Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Bab Yang Absurd


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hahaha lumayan juga karena mendapatkan nya secara gratis" ucap Hiro tersenyum senang.


{Bukan gratis tetapi anda mengambilnya sama seperti mencuri tuan}


"Tapi benda ini tadinya menyerang ku jadi anggap saja sebagai rampasan perang" ucap Hiro.


{Cihh anda sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin atau penguasa sama sekali}


"Memangnya aku peduli hah?! selagi gratis kenapa harus di tolak" ucap Hiro.


{Iyah iya, terserah anda saja tuan}


"Baguslah kau diam saja tidak perlu protes" ucap Hiro.


Saat sedang memainkan tombaknya tiba-tiba pintu kamarnya Hiro ada yang mengetuk.


"Tuan… Saya pelayan yang di perintahkan oleh Yang Mulia untuk memanggil anda"


Hiro pun langsung memasukkan tombaknya ke dalam inventori nya.


"Tunggu sebentar" ucap Hiro.


Setelah itu ia membuka pintu dan melihat seorang gadis pelayan.


"Pria tua mana yang memanggil ku?" ucap Hiro dengan tenang.


Pelayan tersebut malah bergetar ketakutan dan panik karena ucapan Hiro.


"A-aanu… Yang Mulia raja yang memanggil anda tuan, Yang Mulia raja meminta kehadiran anda di pertemuan rapat yang sebentar lagi akan di laksanakan tuan" ucap pelayan terbata-bata.


"Hemmm dasar benar-benar pria tua yang merepotkan" gumam Hiro.


"Ya, tuan?" ucap pelayan tersebut.


"Ahh tidak, sudah lah kamu boleh pergi terimakasih" ucap Hiro.


"Ahh-baik tuan… Saya pamit undur diri tuan" ucapnya memberi hormat dan pergi meninggalkan Hiro seorang diri.


Setelah kepergian pelayan itu, Hiro pun pergi menuju ke ruang singgasana istana tetapi saat telah sampai di sana Hiro tidak bertemu siapapun.


"Hemmm… Dimana tempat pertemuan nya?" ucap Hiro.


Setelah berkeliling istana tidak di temukan sama sekali keberadaan raja Pidana dan yang lainnya.


"Sialan! dimana sebenarnya tempat pertemuan itu? melelahkan sekali" ucap Hiro kesal.


Karena kesal Hiro pun memutuskan untuk tidak perlu menghadiri nya, ia pun pergi ke luar wilayah kerajaan Manipeda.


'Baiklah kita harus melakukan apa dan bagaimana untuk menghabiskan waktu ini?' pikir Hiro.


***


"Haishh dimana sih dia? panggilkan pelayan yang bertugas memanggil Hiro" ucap raja Pidana.


"Salam Yang Mulia" ucap gadis pelayan yang menemui Hiro sebelumnya.


"Apa kamu sudah memanggil Hiro? kenapa sampai saat ini belum datang juga?" tanya raja Pidana.


"…" pelayan itu terdiam panik dan khawatir, ia pun mencoba berbicara hati-hati agar tidak melakukan kesalahan.


"A-anu Yang Mulia, hamba bersumpah sudah memanggilnya tuan Hiro bahkan bertemu di depan kamarnya. Tuan Hiro pun berkata bahwa setuju akan datang, ia pun menyuruh saya pergi" ucap pelayan tersebut ketakutan.


"Hahhh… Dasar pembuat masalah, yasudah tidak masalah kalau kamu sudah menyampaikan nya kamu boleh pergi" ucap raja Pidana sambil menghela nafas panjang.


"Kita mulai saja langsung pertemuan nya, karena mau di tunggu sampai kapan pun dia tidak akan datang" ucap raja Pidana kepada orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


***


Di suatu tempat tidak di ketahui keberadaan nya.


"Tetapi saudari… Kalau kita bergerak bagaimana jika suatu ketika suami sayang kemari kita tidak ada?" ucap seorang perempuan lainnya.


