
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hiro dan Tutu di antar ke kamarnya oleh anak kecil tersebut, sepi akan pengunjung membuat tempat itu sedikit mengerikan layaknya bangunan kosong yang ditinggalkan.
"Dimana orang tua mu?" tanya Hiro.
"Ayah dan ibu telah berada di surga…" ucap anak tersebut dengan nada sedih.
Hiro terkejut dan panik karena telah mengungkit sesuatu yang seharusnya tidak di bicarakan.
"Maafkan aku tidak tahu…" ucap Hiro.
"Anda tidak perlu meminta maaf tuan, lagipula saya masih memiliki kakak tapi sepertinya kakak saya juga akan pergi menyusul ayah dan ibu" ucap anak tersebut.
Hiro terdiam seribu bahasa, walaupun anak itu berkata tidak masalah tetapi tetap saja ia merasa bersalah sekali.
"Memangnya kakak mu kenapa?" tanya Tutu mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja suatu hari kakak saya meringkuk kesakitan hingga sampai saat ini ia tidak bisa turun dari tempat tidurnya" ucap anak dengan sedih.
"Ahh sudah sampai tuan, ini kamar kalian berdua. Silahkan beristirahat" ucapnya kemudian memberi hormat dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Hiro memandang ke Tutu, "Apa yang kau pikirkan sama denganku?" tanya Hiro.
Tutu mengangguk mengerti, "Saya mengerti tuan" ucapnya.
"Baiklah, lebih baik sekarang kita istirahat dan bergerak lagi besok pagi" ucap Hiro kemudian masuk ke dalam kamarnya yang sangat biasa sekali, tidak kecil ataupun besar hanya cukup seorang diri saja.
***
"Bagaimana ini? setengah langkah lagi 'beliau' akan segera menduduki posisi nya tapi kita hingga sekarang masih belum usai membersihkan jalan untuk 'beliau'. Apa yang harus kita lakukan?"
"Entahlah! pada intinya kita harus segera bergerak secepat mungkin agar pada saat 'beliau' datang, ia hanya tinggal perlu duduk di singgasana!"
"Tapi…"
"Tapi apa?"
"Kalian tahu sendiri, bukan hanya 1 orang tetapi seluruh penguasa dunia kini mengincar kursi kosong itu. Bagaimana caranya agar kita bisa melindungi singgasana dan membersihkan jalan untuk 'beliau' secara bersamaan?"
"Kerahkan saja semua yang kita miliki! sudah saatnya kita mengambil satu langkah maju agar semuanya berjalan sesuai rencana!"
***
Di tempat Hiro saat ini setelah terbangun dari tidurnya, ia duduk diam sejenak.
"Hoammm… Bagaimana sistem, apa ada kemajuan dalam mencari keluarga ku?" tanya Hiro.
{Belum tuan…}
"Hahh… " Hiro pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah itu baru lah ia keluar dari kamarnya dan menemui Tutu.
Mereka berdua turun dari lantai dua untuk pergi mencari makan.
Pada saat di depan, mereka melihat anak kecil sebelumnya tengah terduduk tenang di meja resepsionis nya. Walaupun tidak ada satupun orang yang masuk tapi anak itu tetap mengerjakan tugas nya secara profesional.
Hiro kagum dengan sifat kerja kerasnya, mandiri dan tangguhnya anak tersebut.
"Hey nak, apa ada restoran di dekat sini?" tanya Hiro menghampiri anak tersebut.
"Panggil saya Zion tuan, bukan nak…" ucap anak tersebut yang bernama Zion.
"Ahh baiklah Zion" ucap Hiro.
"Kalau anda ingin sarapan biar saya buatkan saja tuan-tuan, tapi mungkin bayar… Apa tidak masalah?" tanya anak itu ragu-ragu.
Hiro tersenyum dan mengangguk, "Kami akan membayarnya" ucapnya sambil mengelus-elus kepala Zion.
"Baiklah terimakasih tuan! mohon tunggu sebentar, saya akan segera menyiapkannya!" ucap anak tersebut kemudian berlari dengan cepat ke dapur untuk memasak.
Hiro dan Tutu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mereka sungguh kagum dengan Zion yang masih kecil sudah sangat bisa diandalkan bahkan bertahan hidup di desa kecil tersebut.
{Selesai!… Sistem telah selesai mengindentifikasi anak bernama Zion tersebut tuan, apa anda ingin mengetahuinya?}
'Oh, benarkah? kalau begitu cepat beritahukan aku!' ucap Hiro.
{Baik tuan…}
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...