Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Kerajaan Naga Api


Sehari setelah pergi dari kerajaan Duan, Hiro telah melewati banyak hutan dan bermalam di bawah sinar rembulan. Menurut kata Ning Quan mereka telah sampai setengah perjalanan menuju ke wilayahnya.


Tidak banyak yang Hiro lakukan selama seharian ini selain membunuh para monster selama melewati berbagai hutan dan menangkap hewan buruan untuk di makan.


Sistem pun tidak banyak aktif karena mungkin tidak ada yang spesial ataupun menarik, saat selang waktu Hiro pernah terpikirkan mengenai kabar dari adik iparnya itu yang sudah lama tidak kunjung kembali.


"Tuan muda... Ayo mari kita makan, dagingnya telah matang" ucap Ning Quan memanggilnya Hiro yang ada di dalam tenda.


"Oh baiklah tunggu sebentar.." ucap Hiro.


"Mengapa anda pucat sekali tuan muda?" tanya Ning Quan saat melihat Hiro yang baru datang.


"Hah? Pucat bagaimana? Aku baik-baik saja kok" ucap Hiro.


"Tapi.."


"Sudah aku tidak apa-apa, ayo kita makan nanti tidak enak kalau dagingnya dingin" ucap Hiro.


Setelah selesai makan-makan, mereka pun tertidur untuk istirahat agar besok pagi bisa kembali melanjutkan perjalanan yang hampir sampai.


Keesokkan paginya mereka semua melanjutkan perjalanan dan setelah keluar dari hutan barulah terlihat banyak sekali gunung-gunung Merapi.


"Akhirnya kita telah sampai..."


"Selamat datang di wilayah ku" ucap Ning Quan.


Dari jauh terlihat sesuatu yang sedang terbang mendekati mereka semua. Namun Hiro dapat melihatnya dengan jelas bahwa yang sedang terbang ke arah mereka adalah seekor Naga.


"Itu ayah.." ucap Ning Quan.


"Kenapa paman sampai harus menjemput kita?" tanya Yan Xiu.


"Entahlah aku juga tidak tahu.." ucap Ning Quan.


BOOM...


Naga itu pun mendarat di depan mereka dan berubah wujud menjadi seorang pria paruh baya.


"Akhirnya kamu pulang juga nak... Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya ibumu selama ini?" ucap pria paruh baya itu sambil memukul kepala Ning Quan dengan pelan.


"Aww..! Ayah dan ibu juga tidak tahu sesulit apa aku berusaha kembali pulang ke rumah!" ucap Ning Quan.


"Hemm baiklah ceritakan nanti saja saat di rumah, sekarang ayo kita kembali dulu karena ibu mu sudah sangat menantikan kedatangan kamu" ucap pria tersebut lalu memimpin jalan mereka.


Namun selama perjalanan pria paruh baya itu sesekali melirik ke arah Hiro.


'Hhe sepertinya paman menyadari sesuatu..' ucap Hiro.


{Jelas, karena energi Dewa di dalam tubuh anda sangat beragam yang sangat jarang terlihat di manusia pada umumnya}


'Ahh seru sekali kalau aku jahili sebentar..' ucap Hiro kemudian mengarahkan dominasi nya kepada ayahnya Ning Quan hingga membuatnya melompat terkejut.


"Kenapa ayah?" tanya Ning Quan yang melihat ayahnya tiba-tiba melompat dan menjauhi Hiro.


"Ahh tidak, aku merasakan dingin saat dekat denganmu nak" ucapnya.


'Pfftt.. lihat ekspresinya' ucap Hiro menahan tawanya.


{Anda jahat sekali tuan... Perasaannya sekarang pasti campur aduk}


'Hahaha'


***


Mereka kemudian sampai ke sebuah gunung yang mengeluarkan lahar.


"Dimana kediaman kalian?" tanya Hiro.


"Ahh sebelah sini tuan muda.." ucap Ning Quan kemudian sebuah pintu berwarna merah kehitaman muncul secara tiba-tiba di depan mereka semua.


"Ahh ternyata begitu, ada formasi ilusi dan jebakan yang terpasang di gunung ini... Berarti hanya gunung ini saja yang tidak nyawa?" ucap Hiro.


"Benar tuan muda... Silahkan masuk ke sebelah sini" ucap Ning Quan kemudian Hiro pun masuk di ikuti oleh yang lainnya.


