
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hiro menemui Patriak Jing Tao untuk meminjamkan sebuah tempat pelatihan untuk melatih Jing An, dan tentu saja Patriak menyetujui dengan senang hati karena hal tersebut akan bermanfaat untuk anaknya.
Setelah di ijinkan baru lah Hiro dan Jing An menuju ke tempat pelatihan para murid klan yang biasanya berlatih.
Semua orang mendatangi tempat tersebut karena mendengar pelatihan Jing An yang di guru-i oleh Hiro membuat mereka sangat penasaran dengan cara pelatihan Hiro.
Hiro mengabaikan semua orang yang sudah berkumpul, ia tersenyum ke arah Jing An, "Pertama-tama kamu akan ku beri pencerahan terlebih dahulu dan setelahnya akan aku lakukan test" Ucap Hiro.
"Baik guru, murid siap" Ucap Jing An dengan serius.
Hiro mengangguk dan menyentuh dahi Jing An menggunakan jari telunjuknya, seketika cahaya kecil keluar dari jari telunjuk masuk kedalam kepala Jing y.
Setelah itu Hiro melepaskan jarinya dan melihat Jing An yang tengah fokus dalam pencerahan nya.
Selagi menunggu Jing An, Hiro melihat sekelilingnya sudah banyak sekali orang berkumpul dan Hiro juga melihat Patriak Jing Tao beserta orang-orang penting lainnya.
"Apakah kalian ingin mengikuti pelajaran ku?" Tanya Hiro.
Murid-murid klan Jing hanya menatap ke arah tetua mereka, tetua mereka yang di tatap oleh para muridnya hanya menatap kembali ke Patriak, dan patriak yang di tatap oleh semua orang hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bila tuan Hiro mengijinkannya kalian boleh bergabung" Ucap Patriak.
Hiro yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya, "Bukan nya tidak boleh tetapi kalian tidak boleh sampai mengganggu Jing An, mengerti?" ucap Hiro.
"Mengerti" Ucap mereka bersemangat.
"Baiklah akan kuberi satu hal yang mungkin saja berguna untuk kalian, jadi dengarkan baik-baik…"
Hiro menjelaskan sedikit pengetahuannya tentang bagaimana cara meningkatkan elemen dan energi alam.
Setengah jam berlalu suasana di tempat pelatihan hening, hanya terdengar suara Hiro yang masih memberi mereka pencerahan.
Semua orang menutup matanya dan menjernihkan pikiran nya agar bisa mencerna semua perkataan Hiro, tidak hanya para murid saja tetapi para tetua dan patriak sekalipun fokus mencerna semua perkataan Hiro, karena menurut mereka itu sangat berguna untuk peningkatan level mereka semua.
Setelah selesai menjelaskannya Hiro melihat mereka semua masih menutup mata, hanya tersenyum dan diam menunggu mereka selesai mencerna semua perkataan nya.
Orang pertama yang membuka matanya yaitu Patriak, ia terlihat puas dan senang dengan karena berhasil memecahkan masalah yang menghambat kenaikan levelnya.
Patriak melihat ke arah Hiro yang tersenyum ke arahnya, ia dengan segenap hati, jiwa dan raganya berlutut.
Dengan tatapan terharu, "Terimakasih tuan Hiro" Hanya kalimat itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.
Ia ingin mengucapkan kata lainnya sebagai eskpresi menggambarkan rasa terimakasihnya tetapi ia tidak bisa bagaimana menjelaskannya lewat kata-kata.
Ia tidak terharu, terkejut dan tidak menyangka pemuda yang entah darimana asal-usul nya itu dengan baik hati mau membantunya walaupun ia guru anaknya tetapi bantuan Hiro kepadanya sangat besar.
"Berdirilah patriak tidak baik seorang pemimpin menekukkan lututnya kepada orang lain" Ucap Hiro yang terkejut melihat sikap Patriak.
"Tapi anda berhak menerima penghormatan ini tuan…" Ucap Patriak.
"Haishh…" Hiro hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepalanya tersebut.
Setelah itu beberapa tetua membuka matanya yang pertanda bahwa mereka telah berhasil mencerna semua perkataan Hiro.
Mereka melihat Patriak tengah berlutut ke arah Hiro, awalnya mereka terkejut dan heran mengapa patriak berlutut.
Tetapi tidak lama mereka sadar apa dan kenapa Patriak berlutut.
Mereka pun dengan cepat dan serentak berlutut juga ke arah Hiro sambil mengucapkan terimakasih.
