
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan perasaan senang dan tenang Hiro pun menjelajahi dunia baru kembali. Ia sangat menikmati hidupnya saat ini karena selalu berpetualang seorang diri seperti dulu kala.
"Dunia baru, petualangan baru... Ahh segar sekali udara disini, tetapi sayang sekali disini hanya ada sekumpulan salju putih saja" ucap Hiro.
{Sabar tuan... Sekitar 5 KM lagi anda akan menemukan suatu tempat tinggal penduduk}
"Tetap saja masih cukup jauh... Kau pikir 5 KM seperti 5 meter gitu?" ucap Hiro.
{Dunia baru terasa baru kan kata anda juga barusan... Kapan lagi coba anda melihat sekelilingnya di penuhi salju? Hanya ada di dunia ini saja kan}
"Kalau aku terkena hipotermia bagaimana?!" ucap Hiro.
{Tidak akan... Tubuh sekuat dan sekokoh baja tidak mungkin terkena hipotermia}
"Hemmm kalau begitu terbang saja ahh, sepertinya pemandangan nya lebih indah lagi" ucap Hiro kemudian mengepakkan sayap naganya dan terbang menuju ke arah yang di instruksikan.
Butuh waktu 10 menit untuk Hiro sampai di suatu kota di dunia tersebut karena ia terbang dengan kecepatan cukup tinggi.
"Wowwww....!!! Sialan, benar-benar hebat sekali.." ucap Hiro terkagum-kagum melihat pemandangan di depannya.
Rumah zaman Belanda dengan atap putih karena salju membuatnya semakin menawan dan elegan. Tidak hanya itu saja orang-orang yang berlalu lalang pun berbagai macam ras, tetapi ras terbanyak sepertinya ras hewan.
"Sialan.. ia hebat juga dapat membangun dunia yang indah seperti ini, aku jadi iri" ucap Hiro.
{Tinggal buat saja apa susahnya?}
"Tidak ada waktu, lebih baik aku memanjat ke tahapan kultivasi tertinggi" ucap Hiro.
{Ahh kak, untuk sementara ini aku akan pergi dulu menemui ayah untuk memberikan laporan rutin}
"Cih orang tua itu masih saja ikut campur ternyata" ucap Hiro.
{Hhi itu karena kakak satu-satunya menantu ayah yang paling membanggakan, mungkin...}
"Hahhh yasudah pergi saja tetapi kalau kamu pergi nanti apa sistemnya tidak akan aktif?" tanya Hiro.
{Hemmm aku akan menyimpan sebagian jiwa kecil disini, jadi fitur sistem akan selalu aktif walaupun aku pergi}
"Nah begitu lebih baik..." ucap Hiro.
Saat Hiro telah sampai di depan pintu masuk kota, terpampang jelas sebuah ukiran indah dan cukup besar bertuliskan "Kota Lima Warna" di atas pintu gerbang tersebut.
Beberapa saat kemudian Hiro pun telah sampai di depan sebuah penginapan yang sangat besar dan luas.
Hiro mengambil kamar termewah dari penginapan Xiu Ring tersebut. Semalaman ia merasakan sangat aneh karena tiba-tiba auranya bergejolak liar.
Keesokkan harinya ia pun terbangun dengan wajah lesu karena tidak bisa tidur sama sekali.
"Sial.. mengapa aku merasa sesak yah seakan-akan ada yang mengawasi ku" ucap Hiro yang sambil berjalan turun untuk sarapan.
Sebelum sampai ke tempat duduknya, secara tiba-tiba ia langsung menghentikan langkah kakinya karena merasakan aura kematian yang sangat kuat menuju ke arah penginapan tersebut.
Hiro mengerutkan keningnya sejenak sambil mengedarkan indra spiritual nya memeriksa apa yang terjadi di sekitarnya.
Hanya dalam beberapa detik saja muncul seorang pria paruh baya tinggi kekar dan berpakaian hitam telah berada di atas penginapan tersebut.
