Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Kota Seribu Wajah


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BOOM...


Hiro terjatuh menabrak tanah karena posisi pintu keluar dari portal tersebut berada di atas langit.


"Huuuhhh sial! Bagaimana bisa kamu membuka portal nya di atas langit sistem? Walaupun aku tidak terluka tapi tetap saja rasanya sedikit sakit" ucap Hiro dengan nada kesal.


Hiro kemudian bangkit lalu memandang sekelilingnya. Dia melihat semuanya di penuhi dengan pepohonan yang sangat tinggi.


"Hemmm sepertinya aku berada di tengah hutan..." ucap Hiro dalam hatinya.


Dengan cepat Hiro mengedarkan indera spiritualnya untuk memeriksa sekitarnya, tapi dia hanya bisa merasakan bahwa area dalam cakupan nya itu semuanya adalah pepohonan.


"Sial, benar-benar hutan yang sangat luas..."


Hiro langsung melesat ke langit untuk memeriksa lebih jelas lagi dan dugaan nya ternyata memang benar bahwa dia sekarang di tengah hutan yang sangat luas. Kemana pun mata memandang dirinya hanya bisa melihat pepohonan yang rimbun.


Karena tidak mengetahui arah mana yang harus ia dituju, Hiro hanya bisa bergerak mengikuti arah matahari. Ia melesat dengan sangat cepat tanpa mempedulikan arah tujuan nya.


Sudah beberapa jam Hiro terbang, tetapi dia sama sekali belum menemukan perkampungan atau sebuah pedesaan. Yang ada di depan nya masih di penuhi dengan pepohonan saja.


"Arghhh... Hutan ini sangat luas sekali sialan!" ucap Hiro mengeluh kesal sambil terus terbang dengan kecepatan penuh.


Setelah terbang selama 3 hari tanpa berhenti, Hiro akhirnya dapat merasakan bahwa ada sebuah kota yang berjarak 200 km di depan nya.


"Akhirnya ada tempat yang bisa di singgahi, semoga saja kota yang disana selalu menyambut para tamu nya dengan ramah" ucap Hiro tersenyum kecil dan terus melesat dengan sangat cepat ke arah kota tersebut.


Hanya dalam beberapa menit saja, akhirnya Hiro dapat keluar dari hutan itu. Kemudian ia terus terbang dan berhenti sekitar 5 km dari pintu gerbang kota yang ada di depan nya.


Setelah berjalan sebentar, ia pun telah sampai di depan pintu gerbang kota itu. Hiro melihat sebuah papan nama yang cukup besar di atas gerbang yang bertuliskan Kota Seribu Wajah.


"Nama yang sangat aneh, apakah orang-orang disini bermacam-macam wajahnya?" pikir Hiro.


Ia sedikit tersenyum karena lucu, lalu bergegas mengikuti orang-orang yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam kota tersebut.


***


"10 ribu koin emas..!" ucap seorang penjaga meminta biaya kepada orang yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam Kota Seribu Wajah.


"Aku hanya memiliki 700 koin emas saja. Bisakah kalian memberikan keringanan kepadaku? Aku akan membayarnya nanti jika aku telah mendapatkan pekerjaan yang layak di kota ini" ucap seorang remaja berusia 16 tahun berbicara kepada penjaga tersebut.


"Maaf tidak bisa! Ini sudah menjadi peraturan yang telah di tetapkan di kota ini" ucap penjaga itu menjawab dengan tegas.


"Tolonglah, aku pasti akan membayar sisanya jika telah bekerja" ucap remaja itu tetap memohon kepada penjaga tersebut


"Hey sudahlah! Kalau tidak punya uang jangan masuk! Jangan menghalangi antrian, menyingkir lah karena kamu telah membuat antrian ini terhenti!" ucap seorang pemuda yang berpenampilan mewah berkata dengan nada ketus.


"Ahh... Maaf.. maafkan aku, tetapi aku harus masuk ke dalam kota ini karena aku ingin mencari pekerjaan di kota ini" ucap remaja itu dengan nada memohon.


"Cihh! Jangan buang-buang waktu, anak seperti mu tidak akan mendapatkan pekerjaan yang layak disini. Melihat dari penampilan mu, kamu mungkin hanya bisa menjadi tukang sapu di kota ini" ucap pemuda yang lainnya mencibir.