Hiro alisnya berkedut saat melihat para tetua juga ikut berlutut ke arahnya, ia bingung karena pengetahuan yang ia berikan adalah hal dasar dari penjelasan sistem.
Hiro menyuruh mereka semua untuk berdiri tetapi bersikeras untuk tetap berlutut sampai semua orang yang berada disana juga berlutut ke Hiro.
Tidak lama kemudian satu persatu murid-murid klan Jing membuka matanya.
Hal pertama yang mereka melihat adalah dimana para Patriak dan tetua mereka berlutut di depan Hiro.
Dengan cepat mereka pun mengikuti para tetua dan patriak berlutut hormat kepada Hiro.
"Berdiri atau aku habisi kalian semua!" Ucap Hiro yang kesal.
"B-baik tuan" Ucap mereka dengan cepat berdiri.
"Begitu dong dari tadi" Ucap Hiro.
"Tuan Hiro bagaimana cara kami membalas kebaikan anda ini" Ucap patriak.
"Tidak perlu…" Ucap Hiro mengibaskan tangannya.
"Tapi tuan…" Ucap Patriak yang tidak enak.
"Baiklah begini saja… Kalau suatu saat aku membutuhkan bantuan, aku ingin klan Jing lah yang pertama kali menjawab" Ucap Hiro.
Patriak tersenyum senang, "Baiklah tuan Hiro, aku berjanji atas nama leluhur Jing Hao" Ucapnya dengan bersumpah.
Mereka semua pun mengikuti Patriak dengan cara bersumpah kepada langit.
Seketika petir menggelegar seperti menjawab sumpah mereka semua.
Hiro sudah tidak peduli lagi dengan apa yang mereka lakukan karena mereka sangat keras kepala.
Ia berdiam diri menunggu Jing An tersadar.
'Apakah memang selama itu sistem?' tanya Hiro.
{Memang membutuhkan waktu tuan… karena tidak sembarangan orang bisa dengan cepat menyerap semua pengetahuan tersebut}
'Oh yah, Yggrite!' ucap Hiro.
'Saya disini tuan'.
'Kamu pergi carilah orang-orang yang mencurigakan di klan ini' ucap Hiro.
'Baik tuan!'.
2 jam berlalu, akhirnya sedikit demi sedikit Jing An membuka matanya.
"Akhirnya kamu telah sadar" Ucap Hiro tersenyum puas ke arahnya.
"Guru?" Ucap Jing An yang masih sedikit pusing.
"Bagaimana apa kamu berhasil?" Tanya Hiro.
"Terimakasih guru! Berkat anda saya bisa naik ke level Dewa Biru tingkat rendah" Ucap Jing An dengan berlutut penuh hormat ke arah Hiro.
"Hahaha bagus-bagus, aku percaya bahwa kamu pasti bisa" Ucap Hiro tertawa senang.
"Itu semua berkat anda guru" Ucap Jing An.
"Tidak tidak, aku hanya memberikan mu jalan selebihnya itu adalah karena dirimu sendiri" Ucap Hiro.
"Tapi apabila bukan karena anda yang memberi jalan, maka murid ini tidak akan pernah bisa seperti ini" Ucap Jing An.
"Haishhh ayah dan anak sama saja keras kepala" Ucap Hiro.
"Berdirilah… Aku akan beri kamu hadiah yaitu pedang tingkat Dewa karena telah berhasil" Ucap Hiro tersenyum.
Jing An terkejut saat mendengar Hiro akan memberinya pedang tingkat Dewa? bukankah itu senjata yang sangat-sangat mustahil di dapatkan? bagaimana mungkin Hiro mempunyai nya.
Tetapi semua pemikiran nya itu terhempas, Jing An melongo saat melihat pedang di tangan Hiro, dari auranya saja ia sudah tahu bahwa pedang tersebut benar-benar tingkat dewa karena aura yang di keluarkan pedang tersebut sangat besar.
Semua orang juga terkejut dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"P-patriak, i-itu p-pedang tingkat dewa!" Ucap salah seorang tetua.
'Hmmm tidak perlu menatap seperti itu! Aku tahu apa yang kalian pikirkan tetapi pedang ini terbuat dari sisa-sisa bahan untuk meningkatkan kedua pedangku jadi yang berarti pedang ini terbuat dari sampah' Pikir Hiro saat melihat ekspresi mereka semua, entah kenapa ia merasa bersalah karena membuat mereka menganggap pedang tersebut barang berharga padahal hanya pedang yang terbuat dari bahan-bahan sisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...