Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Persiapan Perang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketenangan yang Hiro rasakan beberapa hari ini akhirnya berakhir saat dimana kaisar memberitahukan bahwa ia akan berkunjung.


Walaupun sebenarnya Hiro tidak peduli tetap saja harus di adakan acara penyambutan agar tidak terlalu semakin memperkeruh suasana yang sudah keruh.


Walaupun acara penyambutan kedatangan kaisar di lakukan secara biasa saja, tetapi menurut orang-orang yang datang bersama kaisar penyambutan yang di lakukan Hiro cukup meriah dan terlihat sangat menghargai kaisar.


Apabila Hiro tahu apa yang di pikirkan oleh mereka maka ia akan berteriak...


'Omongkosong macam apa itu?! Aku buat acara yang sangat sederhana karena kasihan terhadap para pelayan!'.


Rombongan kaisar di arahkan menuju ke ruangan khusus pertemuan, di dalam ruangan terdapat dirinya, Yue dan kedua orang tuanya sebagai wali/tetua.


"Salam Yang Mulia..." ucap Hiro memberikan hormat yang sangat sederhana sambil tersenyum kecil.


Kaisar yang melihat wajah Hiro sangatlah terkejut karena wajahnya sangat familiar.


"Huroi?!" ucap kaisar yang terkejut.


"Benar, tetapi saya sekarang adalah Hiro, Yang mulia..." ucapnya dengan tenang.


"Apa? Jadi selama ini?"


"Benar, saya menyamar karena suatu alasan tetapi maaf sekali saya tidak bisa menyebutkan alasannya" ucap Hiro.


Orang-orang yang tahu tentang Huroi pun terkejut dan tidak menduganya sama sekali.


"Apa-apaan ini? Ternyata selama ini pemilik wilayah yang sebenarnya berada dekat denganku..." ucap Kaisar menghela nafas panjang.


"Hahaha maafkan aku Yang mulia... Tetapi saya harap anda melupakan kejadian yang telah berlalu, maka saya pun akan melupakan nya" ucap Hiro tersenyum kecil.


"Hahhh aku benar-benar terkecoh.... Tapi yasudah lah yang penting kita tidak ada masalah satu sama lain" ucap Kaisar tidak mempermasalahkannya.


"Hahaha anda sangat murah hati sekali Yang mulia... Kalau begitu silahkan duduk" ucap Hiro.


Mereka pun duduk dengan tenang dan basa-basi sebentar hingga raut wajah kaisar berubah menjadi serius.


"Begini Huroi- ahh Duke Hiro... Aku telah melakukan penyelidikkan tentang rumor yang beredar di kekaisaran dan akhirnya mendapatkan hasilnya, semoga kamu puas" ucap Kaisar.


"Hahh saya tidak menyangka anda akan turun tangan untuk menangani masalah sepele itu Yang mulia..."


"Kalau apapun yang bersangkutan dengan wilayah ini tidak akan aku anggap masalah sepele Duke, karena mau bagaimana pun hubungan kita lebih penting daripada para tikus keparat itu" ucap Kaisar yang sedikit emosi.


"Aku sangat berterimakasih atas semua yang anda lakukan Yang mulia..."


"Tidak perlu berterimakasih, karena ini sesuatu yang memang harus aku lakukan" ucap Kaisar.


"Hahaha anda bisa saja Yang mulia... Baiklah apa hanya itu saja yang ingin anda sampaikan pada saya Yang mulia?" ucap Hiro.


"Kau benar, tujuan ku yang sebenarnya kemari adalah untuk meminta pertolongan kepadamu..." ucap Kaisar dengan serius.


"Hooo~ apa yang perlu saya lakukan sampai-sampai anda tidak bisa membereskannya sendiri, Yang mulia?" ucap Hiro.


"Sekalipun aku kaisar tetap saja apabila di tekan oleh beberapa kerajaan lebih dari 2 maka kekaisaran tidak akan bisa berkutik" ucap Kaisar.


"Baiklah kalau begitu, katakan saja baginda" ucap Hiro.


"Tolong ikut denganku dalam melakukan pembersihan pada suatu wilayah" ucap Kaisar.


Hiro terdiam sedikit terkejut, "apa maksudnya?" Tanya Hiro.