"Cepatlah menyingkir! Jika kamu tidak segera pergi, aku akan menghajar mu!" ucap pemuda berpenampilan bangsawan itu berkata sambil mendekat ke arah remaja tersebut.


"Ahh maaf tuan muda.. aku.."


BOOM...


BOOM...


Sebelum pemuda itu menyelesaikan perkataan nya, dia telah di pukul hingga terpental sejauh 20 meter dan tertancap menabrak pohon.


"Itu akibatnya jika kamu tidak mendengar perkataan ku!" ucap pemuda berpenampilan bangsawan tersebut menepuk-nepuk telapak tangan nya seolah-olah sedang membersihkan debu yang menempel di tangan nya itu.


"Hahaha... Pergilah menangis ke pelukan ibumu jika kamu tidak terima dengan perlakuan kami. Mungkin ibumu akan menjual dirinya agar bisa memberikan mu uang untuk bisa masuk ke dalam kota ini" ucap pemuda lainnya tertawa terbahak-bahak.


"Aargghhhh!"


Mendengar perkataan mereka itu, remaja tersebut berteriak dengan marah lalu segera bangkit berdiri dan langsung menyerang dengan tinjunya kepada pemuda yang mengatakan hal tentang ibunya.


Mendapatkan serangan seperti itu, pemuda tersebut tidak tinggal diam. Dia juga segera membalas setiap serangan yang datang padanya.


BUK...


BUK...


Suara pertarungan mulai terdengar di depan pintu gerbang kota seribu wajah. Para penjaga hanya diam saja dan tidak memperdulikan nya. Mereka hanya akan bergerak tidak pertarungan tersebut terjadi di dalam kota.


Hiro yang berada di tempat antrian paling belakang sangat jelas mengetahui apa yang sedang terjadi di depan pintu gerbang. Dia hanya diam saja dan tetap tenang menonton pertunjukan itu.


BUK...


BOOM...


"Itu akibatnya jika kamu menyebutkan sesuatu hal tentang ibuku dengan mulut sampah mu itu! Kamu boleh menghina ku, tetapi jangan sekali-kali kamu berani menghina ibuku!" ucap remaja itu dengan nada sangat marah.


"Ayo bantu aku untuk menyerang nya bersama-sama!" teriak pemuda yang terkena pukulan itu memanggil teman-teman nya agar membantunya menyerang remaja tersebut.


Dengan cepat pemuda yang lainnya segera mengelilingi remaja itu dan bersiap akan menyerangnya.


"1 lawan 5? Bukan kah kalian terlalu pengecut? Lagipula aku sudah terlalu lama menunggu di belakang sini! Gara-gara kalian semua antrian nha jadi berhenti!" teriak Hiro dengan sangat kesal.


Semua orang yang berada di tempat tersebut segera berbalik menolah ke arah Hiro. Para pemuda tersebut memandang nya dari atas sampai bawah dengan tatapan sangat tajam.


Mereka semua hanya menatap aneh Hiro, karena penampilan nya yang sangat berbeda dari semua orang yang ada disana.


"Tutup mulut busuk mu itu! Jika tidak, kami juga akan menghajar mu setelah memberi pelajaran bocah sialan ini" ucap salah seorang pemuda berteriak marah dan menunjuk pada Hiro.


"Haishhh... Ternyata aku mendapatkan perlakuan yang tidak ramah sebelum memasuki kota ini" gumam Hiro dengan nada mengeluh sambil menggelengkan kepalanya.


Hiro kemudian berjalan keluar dari antrian nya dan pergi menghampiri para pemuda tersebut.


"Sembunyi lah sementara ini jangan keluar dulu" ucap Hiro pelan pada Raylin yang masih diam di dalam saku nya.


Setelah sampai di depan pemuda yang telah meneriakinya dan menunjuk nya, Hiro menggerakkan tangan nya dengan sangat cepat untuk menampar pemuda itu dengan sangat keras.


PLAKKK!


BOOM...


Semua orang yang berada di tempat tersebut tidak dapat melihat kecepatan dari gerakan tangan Hiro. Mereka hanya melihat pemuda yang berada di depan nya langsung terpental menabrak keras pada tembok di samping pintu gerbang kota.


Jika saja Hiro mengeluarkan sedikit lebih besar lagi dari kekuatan nya, mungkin kepala pemuda tersebut langsung meledak seketika dan berubah menjadi kabut darah.