Sedangkan pria paruh baya ayahnya Ning Quan terdiam sesaat karena terkejut anaknya memanggil pemuda tersebut dengan sebutan tuan muda.


Sebenarnya siapa pemuda itu sampai anaknya harus memanggilnya tuan muda?


SWOSHHH...


Sebelum pertanyaan terjawab, ia pun merasakan 2 energi yang sangat kuat dari jauh. Sepertinya 2 sosok itu sedang mengawasi mereka semua.


'Ras Kura-kura Emas! Bagaimana bisa mereka ada disini?' ucap pria paruh baya itu.


"Ayah, sampai kapan ayah diam di situ? Cepat masuk" ucap Ning Quan di balik pintu.


"Ah baik tunggu sebentar nak" ucapnya yang langsung masuk walaupun sedang di landa kebingungan dengan semua kejadian tersebut.


Sedangkan dari arah belakang yang sebelumnya di perhatikan oleh ayahnya Ning Quan, muncul 2 sosok yang kini mewujudkan dirinya.


"Sepertinya ia tahu keberadaan kita kak?"


"Hemmm sepertinya begitu, namun sudahlah tidak masalah karena tugas kita hanya mengawasi tuan penguasa dan pelindung di balik bayangannya" ucap sosok itu yang ternyata adalah Tu Talu dan Tu Tilu.


Para pelindung Hiro yang di kirimkan oleh Tu Tile sebelumnya, selama ini mereka telah mengikuti Hiro kemanapun Hiro pergi.


"Kalau begitu kita berjaga disini saja.." ucap Tu Tile. Tu Talu pun mengangguk setuju karena ia tahu bahwa para ras Naga Api tidak akan pernah melakukan hal macam-macam kepada Hiro.


***


Setelah melalui pintu gerbang sebelumnya, Hiro pun sampai di depan sebuah kota besar serta di tengah-tengah nya ada sebuah bangunan istana yang sangat megah dan mewah.


Hampir seluruh bangunan tersebut di warnai oleh warna merah, benar-benar menyimbolkan elemen api.


"Ini..?"


"Iyah ini kediaman kami tuan muda... Tempat tinggalnya para Naga Api..!" ucap Ning Quan.


"Sungguh luar biasa" ucap Hiro kagum.


"Hhe terimakasih tuan muda" ucap Ning Quan.


"Apa di perbolehkan untuk terbang?" tanya Hiro.


"Tentu saja tuan muda tidak masalah, tapi ibu hanya di ijinkan oleh anggota kerajaan saja" ucap Ning Quan yang memunculkan sepasang juga di punggungnya.


Sedangkan Yan Xiu dan Ru Jian terbang melayang tanpa menggunakan sayap karena alasan khusus.


Hiro pun sama karena ia tidak ingin membuat keributan di atas kota tersebut.


SWOSHHH...


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di istana tersebut. Setelah melewati gerbang yang di jaga ketat oleh beberapa penjaga, mereka langsung menuju ke pintu masuk istana.


KREK... WUSHHH...


Saat memasuki istana tersebut Hiro semakin terkagum lagi dengan infrastruktur nya karena begitu elegan dan berkelas.


Istana itu di terangi sebuah obor yang terbuat dari api biru dan merah, sepertinya api itu tidak akan pernah padam.


"Tidak hanya wilayah kalian saja yang luar biasa, ternyata pemandangan di dalam istananya juga sangat hebat" ucap Hiro.


"Hhe tuan muda bisa saja, istana ini dulu di bangun oleh ibu dan ayah juga.." ucap Ning Quan.


"Kalian luar biasa..."


TAP...TAP...TAP...


Dari arah tangga yang menuju ke lantai atas terdengar suara seseorang sedang turun.


Mereka langsung mengarahkan pandangannya pada sosok tersebut. Seorang wanita paruh baya dengan gaun merah turun dengan sangat anggun, ekspresi nya dingin namun tetap cantik. Auranya mempunyai ciri khas yang unik.


"Kamu sudah pulang nak?" ucap wanita tersebut.


"Ibuuu.." ucap Ning Quan kemudian berlari dan memeluk wanita tersebut.


"Hoo~ ternyata ada tamu.."


"Silahkan duduk dulu" ucapnya sambil melambaikan tangannya dan secara tiba-tiba muncul sebuah meja dan kursi lengkap beserta beberapa makanan dan minumannya.


