Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Keluarga Asgar


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan serius Hiro mengikuti mata pelajaran yang di bawakan oleh guru tersebut.


Walaupun banyak mata memandang dirinya, ia tidak terlalu memperdulikan nya karena ia telah berjanji kepada ibunya untuk belajar dengan baik.


"Baiklah cukup sampai disini saja pelajaran hari ini.."


"Dan oh iyah.. Jenny, Qurti dan Gilbert. Tolong ajak Hiro berkeliling agar ia lebih mengenal sekolah kita, ibu percayakan kepada kalian" ucap guru tersebut kemudian keluar dari kelas.


Seketika kelas tersebut yang asalnya hening menjadi meriah, banyak para murid perempuan dan laki-laki menghampiri meja Hiro dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Hai.. aku Jenny" ucap seorang wanita yang kurus, putih dan cantik.


"Kamu Hiro kan? Aku Qurti" ucap seorang wanita yang tidak kalah cantik, namun ia lebih manis.


"Yok kawan.. aku Gilbert senang bertemu denganmu, ngomong-ngomong kamu dari keluarga mana?" ucap seorang pemuda yang tinggi dan kurus dengan rambut putih.


"Ahh itu.. aku dari keluarga Asgar, nama ayahku Asgar" ucap Hiro.


"..."


Tiba-tiba seluruh ruangan kelas seketika menjadi sunyi, tidak ada satupun yang dapat memalingkan wajahnya dari Hiro saat mendengar pernyataan tersebut.


"K-kenapa? Ada apa dengan kalian?" ucap Hiro yang kebingungan dengan situasi tersebut.


"What the hell?! Are you serious bro?!" ucap Gilbert yang terperangah kaget.


"B-benar, kenapa memangnya? Ada yang salah dengan kelurga ku?" ucap Hiro.


"Hahhh aku tidak menyangka bahwa kamu dari salah satu keluarga penopang negeri ini.."


"Apa kamu tidak tahu siapa keluarga kamu sebenarnya?" ucap Jenny yang telah tersadar dari keterkejutan nya.


Hiro menggelengkan kepalanya, "Tidak, karena selama ini aku tinggal di luar negeri dan setahun kemarin aku hanya berdiam diri di rumah tidak keluar sama sekali" ucapnya.


'Kalau mereka tahu aku berasal dari daerah terpencil dan kumuh, mungkin nama ayah dan ibu akan tercoreng. Aku tidak akan membuat hal tersebut terjadi!' ucapnya dalam hati.


"Hahhh pantas saja, sudahlah nanti kamu juga tahu seberapa luar biasa nya keluarga Asgar. Sekarang kita berkeliling saja sebelum waktu istirahat habis" ucap Jenny.


"Hemmm baiklah..."


Mereka berempat keluar dari kelas dan mengelilingi seluruh area sekolah untuk di kenalkan kepada Hiro, sehingga Hiro pun dapat mengetahui keseluruhan area sekolahnya yang baru tersebut.


Tidak terasa 5 jam sudah Hiro berada di sekolahnya, beruntung tidak ada masalah apapun di hari pertamanya sekolah. Ia pun pulang di jemput oleh supir pribadi ayahnya menggunakan mobil Rolls-Royce Phantom.


Sesampainya di rumah, kedua orangtuanya ternyata tidak pulang mungkin karena keberangkatannya tadi pagi sedikit merepotkan mereka. Hiro memakluminya bahkan ia sedikit merasa bersalah karena sudah merepotkan mereka.


Di dalam kamarnya ia sedikit melamun dan berpikir bahwa semua yang ia rasakan saat ini adalah mimpi.


"Apa aku benar tidak bermimpi?"


"Ini nyata kan?" gumam Hiro.


'HIRO..'


'SUAMI..'


'TUAN..'


'DEWA..'


'HAMPA..'


"Ughh-... Aaaaaa-, kenapa tiba-tiba kepalaku sakit?"


Hiro pun membunyikan lonceng untuk memanggil pelayan yang ada di sekitarnya.


"Ya, tuan muda?"


"Anda kenapa?!" ucap seorang pelayan yang masuk ke kamar Hiro setelah mendengar suara loncengnya.


Ia sedikit panik karena melihat Hiro yang tengah kesakitan sambil memegang kepalanya.


"O-obat... Tolong ambilkan obat sakit kepala" ucap Hiro yang sambil menahan rasa sakitnya.


"Ahh-baik tunggu sebentar" ucap pelayan itu dengan tergesa-gesa keluar lagi.


