
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Hiro pun di masukkan ke salah satu sekolah menengah atas yang dimana sekolah tersebut sangat terkemuka di kalangan atas.
Para siswa yang masuk ke sekolah tersebut sudah dapat di pastikan golongan orang-orang kaya atau konglomerat yang ada didalam negeri.
"Hahhh..! Mengapa aku harus sekolah?"
"Bukankah ibu dan ayah tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang kehidupan di sekolah?" ucap Hiro.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa... Memulai kebiasaan dari sekarang agar dirimu tidak terisolasi dari dunia luar, apa kamu ingin menyendiri terus sampai akhir hayat?" ucap ibunya kepada pemuda tersebut.
"Tapi aku harus bagaimana?" ucap Hiro.
"Hemmm yah bersikap seperti biasa saja, belajar, bergaul dan bersenang-senang?..." ucap ayahnya.
"Tapi ingat nak, kamu harus bersikap baik.. jangan pernah sesekali berbuat nakal atau membuat masalah terlebih dahulu, agar nanti kalaupun kamu terlibat masalah kami bisa membantumu asalkan kamu berada di posisi pihak yang benar" ucap ibunya.
"Baik bu, aku akan berkelakuan baik agar tidak mempermalukan kalian" ucap Hiro sambil tersenyum lembut.
"Bagus.. nah sudah kamu kembali saja dulu ke kamar, ayah dan ibu akan pergi bekerja" ucap mereka berdua.
"Baik... Hati-hati di jalan, ayah, ibu" ucap Hiro kemudian naik kembali ke kamarnya.
***
Sebulan kemudian setelah hibernasi yang begitu lama, akhirnya waktu sekolah untuk Hiro telah tiba.
Kini ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah bersama dengan orang tuanya, karena hari pertama masuk sekolah memang harus di temani oleh mereka. Sekaligus memperlihatkan bahwa Hiro bukanlah siswa biasa-biasa yang dapat di remehkan.
Mungkin seluruh orang di sekolah nya tahu siapa identitas sebenarnya dari kedua orang tua Hiro.
Mereka pun berangkat mengendarai mobil mewah merk Rolls-Royce Phantom yang telah di kendarai oleh supir pribadi ayahnya.
Hanya butuh 15 menit dari rumah mereka untuk sampai ke sekolahan nya tersebut.
Bangunan yang tinggi, besar dan megah pun terlihat di depan mereka. Hiro terdiam tercengang karena merasa heran, bagaimana bisa sebuah sekolah semewah ini?
"Ayah, ibu apakah benar ini sebuah sekolahan?" ucap Hiro secara spontan.
"Benar, coba kamu lihat mereka memakai seragam sekolah... Nanti juga kamu akan memakainya, pasti cocok sekali" ucap ibunya.
"Tapi sepertinya ini bukan sekolah yang aku tahu" ucap Hiro.
Benar apa kata Hiro, karena sekolah tersebut sekolah elite dimana satu-satunya sekolah yang dapat di akses hanya oleh orang-orang dari kalangan tertentu. Tidak seperti sekolah lain yang siapa saja boleh mendaftar, tidak hanya itu saja bahkan dari sistem pendidikannya pun sangat berbeda daripada sistem pendidikan pada umumnya.
Dimana para murid di haruskan untuk mengumpulkan poin untuk menaikkan kelas mereka dan poin tersebut hanya bisa di dapatkan dengan cara tertentu. Pada sekolah tersebut ilmu mata pelajaran hanyalah formalitas saja, entah para siswa paham atau tidak dengan materi yang disampaikan oleh para guru tidak akan mempengaruhi nilai mereka.
Setiap poin yang di berikan kepada siswa baru hanyalah sejumlah 100 poin saja, sedangkan untuk naik kelas selanjutnya maka di butuhkan 1.000 poin begitu saja seterusnya hingga mereka dapat di nyatakan lulus saat telah mendapatkan 1 juta poin.
