunya kan? Maka dari itu aku membawanya dari rumah, namun aku tidak tahu baju itu masih muat atau tidak untukmu" ucap Gilbert.


Jenny dan Qurti pun menghampiri Hiro, mereka seolah-olah telah berteman lama dengan Hiro.


"Apa kamu tahu sekarang olahraga apa yang akan kita lakukan?" tanya Qurti.


"Hemm kalau kelas sebelah yang kemarin berolahraga, katanya mereka melakukan tanding bola basket, voli dan sepak bola... Satu kelas di bagi menjadi 2 tim" ucap Gilbert.


"Apakah tim nya campuran?" tanya Jenny.


"Tidak mungkin, karena kalau campuran maka akan terlalu sulit untuk memenangkan pertandingannya... Katanya siapa saja yang memenangkan salah satu pertandingan akan di berikan hadiah 100 poin anggota tim" ucap Gilbert.


"Wahh!! Benarkah?!" ucap kedua wanita itu.


"Begitulah dari yang ku dengar.." jawab Gilbert.


"Apakah satu orang bisa mengikuti 3 pertandingan tersebut?" tanya Jenny.


"Bisa saja, asalkan dia masih sanggup menyelesaikannya karena kalau di tengah-tengah pertandingan kita tumbang.. maka tim tersebut akan di diskualifikasi" ucap Gilbert.


"Ahh kalau begitu tidak mungkin kita dapat mendapatkan 300 poin" ucap Qurti.


"Hahhh benar, mendapatkan 100 poin saja sudah cukup.." ucap Gilbert.


"Apakah pertandingan itu di lakukan dengan kelas lain? Atau lawannya dari teman sekelas kita sendiri?" tanya Hiro yang sedari tadi diam mendengarkan mereka.


"Hemmm apakah ada jadwal yang sama dengan kita olahraga nya? Kalau ada yang sama, kemungkinan kita akan melawan kelas tersebut" ucap Gilbert.


"Hooo.. kamu tahu banyak rupanya tentang informasi seperti ini Gilbert" ucap Hiro.


"Haishh kamu ini tidak tahu sih Hiro, dia ini si Gilbert ini terkenal sebagai tukang gosip! Padahal cowok kan? Jadi informasi apapun pasti dia dapatkan selagi berada di dalam jangkauannya" ucap Jenny.


"Cihh! Apa katamu? Tukang gosip?"


Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak hingga tidak sadar bahwa seluruh siswa selain mereka telah keluar dari kelas untuk mengganti pakaiannya.


"Ahh mereka sudah keluar, kalau begitu kita juga harus segera ganti baju sebelum terlambat!" ucap Qurti.


Mereka pun langsung bergegas menyusul yang lainnya hingga setelah selesai semua orang berkumpul di lapangan yang cukup luas. Disana ada satu lapangan khusus untuk sepak bola, voli dan basket.


Tidak lama kemudian seorang guru laki-laki yang terlihat masih muda datang dengan perlengkapan olahraga.


Benar apa kata Gilbert ternyata hari ini di olahraga nya yaitu melakukan pertandingan sepak bola, voli dan basket dengan kelas lain.


Setelah itu pun guru tersebut memberikan instruksi agar seluruh siswa laki-laki dan perempuan memisahkan diri dan membuat kelompok masing-masing 12 orang.


Berarti satu kelas berjumlah 4 kelompok, 2 kelompok laki-laki dan 2 kelompok perempuan untuk melakukan pertandingan sepak bola.


Hiro satu kelompok dengan Gilbert dan yang lainnya, badan mereka kecil semua berbeda dengan kelompok satunya yang cukup proporsional untuk sepak bola.


Namun Hiro tidak peduli karena yang ia inginkan hanyalah bersenang-senang dengan temen sekelasnya.


Kelompok Hiro melakukan pertandingan pertama dengan kelas lain yang terlihat sudah sangat menantikan nya juga. Mungkin mereka bersemangat untuk menang karena hadiahnya sangat menggiurkan.


Pertandingan tersebut Hiro menjadi kiper, alasannya karena tidak ada yang mau.


PRIIITTT...


Suara peluit dari guru olahraga yang berperan sebagai wasit pun terdengar, pertandingan sepak bola tim pertama pun di mulai.


Pertandingan sepak pertama bola berada di pihak lawan, 5 dari mereka dengan agresif langsung menyerang dengan sangat cepat.


Tim Hiro pun tidak diam, mereka melakukan perlawanan yang cukup sengit. Namun bola masih di pegang oleh lawan, cepat dan gesit begitulah pergerakan mereka yang membuat tim Hiro sedikit kesulitan.


Tapi anehnya Hiro dapat melihat pergerakan mereka yang begitu lambat, bahkan Hiro sendiri sudah tahu kemana mereka akan bergerak dan siapa saja yang akan bergerak. Mata nya seolah-olah dapat melihat masa depan, Hiro berulang kali menggosok matanya mencoba fokus namun semua itu sia-sia.


Semua yang ia lihat nyata adanya, bahkan 100% benar.


"Gilbert! Jaga pemain di sisi kiri, dan seseorang siapapun itu jaga pemain yang ada di tengah itu!" ucap Hiro berteriak cukup keras hingga mengagetkan teman-temannya.


Namun Gilbert lah yang pertama bereaksi mendengarkan apa yang di katakan oleh Hiro, disusul oleh salah satu temannya menuruti apa perkataan Hiro.


Dan benar saja, tiba-tiba pergerakan lawan menjadi kacau. Tidak ada celah bagi mereka untuk terus menerobos ke dinding pertahanan tim Hiro.


Mendapatkan kesempatan, rekan setim Hiro pun merebut bola dari lawan yang lengah karena mencari celah untuk menyerang.


"Langsung tendang jauh ke depan!!" lagi dan lagi Hiro berteriak memberi instruksi yang dengan refleks temannya tersebut menendang bola tersebut jauh ke depan.


Anehnya bola itu di sambut dengan sangat baik oleh rekan setimnya yang sedang di posisi bersiap menyerang.


SWOSHHH...


"GOAALLLL!!!"


Teriak goal dari siswa lainnya yang ada di luar lapangan. Bahkan suara peluit pun terdengar yang berarti goal tersebut sah.


"H-hiro?!"


"Bagaimana? bagaimana bisa kamu?" ucap Gilbert yang terkejut.


Bahkan seluruh rekan timnya pun terkejut tidak percaya, karena goal tersebut hasil dari instruksi yang di berikan oleh Hiro.


"Ah-haha mungkin karena aku di belakang kalian jadi tahu posisi yang bagus untuk menyerang dan bertahan" ucap Hiro yang canggung karena tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia dapat melihat semuanya.


'Melihat masa depan? Jangan omong kosong, tidak ada yang begituan di dunia ini' ucap Hiro dalam hatinya yang masih menolak kenyataan tersebut.


"Hahh sudahlah yang penting kamu hebat Hiro! Tim kita jadi mencetak skor terlebih dahulu" ucap Gilbert.


Rekan yang lainnya pun mengangguk senang, karena dengan begitu mendapatkan 100 poin sudah hampir di depan mata.


"Fyuhh~ untung saja Gilbert tidak terlalu memikirkannya" gumam Hiro.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...