"Yah karena ini juga ulah mu, maka kau juga harus ikut terlibat" ucap Kaisar.


"Berapa?"


"5 wilayah, yang terdiri dari 2 kerajaan" ucap Kaisar.


"Hahhh baiklah kalau begitu tetapi aku hanya akan meminjamkan para prajurit milikku saja... Aku tidak akan terjun ke dalam peperangan apabila bukan karena suatu alasan" ucap Hiro.


"Walaupun begitu aku sangat berterima kasih, berapa banyak yang bisa kamu berikan?" tanya kaisar dengan senyum lega.


"Aku belum memikirkannya, berapa hari lagi waktunya?" ucap Hiro.


"Kurang lebih 1 minggu tetapi lebih cepat lebih baik..." jawab Kaisar.


"1 minggu yah... Baiklah lusa nanti aku akan mengirim orang untuk melaporkan berapa banyak pasukan yang bisa aku ikut sertakan, apa tidak masalah?" ucap Hiro.


"Tentu tidak, baiklah akan aku tunggu kabar menggembirakan itu darimu" ucap Kaisar.


"Oh yah untuk saling bertukar informasi, bagaimana kalau aku meninggalkan salah satu jendral kebanggaan kekaisaran untuk mu disini?"


"Kalau begitu aku pun akan melakukan hal yang sama... Panggilkan Raphael" ucap Hiro menyuruh para penjaga.


Tidak lama kemudian sosok pria bertubuh tinggi dan putih memasuki ruangan.


"Anda memanggil saya tuan?" ucap Raphael sambil berlutut hormat.


"Besok atau hari ini terserah kamu, pergilah ke kekaisaran untuk saling bertukar informasi... Kalau ada yang bisa kamu bantu, maka bantu lah mereka" ucap Hiro memberikan perintahnya.


"Baik tuan, perintah anda akan saya laksanakan" ucap Raphael dengan penuh hormat.


"Kalau begitu cepat bereskan barang-barang mu, kalau berangkat hari ini maka bersiap-siaplah agar bisa bareng bersama kaisar" ucap Hiro menyuruhnya pergi.


Raphael mengangguk, ia menoleh sedikit dan menundukkan kepalanya sewajarnya saja kepada para tamu di ruangn tersebut dan pergi keluar.


"Luar biasa, bawahan mu saja terasa sangat kuat dari aura yang kurasakan barusan" ucap Kaisar mengagumi sosok Hiro yang benar-benar tidak bisa di bandingkan dengan dirinya.


"Hahaha anda juga kan memiliki bawahan yang sangat luar biasa pastinya, tidak termasuk para jendral besar" ucap Hiro rendah diri.


"Hahhh kau ini merendah hanya untuk meroket saja..." ucap kaisar.


Mereka pun berbincang-bincang santai sejenak hingga kaisar memutuskan untuk segera kembali ke kekaisaran.


***


Keesokkan harinya Hiro mengumpulkan para pasukannya dan menanyakan siapa saja yang bersedia untuk terjun ke peperangan.


Tentu saja seluruh pasukan bersedia untuk mengikutinya karena itu perintah dari tuan mereka tetapi Hiro memberitahukannya kembali bahwa ia tidak akan menurunkan mereka semua, mungkin hanya seperempat atau separuh saja dari mereka.


"Maka dari itu lakukan sebuah pertandingan dimana mereka yang menang akan di ikut sertakan dalam perang sedangkan yang kalah akan kembali di latih agar semakin kuat!!!" ucap Hiro dengan tegas.


"Pertandingan tersebut akan di lakukan esok hari dan waktunya hanya 2 hari! Tanyakan lebih lanjut nanti kepada Diablo" ucap Hiro kemudian pergi dari sana.


Para prajuritnya tentu saja sangat bersemangat dan tidak sabar untuk segera mengiktui pertandingan tersebut, menurut mereka ikut serta dalam perang merupakan suatu kesempatan agar mereka dapat memperlihatkan kekuatannya kepada Hiro setelah sekian lama.


Setelah pergi dari area pelatihan prajurit, Hiro menemui Diablo dan membicarakan kembali tentang pertandingan yang akan di lakukan. Hiro pun memberikan perintah agar Diablo segera mempersiapkan semuanya, entah itu pasukan iblis ataupun angel siapapun boleh mengikuti pertandingan tersebut karena dirinya mencari yang terbaik di antara yang terbaik tidak peduli dari ras manapun.


