Bereinkarnasi Bersama System

Bereinkarnasi Bersama System
Keponakan?!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama beberapa hari ini Hiro lebih banyak diam di kamar karena mencari cara untuk pergi dari pulau kura-kura, karena menurut penjelasan Tu Tile bahwa siapapun yang masuk tanpa sengaja ke pulau kura-kura maka harus di tarik oleh seseorang di tempat asal mereka masuk. Yang berarti harus ada seseorang yang membukakan celah dimensinya pada hutan Quantalim!


“Sial, apa tidak ada cara lain sistem?” tanya Hiro.


{Untuk saat ini belum ada, karena sistem masih belum tahu dimana titik koordinat dunia kecil ini}


“Cihh dasar tidak berguna..” ucap Hiro pelan, namun masih bisa di dengar oleh sistem.


{Iyah.. iyah maaf, sistem memang tidak berguna}


{Karena sistem tidak berguna, jadi anda tidak boleh meminta bantuan dalam hal apapun kepada sistem!}


“Cihh merajuk, seperti bocah” ucap Hiro.


{Nyenyenye..!}


TOK..TOK..TOK..


“Tuan penguasa, ini saya Tu Talu” ucapnya di balik pintu.


“Masuk saja” ucap Hiro.


Tu Talu pun masuk sambil membawa suatu kotak kecil di tangan nya.


“Ada apa?” tanya Hiro.


“Saya di suruh ayah untuk mengantarkan ini kepada anda, tuan penguasa” ucap Tu Talu.


“Apa itu memang nya?” tanya Hiro.


“Benda pusaka kami tuan dan kalau anda menerimanya maka kami secara resmi telah mngabdi kembali kepada anda” ucap Tu Talu dengan serius.


“Hemmm baiklah aku terima” ucap Hiro.


Setelah itu Tu Talu pergi dan kini hanya ada Hiro seorang diri di kamarnya sambil melihat isi dari kotak tersebut.


“Ahh.. ini apa?” ucap Hiro bingung.


{Itu lencana berupa cangkang leluhur kura-kura emas, lencana itu bukan hanya tanda identitas mereka saja tetapi penanda bahwa pemilik dari lencana tersebut adalah pemimpin mereka}


“Oh begitu, pantas saja ini di berikan kepadaku… setahuku dulu tidak ada yang beginian” ucap Hiro.


{Memang tetapi seiring perubahan zaman, maka mereka pun menggunakan lencana tersebut}


“Yasudah pokoknya ini barang penting kan?” ucap Hiro.


{Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita meminta bantuan Ling San mengeluarkan kita dari sini?}


“Hemmm bagaimana cara menghubunginya?” tanya Hiro.


{Sistem tahu caranya tuan, sebelumnya sistem merasa Ning Quan seperti ada hubungan nya dengan Ling San… suruh dia saja tuan untuk menghubunginya}


“Benarkah? Memang nya ada hubungan apa Ning Quan dengan Ling San?” ucap Hiro sedikit terkejut.


{Entahlah sistem juga tidak tahu lebih jauh sperti apa hubungan mereka, namun sistem yakin pasti ada suatu hubungan antara mereka entah itu saudara jauh sekalipun}


“Hemm baiklah nanti akan aku tanya langsung kepada dia” ucap Hiro kemudian keluar dari ruangan nya mencari keberadaan Ning Quan.


Setelah mencari ke seluruh istana akhirnya Hiro tahu keberadaan Ning Quan dari seorang pelayan yang mengatakan bahwa mereka bertiga sedang ikut latihan bersama para prajurit kura-kura emas.


“Sedang apa kalian?” tanya Hiro.


“Ahh tuan,..”


“Tidak ada, hanya saja kami bosan diam terus jadi saat melihat mereka berlatih kami ingin ikut menggerakkan badan” ucap Yan Xiu.


“Oh baiklah, Ning Quan bisakah kita berbicara sebentar?” ucap Hiro.


“Baik tuan” Ning Quan pun pergi ke pinggir lapangan dan Hiro mengeluarkan sepasang kursi dengan meja lengkap bersama makanan dan minuman nya.


SWOSHHH…


Hiro kemudian memasang formasi peredam suara dan menatap Ning Quan yang terlihat gugup saat formasi tersebut di pasang olehnya.


Hiro tersenyum lembut dan berkata, “Tenang saja aku hanya ingin bertanya beberapa hal saja dan sebisa mungkin tidak boleh terdengar oleh mereka”.


