
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa?"
"Mereka ingin tahu siapa pemilik pasukan yang tiba-tiba membantu dan aku yakin itu pasti karena dirimu" ucap raja Pidana yang ternyata menemui Hiro untuk memberitahukan nya bahwa raja-raja penasaran akan siapa tuan dari pasukan yang membantu mereka.
"Kasih aku waktu 30 menit untuk berpikir dan waktu itu juga cukup kan untuk pasukan berisitirahat?" ucap Hiro.
"Baik kalau begitu, setelah 30 menit selesai kalau kamu ingin membuka identitas mu boleh datang saja tetapi kalau tidak mau maka tidak perlu datang, biar aku yang menjelaskan nya pada mereka" ucap raja Pidana kemudian pergi meninggalkan Hiro seorang diri.
"Bagaimana menurut mu sistem? apa aku harus membuka identitas ku?" tanya Hiro.
{Walau anda menyembunyikan nya pun percuma tuan, karena para Dewa dapat melihat semua yang terjadi di dunia ini… Lebih baik terbuka agar para Dewa tidak terlalu merasakan terancam dan mereka akan menganggap anda sebagai musuhnya}
"Benar juga sih, ahhh~ tapi aku masih ingin bermain low profil" ucap Hiro.
{Cihh… Sama sekali tidak cocok dengan sikap anda yang seenaknya, tidak memikirkan apa-apa kalau sudah merencanakan sesuatu}
"Hahaha… Baiklah kalau menurut mu begitu sistem" ucap Hiro akhirnya pergi ke tempat para raja.
***
"Bagaimana?"
"Tunggu saja, kalau dia kemari berarti setuju untuk bertemu dengan kalian tetapi kalau sampai waktu kita pulang dia belum juga kemari maka…" ucap raja Pidana mengangkat bahunya.
Tetapi tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan dengan senyum khasnya.
"Kudengar ada yang ingin bertemu dengan ku?" ucapnya.
Raja Pidana yang melihatnya hanya tersenyum diam sambil menggelengkan kepalanya.
"A-apa?!"
"Dana, apa maksudnya ini?" tanya raja Rama.
"Bukankah kalian ingin bertemu dengan orang yang menjadi tuan pasukan tadi? dialah orangnya" ucap raja Pidana.
"Apaa?!! benarkah itu?" ucap raja Gara.
"Benar, mereka adalah pasukan yang ku miliki. Berkat kalian yang dapat mengulur waktu bagiku jadi pasukan datang tepat waktu bergabung ke medan perang" ucap Hiro.
"Tapi… Darimana datangnya pasukan mu itu?" tanya mereka berdua.
"Mereka? penyihir dari benua sebelah" ucap Hiro dengan tenang.
"Penyihir? benua sebelah?" ucap mereka tidak mengerti.
"Apa kalian tidak tahu? bahwa ada benua lain, selain benua Betavia?" ucap Hiro.
Ketiga raja itu menggelengkan kepalanya tidak mengetahuinya sama sekali.
"Haishh susah menjelaskannya, pokoknya ada benua lain di dunia ini dan mereka adalah para penyihir" ucap Hiro tidak mau terlalu repot menjelaskannya.
"Tapi bukankah kalian juga melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang akan memasuki benua Betavia?" ucap Hiro kembali.
"Benar tapi hanya pemeriksaan biasa saja tidak lebih" ucap mereka.
"Benarkah? tapi kenapa orang-orang yang memiliki energi alam di periksa lebih lanjut?" tanya Hiro.
"Eummmm mungkin karena mereka tidak memberitahukan identitas nya?" ucap ketiga raja itu.
"Tidak, aku juga waktu datang ke benua ini harus menyamar terlebih dahulu menjadi manusia biasa baru lolos dari pemeriksaan" ucap Hiro.
"Ohh benar ada kejadian waktu itu… Mungkin karena itu pemeriksaan di perketat" ucap raja Gara.
"Ada apa?" tanya Hiro.
"Terjadi suatu ledakan yang sangat keras di suatu arah, entah kapan itu terjadi aku lupa tetapi karena itu kami meningkatkan keamanan di setiap penjuru kerajaan, mungkin karena itu" ucap raja Gara.
Hiro mengerutkan keningnya dan tersenyum pahit.
'Jadi? itu semua gara-gara aku? bukan karena setiap penyihir di larang memasuki benua, sial ternyata gara-gara kecerobohan yang ku lakukan membuat diriku selama ini menjadi rumit' pikir Hiro.
{Anda benar-benar bodoh, ceroboh tuan. Selama ini anda berpikir rumit dan tidak jelas akibat dari kecerobohan anda sendiri}
'Berisik!'
"Hahh baiklah sudah lupakan, nah sekarang kembali ke topik utama. Kalian ingin bertemu dengan ku kan? sekarang sudah bertemu apa yang kalian inginkan?" ucap Hiro.
Raja Gara dan raja Rama saling berpandangan dan mengangguk.
"Membangun hubungan kerjasama!" ucap mereka bersamaan.
Hiro tersenyum kecil, "Baiklah tetapi bisa tolong panggilkan seseorang untukku?" ucap Hiro.
Raja Pidana kemudian memanggil seseorang.
Prajurit tersebut segera mengangguk dan pergi untuk melaksanakan nya.
