
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah pulau itu ada sebuah gua, di mulut gua tersebut berdiri 7 ekor kura-kura hitam. Satu di antaranya bertindak sebagai pemimpin mereka, Ketika kura-kura itu melihat Tu Talu mereka berubah menjadi manusia dengan cangkang hitam di punggung nya.
“Tuan muda, anda datang” ucapnya sambil membungkuk memberi hormat.
“Baiklah, buka kan pintunya” ucap Tu Talu.
Pemimpin kura-kura itu lalu membuka pintu yang ada di mulut gua.
SWOSHHH…
“Masuklah” ucap Tu Talu.
“Senior Tu Talu, apa ini?”
“Ini adalah jalan menuju ke duniaku, yang kamu lihat sebelumnya adalah celah dimensi yang aku buat sebagai perangkap” ucap Tu Talu sambil tersenyum.
“Ohoo~, begitu rupanya” ucap Hiro mengangguk.
“Sungguh luar biasa..” ucap Yan Xiu, Ning Quan dan Ru Jian terkagum-kagum.
“Ini adalah dunia kami klan kura-kura emas. Dunia ini di ciptakan oleh leluhur kami Dewa Tu Tu dan Tu Kinan, dan juga ini salah satu cara kami menjaga keturunan darah murni kami” ucap Tu Talu menjelaskannya.
“Kalian adalah orang pertama yang mengetahui keberadaan kami, ingat! Rahasiakan pertemuan ini karena jika dunia luar mengetahuinya, maka kalian adalah orang pertama yang akan di buru oleh kami!” ucap Tu Talu dengan tegas.
“Kami bersumpah tidak akan mengatakan nya kepada siapapun” ucap mereka bertiga namun berbeda dengan Hiro, ia hanya tersenyum tenang karena suatu hal.
“Baiklah kita sudah sampai” ucapnya.
Di depan mereka ada sebuah istana giok berwarna hijau kehitaman berbentuk kura-kura berdiri megah.
Tangga nya terbuat dari emas murni, di sepanjang kiri dan kanan jalan terdapat bola-bola kristal bercahaya menjadi penerang.
Di gerbang istana pun berdiri 3 lapis prajurit. Lapisan pertama berpakaian zirah besi, lalu zirah perak dan yang terakhir zirah emas.
“Ini..? sangat luar biasa!” ucap Yan Xiu kagum.
“Baiklah pertama-tama kita akan menemui tetua” ucapnya.
Tu Talu memanggil pelayan untuk melayani tamu-tamunya serta menyiapkan tembat bagi mereka beristirahat.
“Junior Hiro, kamu akan pergi bersamaku sedangkan yang lainnya silahkan beristirahat. Jika ada yang di perlukan minta saja pada pelayan, maka mereka akan menyediakan nya” ucap Tu Talu kemudian pergi ke dalam istana bersama Hiro.
‘Apa kamu yakin sistem atas perkataanmu sebelumnya?’ tanya Hiro di dalam pikirannya.
{100% yakin tuan, anda percaya saja kepada saya}
‘ Hemmm baiklah’ ucap Hiro dengan tenang mengikuti Tu Talu di belakangnya.
Di dalam istana tiba-tiba para tetua merasakan energi Qi dan aura yang sangat kuat hingga mampu menindas mereka.
“Siapa pemilik aura ini?!” ucap salah satu tetua.
Tetapi Hiro keburu datang memasuki ruangan tersebut bersama Tu Talu.
“Ayah, para tetua, aku membawa seorang teman” ucap Tu Talu singkat.
“Tuan penguasa dan para tetua sekalian, aku Hiro” ucapnya memperkenalkan diri.
“Itu yang duduk di atas sana adalah ayahku junior” ucap Tu Talu sambil menunjuk seorang pria paruh baya duduk di kursi paling atas di antara semua orang yang ada disana. Sedangkan Hiro hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Para penghuni istana masih terdiam tanpa bereaksi. Mereka menatap Hiro dengan tajam mencoba menyelidikinya dengan seksama.
Melihat sikap mereka semua yang seperti itu, Tu Talu merasakan ada sesuatu yang salah.
“Ayah dan para tetua, junior Hiro adalah orang yang telah menyelamatkan ku. Kalau bukan karena bantuan darinya maka pecahan kelima jiwa ku tidak akan bisa di satukan lagi” ucap Tu Talu yang mulai kesal karena sikap mereka semua terhadap Hiro.
“Dari mana kamu?” tanya Tu Tile pada Hiro.
“Aku berasal dari Dunia Es” ucap Hiro dengan tenang.
Rasa penasaran mereka sangat besar terhadap Hiro. Karena mereka adalah eksistensi yang sangat kuat, tetapi mereka merasa tertindas oleh Hiro hanya dengan auranya saja.
“Kalau di tanya tujuan, aku sendiri pun tidak tahu karena aku tidak pernah ingin ke pulau ini sebelumnya. Kami dari hutan Quantalium hendak menuju ke titik terdalam hutan namun di tengah perjalanan kami tiba-tiba berpindah tempat tanpa sadar sudah ada di pulau ini” ucap Hiro menjelaskannya.
“Nak Hiro, maaf jika kami berprilaku demikian karena kami harus berhati-hati. Karena tidak sembarang orang yang dapat masuk ke rumah kami tanpa ijin, kami akan melaukan beberapa hal kecil kepada kamu, apa boleh?” tanya Tu Tile.