Pemuda yang lainnya menjadi sangat marah melihat teman mereka menancap pada tembok kota dengan keadaan pingsan.


"Beraninya kamu melakukan hal itu pada murid sekte Wajah Amarah! Kamu harus mendapatkan hukuman yang sangat berat dari perbuatan mu itu!" ucap salah seorang pemuda langsung berteriak marah pada Hiro.


Hiro tersenyum misterius lalu berkata, "Mungkinkah kalian juga berasal dari Sekte wajah sampah tersebut?"


"Tutup mulut kotor mu itu brengsek! Kamu telah berani menghina dan melecehkan nama sekte Wajah Amarah kami!" pemuda yang lainnya menunjuk dengan tatapan membunuh ke arah Hiro.


"Ahh mungkinkah pendiri Sekte kalian telah salah memberi nama pada sekte nya itu? Melihat perbuatan kalian semua, sepertinya nama Sekte itu terlalu bagus untuk kalian semua..."


"Atau mungkin pendiri Sekte itu suka makan sampah jadi nama Sekte nya menjadi Sekte wajah sampah?" ucap Hiro memprovokasi mereka semua.


"Bajing4n!!!" teriak para pemuda tersebut dengan keras secara serentak ke arah Hiro.


"Wow... Santai, santai saja tidak perlu marah begitu... Nama sekte itu sangat cocok bukan, seharusnya kalian berterimakasih kepada ku karena telah menemukan nama yang cocok untuk ganti nama sekte kalian" ucap Hiro tertawa kecil.


Setelah mendengar hinaan dan provokasi dari Hiro secara terus menerus tanpa henti, tubuh para pemuda itu bergetar karena marah. Wajah mereka merah padam, tanpa basa-basi lagi mereka semua mengeluarkan senjatanya dan dengan cepat menyerang Hiro tanpa menghiraukan remaja yang telah di kelilingi itu.


Di mata semua orang Hiro terlihat menghindari setiap serangan para pemuda itu dengan sangat santai dan secara tiba-tiba Hiro melambaikan tangan nya ke arah mereka semua.


PLAK...PLAK...PLAK...


BOOM...BOOM...BOOM...


Para pemuda tersebut seketika langsung terpental jauh. Sebagian menabrak tembok kota dan sebagian lagi menancap pada pohon dengan sangat keras.


Semua orang yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat apa yang telah terjadi di depan mata mereka. Pemuda yang terlihat berusia sekitar 18-19 tahun itu telah membuat para pemuda yang berasal dari Sekte Wajah Amarah tersebut menjadi terkapar pingsan hanya dengan lambaian tangan nya saja.


Wajah para penjaga pintu kota itu juga segera menjadi panik dan bersikap siaga saat melihat Hiro berjalan ke arah mereka.


"Aku terlalu lelah menunggu lama di antrian paling belakang sana. Ambillah uang ini, jumlahnya 20 ribu koin emas. Aku membayar biaya masuk ku sendiri dan juga biaya bocah itu" ucap Hiro sambil menunjuk remaja yang telah di kelilingi oleh para pemuda sebelumnya.


'Haishhh sudah biaya masuk ke dalam sangat mahal, di tambah saat pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini aku sudah membuat masalah yang mungkin saja akan merepotkan ke depan nya' ucap Hiro mengeluh di dalam hatinya.


{Anda terlalu terbawa suasana tuan...}


"Ahh baik tuan! Silahkan masuk ke dalam, kami akan membiarkan anda mengambil antrian para pemuda itu' ucap penjaga tersebut dengan nada panik dan segera mengambil uang yang ada di tangan Hiro.


Hiro berjalan dengan tenang memasuki kota seribu wajah tanpa ada yang berani menegurnya karena telah melewati giliran antrian nya.


Hiro terus berjalan dengan sangat santai tanpa memperdulikan masalah yang telah ia sebabkan sebelumnya, ia hanya ingin menikmati keindahan kota yang ada di depan matanya itu.


'Hahh semoga saja kedepan nya tidak akan terlalu merepotkan' ucap Hiro dalam hatinya berharap perjalanan kali ini berjalan dengan sangat lancar dan tenang.


***


Terimakasih buat teman-teman sekalian yang telah memberikan Like da Vote nya serta memberikan Rating bintang lima, dan juga orang-orang yang sering berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...