
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa saat kemudian mereka telah keluar dari hutan dan di depan terlihat sebuah kota yang lumayan cukup besar nan ramai pengunjung.
Para pedagang berterima kasih kepada para petualang yang mengawal mereka dan sedikit memberikan imbalan.
"Kalau begitu kita akan langsung pergi menuju ke kekaisaran Kak Tio?" tanya Tia.
Ternyata hubungan mereka adalah sebuah keluarga, Tio dan Tia merupakan adik kakak.
"Tunggu sebentar, kita istirahat dulu di kota ini" ucap Tio memberikan arahan selaku ketua kelompok tersebut.
"Baiklah, kak kita berangkat bersama lagi yah karena tujuan kita pun sama dengan dia" ucap Tia.
"Tidak masalah selagi arah kita sama" ucap Tio.
"Tidak! aku tidak ingin pergi bersamanya!" ucap Tom menolaknya dengan keras.
"Haishh Tom, mengapa akhir-akhir ini jadi begini?" ucap Tio menghela nafas panjang.
"Aku tidak ingin bersama orang yang telah mencelakai ku!" ucap Tom dengan tegas.
"Kalau begitu kau tidak usah ikut!" ucap Tia yang sudah sangat kesal dengan sikap Tom tersebut.
"K-kenapa jadi aku? apa kalian lebih memilih dia yang orang baru daripada aku?" ucap Tom.
"Bukan begitu, haishh Tia diam lah dulu… Tom lebih baik kau dinginkan terlebih dahulu kepala mu setelah itu kita berbicara kembali" ucap Tio.
Tom hanya bisa diam menahan amarah, ia mengangguk dan pergi.
Hiro menggelengkan kepalanya, 'Rupanya ia tidak kapok sama sekali' pikirnya.
"Menjijikan, sikapnya akhir-akhir ini sangat keterlaluan kak… Hanya karena penolakan ku ia menjadi sangat posesif, siapapun yang mendekatiku pasti di hadang oleh dia, memang nya dia siapa bagi diriku?!" ucap Tia dengan sangat kesal.
"Kamu juga tidak boleh seperti itu Tia, nolak boleh saja tapi dengan cara halus jangan sampai orang tersebut menyimpan dendam kepadamu" ucap Tio menasehati adiknya tersebut.
"Tapi kak, aku sudah muak melihat nya bertingkah seperti kekasih ku…" ucap Tia.
"Apa boleh ku bunuh?" ucap Hiro yang tidak sengaja keceplosan.
Mereka pun memandangi Hiro dengan wajah aneh dan tertawa terbahak-bahak seperti mendengar lelucon yang sangat lucu sekali.
"Hahhahaha…"
"Kamu ingin membunuhnya? silahkan saja kalau kamu bisa" ucap Tia di tengah-tengah tawa nya.
Hiro pun tentu saja tersenyum senang dan mengangguk saat mendapat ijin dari salah satu anggota kelompok itu.
Mereka semakin tertawa keras saat melihat Hiro senang karena mereka mengijinkannya.
***
Pada saat ini Hiro sedang berada di dalam kamar penginapan, sedangkan Tio dan Tia berada di kamar yang berbeda tetapi kamar mereka bersebelahan.
Hiro mengunci ruang dan waktu di dalam kamarnya, tentu tidak lupa ia pun memasang segel peredam suara.
Ia saat ini tengah bereksperimen melakukan berbagai penyatuan skil agar dapat menghasilkan skil ultimate. Ia mendapatkan pengetahuan tersebut pada saat ia berada di dalam Menara Agung lantai 200.
"Cihh sulit sekali ternyata, ku kira akan sedikit saja kesulitannya" ucap Hiro yang sudah beberapa kali mencoba tetapi hasilnya tetap saja gagal.
{Bagaimana tidak gagal tuan, anda berusaha menggabungkan sesuatu yang tabu dan tidak mungkin bersatu selamanya}
"Berisik, ada contohnya elemen kegelapan dan cahaya saja bisa bersatu dalam satu tubuh… Jadi apa yang aku lakukan sekarang juga tidak mungkin mustahil terjadi" ucap Hiro.
{Hahh baiklah terserah anda tuan, semoga anda berhasil…}
Hiro tidak menanggapinya, ia berusaha fokus dan terus saja mencoba walaupun gagal terus hasilnya.