"Tuan muda?! Apa anda sakit? Minum dulu obat ini, saya sedang memanggil kan dokter jadi mohon tahan sebentar" ucap Terry yang juga ikut panik karena saat melihat keadaan Hiro yang pucat.


Terry tahu bahwa Hiro selama ini di rawat di rumah sakit dengan ketat, jadi ia takut bahwa penyakitnya kambuh kembali.


Ia pun menelpon tuan rumah, ayahnya Hiro untuk segera pulang. Tentu saja ayahnya Hiro yang mendengar kabar tersebut dengan cepat-cepat pulang dan katanya saat ini ia sedang berada di pesawat.


Kembali ke Hiro yang saat ini telah meminum obat yang di berikan, rasa sakit di kepalanya perlahan-lahan mereda.


"Ahh-.. akhirnya rasa sakit itu sedikit menghilang" ucap Hiro pelan.


Pelayan wanita yang di sebelahnya pun mengelap wajah Hiro yang penuh keringat.


"Apa benar anda tidak apa-apa tuan muda?" ucap Terry.


"Untuk sekarang agak mendingan, mungkin karena kelelahan tadi sekolah" ucap Hiro.


"Hahhh baiklah tuan muda, kami akan keluar lagi untuk membiarkan anda beristirahat tetapi nanti kami akan memeriksa anda lagi apabila dokternya telah sampai" ucap Terry.


"Ahh baiklah.." ucap Hiro.


Ia pun berbaring dan tertidur karena rasa sakitnya tadi membuat ia kehilangan tenaga.


***


Di tempat lain.


"Mengapa?! Kenapa ayah melakukan itu kepada kakak?!"


"Mau bagaimana lagi, keberadaannya di dunia ini memang di butuhkan namun ketidakadaan dirinya di dunia itu pun sangat mengacaukan segalanya"


"T-tapi.. bukankah ia memang sudah waktunya keluar dari sana?! Kenapa ayah mengembalikannya lagi?! Bagaimana kalau dia mengalami penderitaan nya itu?!"


"Tidak akan, kamu tenang saja... Lagipula perbedaan waktu di dunia sana dengan dunia ini sangatlah jauh, satu bulan disini sama seperti 6 bulan di dunia tersebut"


"Aaa tetap saja!!! Mengapa ayah melakukannya!!!"


"Sudah cukup nak! Itu juga karena ia menginginkannya, kalau ia menolaknya ayah pun tidak mungkin mengembalikannya secara paksa!"


"Ada yang ia inginkan dan keinginannya itu harus ada bayarannya dan hal tersebut lah bayarannya"


***


Keesokkan harinya Hiro terbangun karena suara ibunya yang terus-menerus memanggil namanya.


"Anakku? Bagaimana keadaanmu sekarang, apa masih sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit kembali?" ucap ibunya secara tiba-tiba setelah masuk ke kamarnya.


"Ahh ibu? Kapan ibu pulang?" ucap Hiro yang baru saja terbangun.


"Tidak penting kapan ibu pulang, karena yang terpenting sekarang keadaan mu bagaimana?" ucap ibunya dengan penuh kekhawatiran.


"Oh tidak apa-apa ibu, kemarin aku hanya kelelahan jadi sedikit pusing" ucap Hiro.


"Sedikit? Kamu bilang sedikit? Kamu sudah pucat seperti orang mati begitu kamu bilang sedikit" ucap ibunya.


"Ahahaha, tapi mau bagaimana lagi... Sekarang ibu lihat aku baik-baik saja kan?" ucap Hiro.


"Hemmm sebentar, ibu periksa dulu.."


Ibunya pun memeriksa seluruh badannya dan mengecek suhu tubuhnya yang benar-benar normal.


"Hahhh syukurlah.. apa kamu tahu seberapa khawatir nya ibu saat mendapatkan kabar dari Terry? Ibu bahkan tidak bisa makan selama di perjalanan" ucapnya.


"Hehehe maafkan aku ibu, karena sudah membuat ibu khawatir dan membuat ibu tidak makan... Ahh bagaimana kalau kita sarapan bersama sekarang?" ucap Hiro.


"Ehh.. ngomong-ngomong dimana ayah?" ucap Hiro.


"Ohh ayah mu sedang memarahi seluruh dokter yang ada di semua rumah sakit, karena tidak ada satupun dokter yang bisa memeriksa mu kemarin" ucap ibunya.


"Haishh ayah ini.." ucap Hiro menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kita sarapan tanpa ayah dulu hari ini.." ucap Hiro.


"Ohh baiklah nak, ayo!" ucap ibunya dengan sangat senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...