"Aku tidak ingin pasukan ku nanti membuat nama baik ku tercoreng, aku ingin pasukan yang mengikuti perang benar-benar dapat di andalkan dan tidak dapat di kalahkan..."


"Satu prajurit kita yang mati maka 1 tahun hukuman untuk pemimpin mereka karena tidak becus dalam mengurus prajuritnya" ucap Hiro dengan tegas.


"Baik tuan! Akan saya laksanakan, yakinlah bahwa para prajurit yang akan di ikuti sertakan tidak akan membuat anda kecewa!" ucap Diablo.


Hiro mengangguk dan segera kembali ke istana, setelah mengurus semuanya kini ia dapat kembali bermalas-malasan bersama para wanitanya.


{Anda semakin kesini semakin malas yah tuan...}


'Hoo~ akhirnya kamu bersuara juga sistem'


{Hahhh sistem selama ini diam karena memperhatikan anda tetapi apa yang anda lakukan hanya bermalas-malasan saja}


{Ingin rasanya sistem memutar balikkan waktu dimana kembali ke awal anda saat reinkarnasi, maka sistem tidak akan membantu anda untuk kuat dengan cepat maka dengan itu anda mungkin tidak akan bermalas-malasan dan akan sangat menghargai waktu}


'Apa salahku? Karena memang tidak ada yang bisa aku lakukan maka tentu saja aku harus diam, apakah harus berbuat masalah di saat tidak ada yang bisa aku lakukan?' jawab Hiro.


{Anda akan menyesal di kemudian hari tuan kalau bermalas-malasan terus seperti sekarang}


'Hahhh... Baiklah katakan apa yang harus aku lakukan sekarang?' ucap Hiro.


{Tidak ada...}


Hiro mengerutkan keningnya, 'Terus kenapa aku tidak boleh bermalas-malasan kalau tidak ada yang harus ku lakukan?!!!' ucapnya kesal.


"Tentu saja tidak, suatu saat nanti kita akan pergi tetapi sebelum itu aku harus menemukan cara terlebih dahulu agar dunia jiwa kembali seperti semula" ucap Hiro.


"Hahhh itulah mengapa kamu jangan melakukan sesuatu yang aneh" ucap Yue.


"Benar, lebih baik mulai sekarang jangan melakukan apapun yang membahayakan dirimu sendiri dan semua orang yang ada di dunia jiwa ini"


"Nyawa mereka ada di tangan mu ingat itu sayang" ucap Para wanita Hiro yang melayangkan berbagai macam protes dan keluhan.


"Hahaha baiklah-baik aku tidak akan melakukan tindakan sembarangan lagi" ucap Hiro.


BRAK...


"Ayah... Ibu? Rupanya kalian semua ada disini" ucap Hari.


"Ada apa putriku yang cantik ini mencari ayah?" tanya Hiro.


"Aku melihat paman Diablo mempersiapkan sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang paman rencanakan... Apa ayah tahu?" tanya Hari.


"Oh itu Diablo sedang ayah suruh untuk mempersiapkan pertandingan esok hari" ucap Hiro.


"Pertandingan?"


"Iya pertandingan untuk para prajurit kita" ucap Hiro.


"Sepertinya menarik, apa aku boleh mengikutinya ayah?" tanya Hari dengan tatapan memelas.


"Ughh, tapi..." ucap Hiro ragu-ragu.


"Biarkan saja sayang, ia hanya ingin mengikutinya saja walaupun ia menang kan bisa di kasih hadiah yang lain" ucap Yue.


"Benar, sekali-kali manjakan lah putrimu! Jangan ingin membuatnya saja" ucap Luci dengan tegas yang membuat Hiro tersentak.


"Ah-haha baiklah kamu boleh ikut nak, tapi kalau terluka jangan salahkan para prajurit oke? Ayah tidak ingin terlihat seperti pemimpin yang tidak adil hanya karena kamu putri ayah" ucap Hiro memperbolehkannya sambil memberikan satu syarat.