"Benar apa yang saudari ke empat katakan, lebih baik untuk saat ini kita berdiam menunggu saja karena aku yakin suatu saat suami kita pasti akan menjemput kita di sini" ucap perempuan lainnya.


"Sssstttt, kalian tenanglah… Dengarkan ibu, diam dan percaya saja suami kalian pasti datang menjemput kita jadi tidak perlu bertindak macam-macam" ucap seorang wanita agak berumur di antara mereka.


"Tapi bu…"


"Haishh! kamu kenapa rewel sekali nak? kami tahu kamu khawatir tetapi ingatlah disini bukan hanya dirimu yang khawatir tetapi kami juga" ucap wanita yang di panggil ibu oleh mereka semua.


"Baik bu… Maafkan aku karena sikap ku yang berlebihan seperti tidak mempercayai suami" ucap perempuan itu dengan sedih.


"Tidak apa-apa, wajar kamu begitu karena sebagai seorang istri aku pun pasti akan bertindak seperti dirimu jika kejadian ini terjadi padaku dulu" ucapnya sambil memeluknya dan mengelus-elus lembut gadis tersebut.


"Sudah sekarang mari kita masuk?"


"Baik bu mari…"


***


"Hemmm? telinga ku tiba-tiba gatal" ucap Hiro yang sedang berdiam di atas pohon apel sambil memakan buahnya.


{Anggap mirip kera tuan}


"Ohh kalau begitu kamu pengikut kera?" balas Hiro.


{Sistem majikan kera tersebut tuan}


"Ohhh kalau begitu kamu kera bawahan di bawah kera lain?" ucap Hiro.


{Apa anda sadar tuan? perkataan anda sangat mustahil di mengerti}


"Benarkah? kukira hanya aku saja yang beranggapan seperti itu" ucap Hiro tersenyum kecil.


{Deen mencoba menghubungi anda tuan}


"Ahh cepat sambungkan, mungkin saja ia telah menyelesaikan misi nya" ucap Hiro dengan bersemangat.


"Tuan?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari telinga Hiro.


"Deen? apa kamu sudah selesai dengan misi mu?" ucap Hiro dengan terburu-buru tidak sabar menunggu kabar baik darinya.


"M-maaf tuan, tetapi saya masih belum bisa menemukan dunia yang sesuai dengan ciri-ciri yang anda sebutkan…" ucap Deen dengan ketakutan karena ternyata tidak sesuai dengan apa yang Hiro harapkan.


"Ahh begitu, baiklah tidak apa-apa… Tetapi apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?" tanya Hiro.


"Begini tuan… Saya sudah menjelajah ke setiap galaksi bahkan seluruh alam semesta tetapi tidak ada petunjuk mengenai dunia jiwa yang telah terputus ikatan dengan anda…" ucap Deen.


"Terus?" jawab Hiro singkat.


"Ada satu tempat yang belum saya datangi, tetapi saya perlu bantuan anda tuan karena tempat tersebut tidak berada dalam genggaman kekuasaan saya" ucap Deen dengan serius.


"Sebutkan bantuan apa yang kamu inginkan?" ucap Hiro.


"Mohon maafkan dan mohon ijin anda untuk membiarkan saya menjual nama anda yang seorang Sang Absolute…" ucap Deen ragu-ragu dan ketakutan karena ia tahu bahwa permohonan bantuan nya terlalu berlebihan.


"Baiklah tidak masalah, asalkan kalau keberadaan dunia jiwa ku tidak ada disana maka kau akan aku hukum sebagai bayaran atas nama ku. Bagaimana setuju?" ucap Hiro.


Deen terdiam sesaat karena ia takut dan ragu, bagaimana kalau ternyata di tempat tersebut tidak ada keberadaan dunia jiwa nya Hiro? maka hukuman yang menunggunya dan ia takut akan hal tersebut.


"Bagaimana?" ucap Hiro.


"Baik tuan saya akan menerimanya apabila perkiraan saya salah!" ucap Deen dengan tegas dan percaya diri.


Hiro tersenyum puas dan mengijinkan nya, Deen bebas menggunakan namanya sesuka hati asal tidak di gunakan akan keburukan saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...