Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Keluarga Baru


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hah.. a-apa?"


"Ahh maaf telah membuat kamu terkejut.. perlahan-lahan akan kami jelaskan, namun prioritas saat ini adalah kesembuhan dirimu" ucap wanita itu dengan penuh kekhawatiran dan terdengar sangat tulus.


"Tunggu, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi dirimu lebih lanjut" ucap pria paruh baya itu keluar dengan tergesa-gesa.


Pada keesokan harinya, setelah beristirahat seharian penuh akhirnya kedua pasangan suami istri tersebut menjelaskan keseluruhan cerita dari awal menemukan pemuda itu hingga merawatnya sampai sekarang.


"Jadi sekarang aku menjadi bagian dari keluarga kalian? Tapi mengapa, kenapa kalian mau menerima diriku?" ucap pemuda tersebut.


"Entahlah hati kami tergerak sendirinya untuk memutuskan mengangkat mu menjadi anak kami..."


"Walau begitu tenang saja kami pasti akan menyayangimu dan memperlakukan mu selayaknya anak kandung kami sendiri" ucap wanita itu yang terlihat sangat serius dan tulus mengatakannya.


"Tapi.."


Sebelum pemuda tersebut menyelesaikan perkataannya tiba-tiba segerombolan orang dengan memakai jas putih lengkap dengan alat medis menerobos masuk ruangan tersebut.


"Lihat, lihat itu dokter... Anakku sekarang sudah sadar, jadi cepat lakukan sesuatu agar dia cepat pulih dan bisa pulang ke rumah bersama kami..!" ucap seorang pria paruh baya dengan tergesa-gesa.


"Ahh, baik-baik kami akan melakukan pemeriksaan terlebih terhadap kesadarannya setelah itu kita harus menjalankan beberapa prosedur kesehatan lainnya untuk membuktikan apakah akan ada tanda-tanda lainnya yang dapat memperburuk keadaan nya di kemudian hari" ucap salah seorang dokter tersebut yang terlihat sangat ahli menanganinya.


"Baiklah lakukan lah yang terbaik untuk kesehatan anak kami..!"


***


Dengan segala cara pemeriksaan para dokter ahli, akhirnya pemuda tersebut di nyatakan pulih total dan sudah dapat di bawa pulang.


Mendapati kabar tersebut, kedua pasangan suami istri ini sangat teramat senang. Mereka langsung bergegas menyelesaikan semua urusannya dengan pihak rumah sakit dan kembali pulang pada sore hari itu juga.


"Nah nak.. selamat datang di rumah kita!"


"Mulai sekarang kamu tinggal disini bersama kami" ucap kedua orang tuanya yang baru itu.


Pemuda itu kemudian mendongakkan kepalanya melihat betapa besar dan luasnya bangunan di depannya tersebut. Bila di sebut istana kerajaan pun maka benar nyatanya.


"Ini..?!"


"Ahh apa kamu tidak suka rumahnya karena kurang besar?"


"Haishh sayang..!! Apa kataku juga, sebelum membawa pulang putra kita ini seharusnya rumah ini di renovasi menjadi lebih besar dan megah!" ucap wanita itu mengomel kesal terhadap suaminya.


"Ah-tidak! Bukan begitu, tapi apa benar ini tempatnya?" ucap pemuda tersebut tercengang.


"Hemmm benar nak, memangnya kenapa? Apa ada yang kurang?" ucap ibunya yang bernama Marlina.


"Apa benar kata ibumu kalau rumah kita ini terlalu kecil nak? Kalau benar besok ayah akan menyuruh orang untuk memperbesarnya kembali!" ucap ayahnya yang bernama Asgar.


"Tidak sungguh, ini saja terlalu berlebihan menurut ku.. apa benar aku boleh tinggal di rumah semewah ini?" ucap pemuda tersebut yang bernama Hiro.


"Ahh begitu rupanya.."


"Tentu saja boleh nak! Sekarang kan kamu bagian dari keluarga kami, jadi ini adalah rumah mu juga" ucap Asgar.


Setelah itu mereka memasuki rumah bagai istana tersebut, sesampainya di pintu rumah dan membuka pintunya beberapa orang sudah siap menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali tuan, nyonya dan tuan muda" ucap salah seorang pria tua berkacamata dengan pakaian rapi di ikuti oleh semua wanita di belakangnya.


