
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam harinya Hiro terbangun karena ingin mencari tahu tentang desa yang menurutnya mencurigakan ini.
Tanpa membangunkan Luci, ia langsung keluar lewat jendela dan melompat dari satu atap ke atap lainnya.
"Sistem! coba analisa sebenarnya desa apa ini" ucap Hiro.
{…}
{Desa yang anda singgahi saat ini tidak tercantum di dalam peta yang sistem miliki, kemungkinan desa ini hanyalah sebuah ilusi atau bisa saja desa ini hanyalah kamuflase}
"Pantas sajak awal aku memiliki firasat buruk tentang desa ini, kalau benar begitu apa harus ku hancurkan?" ucap Hiro.
{Silahkan saja tuan tetapi kedepannya pergerakan anda tidak akan bebas karena Luci akan mencurigai anda}
"Arghh yang benar saja! terus aku harus bagaimana!" ucap Hiro frustasi, apapun yang ingin ia lakukan pasti selalu di batas tidak seperti dulu.
{Anda hancurkan saja, sistem bisa menghapus jejak bahwa itu semua ulah anda}
"Nah kalau begitu kan enak! baiklah kalau begitu, mari kita lihat apa sebenarnya desa ini" ucap Hiro tersenyum senang.
"Skill Creation : Truth The Lighting!" ucap Hiro mengeluarkan skilnya.
Di malam yang terang dengan cahaya dari bulan tiba-tiba awan hitam berkumpul di atas desa tersebut.
SWOOOOSSHHH…
Jederrrr!!
DUARRRR…
Petir emas yang berasal dari awan hitam itu tiba-tiba turun menyambar desa tersebut hingga porak-poranda.
Seketika seluruh warga keluar dari rumahnya yang tidak terkena petir. Mereka segera berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Hampir separuh desa hancur karena terkena petir tersebut secara langsung, sedangkan rumah lainnya hanya mengalami sedikit kerusakan akibat ledakan yang terjadi.
"Apa itu?"
"Kenapa tiba-tiba ada petir!"
"Apa kita di serang?!"
Mereka heboh karena melihat separuh desa nya telah musnah tanpa tahu apa dan siapa yang melakukannya.
Tetapi yang dapat mereka pastikan hanyalah desa mereka di serang dengan petir karena masih ada jejak aliran listrik yang merambat di puing-puing bangunan.
Luci juga keluar dari kamar nya, ia bersikap waspada tidak lengah sedikitpun.
"Kenapa? ada apa?" ucap Luci.
"Kita tiba-tiba di serang oleh petir tetapi pelakunya tidak terlihat sama sekali dan setengah desa telah hancur" ucap mereka.
Luci melihat sekelilingnya, memang benar tidak ada jejak yang di tinggalkan pelaku penyerangan dan hal tersebut sangatlah aneh.
"Luci! hah…hah…" ucap Hiro tiba-tiba muncul di luar desa dengan keadaan compang-camping dan terluka.
"Hiro?! apa yang terjadi denganmu?" ucap Luci khawatir melihat keadaannya.
"Tuan Hiro?!" ucap para warga pun terkejut.
"Hahhh… Maaf, aku tadi melihat seseorang yang mencurigakan mondar-mandir di depan desa dan di saat aku akan mendekatinya tiba-tiba dia mengeluarkan petir yang menghancurkan desa…"
"Aku yang melihat itu tentu saja marah dan mengejarnya, terjadi pertarungan singkat antara kami tetapi dia berhasil kabur" ucap Hiro terengah-engah dan duduk lemas.
Luci yang melihat itu langsung memberikannya air dan memapahnya untuk duduk di kursi yang di bawa oleh seorang warga.
"Haishh! kenapa kamu nekat sekali?!" ucap Luci marah karena khawatir.
"Maaf…" kata Hiro dengan pelan.
{Akting anda bagus sekali tuan… Kalau di dunia sebelumnya 100% anda bisa menjadi aktor}
'Hoho benarkah?' ucap Hiro dalam hatinya.
{Lihatlah wajah mereka yang sangat mengkhawatirkan anda, itu berarti mereka sangat percaya dengan akting anda}
'Hahaha'
"Kalau begitu apa yang harus kulakukan sistem? cepat sebelum mereka berkumpul dan menemukan ku" ucap Hiro di atas pohon di luar desa.