"Wu Dunrui, keluarlah!" teriak pria paruh baya dengan menggunakan energi Qi nya.
"Hmmm.. Dong Fang!! Apa yang kamu lakukan di tempat ku? Mengapa kamu membuat keributan disini?" ucap seorang pria yang keluar dari entah darimana, telah muncul di udara sekitar 20 meter di depan pria paruh baya yang di panggilnya sebagai Dong Fang itu.
"Hah! Tidak usah berpura-pura lagi, cepat tentukan kapan kau akan menikahkan putri mu dengan ku?!" ucap nya dengan marah.
"Hentikan omong kosong mu itu!! Perbedaan umur kalian saja sudah sangat jauh, walaupun kau dulu rekan seperguruan tetap saja aku tidak sudi memberikan putriku kepadamu!" ucap Wu Dunrui dengan nada marah sambil menunjuk ke arah Dong Fang.
Keributan yang di sebabkan oleh Dong Fang tersebut telah membuat semua orang yang berada di dalam penginapan segera keluar dan berkumpul di halaman nya masing-masing.
"Kau..?!! Baiklah kalau itu keputusan mu, maka dengan terpaksa aku harus memusnahkan keluarga mu!" ucap Dong Fang dengan marah sambil mengeluarkan api hitam di tangan kanannya.
"Ibu, siapa orang yang sedang bersama ayah itu? Mengapa ia berkata akan memusnahkan keluarga kita?" ucap seorang gadis yang mengkhawatirkan ayahnya.
"Dia adalah kakak seperguruan dari ayahmu, namanya adalah Dong Fang. Dulunya dia sangat menyukaiku tetapi guru mereka lebih memilih ayahmu dan menikahkan kami dan dengan begitu jadinya ia memilih mu nak" ucap seorang wanita paruh baya sepertinya istri dari Wu Dunrui itu.
"Apa?! Aku tidak mau ibu!!!"
"Apalagi orang itu umurnya sama dengan kalian!!" ucap gadis itu langsung menangis setelah mendengar penjelasan ibunya.
"Maaf paman tetapi Xiu Ling lebih memilih aku dan kita akan menikah nanti" ucap Hiro secara tiba-tiba juga telah muncul di udara tepat di samping Wu Dunrui.
"Hahh sebenarnya aku tidak ingin ikut campur tapi seharusnya kau tahu umur... " ucap Hiro.
"Ibu.. apakah pemuda itu benar-benar akan menikah dengan ku? Tapi kenapa aku baru mengetahuinya?" ucap gadis itu.
Ibunya pun dan Wu Dunrui kebingungan karena mereka juga benar-benar tidak tahu siapa pemuda tersebut yang tiba-tiba mengaku akan menikahi putri mereka?.
"Ya.. itu benar" ucap Wu Dunrui dengan nada cemas.
Dong Fang hanya diam saja saat mendengar perkataan Hiro, tetapi matanya tiba-tiba telah berubah menjadi merah seperti darah.
"Hemmm sepertinya aku memang harus menghabisi mu terlebih dahulu... Agar memudahkan ku untuk memusnahkan mereka selanjutnya" ucap Dong Fang.
Seolah tak memperdulikannya ancaman dari Dong Fang, Hiro menggerakkan tangannya yang langsung berubah menjadi tangan Naga dengan cakar tajam.
Seluruh orang yang melihatnya pun terkejut membelalakkan matanya melihat penampilan Hiro saat ini.
Tidak hanya tangannya saja, matanya berubah menjadi emas dan muncul tanduk di kepalanya. Auranya pun bergejolak ganas keluar dari tubuhnya.
Aura Hiro yang kuat dan besar berhasil menekan seluruh orang yang ada di tempat tersebut sehingga membuat mereka bertekuk lutut sambil menghadap Hiro yang ada di atas langit.
Wu Dunrui dan Dong Fang pun tertekan dengan aura yang Hiro keluarkan. Kalau saja mereka lemah sedikit maka mereka sudah pasti terjatuh keras ke atas tanah karena tekanan aura Hiro.
