Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Bawahan baru?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hiro pun tersenyum saat melihat pria paruh baya tersebut.


"Apa yang kalian lakukan? mengapa membuat keributan di depan sekte?" Ucap pria paruh baya tersebut.


"A-anu patriak, dia telah menerobos masuk tanpa ijin jadi kami berusaha untuk menghentikannya… Sebelumnya kami mencoba berbicara dengannya tapi dia tidak mendengarkan kami" Ucap prajurit yang sedang berlutut.


"Apa itu benar?" Tanya Patriak sambil menatap ke arah Hiro.


"Benar… Aku memiliki alasan karena melakukan itu" Ucap Hiro dengan tenang.


Patriak hanya diam menatap Hiro, ia mencoba melihat level Hiro tetapi selalu tidak terlihat seperti ada kabut hitam yang menghalangi penglihatannya.


"Sampai mati pun anda tidak bisa melihat tingkatan saya… Dan juga bukankah tidak sopan mencoba melihat privasi orang lain saat ia sedang berbicara" Ucap Hiro.


"Maafkan karena ketidaksopanan ku tetapi kamu juga sudah bertindak tidak sopan dengan cara masuk ke kediaman orang lain tanpa ijin" Ucap patriak.


"Untuk apa meminta ijin kalau tetap tidak di perbolehkan?" Ucap Hiro yang tidak mau kalah berargumen bahwa ia tidak salah.


"Tetap saja bertindak seenaknya di kediaman orang lain sama saja seperti meminta untuk di bunuh" Ucap Patriak dengan serius.


"Kalau anda bisa mengapa tidak mencobanya?" Ucap Hiro mengangkat kedua bahunya.


Dahi patriak mengkerut karena ucapan Hiro sangatlah sombong dan percaya diri sekali.


"Baiklah lupakan… Apa tujuan mu membuat keributan di rumahku?" Tanya Patriak menghela nafasnya.


"Tujuan ku? tidak ada hanya ingin berkunjung" Ucap Hiro dengan tenang.


"Apa ada tamu berkunjung dengan tidak sopan begini?" Ucap Patriak.


"Ada… Yaitu aku" Ucap Hiro tersenyum.


"Hahhh… Cepat lah katakan apa yang ingin kamu bicarakan karena aku tidak punya banyak waktu" Ucap Patriak mengalah.


"Apa ada seorang tuan rumah tidak sopan karena tidak mengijinkan tamunya untuk masuk atau duduk terlebih dahulu?" Ucap Hiro.


"Baik-baik ayo kita bicarakan di dalam" Ucap Patriak kemudian berjalan kembali ke kediamannya.


Hiro tersenyum dan mengikuti Patriak dari belakang.


Setelah memasuki sekte Hiro di bawa menuju ke salah satu ruangan yang hanya orang yang di ijinkan oleh Patriak untuk memasuki ruangan tersebut.


"Baiklah apa yang ingin kau bicarakan" Ucap Patriak duduk di meja yang hanya terdapat dua kursi.


"Aku hanya ingin meminta kalian untuk tidak ikut campur pada saat kekacauan terjadi di klan Si" Ucap Hiro dengan serius.


"Apa maksudmu?" Ucap patriak.


"Aku ingin kalian semua tidak ikut campur di saat wilayah timur di landa kekacauan" Ucap Hiro.


"Kenapa?" Tanya patriak.


"Tidak apa-apa, kalau kalian tetap memaksa ikut campur maka jangan menyesal karena mungkin saja setelah itu kehidupan kalian yang tenang dan damai akan berakhir dan bisa saja kalian hanya tinggal nama dalam sejarah dunia ini" Ucap Hiro dengan serius.


"Apa itu ancaman?" Ucap patriak dengan dingin dan mengeluarkan aura nya.


"Berhenti mencoba menekan ku dengan aura kecil mu itu pak tua Le In!" Ucap Hiro kemudian mengeluarkan auranya yang seketika membuat patriak tertekan sampai mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.


"Aku bukan mengancam mu tetapi memberi peringatan karena aku masih memiliki belas kasihan" Ucap Hiro dengan dingin.


"B-baiklah-baik, aku berjanji tidak akan ikut campur jadi tolong lepaskan aku" Ucap patriak yang tertekan oleh aura Hiro.


Hiro terdiam sesaat dan melihat ke arah patriak mencoba mendeteksi apakah ia berkata jujur, setelah memastikan tidak ada tanda-tanda kebohongan barulah Hiro menarik kembali auranya, ekspresi nya kembali menjadi tenang.


