Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Serangan misterius


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat hari mulai menjelang pagi Hiro membuka matanya perlahan-lahan.


"Berapa lama aku tertidur sistem?" ucapnya dengan pelan sambil mengedipkan mata berkali-kali.


{Hanya 2 malam saja tuan}


"Hah?! 'hanya' dua malam katamu?" ucap Hiro yang langsung terbangun karena terkejut.


{Benar tuan, hanya 2 malam saja}


"Haishh kenapa bisa lama sekali" ucap Hiro sambil memegang kepalanya karena masih sedikit pusing.


{Yah mau bagaimana lagi? itu karena semua energi alam yang di dalam tubuh anda terkuras habis jadi membutuhkan banyak waktu untuk kembali mengisi ulang secara penuh}


"Hahh, baiklah tapi apakah ada suatu masalah saat aku tidak sadarkan diri?" tanya Hiro.


{Tidak ada tuan… Hanya saja banyak sekali orang-orang berkerumun melihat bukit yang anda hancurkan, mungkin mereka ingin mencari tahu apa penyebab bukit itu hancur}


"Terus? apa aku ketahuan?" ucap Hiro.


{Tentu tidak, karena sistem tidak bodoh seperti anda tuan. Sistem menggunakan Skil Stealth kepada tubuh anda agar tidak terlihat oleh orang-orang}


"Baguslah kalau begitu, terimakasih sistem"


{Sama-sama tuan}


Hiro pun mulai menggerakkan seluruh badannya dan melemaskan otot-otot nya yang kaku.


"Apa tidak ada hadiah setelah aku menghancurkan bukit itu?" tanya Hiro dengan tatapan berharap.


{Tidak tuan, karena bukit tersebut hanyalah seonggok batu besar saja tidak ada keistimewaannya sama sekali}


"Cihh benar-benar pelit" ucap Hiro yang kecewa.


{Anda saja yang terlalu berharap tuan}


Merasa kalah berdebat Hiro pun terdiam tidak berbicara lagi, ia merasa lapar tetapi menginginkan daging hewan rusa yang fresh jadi berburu lah Hiro sebentar dan membakarnya setelah mendapatkan hasil buruan.


"Ahh sungguh kenikmatan tiada tara, sungguh nostalgia sekali" ucap Hiro.


Sebelum pergi ia beristirahat terlebih dahulu untuk memberikan waktu perutnya agar memproses makanan tadi.


"Bintang nya indah sekali yah sistem" ucap Hiro saat tiduran menghadap ke langit.


{Bukankah ini siang hari tuan?}


"Oh benar…"


"Ahh tunggu kalau ini siang… Itu apa dong yang seperti bintang?!" ucap Hiro terkejut langsung berdiri dan memperhatikan dengan benar apa yang ia sangka bintang tersebut.


{Sebuah serangan tuan}


"Ohh serangan… Sudahlah tidur lagi saja" ucap Hiro dengan tenang.


{…}


SWOSHHH…


TING…


Hiro berbaring dengan tenang tanpa khawatir sedikitpun karena ia yakin sistem akan melindunginya dan benar saja pada saat bola api itu akan mengenai dirinya, bola api tersebut tiba-tiba terpental dan…


BOOMMMM… DUARRRR…


Bola api tersebut meledak jauh di jarak 50 meter darinya dan membumihanguskan sebagian hutan.


"Kau yang urus sistem" ucap Hiro.


{Tidak terimakasih, sistem capek ingin beristirahat karena telah menjaga anda selama 2 malam}


"Lemah! sistem kok tidur?" ucap Hiro memprovokasi.


{Kalau anda kuat maka urus sendiri saja tuan… Dah selamat siang…}


"Sistem?"


"Wah sialan benar-benar tidur kamu?" ucap Hiro kesal.


WUSHHH… BLARRR…


Tiba-tiba datang kembali bola api yang menyerupai bintang tadi tetapi kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.


"Haishh! kenapa takdir selalu tidak bisa membiarkan ku beristirahat dengan tenang sedetik saja? eummm tapi kemarin aku beristirahat selama 2 malam, berarti sudah di batas kompensasi?" ucap Hiro yang berbicara sendiri.


TING…TING…TING…


BOMMMM… DUAARRRR…


"Sudah cukup istirahat nya dan juga perutku sudah selesai bekerja, kini waktunya bermain" ucap Hiro berdiri dan tersenyum penuh arti.


SWOSHHHH…


Kini bukan bola api yang muncul melainkan tombak 3 mata runcing yang memunculkan api, air dan es di setiap ujungnya.