“Ah baik tuan, silahkan saya akan menjawabnya apabila tahu sesuatu” ucap Ning Quan.


Hiro mengangguk, “Apa sosok yang bernama Ling San itu ada hubungan nya dengan mu?” tanya Hiro.


“Ah itu,..” ucap Ning Quan agak ragu-ragu.


“Aku hanya ingin tahu saja” ucap Hiro dengan tenang.


“Saya keponakan nya tuan” ucap Ning Quan akhirnya berani mengatakannya.


“Oh begitu, cukup mengejutkan” ucap Hiro yang masih tenang.


Ning Quan menatap Hiro, “Anda tidak terkejut, tuan?” tanya nya.


“Cukup mengejutkan” ucap Hiro.


“Apa anda sudah tahu dari awal? Dan sekarang hanya memastikan nya saja?” ucap Ning Quan.


“Tidak juga, hanya saja aku sedikit curiga saat merasakan aura ras naga yang sedikit bocor dari tubuhmu. Yah walaupun kamu cukup hebat karena mampu menyembunyikan nya dengan baik” ucap Hiro.


“Hahhh… anda memang luar biasa tuan, tidak saya sangka sama sekali akan ketahuan secepat ini” ucap Ning Quan lalu memasang formasi lagi dan mengeluarkan aura Naga nya.


SWOSHHH…


“Oh akhirnya kamu terbuka juga” ucap Hiro sambil menyesap teh nya.


“Ada urusan apa anda dengan paman saya?” tanya Ning Quan.


“Tidak ada, aku hanya ingin kamu memanggilnya agar kita bisa keluar dari sini” ucap Hiro.


“Hemmm memangnya anda memiliki cara untuk keluar dari sini?” tanya Ning Quan.


“Benarkah? Boleh aku tahu bagaimana caranya? Dan kenapa harus dengan pamanku?” tanya Ning Quan.


“Hemmm jalan keluar kita dari dunia kecil ini hanyalah dengan cara harus ada seseorang yang mampu membuka celah dimensi antara pulau ini dengan titik awal kita masuk ke pulau ini”


“Dan yang membuka portal itu hanyalah paman mu yang bisa melakukan nya” ucap Hiro.


“Benarkah?” tanya Ning Quan.


“Untuk apa aku berbohong? Aku juga tidak mau berlama-lama di pulau ini, masih ada yang harus aku selesaikan dan petualangan ku masih jauh” ucap Hiro.


“Hemmm baiklah saya percaya kepada anda, nanti malam saya akan memanggil paman Ling San untuk membantu kita ke luar dan mungkin besok harinya baru ia akan datang” ucap Ning Quan menarik kembali aura Naga nya dan menghilangkan formasinya.


“Apa teman-teman mu juga tahu bahwa kamu keponakan dari Sang Frost Dragon Ice, Ling San?” tanya Hiro.


“Tentu saja, identitas mereka juga bukan orang biasa..” ucap Ning Quan sambil tersenyum kecil.


“Oho~ menarik sekali..” ucap Hiro setelah itu ia pun menghilangkan formasinya dan bertingkah seperti biasa, begitupun dengan Ning Quan.


***


“Kamu benar sistem, ternyata ia keponakan nya Ling San” ucap Hiro di dalam kamarnya.


{Tentu saja, sistem tidak mungkin salah… Bukankah anda juga..}


“Hahaha menarik bukan? Sungguh sangat menarik…” ucap Hiro tertawa kecil.


Sedangkan di tempat Ning Quan berada, saat ini ia sedang bersama yang lainnya.


“Tuan Hiro telah tahu identitasku” ucapnya.


“Hah? Bagaimana bisa?” tanya mereka.


“Entahlah katanya auraku terasa olehnya dan juga sepertinya sebentar lagi identitas kalian juga ketahuan” ucap Ning Quan.


“Tidak mungkin, bagaimana bisa ia tahu?” tanya Yan Xiu.


“Sudah kubilang, entahlah! Sedari awal ia kan bukan sosok yang biasa-biasa saja, saat keberadaannya di hutan Quantalium pun sangat tidak wajar… Sebaiknya kita berhati-hati kepadanya dan jangan sampai membuat masalah dengan nya” ucap Ning Quan dengan serius.


“Benar, setelah keluar dari pulau ini aku akan menceritakan nya kepada keluargaku..” ucap Yan Xiu.


