
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dunia ini terbagi menjadi 4 bagian guru, yaitu sesuai arah mata angin semua, wilayah barat yang saat ini kita berada di kuasai Klan Jing yang di pimpin oleh Patriak Jing Tao, wilayah timur di kuasai Klan Si yang di pimpin oleh Patriak Si Alan dia adalah ayah dari pemuda yang guru bunuh kemarin, wilayah selatan di kuasai oleh sekte besar bernama Lautan Suci di pimpin oleh Patriak Le In dan wilayah utara di kuasai oleh sekte besar juga yang bernama Gunung Keabadian yang di pimpin oleh Patriak Qi Un" Ucap Jing An menjelaskan secara detail.
"Hmmm jadi begitu, tapi dimana tempat penguasa dunia ini tinggal?" Tanya Hiro.
"Ahh yah aku lupa, ada satu wilayah lagi yang tidak boleh sembarangan orang masuk jadi bisa di bilang tempat terlarang dan itu adalah tempat penguasa mengatur dunia ini dan segalanya" Ucap Jing An.
"Dimana itu?" Tanya Hiro.
"Itu … " Ucap Jing An ragu-ragu.
Hiro menatap heran Jing An karena ia seperti takut sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Hiro penasaran.
"Maaf guru kami tidak bisa memberitahukan nya" Ucap Jing An.
"Kenapa?" Ucap Hiro yang semakin penasaran.
"Kalau guru ingin mengetahuinya, guru bisa pergi ke sekte Lautan Suci atau Sekte Gunung Keabadian karena kedua patriak itu adalah anak dari tuan penguasa" Ucap Jing An.
Hiro terdiam mendengar nya, ia masih bingung kenapa tempat tinggal seorang penguasa harus di rahasiakan? ada apa sebenarnya di dunia ini.
"Baiklah tidak apa-apa, informasi yang kau berikan tadi sudah cukup" Ucap Hiro tersenyum tidak ingin terlalu menekan muridnya tersebut.
"Terimakasih guru atas pengertiannya" ucap Jing An dengan hormat.
Tidak lama setelah itu pelayan membawakan makanan yang mereka pesan.
"Jadi boleh kah aku tau, apa hubungannya kalian dengan klan Jing?" Tanya Hiro setelah selesai makan.
Mendengar pertanyaan Hiro membuat mereka berdua menghela nafas, karena mereka sudah menduganya bahwa Hiro akan bertanya seperti itu saat marga mereka sama dengan Klan Jing penguasa wilayah barat dan juga perlakuan para penjaga gerbang pintu masuk kota tadi.
"Hahh sudah tidak ada gunanya kita menyembunyikan nya kak" Ucap Jing Li menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Jing An mengangguk dan berkata, "Sebenarnya kami anak dari Jing Tao, guru".
"Sudah kuduga" Ucap Hiro yang tidak terkejut.
"Kenapa kalian tadi tidak melawan saat di hutan?" Tanya Hiro.
Mereka hanya terdiam tidak menjawabnya.
"Baiklah terserah kalian saja" Ucap Hiro yang melihat mereka tidak menjawab hanya bisa menebak-nebak saja.
Setelah itu Hiro tidak lagi berbicara, ia hanya terdiam sambil menikmati minuman yang ada di depannya.
"Guru?" Ucap Jing An ragu-ragu.
"Hm yah kenapa?" Ucap Hiro.
"Apa anda bisa membantu kami guru?" Ucap Jing An dengan menundukkan kepalanya memohon kepada Hiro.
"Bantu apa? bicaralah terlebih dahulu apa permasalahannya jadi aku bisa mempertimbangkan untuk membantu kalian atau tidak" Ucap Hiro.
"Ikutlah dengan kami ke Klan Jing, biar ayahanda yang berbicara dengan anda" Ucap Jing An dengan penuh harap agar Hiro mau ikut bersamanya.
"Hmmmm… Baiklah lagipula aku perlu nama klan kalian agar Klan Si tidak bertindak seenaknya" Ucap Hiro dengan tenang.
"Terimakasih guru" Ucap Jing An tersenyum senang.
"Baiklah karena kita telah selesai makannya, apa bisa kita kembali ke klan kakak, tuan Hiro?" Tanya Jing Li yang sedari tadi diam.
Hiro hanya mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya.
Saat Hiro akan pergi ke meja resepsionis untuk membayar makanannya, ia di cegah oleh Jing An yang berkata bahwa ia yang akan membayarnya.