{Anda harus sedikit melukai diri sendiri dan menggunakan baju jelek yang banyak robekan, setelah itu berakting lah seperti seseorang yang telah bertarung habis-habisan}
"Oh aku paham maksudmu" ucap Hiro tersenyum.
DUARRRR
Hiro menyerang dirinya sendiri dengan menggunakan elemen void nya sampai tubuhnya terluka.
"Berikan aku baju nya" ucap Hiro.
Setelah itu ia pun berlari-lari sampe kelelahan, barulah ia kembali ke desa dalam keadaan mengkhawatirkan.
"Apa kamu tahu ciri-ciri penyerang itu?" tanya Luci.
Hiro menggelengkan kepalanya, "Tidak tapi yang aku lihat dia menggunakan pakaian serba hitam dengan menggunakan tudung menutupi seluruh wajahnya" ucap Hiro.
Luci yang mendengar itu sedikit bergetar karena terkejut, kemudian ia menatap Hiro dengan berkaca-kaca.
"Bodoh! seharusnya kamu jangan bertindak ceroboh seperti itu!" ucap Luci.
"Haha maaf aku hanya merasa marah karena orang tersebut tiba-tiba menyerang desa tempat ku istirahat" ucap Hiro sambil tersenyum kecil.
Para warga merasa terharu karena tindakan berani Hiro, mereka kagum kepadanya karena Hiro bukanlah warga desa tersebut tetapi berani bertindak demi desa mereka.
"Terimakasih tuan Hiro!" ucap para warga membungkukkan badan mereka dengan memberikan hormat.
"Ahh tidak-tidak… Aku hanya membalas kebaikan kalian karena memperbolehkan kami berisitirahat disini" ucap Hiro.
Para warga tidak peduli dengan hal tersebut karena yang paling penting adalah keberanian Hiro melawan musuh demi mereka semua, hal tersebut cukup untuk Hiro mendapatkan rasa hormat mereka.
'Haishh sistem bagaimana ini? aku tidak tega melihat mereka salah paham seperti ini' ucap Hiro dalam hatinya.
{Kalau begitu sekarang apa yang anda lihat tentang desa ini?}
'Hahhh mereka hanyalah orang-orang baik tetapi hanya saja desa ini selalu di pakai oleh orang-orang jahat untuk melakukan kejahatan mereka' ucap Hiro.
{Cabut sampai akarnya tuan agar anda tidak kerepotan di masa depan nanti}
'Tapi…'
{Terserah anda… Sistem hanya bisa memberikan saran saja tidak bisa memaksakan kehendak sendiri}
'Hahhh baiklah akan ku pikirkan kembali' ucapnya.
Setelah itu Hiro di bawa kembali ke dalam rumah yang menampungnya, disana ia di obati dan di rawat oleh Luci.
Luci sedari tadi menangis sedih melihat keadaannya Hiro, tetapi ada sikapnya yang aneh saat mendengar penjelasan Hiro tentang sosok yang menyerang desa tersebut.
Padahal sosok tersebut tidaklah ada, itu semua hanya karangan yang di buat-buat oleh Hiro.
"Sudah jangan bersedih, aku tidak apa-apa" ucap Hiro tersenyum lembut.
"Darimana nya tidak apa-apa hah?! kau tidak lihat tubuh kamu sendiri yang mengenaskan ini?" ucap marah Luci.
"Hahaa baiklah aku minta maaf" ucap Hiro.
"Lain kali jangan bergerak sendiri! berdua lebih baik daripada sendirian" ucap Luci dengan tegas.
Hiro hanya tersenyum lembut dan mengangguk.
'Apa aku salah menilai tentang Luci?' pikir Hiro yang kebingungan karena sikap Luci yang terlalu baik untuk melakukan rencana yang jahat.
{Sampul bisa menipu tetapi tidak dengan isinya tuan}
'Baik-baik aku mengerti! kenapa sekarang-sekarang ini kamu selalu mengkritik aku?!' ucap Hiro.
{Sistem hanya menjalankan tugas}
Hiro kemudian tidak berbicara lagi, ia membaringkan badannya dengan Luci di sampingnya tengah duduk.
'Awasi semuanya sistem'
{Baik tuan}
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...