
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para prajurit dengan tenang menunggu Hiro dan putrinya selesai makan.
Hiro pun tidak terburu-buru walaupun kaisar sekalipun yang menunggunya, karena ia tidak ingin waktu bersama putrinya terganggu.
"Ayah, apa tidak apa-apa membiarkan paman itu menunggu?" tanya Hari yang masih polos.
"Oh tidak masalah, kamu makan saja dengan tenang kalau sudah selesai baru kita pergi lagi" ucap Hiro tersenyum lembut.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah selesai ayah terimakasih atas makanannya" ucap Hari tersenyum manis.
"Sudah? yakin?" tanya Hiro.
"Ummm, aku sudah kenyang…" ucap Hari.
"Yasudah kalau begitu" ucap Hiro kemudian berdiri dan menghampiri para prajurit yang ada di depan restoran.
"Tuan?"
"Anakku sudah makan nya, mari kita pergi" ucap Hiro.
"Oh.. baik tuan" ucap prajurit tersebut.
***
Setelah tiba di kekaisaran Hiro pun langsung saja di arahkan menuju ke ruangan dimana kaisar berada oleh komandan prajurit yang menjemputnya tadi di restoran.
Begitu masuk ke salah satu ruangan istana, kaisar telah menunggunya bersama dengan para jendral besar.
"Salam Yang Mulia, hamba datang bersama dengan tuan Huroi" ucap komandan memberi salam hormat kepada kaisar.
"Salam juga jendral"
"Berdirilah…" ucap kaisar.
"Saya menjawab panggilan anda Yang Mulia…" ucap Hiro memberi salam seperti biasa dengan sangat sederhana.
Sedangkan putrinya hanya berdiri polos sambil menatap ke sekeliling ruangan karena berkilauan di penuhi oleh emas dan berlian.
"Eumm tuan Huroi? anak kecil itu?" tanya kaisar.
"Ahh maafkan saya Yang Mulia, dia adalah putri saya…" ucap Hiro.
"Aku baru tahu bahwa kamu sudah memiliki seorang putri?" ucap kaisar terkejut.
Hiro hanya tersenyum menjawabnya, "ada apa sampai-sampai anda memanggil saya Yang Mulia?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Ahh tidak ada apa-apa, hanya hal sederhana saja…" ucap kaisar menjeda terlebih dahulu.
"Kamu boleh keluar sekarang" sambungnya kembali ke komandan pasukan yang sedari tadi masih tinggal disana.
"Baik Yang Mulia…" ucap komandan itu dengan cepat pergi keluar ruangan, setelah itu kaisar melirik kepada para jendral.
Jendral pertama melihat lirikan kaisar langsung mengerti.
"Begini tuan Huroi, sebenarnya pembicaraan ini telah kami diskusikan kepada setiap petinggi istana dan karena anda sekarang bertanggungjawab atas garis perbatasan dengan wilayah misterius itu jadi anda juga berhak tahu pembicaraan ini"
"Kami ingin sesegera mungkin mendengar jawaban dari orang-orang wilayah misterius, apa mereka bersedia bergabung atau tidak dengan kekaisaran?"
"Karena itu kami memutuskan untuk mengutus dan mempercayai tugas ini kepada anda, apakah anda bersedia?" tanya jendral setelah bicara panjang lebar.
"Kenapa anda terburu-buru sekali?" tanya Hiro keheranan.
Sebelum jendral besar pertama menyelesaikan perkataannya, kaisar terlebih dahulu memotongnya.
"Aku yakin kamu pasti berada di pihak ku, maka akan aku beritahukan rahasianya kenapa aku terburu-buru… Seluruh kerajaan yang berada di bawah naungan kekaisaran kini merencanakan pengkhianatan terhadap diriku, apabila kamu bertanya apa sebabnya maka penyebab mereka berkhianat karena ingin menguasai wilayah misterius untuk kepentingan kerajaan mereka sendiri karena dengan menguasai wilayah misterius maka sama saja dengan menekan kekuatan kekaisaran" ucap kaisar dengan panjang lebar menjelaskan situasi terkini kekaisaran.
"Hah? sungguh tidak masuk akal! bagaimana mungkin mereka yang telah setia mengabdi kepada kekaisaran tiba-tiba berkhianat? hanya karena sebuah wilayah?!" ucap Hiro yang terkejut dan juga marah karena dirinya paling benci yang namanya 'pengkhianat'.