Tidak lama mereka sampai di kediamannya Klan Jing karena jarak dari tempat mereka awal tidak terlalu jauh.
Di klan Jing mereka di sambut dengan meriah bahkan kehebohan terjadi saat orang-orang klan melihat Jing Li dan Jing An bersama Hiro.
Karena sebelumnya klan Jing di gemparkan dengan kabar bahwa putra dari Patriak Jing Tao yaitu Jing An karena giok kehidupannya retak yang menandakan keadaan Jing An dalam bahaya, hal tersebut membuat patriak Jing Tao kalang kabut ia dengan cepat memerintahkan seluruh prajurit dan orang-orang klan untuk mencari keberadaan putra dan putrinya.
"Tuan muda? Anda baik-baik saja? syukurlah patriak sangat mengkhawatirkan anda" Ucap seorang komandan terkejut dan terharu melihat kedatangan Jing An.
"Aku baik-baik saja, dan apakah ayahanda ada di dalam?" Ucap Jing An tersenyum ramah.
"Ada tuan muda… Tunggu sebentar saya akan mengabarkan kabar baik ini kepada Patriak" Ucap pria bersiap untuk pergi tetapi di cegah oleh Jing Li
"Tidak perlu komandan, aku akan menemui ayah sekarang" Ucap Jing Li.
"Ahh baiklah, silahkan masuk tuan muda dan nona" Ucapnya kemudian membukakan pintu.
"Maaf tuan anda siapa?" Tanya komandan itu saat Hiro akan masuk mengikuti Jing An dan Jing Li.
"Dia guruku, jadi kalian jangan menghalanginya" Ucap Jing An saat Hiro di cegah.
"Ahh maafkan aku tuan" Ucap komandan itu menundukkan kepalanya.
Hiro hanya mengangguk dan segera menyusul Jing An.
Berada di dalam kediaman klan Jing, Hiro terpukau dengan keindahan dekorasinya.
Tanpa di sadari Hiro telah berada di depan pintu sebuah ruangan yang lumayan besar, ruangan tersebut seperti aula pertemuan pada umumnya.
Hiro dan yang lainnya memasuki ruangan tersebut dan terdapat beberapa orang yang tengah duduk. Mereka di kejutkan dengan kedatangan Hiro dan yang lainnya, mereka langsung berdiri saking terkejutnya.
"An'er, Li'er, kalian masih hidup?" Ucap seorang pria paruh baya yang duduk di kursi seperti singgasana.
Terlihat raut wajah terkejut dan bahagia di wajah yang sedikit keriput tersebut.
"Kami pulang ayahanda" Ucap Jing An dan Jing Li berlutut memberi hormat sambil menahan isak tangisnya.
Pria paruh baya yang di panggil ayah oleh Jing An dan Jing Li tersebut dengan segera ia menghampiri mereka berdua dan langsung memeluknya.
"Syukurlah kalian baik-baik saja, terutama kamu An'er apa yang terjadi dengan mu sampai batu giok mu retak? apa kamu tahu betapa khawatir nya ayahmu ini?" Ucap pria tersebut.
Semua orang dalam ruangan juga terharu karena terbawa suasana mereka.
Sedangkan Hiro hanya berdiri diam dan tersenyum.
"Maafkan kami ayah, karena sudah membuat anda khawatir" Ucap mereka berdua.
"Tidak apa-apa, tidak masalah yang penting sekarang kalian kembali dengan selamat" Ucap pria tersebut dengan wajah lega.
"Oh yah ayah, aku ingin memperkenalkan seseorang kepadamu bisa dibilang dia adalah penyelamat kami sekaligus guru ku sekarang" Ucap Jing An yang telah tenang.
"Oh yah dimana dia, aku ingin mengucapkan terimakasih dan membalas budi kepadanya" Ucap pria paruh baya tersebut.
Jing An kemudian menunjuk ke arah Hiro yang sedang berdiri dalam diamnya.
"Dia adalah penyelamat kita dan guruku, tuan Hiro" Ucap Jing An.
Kemudian mereka semua menatap ke arah Hiro.
Hiro yang di tatap langsung oleh banyak orang membuatnya sedikit canggung.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memberi hormat sederhana, "Perkenalkan aku Hiro patriak Jing" Ucap nya.
Patriak Jing Tao terdiam beberapa saat karena terkejut, awalnya ia mengira kalau guru dari anaknya itu adalah seorang pria tua tetapi ia salah ternyata guru anaknya tersebut masih muda mungkin umur nya tidak jauh dari putranya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...