"Baik ayah! Aku juga mengerti terluka dan sakit adalah hal wajar saat bertarung... Lagipula aku bukan lagi anak kecil, sekarang aku cukup kuat!" ucap Hari dengan bangga.


"Haha tentu saja putri ayah pasti sangat kuat' ucap Hiro.


"Hehe, kalau begitu aku akan pergi dulu untuk memberitahukannya pada paman Diablo... Dadah ayah!" ucapnya pergi sambil bersenandung senang.


"Ckckck tidak terasa ternyata putriku sudah besar sekarang" ucap Hiro.


Keesokkan harinya pertandingan yang Hiro jadwalkan segera di mulai. Seluruh pasukannya ikut serta dalam pertandingan tersebut, begitu pun dengan putrinya yang tengah tersenyum senang di antara barisan para peserta.


Para pasukan Hiro yang melihat keberadaan putrinya di tengah-tengah mereka sangat canggung, bahkan ada di antara mereka yang sudah merencanakan untuk menyerah saja apabila berhadapan dengan putri tuannya.


Hiro berdiri sambil tersenyum senang, "Terimakasih semuanya! Kalian memang benar-benar prajurit kebanggaanku, baiklah siapapun yang menang pada pertandingan ini tunjukkanlah pada dunia ini eksistensi kalian sebagai pasukan milikku!!!" ucap Hiro dengan tegas dan penuh wibawa.


Aura penguasanya keluar dan menambah kesan agung yang membuat para pasukannya semakin menambah rasa kesetiaan hingga batas maksimal.


"Baik!!!" ucap mereka semua dengan keras dan bersemangat.


"Kalau begitu, pertandingan hari pertama... Dimulai!!!" ucap Hiro dengan keras.


"Woaaaaaa!!!"


Diablo kemudian maju ke panggung batu yang telah di persiapkan.


"Pertandingan pertama akan di lakukan secara berkelompok! Jadi kalian bentuklah kelompok dengan terdiri dari 10 orang" ucapnya sebagai wasit.


Sedangkan Hiro dan keluarganya menjadi juri + penonton.


"Oh yah aku lupa satu hal... Walaupun lawan kalian adalah putriku, tetap kerahkan saja seluruh kekuatan kalian untuk melawannya karena di pertandingan kali ini Hari statusnya bukan lah putriku tetapi peserta pertandingan! Kalau ada satu orang pun yang menyerah sebelum bertanding maka akan aku hajar dan juga apabila ada yang tidak serius dalam melawannya maka akan aku suruh Diablo untuk membawa kalian ke dunia neraka..."


"Kalau kalian takut melukai putriku maka jangan khawatir tidak akan terjadi masalah, aku tidak akan marah sama sekali karena hal ini sangat bagus dalam perkembangan dirinya dan merasakan pertarungan yang sebenarnya!" ucap Hiro dengan tegas.


Para prajurit yang mendengarnya masih ragu-ragu, mereka kemudian melihat ke para wanita Hiro memastikan kembali perkataan Hiro.


Tentu saja Luci dan yang lainnya selaku ibunya Hari mengangguk tidak masalah, yah walaupun mereka khawatir akan putri mereka tetapi mereka percaya kepada Hiro yang tidak mungkin membiarkan putrinya dalam keadaan bahaya.


Melihat para prajurit masih ragu-ragu, Hari pun berteriak keras "Benar apa kata ayah! Aku ingin kalian melihat keberadaan diriku karena aku sendiri bukan karena status yang aku miliki sebagai putri tuan kalian!".


Mendengar hal itu membuat para prajurit mengangguk, "Baik!!!".


Hiro tersenyum dan memberi isyarat kepada Diablo untuk memulai kembali pertandingan.


Diablo menganggu, "Baiklah segeralah membentuk kelompok... Akan aku beri waktu 5 menit" ucapnya.


"Apa benar tidak apa-apa membiarkan Ha'er bertarung dengan para prajurit yang sudah berpengalaman?" tanya Luci.


"Tidak masalah, walaupun terluka sedikit biarkan saja hal tersebut menjadi pelajaran bagi dirinya bahwa dunia beladiri/kultivator sangatlah keras" ucap Hiro.


