
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pemuda tersebut melesat dengan cepat ke arah Hiro, hingga menyebabkan Hiro terhempas sejauh 10 meter dari tempatnya.
'Sialan! sakit sekali… ' Batin Hiro.
Ia terpaksa menerima serangan dari pemuda itu untuk berpura-pura tertangkap.
"Hahaha rasakan itu dasar sampah! Berani sekali kau memukulku" Ucap pemuda itu dengan puas.
"Prajurit tangkap dia! Kita harus membawanya untuk membayar perbuatannya karena memukul keluarga kerajaan" Ucap pemuda itu menyuruh para prajuritnya.
Dengan serempak semua prajurit mendekat ke arah Hiro dan membawa tubuh Hiro yang berpura-pura lemah.
Semua orang segera membubarkan diri karena tidak ingin terlibat, mereka hanya mendoakan agar Hiro selamat.
'Lihat saja akan ku balas semua ini' Pikir Hiro dengan kesal.
Setelah beberapa saat Hiro yang di bawa dengan paksa dan kasar oleh para prajurit, di lempar ke ruang sidang yang dimana disana terdapat raja dan yang lainnya.
"Paman… Aku membawa seorang pengkhianat! Ia dengan berani memukul ku di depan orang-orang hanya karena aku membantu seorang pengemis" Ucap pemuda itu dengan berbohong.
"Apa!!" Ucap semua orang disana terkejut.
Sedangkan raja sendiri hanya terdiam, "Bawa saja ia ke ruang pengadilan" Ucap raja.
"Tapi paman, anda harus memberikan nya hukuman yang berat" Ucap pemuda tersebut.
"Berhentilah bersikap seenaknya Deon! Aku rajanya disini jadi semua perintah ku harus di laksanakan!" Ucap raja dengan tegas.
Hiro yang berpura-pura kesakitan berpikir bahwa ini bukan salah raja tetapi keponakannya saja yang kurang ajar.
Raja bersikap seperti itu karena bimbang harus memilih rakyatnya atau keluarganya.
Tetapi sikap raja yang seperti itu membuat Hiro kurang menyukainya.
"A-ampuni saya raja!… S-saya hanya mengingatkan kepada tuan muda agar tidak menindas orang yang lemah karena penguasa tidak menyukai sifat yang seperti itu" Ucap Hiro terbata-bata.
"Menindas? Apa maksudmu?" Tanya Raja.
Hiro kemudian menceritakan kejadian yang sebelumnya tetapi pemuda itu dengan keras membantah semua perkataan Hiro.
Semua prajurit pun membela pemuda tersebut yang membuat Hiro tidak dapat di percaya.
"Paman jangan percaya! Dia berbohong" Ucap pemuda itu dengan menatap marah ke arah Hiro.
"Y-yang M-mulia tidak boleh membiarkan hal ini tersampaikan kepada penguasa kalau tidak kalian semua akan terkena amarahnya" Ucap Hiro.
Raja pun semakin di buat bimbang mendengar perkataan Hiro yang menyamar.
Ia memang pernah mendengar kalau sekali amarah penguasa keluar maka mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
Tetapi di lain sisi ia tidak ingin keponakan nya Kenapa-kenapa.
"Kita harus membereskan orang tersebut Yang Mulia sebelum penguasa tahu" Ucap seseorang di dalam ruangan tersebut.
"Benar Yang Mulia" Ucap mereka semua menyetujui usulan orang tersebut.
Pemuda itu menyeringai ke arah Hiro.
"Benar paman apa yang di katakan para menteri" Tambah pemuda tersebut.
Hiro yang sudah selesai menilai sikap dan sifat semua orang di kerajaannya dengan tenang ia berdiri seperti tidak ada apa-apa.
Ia menyudahi aktingnya dan akan segera memberi pelajaran kepada orang-orang yang mempermainkan nya.
"Kamu terlalu lama berpikir untuk menentukan keputusan Danu" Ucap Hiro dengan tenang.
Semua orang terkejut dengan tindakan Hiro.
"Lihatlah paman… Ia sudah keterlaluan" Ucap pemuda itu memprovokasi.
"Prajurit cepat lumpuhkan orang tersebut" Ucap seorang menteri, dengan cepat para prajurit mengepung Hiro dan mengacungkan senjatanya.
"Diam kalian semua!" Ucap Hiro dengan keras dan mengeluarkan aura yang sangat menakutkan sampai seluruh ruangan bergetar.
Para prajurit yang tadi mendekati Hiro, terhempas hingga menabrak tembok.
"Bukankah sebelumnya aku mengatakan bahwa sikap dan sifat kalian semua ini sangat tidak di sukai oleh aku? Tetapi kalian tidak mendengarkan aku? Apakah kalian sudah merasa hebat?" Ucap Hiro dengan dingin.