Kembali kepada Hiro, saat ini ia di antar oleh kedua orang tuanya ke ruangan guru terlebih dahulu agar dapat menentukan kelas Hiro di sekolah tersebut.
"Oh braham.. sudah lama tidak bertemu, kamu masih sehat saja" ucap ayahnya Hiro dengan santainya.
"Asgar! Akhirnya aku bertemu denganmu juga, kamu juga terlihat sehat dan cerah sekali wajahmu" ucap seorang pria paruh baya yang berdiri dari kursinya menyambut mereka.
"Hahaha tentu saja karena akhir-akhir ini aku sedang sangat berbahagia, perkenalkan dia adalah Hiro putraku yang akan sekolah disini" ucap ayahnya.
"Ahh begitu rupanya, halo nak panggil saja aku paman Braham.. dan juga Marlina, kamu semakin cantik saja" ucap Braham.
"Hahaha kamu bisa saja, sudah cukup basa-basi nya karena kami sibuk... Setelah ini kami harus berangkat ke Italia, jadi apa bisa di percepat?" ucap ibunya.
"Oh tenang saja semuanya akan beres dalam 10 menit dan juga tunggulah sebentar, kita sudah lama tidak bertemu begini masa sekalinya bertemu hanya beberapa detik saja" ucap Braham.
"Benar istriku, urusan anak kita lebih penting daripada pekerjaan... Kalaupun ada masalah kedepannya kita pasti bisa menyelesaikan nya" ucap Asgar.
"Hemmm kamu benar juga sayang, baiklah kalau begitu.." ucap Marlina.
Sedangkan Hiro hanya diam saja karena suasana tersebut membuatnya sedikit canggung.
Setelah melalui beberapa prosedur dan perbincangan yang cukup panjang, akhirnya kelas untuk Hiro di tentukan. Ia akan menempati pada kelas 1-A dimana kelas tersebut yang paling terbaik dari yang terbaik.
Setelah itu Hiro dan kedua orang tuanya berpisah, Hiro di antar oleh pak Braham menuju ke kelasnya karena bagaimanapun saat ini keberadaan Hiro telah menjadi tanggung jawabnya karena orang tuanya telah menitipkan anaknya pada dirinya.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di salah satu ruangan.
Pintu pun di buka dan terlihat beberapa siswa sedang belajar dengan guru wanita. Guru wanita itu pun menghentikan dulu pelajarannya karena pak Braham sebagai kepala sekolah tiba-tiba memasuki kelasnya.
"Selamat pagi pak, ada keperluan apa yah hingga bapak kemari?" ucap guru tersebut dengan sopan.
"Ahh tidak apa-apa, hanya saja aku satu pengumuman yang harus aku sampaikan yaitu kelas ini mulai sekarang akan menerima murid baru.."
Setelah itu pak Braham menyuruh Hiro untuk masuk dan memperkenalkan dirinya.
"H-halo semuanya, namaku Hiro.. mohon bantuannya!" ucapnya dengan canggung.
"Hahaha tidak perlu canggung seperti itu, nah baiklah guru Sofi.. lanjutkan saja pelajarannya dan bantu Hiro agar dapat mengejar teman-temannya. Kalian juga bertemanlah dengan baik" ucap pak Braham yang kemudian keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Hiro yang sedang gugup.
"Hemmm tiba-tiba ada murid baru? Hahhh, baiklah nak kamu boleh duduk dimana saja karena kita akan melanjutkan pelajaran" ucap guru Sofi.
"Baik bu.." ucap Hiro yang kemudian berjalan menuju ke kursi kosong yang ada di paling belakang.
'Hahh kumohon, jangan sampai terlibat ataupun membuat masalah apapun di hari pertama sekolah' ucap Hiro dalam pikirannya.
***
SORRY BELUM BISA CRAZY UP KARENA MASIH SIBUK, INI PUN NYEMPETIN NULIS SOALNYA EMANG UDAH TUGAS WAJIB 🤣 SEDANGKAN CRAZY UP ITU HANYALAH SUNNAH SAJA.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...