"Aku pegang kata-kata mu itu patriak, aku ingatkan kepadamu jangan sekali-kali mencoba untuk menipuku karena kalau itu sampai terjadi maka bersiap-siaplah untuk melihat semua yang kau punya akan aku hancurkan seluruh nya" Ucap Hiro.


"Baik sungguh aku berjanji akan menuruti apapun yang anda katakan" Ucap Patriak dengan ketakutan.


"Baguslah kalau begitu… Tapi kalau kamu ingin mengetahui apa masalahnya kenapa aku begini tanyakan saja kepada patriak klan Jing" Ucap Hiro.


"Baik-baik" Ucap patriak mengangguk.


"Sudah jangan takut seperti itu… Maafkan sikap ku barusan karena begitulah cara ku dalam bertindak agar tidak ada yang menganggu" Ucap Hiro tersenyum lembut.


"Tidak masalah… Karena di dunia ini yang kuat lah yang berkuasa" Ucap patriak.


"A-anu…" Ucap patriak ragu-ragu.


"Ada apa? katakan" Ucap Hiro.


"Apa boleh aku menjadi bawahan anda tuan?!" Ucap Patriak berlutut.


"Hahhh?!!" Ucap Hiro terkejut mendengarnya.


"Berdiri! Tidak sopan orang yang sudah berumur berlutut kepada yang masih muda" Ucap Hiro.


"Aku tidak akan pernah berdiri sampai anda menerima ku menjadi pelayan anda" Ucap Patriak dengan serius.


"Jelaskan alasannya" Ucap Hiro.


"Karena suatu kehormatan dan kebanggaan bagiku melayani anda, karena saya yakin suatu hari anda akan menjadi orang yang sangat besar" Ucap Patriak.


Hiro terdiam dan berpikir sesaat.


{Bukankah itu hal baik tuan? karena dengan begitu anda bisa dengan mudah memasuki laut suci}


Mendengar perkataan sistem membuat Hiro tersadar.


"Baiklah kalau begitu" Ucap Hiro tersenyum senang.


"Terimaka-…"


Sebelum ucapan patriak selesai Hiro terlebih dahulu memotongnya.


"Tapi dengan satu syarat…" Ucap nya.


"Apa itu? apapun syaratnya akan aku penuhi!" Ucap patriak serius.


"Ijinkan aku memasuki laut suci untuk latihan tertutup selama beberapa hari" Ucap Hiro.


Patriak yang mendengarnya tentu saja dengan cepat menyetujui syarat tersebut.


"Anda bisa memasukinya semau anda… Bahkan walaupun latihan tertutup nya selama beberapa tahun pun tidak menjadi masalah" Ucap Patriak.


"Baiklah kalau begitu… Aku besok akan memasukinya dan jangan sampai ada siapapun yang mengganggu ataupun masuk sebelum aku keluar" Ucap Hiro.


"Baik tuan!" Ucap Patriak.


"Karena urusan ku sudah selesai aku akan pergi terlebih dahulu, besok aku kembali lagi" Ucap Hiro yang bersiap-siap akan pergi tetapi di tahan oleh Patriak.


"Anda bisa beristirahat di sini saja tuan… " Ucap Patriak.


Hiro mengangguk dan di antar oleh pelayan menuju ke ruangannya.


Di dalam kamarnya Hiro menanyakan apa sistem sudah mengetahui apa yang ada di dalam laut suci tersebut.


{Masih belum bisa terdeteksi tuan karena seperti ada sesuatu yang menghalangi penglihatan sistem}


"Hahhh baiklah tidak masalah lagipula besok aku akan masuk dan mengetahuinya" Ucap Hiro.


Setelah itu Hiro tertidur untuk beristirahat.


Keesokan harinya Hiro terbangun karena keributan yang terjadi di dalam sekte maupun di luar.


Hiro yang terganggu waktu istirahatnya merasa kesal, ia pun keluar untuk menemui Patriak dan memarahinya karena telah mengganggu waktu istirahatnya.


"Patriak! bagaimana ini? sudah lebih dari sehari tetapi pelaku pembunuh putra ku masih saja belum di temukan!" Ucap seorang pria berteriak marah dengan keras.


"Tenanglah tetua! para prajurit dan murid-murid lainnya juga masih mencari" Ucap Patriak.


"Tidak bisa! bagaimana aku bisa tenang selagi belum menemukan pelaku pembunuh putra ku!" Ucap tetua tersebut.


"Berisik sialan! apa kalian tidak tahu ini masih pagi sekali tetapi kalian sudah membuat keributan! kalau ingin membuat keributan di luar saja!" Teriak Hiro kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apa kalian masih stay? atau sudah ada yang bermigrasi? 🤣


Lama yah nunggu author up? kalau mau cepet yang banyak dong like nya. 👍