"Hemm tombak Poseidon? aku juga memilikinya tapi di berikan ke salah satu istriku entah siapa aku lupa" ucap Hiro.


WUNGGG…


Tombak tersebut melesat dengan cepat ke arah Hiro, tetapi masih dapat di hindari olehnya dengan bergerak secara tenang ke samping dan melompat lompat seperti kanguru.


"Hemmm ada penguncian target seperti rudal? sungguh hebat" ucap Hiro dengan tenang.


Setelah sedikit berolahraga Hiro menahan tombak tersebut dengan dua jarinya yaitu di antara jari telunjuk dan jari tengah.


"Bagus juga, aku ambil yah" ucap Hiro kemudian membanting tombak tersebut ke tanah hingga menancap kuat dan membuat tanah sekitar nya menjadi retak.


Hiro melihat sekelilingnya untuk mencari pemilik dari tombak tersebut tetapi tidak di temukan sama sekali orang selain dirinya yang berarti tombak itu di kirim dari tempat yang sangat jauh darinya.


"Okelah kalau tidak ada pemiliknya aku ambil saja" ucap Hiro dengan tenang mengangkat tombak tersebut dengan ringan karena sebelumnya tangannya telah di alir-i oleh energi alam.


SWOSHHH…


Hiro pun menyimpan nya di inventori supaya tidak dapat di ambil lagi oleh pemiliknya.


"Lumayan juga dapat senjata baru" ucap Hiro tersenyum senang dan segera pergi dari tempat tersebut.


***


"Sialan!!! semua serangan ku tidak ada yang mengenai nya? dan APA-APAAN itu? senjata yang ku miliki di rebut oleh nya?"


"Tidak bisa di biarkan! aku harus melakukan sesuatu!" ucap seseorang yang sangat marah sekali.


***


Hiro kembali ke kerajaan Manipeda dengan suasana hati yang senang karena terjadi sesuatu yang apabila terjadi apa orang lain akan menjadi masalah tetapi untuk dirinya menjadi sebuah keberuntungan.


"Kenapa kau pulang-pulang tiba-tiba tersenyum begitu? merinding aku melihatnya"


"Hahaha pak tua, senang bertemu denganmu lagi" ucap Hiro.


"Sialan! sudah kubilang jangan panggil aku begitu, aku masih muda!" ucap raja Pidana.


"Syutt dilarang berisik… Omong-omong ada apa ini? kenapa ramai sekali?" ucap Hiro saat melihat keadaan istana seperti medan perang, dimana para pelayan maupun para prajurit mondar-mandir kesana kemari sibuk sekali.


"Hanya menyiapkan jamuan untuk kedua raja yang akan datang" ucap raja Pidana.


"Gara? Rama? untuk apa mereka datang kesini?" ucap Hiro heran.


"Entahlah aku pun tidak tahu, tiba-tiba saja tadi pagi mereka mengabarkan bahwa akan datang kemari" ucap raja Pidana menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Eumm yasudah lagipula bukan urusanku" ucap Hiro dengan tenang kembali ke ruangannya.


Raja Pidana sekali lagi di buat lelah oleh sikap Hiro yang seperti tidak mengganggap penting mereka yang merupakan raja dari salah satu kerajaan.


"Nanti akan di adakan sebuah pertemuan, aku harap kamu bisa mengikuti nya!" ucap raja Pidana berteriak keras.


Hiro hanya melambaikan tangannya entah apa yang ia maksud.


Setelah berada di dalam ruangannya Hiro mengeluarkan senjata tombak hasil rampasan perang tadi.


"Mari kita lihat lebih jauh, apa ada sesuatu yang menarik pada tombak ini" ucap Hiro dengan tersenyum penasaran.


{Tombak tersebut memiliki 3 elemen utama sebagai titik serang nya tuan…}


"Astaga kaget aku!" ucap Hiro.


{Maaf tuan}


"Haishh sudah tidak apa-apa, tapi apa katamu tadi? aku telah tahu karena sebelumnya tombak ini mengeluarkan 3 elemen yang berbeda-beda saat menyerang aku" ucap Hiro.


{Sistem hanya menjalankan tugas tuan}


"Cihh! tugas apaan? tadi saja kau meninggalkanku!" ucap Hiro kesal.


{Itu terpaksa karena sistem capek tuan}


Hiro mengabaikannya dan memilih untuk melihat-lihat tombak tersebut.


'Mirip trisula tetapi berbeda' pikir Hiro.


{Tombak ini berada di level Dewa hampir setara dengan Pedang Langit Suci}


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...