"Selamat datang kembali tuan, nyonya dan tuan muda!"


Mendapati perlakuan seperti itu sangat membuat Hiro terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Terimakasih karena sudah menyambut kami dan mempersiapkan ini semua Terry.." ucap Asgar dengan tenang.


"Tidak masalah tuan, apa anda lapar? Kami sudah menyiapkan makan malam" ucap pria tua yang bernama Terry tersebut.


Asgar hanya mengangguk dan mereka semua pun memasuki ruang makan terlebih dahulu sebelum beristirahat.


Hiro sampai saat ini hanya bisa terdiam karena belum terbiasa dengan situasinya sekarang.


Tidak lama mereka pun makan sampai puas, terlihat Asgar dan Marlina sangat kelaparan mungkin karena selama ini mereka hanya memperhatikan kondisi Hiro tanpa memperdulikan keadaan mereka masing-masing.


"Terimakasih.." tiba-tiba Hiro berbicara memecahkan keheningan di ruangan tersebut.


***


Keesokkan harinya, Hiro yang telah bangun dan membuka matanya melihat sekitar masih belum terbiasa dengan pemandangan tersebut. Karena seingatnya dirinya waktu dulu saat bangun tidur selalu melihat jalanan yang kotor dan sempit kini menjadi kamar yang sangat luas.


Sesaat setelah melamun sebentar, tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya sambil membawakan sebotol gelas berisi air susu hangat.


"Silahkan di minum dulu tuan muda... Saya akan membuka gordennya dan jendelanya agar udara segar bisa masuk" ucapnya dengan sopan dan hangat.


Hiro hanya mengangguk dan menghabiskan segelas susu hangat tersebut dengan nikmat.


"Hahhh.. aku harap ini bukan mimpi" gumamnya.


"Iya tuan muda? Apa anda bilang sesuatu?"


"Apa ada yang anda inginkan?" ucap pelayan tersebut yang samar-samar mendengar suara Hiro.


"Ahh tidak, bukan apa-apa..."


"Hemmm ngomong-ngomong, apa ayah dan ibu sudah bangun?" ucap Hiro.


"Oh tuan dan nyonya sudah menunggu anda di ruang makan" ucap pelayan tersebut.


"Ahh baiklah kalau begitu aku juga harus segera turun.." ucap Hiro.


Kamar yang kini ia tempati berada di lantai 3 dimana khusus untuknya, sedangkan kamar ayah dan ibunya berada di bawahnya yaitu lantai 2.


Hiro dengan bergegas cepat turun ke lantai 1 agar tidak membuat mereka menunggu terlalu lama.


"Oh nak? Kamu sudah bangun?"


"Kenapa kamu lari seperti itu? Kamu kan baru saja sembuh.." ucap ibunya yang khawatir saat melihat Hiro terengah-engah karena berlari.


"Aku tidak apa-apa, maaf telah membuat kalian semua menunggu lama" ucap Hiro.


"Haishh kamu ini.. berapa lama pun kami menunggumu itu tidak terlalu penting karena yang terpenting adalah saat-saat dimana kita makan bersama" ucap ibunya.


"Apa kata ibumu benar nak" ucap ayahnya.


Hiro tidak menjawabnya dan hanya tersenyum, ia benar-benar senang mendapatkan keluarga barunya yang begitu baik kepadanya.


Setelah beberapa saat, mereka pun selesai sarapan.


"Nak, apa kami boleh tanya berapa umurmu?" ucap ayahnya yang memulai pembicaraan.


"Mungkin 17 tahun" ucap Hiro.


"Hemmm terlalu terlambat kalau masuk sekolah, tapi tidak untuk kuliah.." ucap ayahnya.


"Kamu benar sayang, tapi apa ada universitas yang telah kamu tentukan?" ucap ibunya.


"Belum ada sih.. tapi nanti aku bertanya saja kepada teman-teman ku, mungkin mereka bisa membantu" ucap ayahnya.


"Hah? Tunggu dulu ayah, ibu.. apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" ucap Hiro.


"Tentu saja tentang pendidikan mu nak? Apa kamu tidak ingin belajar di universitas dan memiliki teman?" ucap mereka berdua secara serentak.


"Apa????"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...