3 jam berlalu…
"Hah…hah…hah… Sial!"
{Anda sudah menyerah tuan?}
"Tidak! Akan aku coba lagi lain kali" ucap Hiro terengah-engah dan frustasi karena hasil nya nihil.
Ia pun memutuskan untuk segera tidur beristirahat, Hiro tertidur dengan cepat karena mungkin tubuhnya dan pikirannya sudah sangat kelelahan.
Keesokkan harinya kelompok Tio kembali berkumpul dan mendiskusikan rencana kepergian mereka.
"Kita pergi sekarang?" tanya Hiro.
"Baiklah kita pergi sekarang saja, lagipula kita tidak ada urusan lagi di kota ini" ucap Tio.
Mereka pun setuju dan bersiap-siap untuk segera berangkat, Hiro menunggu mereka di depan gerbang keluar kota.
Disaat Hiro menunggu dengan tenang tiba-tiba ia merasakan sebuah energi negatif dalam jumlah besar.
'Sial, aura apa ini’ ucap Hiro dalam hatinya.
Ia memperluas jarak pandangnya dan menemukan sebuah kelompok monster sedang menuju ke kota tersebut dalam keadaan menggila.
'Kalau kubiarkan maka kota ini akan hancur… Mengapa banyak sekali hal remeh yang selalu mengganggu ku?!'
"Sistem sebarkan sedikit aura ku agar para monster itu pergi menjauh dari kota" ucap Hiro.
{Baik tuan…}
SWOSHHH…
"Kamu sudah menunggu lama?" ucap Tia yang baru saja datang.
"Hem… dimana yang lain?" ucap Hiro.
"Kalau begitu perempuan yang satu lagi dimana?"
"Dia bersama kakak… karena sepertinya dia menyukai kakak" ucap Tia sambil tertawa kecil.
Hiro menggelengkan kepalanya, rupanya setiap orang pada kelompok tersebut memiliki sebuah ikatan tak terlihat tetapi hanya bisa di rasakan.
'Pantas aku merasa dia selalu memperhatikan Tio, ternyata itu alasannya' pikir Hiro.
Membuang pikiran yang tidak berguna Hiro lebih memikirkan tentang para monster sebelumnya.
'Bagaimana sistem, apakah berhasil?' tanya Hiro dalam pikirannya.
{Sedikit berhasil tuan tetapi masih ada beberapa monster yang keras kepala dan tidak mengindahkan peringatan dari aura anda tersebut, monster-monster tersebut hanyalah mereka yang tidak memiliki akal mereka hanya menuruti hawa nafsu nya saja untuk tetap menyerang para manusia}
'Haishhh berapa persen kemungkin kota ini dapat bertahan dari serangan para monster itu? Apa monster lainnya juga akan ikut menyerang atau mundur?' tanya Hiro lebih lanjut.
{Kemungkinan kota ini dapat menahan serangan monster tersebut adalah 70%, untuk para monster yang lainnya kemungkinan mereka mundur tuan karena ketakutan saat merasakan aura membunuh anda}
'Hemmm kalau begitu tidak apa-apa, selagi kota ini dapat bertahan aku tidak perlu terlalu turun tangan lebih dalam… Hanya beberapa kerusakan tidak masalah' ucap Hiro.
'Tapi untuk berjaga-jaga…'
"Tio, apa kamu mengenal siapa kepala penjaga kota ini?" tanya Hiro.
"Hemmm tidak, tapi kalau orangnya aku tau" ucap Tio.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Tio.
"Ada sesuatu yang harus di bicarakan dengannya, apa kamu bisa menyampaikannya?" ucap Hiro.
"Bisa, apa yang ingin kamu sampaikan?".
"Beritahukan mereka bahwa persiapkan prajurit ataupun pasukan yang telah terbiasa melawan monster di depan pintu kota dan kalau bisa bawa beberapa petualang yang berpengalaman untuk berjaga-jaga" ucap Hiro.
"Hah? untuk apa?" tanya Tio heran.
"Turuti saja apa kataku dan pastikan mereka untuk melakukannya kalau tidak mereka pasti akan menyesal" ucap Hiro setelah itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
Tio menatap heran Hiro, sedangkan Tia langsung menyuruh kakaknya agar segera melakukannya dan percaya saja padanya karena Hiro bukanlah orang yang banyak bicara yang berarti perkataannya baru saja memiliki maksud tertentu.