"Kamu ingin bersaing dengan ku? Kekuatan yang kau miliki saja tidak ada apa-apanya di depan ku saat ini" ucap Hiro dengan dingin.
ROAR...
Auman Naga yang berasal dari Teknik Dewa Naga berhasil membuat tempat tersebut berguncang keras dan bagi mereka yang lemah akan mengalami pendarahan pada telinganya.
BOOM...
BOOM...
Hiro mengambil kesempatan dimana Dong Fang lengah, ia memukulnya tepat pada titik saraf meridian nya berada dan menyerap seluruh energi kehidupannya.
"Arghh-! Kenapa aku merasakan kekuatan dari energi Qi ku terserap?!!" ucap Dong Fang yang berusaha keras menahan kebocoran yang terjadi pada Meridian nya.
Hiro langsung menusuknya sekali dengan pedang emasnya dan membuat Dong Fang menjerit kesakitan.
Hiro mencabut kembali pedangnya dan membuat tubuh Dong Fang yang telah tidak bernyawa meledak menjadi bubur darah.
Tatapan kagum dan takjub dari semua kultivator, semuanya kini tertuju pada Hiro yang berdiri bersama Wu Dunrui di atas langit.
"Ayo paman kita kembali.." ucap Hiro sambil menepuk pundak Wu Dunrui dan tersenyum tenang.
Wu Dunrui hanya mengangguk dan turun bersama Hiro ke depan penginapan.
"Apa kalian baik-baik saja? Terimakasih tuan, kalau bukan karena bantuan anda, mungkin aku dan keluargaku telah di bunuh oleh Dong Fang" ucap Wu Dunrui setelah sadar dan langsung membungkuk memberi hormat kepada Hiro.
Xiu Ling dan seorang wanita paruh baya bernama Wu Liha pun membungkukkan badannya memberi hormat kepada Hiro dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya.
"Hahaha tidak perlu sungkan paman, bibi... Kultivator seperti Dong Fang memang pantas untuk mati" ucap Hiro sambil tertawa lirih.
"T-tuan.. apa benar anda akan menikahi ku? Kapan?" ucap Xiu Ling yang ragu-ragu dan malu sambil bersembunyi dibalik badan ibunya.
"Aihshh anak nakal ini.. maafkan atas kelancangan dan ketidaksopanan putri kami tuan Hiro!" ucap Wu Liha dengan cepat meminta maaf kepada Hiro setelah melihat tingkah Xiu Ling tersebut.
"Haha tidak apa-apa bibi.. tetapi kalau nona Xiu Ling benar-benar bersedia menikah dengan ku maka ayo kita lakukan saja" ucap Hiro dengan maksud bercanda.
Namun sepertinya di telinga mereka perkataan Hiro di anggap serius, karena di lihat dari wajah kedua orang tua itu berdiam diri dengan wajah serius seperti memikirkan sesuatu dan Xiu Ling sendiri wajahnya memerah padam karena malu.
"Eh?" ucap Hiro tersadar dan berhenti tertawa saat melihat tingkah aneh mereka.
"Baik tuan Hiro, karena hanya dengan ini saja kami dapat membalas budi kepada anda dan sepertinya putri kami juga tidak keberatan" ucap Wu Dunrui dengan serius dan tersenyum saat melihat ke arah Xiu Ling yang menyembunyikan wajahnya di balik badan ibunya.
"Ah.." ucap Hiro dengan wajah seperti orang bodoh.
***
Terimakasih buat teman-teman sekalian yang telah memberikan Like da Vote nya serta memberikan Rating bintang lima, dan juga orang-orang yang sering berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Author doakan semoga sehat selalu buat para pembaca yang suka memberikan Like dan Komen, entah itu komentar nya bentuk positif ataupun negatif.
Mohon maaf juga kalau author selalu memaksakan kalian untuk memberikan Like.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...