“Aku juga.. lebih baik kita menjalin hubungan dekat dengan nya” ucap Ru Jian dan mereka semua mengangguk setuju.


Keesokan harinya setelah Hiro bangun, ia mengikuti rapat dulu bersama Tu Tile dan para tetua sekalian berpamitan karena ia tahu bahwa hari ini Ling San akan datang dan membawa mereka semua keluar dari pulau kura-kura emas.


“Patriak dan para tetua sekalian, aku ucapkan terimakasih karena telah mengijinkan kami tinggal disini selama ini dan pelayanan yang kami terima sangat memuaskan. Hari ini kami telah menemukan jalan keluarnya, jadi kami akan pergi sekarang” ucap Hiro.


Patriak dan semua orang disana langsung bersujud, “Panggil saja saya Tu Tile tuan penguasa,suatu hal yang tabu kalau anda memanggil hamba dengan embel patriak” ucapnya.


“Dan suatu hal sepantasnya kami lakukan untuk anda sebagai tuan kami, jadi anda tidak perlu berterimakasih” ucap para tetua.


“Hahhh… baiklah terserah saja” ucap Hiro menghela nafas panjang kemudian ia melirik Ning Quan yang mengangguk.


Setelah itu mereka di antarkan menuju ke pulau keluar dari dunia kecilnya oleh patriak Tu Tile, Tu Talu dan para tetua.


Setelah sampai di pulau, tidak lama kemudian sebuah celah dimensi yang terbelah muncul di depan mereka semua dan muncul sesosok pria paruh baya bersama beberapa orang lainnya.


“Oh siapa ini? Sudah lama kita tidak bertemu Tu Tile” ucapnya.


“Ling San, ku kira siapa yang berani-beraninya merobek dimensi ke duniaku” ucap Tu Tile sambil berpelukan.


“Hahaha aku kesini untuk menjemput keponakanku..” ucap Ling San.


“Ahh keponakanmu?” ucap Tu Tile melihat ke arah Hiro.


Hiro kemudian mengarahkan jari telunjuk nya di depan bibirnya dan berkedip sambil mengirimkan transmisi suara, “jangan dulu di kasih tahu!”.


Mendengar suara Hiro, Tu Tile langsung mengangguk dan bersikap biasa.


“Keponakan mu yang mana?” tanya nya.


“Itu dia, gadis yang disana” ucap Ling San menunjuk ke Ning Quan.


“Ohh gadis itu, kukira siapa ternyata dia keponakanmu” ucap Tu Tile sedikit terkejut.


“Hahaha wajar kamu tidak tahu, karena dia memang suka berpetualang tanpa peduli dengan statusnya… Apa dia merepotkanmu selama ini? Aku minta maaf sebelumnya kalau dia membuat masalah” ucap Ling San.


“Ahh tidak apa-apa, lagipula dia baik kok tidak seperti yang kamu kira” ucap Tu Tile tersenyum kecil saat mengingat kembali betapa patuhnya gadis kecil itu di depan Hiro.


“Oh syukurlah kalau begitu.. Baiklah aku akan pergi lagi yah, karena celah dimensi ini cukup membebani ku” ucap Ling San.


“Hahaha benar juga, baiklah kalau begitu cepat kembali” ucap Tu Talu.


Ling San mengangguk dan berteriak memanggil Ning Quan“Nak, ayo kita pulang” ucapnya.


“Baik paman” ucapnya pergi mendekati Ling San bersama dengan yang lainnya, begitupun dengan Hiro.


“Sampai jumpa lagi teman” ucap Ling San.


“Sampai jumpa, jaga baik-baik pemuda itu demi kebaikan kita” ucap Tu Tile secara tiba-tiba sesaat sebelum Ling San dan yang lainnya masuk ke dalam celah tersebut.


Ling San hanya terdiam kebingungan dan melihat ke arah Hiro dengan tatapan selidik.


Setelah keluar dari celah dimensi mereka sampai di hutan Quantalium tempat awal mula mereka terjebak di pulau kura-kura.


Yan Xiu, Ning Quan dan Ru Jian menghela nafas lega, sedangkan Ling San langsung mendekati Hiro dan menatapnya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


“Kau siapa?” tanya Ling San.


***


Terimakasih buat teman-teman yang telah memberikan Like dan Vote nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.


Author doakan semoga sehat selalu buat para pembaca yang suka memberikan Like dan Komen, entah itu komentar positif ataupun negative.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...