Hiro, Yan Xiu dan Ru Jian langsung duduk.


"Hemmm aku tahu kalian, Yan Xiu dan Ru Jian... Namun untuk kamu, aku baru melihat dirimu"


"Siapa kamu nak dan dari mana asal mu?" tanya ibunya Ning Quan.


"Ahh beliau adalah tuan muda bernama Hiro, bu..." ucap Ning Quan yang membuat ibunya menatap penuh pertanyaan kepadanya.


"Aku dari Kekaisaran Es, datang kemari atas permintaan dari paman Ling San" ucap Hiro dengan tenang.


"Apa?" ucap mereka berdua sedikit terkejut.


"Benar, ayah ibu... Tuan muda Hiro kemari karena permintaan dari paman Ling San" ucap Ning Quan membenarkannya.


"Apa hubungan mu dengan Ling San, nak?" tanya ibunya Ning Quan.


"Tidak ada, hanya sekedar seperti sebuah keluarga..." ucap Hiro.


"Anu..." ucap Ning Quan ragu-ragu.


"Ada apa nak? Sepertinya kamu ada sesuatu yang harus di bicarakan?" tanya ayahnya.


"Maksud kedatangan tuan muda Hiro kemari sebenarnya untuk melihat apakah wilayah selatan aman dan bersih" ucap Ning Quan.


"Aman?"


"Bersih?" tanya ayah dan ibunya kebingungan tidak mengerti apa yang di maksud anaknya.


"Paman Ling San menitipkan pesan... Hari kebangkitan ras Naga dalam mencapai puncak kejayaan akan segera tiba, begitulah katanya" ucap Ning Quan.


Seketika mereka terdiam membeku setelah mendengar perkataan putrinya mengenai pesan yang ia sampaikan dari Ling San, Sang Frost Dragon Ice.


"A-apa maksud mu nak?"


"A-apa benar, Ling San menyampaikan pesan tersebut?!" ucap mereka berdua memastikannya kembali.


"Benar, ibu..." ucap Ning Quan sambil melirik Hiro yang tetap tersenyum tenang.


"Apa kalian tetap percaya pada kebangkitan ras Naga?" tanya Hiro secara tiba-tiba.


"Tentu saja! Kami tidak pernah sekalipun berhenti berharap agar ras Naga kembali pada puncaknya!" ucap ayahnya Ning Quan secara tegas.


"Jangankan percaya, kami rela menunggu puluhan hingga ratusan ribu tahun lamanya selama ini untuk apa memangnya kalau bukan karena percaya akan hari kebangkitan ras Naga?!" ucap ibunya Ning Quan dengan dingin.


"Kalau begitu, apa kalian percaya bahwa apa yang kalian nanti-nanti kan akan segera terjadi?" Hiro kembali melemparkan pertanyaan yang membuat kedua orangtuanya Ning Quan terdiam sesaat.


"Kami selama ini menunggu tanda-tanda tersebut, namun tidak ada satupun tanda yang muncul... Walaupun begitu kami tetap percaya bahwa harapan kami akan segera terwujud entah itu harus menunggu ribuan, jutaan tahun lagi..!" ucap mereka berdua.


"Bagus, berarti dengan begini kalian masih setia kepadaku" ucap Hiro tersenyum senang.


"Apa maksudnya nak?" ucap mereka berdua kebingungan.


"Apa kalian percaya bahwa pemuda di hadapan kalian saat ini adalah reinkarnasi dari Sang Dewa Naga Synhak yang kalian puja-puja?" tanya Hiro.


DEG!


Jantung mereka berdegup keras, muncul setetes keringat dari kening mereka semua dan menatap selidik ke arah Hiro.


SWOSHHH...


Secara tiba-tiba mereka merasakan aura agung yang sangat luar biasa besar keluar dari tubuh Hiro, setetes darah emas pun melayang di tangannya dan yang lebih menakjubkan nya lagi sekilas bayangan wujud Naga Synhak yang dulu mereka kenal muncul di belakang tubuhnya Hiro sambil menatap mereka semua dengan tajam kemudian merasuki tubuhnya.


"Y-yang M-mulia..?!!"


***


Terimakasih buat teman-teman yang telah memberikan Like dan Vote nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.


Author doakan semoga sehat selalu buat para pembaca yang suka memberikan Like dan Komen, entah itu komentar positif ataupun negative.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...