“Apa yang perlu aku lakukan?” tanya Hiro.
“Kami ingin melihat kekuatan darah nak Hiro, apakah boleh?” tanya nya.
Seketika raut wajah Hiro menjadi merah dan matanya langsung menjadi tajam.
“Apa? Lancang sekali ras hewan rendahan seperti kalian ingin melihat darah Yang Mulia ini, apakah seperti ini cara kalian memperlakukan tamu?” ucap Hiro berbicara dengan nada mulai tinggi.
“Nak, jangan salah paham dulu. Kami tidak akan menggunakan darah mu untuk sesuatu yang aneh, kami hanya ingin memastikan siapa anda sebenarnya” ucap Tu Tile.
“Tidak perlu dengan melihat darahku, apa ini mampu menjawab rasa penasaran kalian?!” ucap Hiro sambil mengeluarkan seluruh auranya.
“Jika kalian benar-benar bukan dari dunia ini, maka kalian akan tahu siapa aku..!” ucap Hiro dengan dingin.
Mata Tu Tile dan para tetua lain terbelalak, dengan cepat mereka bersujud dengan kepalanya sampai menyentuh lantai.
“Tu Talu, apa yang kau lakukan? Cepat bersujud!” teriak Tu Tile marah.
Tu Talu masih bingung saat melihat perubahan semua orang yang tiba-tiba bersujud kepada Hiro.
“S-salam kami yang rendahan ini kepada anda Yang Mulia, Dewa Naga Synhak..!” ucap Tu Tile di ikuti oleh yang lainnya.
Setelah mendengar salam sapaan hormat ayahnya kepada Hiro, baru lah Tu Talu mengerti mengapa semua orang bersujud kepada Hiro. Karena sosok pemuda yang ada di hadapan nya adalah reinkarnasi dari Dewa Naga agung, Synhak.
“Dari kubu mana kalian?!” ucap Hiro dengan dingin.
“B-barat Yang Mulia..” ucap Tu Tile dengan terbata-bata karena ketakutan.
“Ohh.. berarti kalian termasuk kelompok para pengkhianat?” ucap Hiro dengan dingin sambil mulai mengeluarkan Golden Sword nya.
Semua orang semakin bergetar ketakutan saat melihat Hiro megeluarkan pedangnya. Mereka tahu bahwa pedang itu bukanlah senjata biasa, namun pedang itu dulu pernah Hiro gunakan untuk membelah galaksi dalam sekali tebasan.
“T-tunggu sebentar tuan, kami bukan bagian dari mereka. Maka dari itu beri kami kesempatan untuk menjelaskan nya” ucap Tu Tile dengan memohon.
“5 menit, nyawa kalian ke depan nya tergantung seberapa memuaskan nya penjelasan kalian kepadaku” ucap Hiro menurunkan pedangnya, namun tatapan nya tetap tajam dengan aura khas naga Synhak menyelimuti dirinya.
“Baik, terimakasih tuan..” ucap Tu Tile menghela nafas terlebih dahulu menenangkan diri agar tidak ada kesalahan dalam penjelasannya.
“Pada saat mereka bergerak menuju ke ibukota untuk menyerang kekaisaran, kami sebenarnya pergi bersama mereka namun di tengah pertempuran kami membelot dari mereka, kemudian pergi dari arah barat ke sisi lainnya yaitu gerbang timur dan kami pun menjaga di bagian gerbang timur kekaisaran.. di sana memang tidak banyak kekuatan keluarga utama yang melindungi gerbang timur, tapi walaupun begitu kami semua berjuang mati-matian untuk mencegah ‘mereka’ masuk kedalam kota..”
“Di bagian gerbang timur hanya ada 3 keluarga utama, pertama keluarga dari Phoenix, Qillin dan Kura-kura Emas…”
“Tetapi sayang sekali kami kalah telak oleh gempuran besar-besaran yang ‘mereka’ lakukan, sehingga kami pun terpaksa melarikan diri mundur dari peperangan dalam keadaan terluka parah dan menutup diri dari dunia luar sampai saat ini demi menjaga keturunan kami…”
“Maafkan kami Yang Mulia” ucap Tu Tile menudukkan kepalanya dan terlihat setetes air mata keluar menetes dari kepalanya yang sedang tertunduk.
Suasana di dalam ruangan menjadi hening, para anggota keluarga kura-kura emas sangat menyesal dan sedih karena kejatuhan nya wilayah kekuasaan dewa naga Synhak gara-gara para pengikutnya juga.
“Hahhh baiklah kalian selamat karena penjelasan yang kamu ceritakan cukup memuaskan dan membuatku mencoba untuk memberikan sedikit kepercayaan kepada kalian” ucap Hiro menghela nafas panjang dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
“Ahh?!”
“Terimakasih Yang mulia, terimakasih banyak” ucap seruan mereka benar-benar sangat bahagia karena sudah lama mereka merasa bersalah kepada tuan nya dan ingin mendengar keputusannya akan memaafkan mereka atau membunuh mereka, semua keputusannya akan selalu di terima baik oleh mereka setelah tuan nya mendengar cerita mereka.
***
Terimakasih buat teman-teman yang telah memberikan Like dan Vote nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Author doakan semoga sehat selalu buat para pembaca yang suka memberikan Like dan Komen, entah itu komentar positif ataupun negative.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...