Ia merubah kembali wajahnya dan pakaiannya.
Seketika seluruh ruangan menjadi hening, hanya terdengar suara nafas yang di telan secara paksa.
"Aku ingin mendengar penjelasan mu Danu!" Ucap Hiro dengan mengeluarkan auranya.
Raja pun dengan keras menjatuhkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya sampai menempel ke tanah.
Hiro hanya diam sambil menatap tajam ke semua orang.
Pemuda yang tadi angkuh dan arogan pun seluruh tubuhnya bergetar dan pucat pasi.
Bukan hanya dirinya tetapi semua orang yang berada di dalam ruangan pun sama.
"Kenapa kalian diam? Bukankah kalian ingin membunuhku? Bunuh saja" Ucap Hiro.
"K-kami t-tidak b-berani t-tuan" Ucap mereka ketakutan.
"Di depan ku kalian seperti kucing rumahan tetapi di belakangku ternyata kalian seperti anjing gila" Ucap Hiro dengan dingin.
Hiro mengangkat tangannya dan seketika semua kepala para prajurit yang berada didalam ruangan terlepas dari badannya.
"Aku tidak butuh budak yang bermuka dua" Ucap Hiro.
"Jawab aku Danu, kamu harus memilih dua pilihan ini…"
"Aku hancurkan seluruh wilayah kerajaan ini atau aku bunuh saja semua orang yang ada di dalam ruangan ini" Ucap Hiro dengan dingin.
Hiro kemudian mengeluarkan kedua pedangnya yang selama ini ia simpan.
Di tempatkan pada pilihan yang sulit membuat Raja tersebut terdiam.
Hiro mengayunkan pedangnya yang di kanan dan membuat separuh kerajaan hancur.
"Sudah kubilang kamu terlalu lama memutuskan" Ucap Hiro.
"Aku tidak peduli mau ini bekas kerajaan ku yang lama atau bukan, jangan berpikir aku tidak berani menghancurkan kerajaan ini" Ucap Hiro.
"Dan kamu mana kesombongan mu tadi?" Ucap Hiro menatap seorang pemuda yang ketakutan hingga celananya basah.
"A-aku…"
Swoshhh…
Hiro mengayunkan pedangnya dan memotong kedua tangan pemuda tersebut.
"Berbicara yang jelas! Tadi kamu masih bisa berteriak keras" Ucap Hiro.
Pemuda tersebut berteriak dengan keras dan berguling-guling di tanah karena rasa sakit di kedua tangannya yang terpotong.
"Jadi apa jawaban mu Raja!" Ucap Hiro bertanya kembali.
"A-anda bunuh saja semua orang yang ada disini" Ucap raja tersebut dengan terpaksa.
"Y-yang M-mulia?! Mohon maafkan kami… " Ucap mereka semua histeris.
Hiro tersenyum kejam, "Bagus pilihan yang bijak" ucapnya.
Brukkk…Brukk…
Suara benda jatuh terdengar setelah Hiro mengayunkan kedua pedangnya.
Di dalam ruangan tersebut kini banyak sekali darah dan kepala yang terpisah dari badannya tergeletak dimana-mana.
Hiro memasukkan kembali kedua pedangnya dan berjalan ke pemuda yang tengah terbaring dengan lemah tanpa tangan tersebut.
Raja yang melihatnya mencoba untuk menghentikan Hiro.
"T-tuan, a-aku mohon belas kasihan anda" Ucap raja.
"Apa? Kamu ingin aku melepaskan dia? Jangan bodoh!" Ucap Hiro.
"Kan sudah kubilang semua orang yang berada di dalam ruangan ini harus mati termasuk dia!" Ucap Hiro dengan dingin.
"T-tapi tuan…" Ucap raja dengan terbata-bata.
"Apa kamu membantahku?!" Ucap Hiro.
Mendengar tidak ada jawaban Hiro melangkahkan kakinya mendekati pemuda tersebut.
"Sungguh menyedihkan, lihat lah dirimu" Ucap Hiro dengan sinis.
"M-maafkan a-aku…" Ucap pemuda itu dengan lemah.
"Aku memaafkan mu tetapi aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk hidup" Ucap Hiro kemudian memasukkan pemuda itu kedalam dunia jiwa untuk mendapatkan penyiksaan sebelum mati.
"Kamu memang raja yang baik tetapi kamu terlalu lama untuk membuat keputusan mana yang benar dan mana yang salah… Aku maafkan kamu kali ini tetapi aku harap kedepanya tidak akan ada kejadian serupa" ucap Hiro dengan tegas.
Setelah mengatakan itu Hiro pergi tanpa memperdulikan yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...