"Aku pun sama terkejutnya dan tidak habis pikir kenapa mereka seperti itu, padahal selama beberapa tahun terakhir mereka masih biasa-biasa saja" ucap kaisar sambil menghela nafas panjang.
"Mungkin sebenarnya mereka telah merencanakan dari jauh hari tetapi karena kini ada kesempatan akhirnya mereka bergerak menunjukkan sikap aslinya" ucap Hiro merasa geram sekali dan juga merasa bersalah karena keberadaan dunia jiwa di dunia benar-benar mengacaukan segalanya tatanan dunia.
"Baiklah Yang Mulia, saya akan membantu anda tetapi saya tidak bisa menjanjikan hasilnya akan memuaskan anda… Karena mau bagaimanapun wilayah misterius benar-benar misterius kan?" ucap Hiro.
"Hahh syukurlah, walaupun begitu aku benar-benar banyak berterimakasih kepadamu… Aku tidak berharap jawabannya memuaskan tetapi yang aku harapkan hanyalah jawaban pasti secepat mungkin, apabila mereka menolaknya maka kekaisaran akan mundur dari perselisihan antara kerajaan, sebelumnya kekaisaran menjaga ketat siapapun yang ingin kesana karena di takutkan wilayah misterius ingin bergabung tetapi apabila sebaliknya maka tidak ada untungnya untuk kekaisaran untuk terus mengawasinya, kondisi kekaisaran saat ini seperti seseorang membawa daging segar yang sangat besar di tengah-tengah singa yang lapar" ucap kaisar.
"Aku mengerti Yang Mulia, 2 hari kemudian aku akan membawa kabarnya entah itu kabar baik ataupun sebaliknya" ucap Hiro dengan serius.
"Baik terimakasih tuan Huroi" ucap kaisar dengan tulus dan lega.
"Kalau begitu aku pergi du-…"
"Ayah! apa kita tidak bisa tinggal disini?" ucap Hari memotong perkataan Hiro.
"Eummm? kenapa nak?" tanya Hiro.
"Aku ingin melihat-lihat istana ini ayah, apakah sama dengan yang ada di rumah" ucap Hari tersenyum manis berharap Hiro mengabulkannya.
Melihat tatapan memelas putrinya yang sangat imut dan lucu membuat Hiro tidak bisa berkata tidak.
"Apa boleh?" tanya Hiro kepada kaisar.
Kaisar tersenyum dan berkata, "tidak masalah, lagipula kamu bisa datang dan pergi kapan saja kemari" ucapnya.
"Ahh- benarkah paman? aku boleh tinggal disini dulu?" ucap Hari bergembira.
"Hahaha benar nak, kamu boleh menginap disini kapan saja" ucap kaisar tertawa melihat gadis kecil itu yang melompat-lompat kesenangan hanya karena di ijinkan tinggal di istananya.
"Wahhhh!! paman baik sekali, terimakasih paman" ucap Hari menundukkan kepalanya dengan sopan.
Kaisar puas sekali dengan sikap sopan yang di tunjukan Hari dan ia pun menatap Hiro seakan-akan menanyakan apakah benar ia ayah dari gadis itu.
"Tatapan apa itu Yang Mulia?" ucap Hiro mengeluh kesal karena ia mengerti arti lirikan kaisar.
Akhirnya pada malam itu Hiro dan putrinya menginap di istana, kamar mereka di siapkan secara langsung oleh para pelayan atas titah kaisar.
Mereka pun mengikuti makan malam bersama keluarga kekaisaran, setelah Hiro amati ternyata kaisar tersebut tidaklah beresiko menjadi musuh bahkan lebih baik di jadikan sekutu.
Setelah itu Hiro kembali ke kamarnya bersama putrinya yang telah lama tidur di pangkuannya.
"Sistem, bagaimana? apa ada hasil yang memuaskan darimu?" ucap Hiro.
{Sayang sekali belum tuan… Prosesnya masih dalam tahap 50% berhasil}
"Hemmm sudah cukup baik, berarti kamu masih membutuhkan waktu?" ucap Hiro sedikit puas dengan hasil tersebut.
{Benar tuan… Mungkin 3-5 hari sudah dapat di pastikan selesai dan berhasil}
"Baiklah tidak masalah asalkan berhasil" ucap Hiro.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...