Sesaat menunggu kembalinya prajurit tersebut Hiro pun sedikit membicarakan bahwa semuanya telah berada di dalam rencananya sebelumnya.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" ucap Hiro.
"Apa itu?"
"Dua kerajaan lainnya tolong beritahu aku kepada siapa kalian menyembah?" ucap Hiro dengan serius.
"Kami kerajaan Argantara memuja Dewa Heptasys"
"Kami kerajaan Romania memuja Dewa Napoleon"
{Dewa Heptasys adalah seseorang yang bertapa sangat lama hingga ribuan tahun hingga suatu saat ia mendapatkan suatu kekuatan yang membuatnya menjadi half-immortal. Pada saat itu kekuatannya lah yang paling tidak terkalahkan karena tidak dapat terbunuh walau tertusuk ribuan tombak. Hingga para manusia zaman dahulu menyebutnya Dewa}
{Dewa Napoleon adalah seorang manusia setengah harimau atau siluman harimau yang mendapatkan kekuatan dari leluhurnya. Karena keturunan harimau yang terkenal akan keberanian dan keperkasaan nya ia menguasai suatu wilayah hingga saat ini menjadi seorang Dewa}
'Hemmmm jadi mereka half-immortal semua? Dewi Harum pun?' ucap Hiro dalam pikirannya.
{Benar tuan… Tapi ingat tuan bahwa mereka half-immortal itu dulu, untuk sekarang sistem belum mendapatkan informasi lebih lanjut}
'Mungkin mereka sudah Abadi sekarang, tetapi tetap saja mereka tidak dapat menyaingi ku kan?' ucap Hiro.
{Coba saja tuan karena kekuatan anda saat ini setengah dari yang dulu}
'Benar juga…'
"Ada apa memangnya tuan Hiro?" tanya raja Rama dan Gara.
"Tidak, hanya saja setiap kerajaan pasti memiliki pemimpin yang berbeda-beda kan? aku ingin tahu saja" ucap Hiro dengan tersenyum tenang.
"Bukankah kamu juga kemarin baru bertemu dengan Dewi kan? memangnya Dewi tidak memberitahu dirimu?" ucap raja Pidana.
Kedua raja itu tiba-tiba terkejut sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Apa?!! anda bertemu dengan Dewi?" ucap mereka.
Hiro menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Kenapa mulut mu itu tidak bisa di jaga?" ucap Hiro.
"Ahh-… Maafkan aku!" ucap raja Pidana panik.
"Sudahlah, lagipula nasi sudah menjadi bubur. Lain kali jangan sampai hal ini menyebar luas ingat itu!" ucap Hiro dengan tegas agar mereka menutup mulut.
"Baik! kami berjanji tidak akan pernah memberitahukan nya kepada siapapun, sekalipun orang tersebut keluarga kami!" ucap mereka dengan tegas juga.
"Kalau begitu apa pembicaraan mu dengan Dewi?" tanya ketiga raja tersebut sangat penasaran.
"Rahasia" ucap Hiro sambil tersenyum kecil.
Selang beberapa menit kemudian prajurit yang tadi pergi telah kembali bersama ketiga anak tidak di kenal.
"Saya kembali Yang Mulia, setelah mencari-cari saya menemukan mereka lah yang mengaku bernama Ryu, Toru dan Lalita" ucap prajurit tersebut sambil berlutut hormat.
Sedangkan ketiga anak itu berjalan mendekat ke arah Hiro dan berlutut juga.
"Guru…" ucap mereka bersamaan.
Para raja hanya menatap heran Hiro karena ternyata mereka adalah murid-muridnya.
"Apa mereka murid mu?" tanya raja Pidana.
"Benar, mereka murid-murid ku yang paling membanggakan" ucap Hiro tersenyum senang.
"Hahhh pantas saja karena sifatnya persis seperti dirimu yang tidak peduli akan status kami yang seorang raja" ucap raja Pidana menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, walau begitu ia tidak mempermasalahkannya.
"Hahaha benar apa katamu Dana, walaupun hubungan mereka murid dan guru tetapi kelihatannya tuan Hiro seperti wali mereka" ucap Gara dan Rama.
Melihat mereka yang tetap ramah walaupun murid-muridnya tidak sopan pun membuat Hiro sedikit respect kepada mereka, karena dulu di dunianya pasti status seseorang lah yang di junjung tinggi.
"Kalian tunjukan kesopanan kepada para raja, walau aku mengajarkan kalian untuk tidak boleh menundukkan kepala ke orang lain tetapi tidak dengan orang baik, kalian harus mengangkat kepala tinggi-tinggi hanya untuk musuh saja" ucap Hiro menceramahi murid-muridnya itu.
"Baik guru…"
Mereka pun berjalan ke para raja dan menundukkan kepalanya sedikit beserta tubuhnya, walau hanya 3-5 cm saja.
Ketiga raja itu pun tersenyum dan menyuruh mereka untuk bersikap seperti biasa saja tidak perlu terlalu formal.
{Sistem membayangkan bagaimana jadinya anak anda tuan… Seorang murid saja mirip sekali seperti anda yang sombong dan angkuh nya minta ampun}
'Hahaha tentu saja kalau anak ku harus seperti diriku juga yang tidak bisa di singgung atau di remehkan begitu saja' ucap Hiro dengan bangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...