***
Setelah segala urusan selesai mereka pun mulai berangkat pergi menjauh meninggalkan kota tersebut.
Seperti sebelumnya Tio berada di barisan depan untuk memimpin jalan mereka, sedangkan Hiro di barisan paling belakang bersama Tia.
Entah mengapa Tia sangat ingin berdekatan dengan Hiro, mungkin salah satu alasan yang Hiro pikirkan yaitu agar membuat Tom menjauhi dirinya, jadi yah semacam pelampiasan?.
Namun Hiro tidak peduli sama sekali, ia hanya ingin segera kembali ke rumahnya tetapi sambil berjalan santai karena telah ribuan tahun lamanya ia habiskan seperti hidup di neraka yang paling dalam, begitu mengerikan dan penuh derita.
1 jam berlalu kini mereka sedang beristirahat sambil mengisi perut agar stamina mereka penuh kembali.
{Serangan monster berhasil di hentikan tuan, tidak ada korban jiwa sama sekali tetapi sebagian kecil bangunan yang berada di pinggiran kota hancur karena pertarungan tersebut}
'Hooo~ baguslah kalau tidak ada korban jiwa, walaupun banyak sekali bangunan yang hancur hal tersebut bisa di perbaiki kembali…'
'Tapi yang paling aku kagumi adalah Tio ternyata berhasil melakukan tugasnya, ia dapat menggerakkan pasukan keamanan kota' ucap Hiro.
"Kamu kenapa? apa makanan nya tidak sesuai seleramu?" tanya Tia.
"Ahh tidak, tidak ada masalah dengan makanannya… Aku hanya sedang memikirkan apa prajurit keamanan kota benar-benar akan mendengarkan perkataan Tio?" ucap Hiro.
"Tentu saja, jangan khawatir percaya saja kepada kakak" ucap Tia meyakinkan Hiro.
"Benar, tadi aku sudah berbicara dengan kepala penjaga dan ia setuju… Boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tio dengan serius karena selama ini ia menahan rasa penasarannya.
"Bukan masalah besar, tadi sebelum kita berkumpul aku merasakan hawa tidak nyaman seperti akan terjadi sesuatu… Mungkin para monster akan menyerang kota makanya aku meminta agar penjagaan kota di tambah" ucap Hiro dengan tenang sambil memakan makanannya.
"Hah? apa benar?" ucap Tia tidak percaya.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak karena yang terpenting kalian mau mendengarkan ku, itu saja sudah cukup" ucap Hiro.
Memang sebenarnya ia tidak peduli sama sekali dengan kota tersebut tetapi ia masih memiliki rasa manusiawi untuk orang-orang yang tinggal di kota tersebut maka dari itu ia akan sedikit memberikan pertolongan walaupun bukan langsung dari dirinya.
"Hemm tunggu sebentar aku akan bertanya kabar teman ku yang ada di kota sebelumnya" ucap Tio sambil mengeluarkan sebongkah batu putih.
Sekilas wajah Tio terkejut, tercengang dan berubah menjadi serius.
"Terimakasih… siapa namamu?"
"Hiro"
"Terimakasih Hiro, berkat dirimu kota Tulip berhasil mencegah serangan monster dan tidak ada korban jiwa sama sekali" ucap Tio dengan serius dan tulus sambil menundukkan kepalanya.
Sedangkan yang lainnya hanya menatap kaget dan heran kepada Hiro, terutama Tia yang tatapannya seolah-olah menyiratkan kata 'bagaimana bisa?'.
Hiro hanya diam saja sambil mengangguk pelan, "Tidak masalah, seharusnya kamu yang di puji karena kalau bukan dirimu yang dapat meyakinkan penjaga keamanan maka akan banyak sekali korban berjatuhan".
"Kamu terlalu rendah hati tuan Hiro" ucap Tio.
"Tidak usah pakai sebutan embel-embel tuan, panggil saja aku seperti biasa" ucapnya.
"Kalau sudah selesai mari kita melanjutkan perjalanan kita" ucap Hiro berdiri terlebih dahulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 bab menjadi satu…
Kalau ada sesuatu yang kurang, komen saja yah karena author sengaja memperlambat tempo alur cerita…