
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di suatu tempat terdapat dua orang yang sedang berpelukan dimana sangat terasa suasana haru dan bahagia di antara mereka. Yah benar mereka adalah Hiro dan anaknya Hari!.
Pertemuan dramatis antara ayah dan anak yang telah lama berpisah tanpa bertemu sama sekali selama ini. Hingga akhirnya 'waktu' yang membantu mereka untuk bertemu.
"Sebenarnya kemana saja anda selama ini ayah?" tanya Hari setelah sedikit tenang.
Walaupun matanya lembab karena terlalu lama menangis tetapi hatinya lega setelah melampiaskan semua kerinduannya terhadap ayahnya itu.
"Ayah terpisah dari kalian karena suatu hal tetapi percayalah nak, ayahmu ini tidak sehari pun menyia-nyiakan waktu untuk mencari kalian" ucap Hiro.
"Aku percaya ayah, karena setiap hari nya ibu-ibu ku selalu memberitahu dan menceritakan tentang anda" ucap Hari.
"Terimakasih karena telah mempercayai ayah" ucap Hiro tersenyum senang dan lega.
Hiro kemudian melirik ke arah Meng Luo yang sedari tadi terdiam kaku.
"Aku pulang…" ucap Hiro sambil tersenyum lembut.
Air mata Meng Luo tak terbendung lagi, ia langsung berlari ke arah sebaliknya Hiro berada.
Hiro yang melihatnya hanya tersenyum.
"Apa kamu memiliki saudara lain nak?" tanya Hiro.
"Tidak ayah, aku satu-satunya putri ayah" ucap Hari masih memeluk Hiro dengan erat.
"Kamu pasti kesepian sekali yah nak, tenang saja kedepanya ayah pasti akan selalu ada untukmu" ucap Hiro.
"Aku pegang janji ayah" ucap Hari.
DRAP… DRAP… DRAP…
Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah dunia jiwa dan muncullah beberapa sosok.
Sebagian dari mereka ada yang langsung berlutut dan ada juga yang hanya terdiam sambil menatap tidak percaya kepada Hiro.
"Selamat datang kembali tuan!!!"
"Sayang!"
"Suami!"
"Anakku!"
Beberapa teriakan berbeda-beda terdengar dari mereka semua.
"Kalian semua?… Ahh-tidak maksudku, aku pulang" ucap Hiro sambil tersenyum senang.
{Dunia jiwa hampir mengenali anda tuan… Lakukanlah sesuatu yang mungkin saja dapat merangsang dunia jiwa mengingat kembali anda}
{Dan coba lakukan sesuatu agar mereka semua tidak keluar dari dunia jiwa…}
Hiro mengangguk dan mencoba menghentikan mereka yang sedang berlari menghampirinya.
"Kalian diam disana, jangan keluar dari batasan dinding pelindung" ucap Hiro.
"Tapi…"
"Yue, tolong hentikan mereka" ucap Hiro.
"Baiklah aku mengerti… Kalian semua coba dengarkan saja perkataan suami" ucap Yue.
Akhirnya dengan berat hati, mereka mundur perlahan menjauh dari dinding pelindung dunia jiwa.
"Terimakasih, maaf bukannya aku tidak senang bertemu dengan kalian tapi untuk saat ini ada suatu masalah dan kalian pun pasti tahu apa masalahnya kan?"
"Baiklah! tapi kamu baik-baik saja suami?" tanya Elizabeth yang mulai berpikir jernih dan tidak terbawa suasana.
"Aku baik-baik saja, maafkan aku karena telah membuat kalian semua khawatir" ucap Hiro.
"Tidak apa-apa yang lebih penting kamu baik-baik saja" ucap Elizabeth dan yang lainnya.
"Baik, tapi ingat jangan sampai tidak ada kabar lagi seperti sebelumnya!"
Hiro hanya tersenyum dan melirik ke para bawahannya yang sedang dalam posisi berlutut.
"Apa kalian juga baik-baik saja?" tanya Hiro.
"Senang bertemu dengan anda kembali tuan… Kami baik-baik saja" ucap Diablo dengan penuh hormat.
"Hahaha benar kelihatannya memang seperti itu, kekuatan kalian juga ternyata sudah berkembang yah? eummm bagaimana dengan kekuatan 7 Dosa Besar yang aku berikan pada kalian?" tanya Hiro.
Mendengar perkataan Hiro membuat semua bawahannya tersentak kaget dan terdiam tidak menjawabnya sama sekali.
"Hoooo? aku mengerti, tidak apa-apa karena aku tahu situasi kalian saat aku menghilang… Tapi sekarang aku sudah kembali jadi aku berikan waktu 1 minggu untuk kalian meningkatkan 7 Dosa Besar!" ucap Hiro dengan dingin.
Mereka pun mengangguk dengan cepat, "Baik tuan!!!"
Setelah itu mereka pamit pergi untuk berlatih karena waktu yang di berikan Hiro sangatlah sedikit.
"Fyuhhh… Mereka ini benar-benar tidak berubah sama sekali" ucap Hiro pelan.
"Ayah kita akan pergi kemana?" tanya Hari.
Hiro pun kemudian tersadar karena Hari tidak bisa masuk lagi ke dalam dunia jiwa.
"Astaga!!! Nak? kenapa kamu keluar?" ucap Hiro panik.
"Tentu saja untuk memeluk ayah?" ucap Hari yang polos.
"Tentu saja sudah waktunya bagi kamu untuk mengurus anak itu sendiri, jadi kami serahkan anak itu padamu" ucap Yue.
"Tapi di luar berbahaya" ucap Hiro.
"Bukankah semuanya hanya semut di matamu?" ucap Yue kembali.
"Hemmmm benar, tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian! kamu harus bertanggungjawab karena kasihan anak itu selama 5 tahun hidup tanpa ada ayahnya di sampingnya!" ucap Yue dengan dingin yang membuat Hiro tidak bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah… Omong-omong, ibu dari anak ini siapa?" tanya Hiro.
"Tentu saja… Itu dari saudari Luci" ucap para istrinya.
"Luci? terus dia kemana sekarang?" tanya Hiro.
"Sedang berlatih bersama Liya"
"Haishh… Kalau begitu kapan giliran kalian hemmm?" tanya Hiro dengan senyum penuh arti.
Mendengar pertanyaan Hiro membuat wajah mereka semua memerah padam.
"Bagaimana bisa kami memberimu anak, sedangkan kita saja sudah lama tidak melakukannya…" ucap mereka pelan.
Walaupun pelan tapi Hiro dapat mendengar nya, ia menelan ludah secara kasar karena tiba-tiba pikirannya di penuhi hal-hal yang sangat 'panas'.
"Baiklah tunggu saja sebentar lagi, setelah itu baru kita lakukan sampai puas…" ucap Hiro dengan bersemangat.
"Nak? apa kamu melupakan ibu?" sebuah suara dingin tiba-tiba membuat suasana menjadi canggung dan mengerikan.
"Ahh-i-itu, maafkan aku bu" ucap Hiro ketakutan.
"Haishh… Cepatlah kemari, seluruh keluarga sangat merindukan dirimu" ucap ibunya.
"Baik bu! tenang saja aku pasti akan menyelesaikannya dengan cepat!" ucap Hiro.
"Bagus dan jagalah anakmu jangan sampai tergores sedikitpun, kalau itu sampai terjadi… Kamu akan tahu akibatnya" ucap ibunya tersenyum dingin kepada Hiro.
"GLEK!"
'Kenapa mereka semua jadi sangat menakutkan sekali?!' pikir Hiro.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...