"Baiklah kalau begitu tapi kamu tetap harus menjaga keselamatan putri kita satu-satunya, kalau terjadi sesuatu padanya maka aku tidak akan pernah memaafkanku! Jangan pernah juga menyentuh diriku!" ucap Luci mengancam dengan tegas.


"Iya-iya tenang saja kamu tidak perlu khawatir, karena dia itu putriku jadi tentu saja aku harus berperan jadi ayah yang baik dan menjaganya" ucap Hiro.


Tidak lama kemudian pertandingan pertama di mulai, setiap kelompok telah bersiap untuk bertarung satu sama lain bahkan tidak ada rasa takut di wajahnya hanya ada senyum lebar yang menandakan bahwa mereka benar-benar sangat bersemangat.


***


Pertandingan terus berlanjut hingga malam hari, Hiro masih duduk dengan tenang sedangkan keluarganya banyak yang telah meninggalkan tempat duduknya karena ada urusan yang perlu di kerjakan.


'Tidak ku sangka ternyata banyak sekali bakat-bakat terpendam yang sangat luar biasa dari para prajuritku ini' ucap Hiro dalam hatinya.


{Itu karena anda sebelumnya hanya memandang mereka sebelah mata, pandangan anda pada mereka hanya sekadar orang-orang yang membutuhkan bantuan bukan sebagai orang yang akan membantu anda}


'Benar juga, tetapi walaupun begitu kan masih ada beberapa dari mereka yang selalu aku andalkan' ucap Hiro.


{Itu hanya pada saat anda masih berada di dunia bawah, berbeda setelah anda berpergian ke berbagai macam dunia... Mereka hanya terlihat seperti penghuni dunia jiwa saja kan tuan?}


'Pfftt kenapa kamu selalu tepat sekali kalau berbicara mengenai pemikiran ku?' ucap Hiro tertawa kecil.


{Hahh...}


Tanpa Hiro sadar pertandingan terakhir pada hari pertama telah selesai dan ia pun menutupnya.


"Bagaimana apa menyenangkan?" tanya Hiro pada putrinya yang baru saja selesai bertanding.


"Hahaha benar-benar menyenangkan ayah, mereka sangat kuat hingga aku rasanya hampir kalah" ucap Hari.


"Tentu saja, tetapi ingat bahwa di luar sana masih ada yang lebih kuat dari mereka bahkan dari ayah sendiri" ucap Hiro menasehatinya agar tidak melupakan langit.


"Ayah tenang saja, Ha'er tidak akan mudah tenggelam terhadap rasa sombong dengan kekuatan sekecil ini" ucap Hari.


"Baguslah kalau begitu, jangan sampai membuat ayah kecewa yah" ucap Hiro tersenyum lembut dan mengelus kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Ayah, apakah kita akan berperang?" tanya Hari.


"Kata siapa?" ucap Hiro.


"Entahlah para prajurit selalu membicarakan soal perang saja, jadi Ha'er bertanya kepada ayah" ucap Hari.


"Kalau pun ada hanya mereka yang hebat dan kuat yang akan ayah ikut sertakan" ucap Hiro.


"Apa Ha'er boleh ikut perang?" ucap Hari dengan polosnya.


"Tidak! Tunggu dewasa terlebih dahulu dan kekuatan mu sudah cukup untuk melindungi diri sendiri, maka ayah akan membebaskan mu untuk melakukan apapun" ucap Hiro.


Hari terdiam mendengar jawaban tegas dari ayahnya itu, "Ha'er bercanda ayah" ucapnya tersenyum kecil.


Sebenarnya ia tidak bercanda untuk menginginkan ikut dalam perang tetapi pada saat mendengar penolakan tegas dari ayahnya maka ia pun merenungkan kembali keinginannya


"Perang bukanlah sesuatu yang menyenangkan putriku, ketahuilah bahwa dalam perang nyawa kita seperti telah berada dalam genggaman malaikat maut, kapan saja dan cara apa saja dapat membuat nyawa kita melayang... Selain itu kesedihan dan rasa kehilangan para keluarga yang di tinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai karena perang sangatlah menyedihkan" ucap Hiro.


"Aku mengerti ayah" ucap Hari.


"Kalau kamu menginginkan kebebasan, maka cepatlah tumbuh besar bersama kekuatan mu juga"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Agak panjang karena mengganti hari kemarin yang tidak up 🙏🏻